
Orang ini.. Apakah dia ketakutan atau ada hal lain yang dia lupakan sehingga dia menghentikan kuda secara mendadak begini?
"Tuan Mahajana ada di tempat pelatihan?! Kapan??"
Aku mencoba mengingat-ingat pukul berapa kami bertemu.
"Saya rasa itu sekitar pukul 3 sore. Tuan Mahajana melepaskan auranya dan saya merasakannya. Kemudian kami mengobrol sebentar."
Orang ini sangat penasaran dengan pernyataanku,
"Be-benarkah? Kau mengobrol dengannya? Kalian mengobrol apa? Dia bilang apa??"
"Oh itu.."
Aku ragu untuk mengatakan padanya. Tapi aku sama sekali tidak merasakan hawa buruk dari orang ini, jadi aku menampik rasa raguku.
"Cuma membicarakan tentang mata saya yang buta. Katanya saya agak menarik, begitulah.."
Orang ini terdiam cukup lama sampai aku harus menyadarkannya.
"Uhm, Tuan? Hari semakin malam, Kakak saya juga akan semakin khawatir karena saya belum pulang semenjak sore tadi. Bisakah kita lanjutkan.. perjalanannya?"
Sepertinya dia agak kaget lalu buru-buru merapatkan kedua kakinya ke tubuh kuda. Perjalanan kami pun berlanjut.
"Kau beneran buta?"
Dia melirikku yang berada di bawahnya lalu aku hanya mengangguk.
"Astaga nak, kenapa kau bertindak gegabah begini. Lari ke tempat pelatihan dan berada di sana sampai hari menjelang gelap. Tunggu sebentar, berlari? Bagaimana bisa kau.. Apakah kau terjatuh saat berlari? Katakan yang sejujurnya padaku sekarang, aku akan mengobatimu."
Sudah kuduga, meskipun aku memberitahu tentang penglihatanku, dia sama sekali tidak berniat jahat padaku.
Dia malah mengkhawatirkan kondisiku. Seperti yang di harapkan dari hawa yang positif.
"Saya tidak terluka sama sekali, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."
"Syukurlah.. Omong-omong, namaku Aamod. Anggap aku seperti Abangmu sendiri dan yang terpenting, tidak perlu berbicara formal padaku."
Aku hanya mengangguk.
"Oh iya, kenapa Aamod tadi terlihat ketakutan saat aku membahas Tuan Mahajana?"
Aku tidak tahu perasaan yang Aamod rasakan saat ini, hawanya terasa campur aduk dan sulit untuk dijelaskan.
"Aku? Ketakutan? Aku itu adalah askar yang pemberani, bahkan aku sudah ditingkat Komplementer pada usia 18 tahun. Elemenku adalah api, keahlianku menggunakan 2 pedang."
"Sangat mengagumkan! Bisakah kamu membimbingku di lain waktu, Aamod? Aku juga ingin kuat sepertimu!"
"Tentu saja, HOHOHO~. Berbanggalah karena akan diajari oleh salah satu petarung terkuat!"
Aamod menyombongkan dirinya, kemudian menjelaskan kembali..
"Aku itu salah satu penggemar Tuan Mahajana, beberapa tahun lalu aku sekelompok dengan Tuan Mahajana dalam misi kuil. Hadiah dari misinya juga luar biasa karena kami melakukan misi tingkat A+. Ada kesalahan teknis di keterangan misinya, seharusnya tingkat C, tapi kami malah melakukan misi tingkat A+. Sebagai permintaan maaf, kami diberi hadiah dengan sangat berlimpah."
Aku hanya mengangguk dan mendengarkan celotehannya yang panjangnya melebihi jalan bawah tanah.
Setelah selesai bercerita, suasana pun menjadi hening.
Meskipun penasaran denganku, Aamod tidak menanyakan lebih lanjut karena takut membebaniku.
Selama perjalanan, aku hanya mendengar suara lari kuda.
Aku juga agak mengantuk. Hari ini benar-benar hari yang panjang.
"Hoaamm.. Kapan kita akan sampai?"
"Sabar ya, kurasa beberapa menit lagi. Sudah mengantuk sekali ya? Mau tidur?"
"Mana bisa tidur, kita kan duduk di atas kuda, hoaaam~"
Aamod mengambil sesuatu lalu mengaitkan ke badanku.
Ia juga mengaitkannya ke badannya lalu mengikatnya, sepertinya ini tali.
"Tidurlah, kamu tidak akan terjatuh karena aku sudah mengikat badanmu dan mengaitkannya ke badanku."
Idenya bagus juga..
Perlahan aku menutup mataku dan tidur.
.......
.......
.......
Sudut pandang Aamod
"Sepertinya anak ini benar-benar kelelahan. Memangnya apa saja yang dia lalui sampai selelah ini?"
Aku melihatnya tidur dan teringat pada adik sepupuku.
"Kapan-kapan aku harus membawanya kepada Lacrissa, dia pasti senang akan punya teman baru."
Akhirnya aku sampai di rumahnya. Ternyata rumah anak ini sangat luas.
"Tidurnya sangat nyenyak, aku tidak tega membangunkannya."
Perlahan-lahan aku membawanya turun sambil menggendongnya.
Aku sudah di depan pintu rumahnya. Saat akan mengetuk pintu, ternyata aku mendengar pembicaraan yang mengejutkan.
