Blindsight

Blindsight
Anak yang Labil



Tempat ini tidaklah gelap! Aku merasakan beberapa aura kontras silih berganti dan hawa yang terkesan menekan dan kuat.


Pria tua menyambutku dengan nada yang sopan.


"Selamat datang, nak. Apakah kamu kemari karena tersesat atau karena ingin bermain?"


Aku mencari asal suara tersebut. Ternyata dia ada di samping kananku, sedang bersender di benda yang ukurannya cukup lebar.


Aku merasakan sebuah benda kayu yang cukup lebar untuk penopang tubuhnya, kurasa itu adalah meja kayu.


Aku lalu meraih kursi yang berada di depanku. Kursinya tinggi, tapi akhirnya dengan susah payah aku dapat duduk dikursi itu.


"Aku merasakan hawa yang menekan dan kuat, perasaan ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Tempat apakah ini, Tuan?"


Perasaanku mengatakan bahwa Pria tua itu sedang cengar-cengir sambil menatapku seperti aku adalah bahan percobaannya yang baru.


"Anak yang menarik.. Kamu tunanetra kan?"


Tentu saja aku sangat terkejut dengan pernyataannya barusan.


Aku mengangguk sebagai pernyataan bahwa yang dikatakan Pria tua ini barusan adalah benar.


Pria tua ini lalu mengarahkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, tentu saja aku membalasnya.


"Sudah kuduga kamu menarik. Orang biasa tidak akan bisa merasakan aura dari tempat ini. Kamu juga tahu kalau aku mengarahkan tanganku barusan.."


Aku tidak merespon apapun karena Pria tua ini memancarkan aura yang sangat membuatku tertekan.


Sepertinya dia menyadarinya, lalu perlahan-lahan aura tersebut memudar.


"Dari mana Tuan tahu kalau Aku adalah seorang tunanetra?"


Pria tua ini perlahan mendekat dan menarik daguku sedikit..


"Tatapan matamu kosong. Kedua matamu memang terbuka, tetapi matamu tidak melihat sekeliling dan tidak responsif. Anehnya, bola matamu berwarna abu-abu dan bukannya seperti orang tunanetra pada umumnya.."


Aku lalu merasakan hal aneh disekujur tubuhku. Pria tua ini seperti sedang memeriksa seluruh tubuhku menggunakan kekuatannya.


Ini terasa cukup lama sampai membuatku ingin segera lari dari tempat ini. Akhirnya hal aneh disekujur tubuhku perlahan menghilang.


"Boleh kutahu siapa orang tuamu, anak laki-laki yang menarik?"


"Maaf Tuan, tapi aku adalah anak yatim piatu. Kurasa ayah dan ibuku sudah tidak ada lagi di dunia ini.."


Pria tua ini tampaknya agak heran,


"Mungkinkah tadi aku mendengar kata 'kurasa'? Kamu juga tidak mengetahui keberadaan orang tuamu, kan?"


Lagi-lagi aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku hanya bingung apakah aku harus mengatakan hal yang mengganjalku atau tidak.


Kami baru bertemu beberapa menit yang lalu, bukankah aneh bila kukatakan semua yang kutahu padanya?


Soal hilang ingatanku, sifatku yang berbeda sebelum kehilangan ingatan, dan bahwa penglihatanku sebagai seorang tunanetra yang agak.. emm.. 'berbeda'?


Tapi kelihatannya Pria tua ini mengetahui beberapa hal penting yang aku tidak ketahui.


Dia juga tampak misterius dan kuat. Aku merasakan semacam tekanan dan aura kontras yang cenderung kuat bergerak diseluruh tubuhnya.


Tapi aku masih terganggu soal tatapannya, tatapan yang melihat diriku sebagai bahan percobaan yang menarik.


Apa itu hanya perasaanku saja ya?


Kami baru bertemu beberapa menit yang lalu, bukankah aneh bila kukatakan semua yang kutahu padanya?


Soal hilang ingatanku, sifatku yang berbeda sebelum kehilangan ingatan, dan bahwa penglihatanku sebagai seorang tunanetra yang agak.. emm.. 'berbeda'?


Tapi kelihatannya Pria tua ini mengetahui beberapa hal penting yang aku tidak ketahui.


Dia juga tampak misterius dan kuat. Aku merasakan semacam tekanan dan aura kontras yang cenderung kuat bergerak diseluruh tubuhnya.