"TEGANYA KAMU MENCAMPAKKANKU! MANA WANITA ITU, BIAR KUTEMUI DIA SEKARANG!"
"Ini sudah malam. Besok kita minta surat tuntutan cerai lalu aku akan mempertemukanmu dengan pacar baruku."
"AKU HARUS MENEMUINYA SEKARANG! PADAHAL DIA JUGA SEORANG WANITA SEPERTIKU, TAPI BISA-BISANYA DIA MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA ORANG LAIN. ANTAR AKU KE RUMAH WANITA MURAHAN ITU!"
"Besok saja. Kepalaku pusing mendengar teriakanmu, anak kita nanti juga akan terbangun, jadi diamlah."
PLAK!
BUK!
"HUHUHUHU.."
"HUHUHUHU.."
"KUBILANG DIAM!"
"HUHUHUHU.. KAU.. TEGANYA KAU MELAKUKAN INI PADAKU! TEGANYA KAU MENINGGALKANKU DAN ANAKKU! DASAR LAKI-LAKI SAMPAH!"
PRANG!
"Ahh, sakit! Hentikan! Ku-kumohon.. Huhuhu.."
"MAKANYA DIAM! SUDAH KUBILANG DIAM KAN, HAH!? DIAM ATAU RAMBUTMU AKAN KU JAMBAK MAKIN KUAT!
"Huhuhu.. Hiks hiks.."
"AKU AKAN MEMBAWA ANAKKU BERSAMAKU! MEMBUSUKLAH SENDIRIAN DIRUMAH INI SAMPAI KAU MATI!
"Ti-tidak.. Tidak boleh, dia.. dia anak..ku.. Ku-kumohon biarkan aku bersamanya.. Ku..mo..hon.. Hiks.. hiks.."
BUK!
"AKHH! HUHUHU.. HUHUHU.."
BUK!
"JA-JANGAN.. Hentikan.. kumohon.. Aku sedang mengandung, aku tidak mau keguguran.. hiks.. hiks.."
"Mengandung? Jadi begitu, kau juga berselingkuh dengan pria lain kan? Iya, kan?"
"BU-BUKAN! INI ANAK KITA! Usianya sudah memasuki 2 bulan, ja...dii.. ku.. mohon jangan tendang aku.. hiks .. hiks.."
"MAU MEMBODOHIKU HAH! KAU KIRA AKU BODOH!"
"Huhuhu.. Huhuhu.. Kau.. per..gi..lah.. dengan.. wanita.. itu.. Ta-ta..pi jang..an gugur.. kan.. anak.. Ki..ta.."
"Ibu.. kenapa aku mendengar suara berisik? Hoamm~"
"Sa-sayang.. Ibu.."
"Apa ini! Apa yang ayah lakukan pada ibu! Ibu baik-baik saja?"
"Ibu.. tidak.. apa-apa.. sa..yang. Ta..pi.., ayah.. akan.. pergi.. me..ninggalkan.. kita.. Ka..mu.. mau.. ting..gal dengan ibu.. kan, sa..yang?
"Tentu saja, Ibu!"
"TIDAK BISA, KAMU HARUS IKUT DENGAN AYAH!"
"Tidak mau, Ayah sudah menyakiti Ibu! Aku mau sama Ibu saja! Aku akan merawat Ibu, baru-baru ini Ibu sering muntah dan kecapekan."
Ah, jadi Laalit tinggal di keluarga yang seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Apakah dia juga sering mendapatkan kekerasan dari Ayahnya?
Kalau memang begitu, aku ingin merawat Laalit dan melatihnya menjadi seorang Askar yang kuat dan hebat.
Tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Pertama-tama, aku harus meminta izin dulu untuk merawatnya pada kedua orang tuanya. Perlahan-lahan aku mengetuk pintu.
"Permisi~"
Aneh, tidak ada jawaban..
"Permisi, saya Aamod dari militer cadangan."
Perlahan pintu pun terbuka.
"Ada apa ya?"
Ternyata dia adalah Ayahnya Laalit yang pemarah dan sudah berselingkuh.
Rambutnya berwarna kuning sepanjang alis dengan tinggi badan kira-kira 170 cm.
"Saya pulang mengantarkan anak anda."
Ayahnya tampak heran,
"Anakku? Anakku kan sedang ada di dalam rumah."
"Anda tega sekali.. Meskipun tidak bisa melihat, Laalit tetaplah putra anda."
"Anakku cuma 1 dan perempuan, bukan laki-laki. Sepertinya kau salah orang."
"Tu-tunggu. Saya tahu anda akan bercerai dengan istri anda, tapi bolehkah saya mengasuh Laalit?"
"Siapa Laalit?"
"Tentu saja anak anda, saya menggendong dia dari tadi, ini.."
Aku mengarahkan daguku ke belakang untuk menunjuk Laalit.
"Kurasa kau salah alamat. Dia bukanlah siapa-siapaku, percayalah.."
Ayah yang keras kepala.
"Aamod.."
Ternyata Laalit terbangun.
"Iya, sebentar ya, aku sedang membujuk Ayahmu."
Dengan ekspresinya yang datar, Laalit mengatakan sesuatu.
"Ini bukanlah rumahku. Kau salah, Aamod."
Kebingungan menghantuiku dan kegelisahan tak bisa ku kontrol
Tidak mungkin kan, aku..
"Pak, ini daerah Legian, kan?"
"Bukan nak, ini daerah Dago.."
Sepertinya aku memang kesasar..