Tapi aku masih terganggu soal tatapannya, tatapan yang melihat diriku sebagai bahan percobaan yang menarik.


Mungkin saja itu hanya perasaanku saja?


Stop.. kumohon..


Pikiranku berputar-putar dan tidak ada akhirnya. Ini tidak akan memberikan jawaban apapun..


Aku harus mengambil keputusan yang bijak, tidak boleh terburu-buru, dan tidak boleh langsung mempercayainya meskipun dia terasa kuat ataupun terasa berbeda dari orang lain yang kutemui baru-baru ini.


"Tampaknya kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat. Memangnya sedang mikirin apa, sih?"


Aku terkejut dan langsung berbalik, penasaran dengan orang yang tiba-tiba mengajakku berbicara dengan nada sedikit mengejek.


"Halo! Siapa namamu?" Aku Gulinear, kamu bisa memanggilku Guli ataupun Gulinear!"


Aku tersenyum agar tak terkesan sombong lalu memperkenalkan diriku.


"Panggil saja Laalit."


Dia menggenggam telapak tanganku erat-erat, kemudian mengayun-ayunkannya.


Kurasa 'Gulinear' atau apapun itu masih belasan tahun juga sepertiku, suaranya terdengar seperti anak baru puber.


"Baik Gulinear.. Sekarang, bisakah kamu berhenti mengayun-ayunkan kedua tanganku?"


Masih dengan semangat yang membara, Gulinear mengayun-ayunkan tanganku sampai akhirnya dia melepaskannya secara mendadak.


"Hehehe, maaf ya.. Apakah Laalit kesakitan?"


Tampaknya Gulinear adalah gadis yang bersemangat tapi juga punya rasa iba yang tinggi.


"Tidak sakit, hanya sedikit keseleo saja."


Gulinear langsung memeriksa seluruh tanganku secara seksama, khawatir dengan kondisiku.


"Tidak-tidak, aku cuma bercanda kok.."


Gadis itu kemudian memukul kepalaku agak keras.


"Padahal Gulinear sudah sangat khawatir, dasar menyebalkan!"


"Terlalu moody-an.."


"HAH, APA LAALIT BILANG?"


A-astaga.. Aku keceplosan.


Kukira tadi aku mengatakannya dalam hati, tanpa sadar aku menggerutu.


Gulinear bersiap untuk memukulku lagi, dengan sigap aku langsung mengatakan kalimat acak,


"Maksudku, kamu orang yang cukup bersemangat. Moodbooster.. itu maksudku!"


Aku merasakannya, perasaan marah dari Gulinear perlahan mereda. Dia lalu bersemangat lagi seperti tidak terjadi apapun.


Kurasa, emosinya memang labil..


Aku memegang bibirku sendiri, mengecek apakah aku keceplosan seperti tadi atau tidak. Kalau keceplosan, nanti dia bakal memukulku lagi.


Walaupun telapak tangannya lebih besar daripada telapak tanganku, tapi untuk seorang gadis seumurannya, tangannya cukup mungil.


Anehnya, walaupun mungil begitu, tapi membuat kepalaku cukup nyut-nyutan untuk waktu yang agak lama.


Ah, berbicara soal seumuran, kurasa umurnya sekitar 2 tahun lebih tua dariku.


Aku merasakan sekeliling dan menyadari Pria tua itu ternyata sudah tidak ada di sini dari tadi.


Sepertinya aku terlalu tenggelam dalam pemikiranku sendiri, sampai-sampai tidak menyadari sudah berapa lama berada di sini..


Padahal aku mau menanyakan beberapa hal padanya, sayang sekali..


Suara Gulinear menyadarkanku,


"Laalit kenapa diam begitu?"


Rasa penasaran membuatku langsung merespon pertanyaannya,


"Pria tua yang didepan mejaku tadi, dia tiba-tiba saja menghilang. Aku ingin berbicara dengannya sebentar."


"Hmm.. Pria tua? Ah, apa maksud Laalit.. Tuan Mahajana? Kalau yang Laalit maksud adalah Pria tua yang punya janggut runcing, itu adalah Tuan Mahajana, pemilik tempat ini! Benar-benar berwibawa, sikap Tuan Mahajana yang selalu tegas tetapi tidak keras, membuat beberapa orang diam-diam kagum pada sosoknya!"


Jadi namanya Mahajana..


Aura kuat dan misterius yang kurasakan padanya, memang sungguh menarik..