
Setelah makan siang dan duduk sebentar, Aamod lalu mengajariku cara melakukan push up.
"Tengkurapkan tubuhmu."
Aku menurut kemudian menengkurapkan tubuhku. Wajahku terkena tanah, tubuh bagian depanku pun begitu.
Pasti sekarang badanku bau tanah… Apa boleh buat, namanya juga push up.
Kalau mau menjadi kuat, pasti butuh pengorbanan. Salah satunya adalah baju dan celanaku yang terkena tanah, serta badanku yang kini bau tanah.
Aku sebenarnya tidak terlalu suka duduk di tanah karena akan membuat celanaku kotor.
Apalagi tengkurap begini, pasti bajuku sudah sangat kotor sekarang.
Tapi tidak apa-apa, selama bermanfaat dan bisa membuat tubuhku tetap kuat, aku akan dengan senang hati menerimanya.
Aamod kemudian memegang kakiku lalu mendekatkannya dengan kakiku yang lain.
Aamod memegang kedua tanganku lalu mengarahkan kedua telapak tanganku di atas tanah.
Sekarang, kedua telapak tanganku berada di sebelah bahuku.
Aamod kemudian menekuk jari-jari kakiku ke atas. Pangkal jari kakiku menyentuh lantai sekarang.
"Coba angkat tubuhmu dengan mendorong tanah menggunakan lengan. Gunakan otot bahu dan dadamu, jangan gunakan otot perutmu. Dorong tubuhmu hingga lenganmu dalam posisi lurus ke depan."
Penjelasan Aamod yang ini mudah dipahami...
Perlahan aku mendorong tanah dengan tenaga bahu dan lengan. Aku dengan susah payah mendorong lenganku hingga posisinya lurus ke depan.
"Bagus! Sekarang, turunkan tubuhmu seperti posisi awal dan angkat tubuhmu kembali. Lakukan secara berulang-ulang sampai kau merasa benar-benar sangat lelah dan tidak bisa melakukannya lagi."
Aku kemudian menurunkan tubuhku sedikit demi sedikit karena ini pertama kalinya aku melakukan push up, jadi lebih mudah kalau tubuhku diturunkan secara perlahan.
Aku mengangkat tubuhku kembali dengan mendorong tanah sampai lenganku lurus ke depan.
Kukira push up itu lebih melelahkan daripada sit up, ternyata push up tidak semelelahkan yang aku kira.
Karena sit up dilakukan dengan mengangkat tubuh menggunakan otot perut dan tidak bisa menopang apapun.
Sedangkan push up dilakukan dengan mengangkat tubuh dengan menggunakan telapak tangan dan bisa menopang ke tanah.
"Huft… Huft…"
Rasanya aku seperti mandi keringat, badanku pasti bau sekali sekarang.
"Huft… Huft…"
Otot, cepatlah terbentuk! Aku ingin mempunyai lengan yang keren seperti Aamod.
"Huft… Huft…"
Oh iya, otot itu akan terbentuk berapa lama, ya? Apakah seminggu? Ataukah sebulan?
Kalau sebulan, lama juga. Tapi kalau cuma seminggu, rasanya terlalu mudah...
Mungkin otot baru terbentuk setelah bertahun-tahun lamanya.
Kalau memang begitu… Sebenarnya lama juga sih dan mungkin aku jadi tidak terlalu bersemangat berolahraga.
Tidak! Tidak boleh begitu! Selama apapun massa otot terbentuk, aku tetap harus rajin dan bersemangat.
"Huft… Huft…"
Sepertinya… Aku sudah tidak kuat lagi… Untuk push up…
Tidak! Kurasa masih bisa sedikit lagi.
"Wah, adikku sedang apa ini? Olahraga, ya?"
Kakak menghampiriku kemudian duduk memperhatikanku.
Kakak sepertinya membawa sesuatu. Dari baunya, ini… Teh!
"Huft… Huft…"
Oke… Kurasa aku sudah tidak bisa melanjutkannya lagi.
Aku kemudian mengatur napasku lalu meregangkan ototku.
"Huft… Hah… Hah…"
Aku duduk di samping Kakak sambil mengelap keringat dengan menggunakan handuk yang telah Kakak berikan padaku.
"Kamu tadi sedang olahraga apa?"
Sambil mengelap keringat, aku menjawab pertanyaan Kakak.
"Aku tadi sedang melakukan push up, Kak. Aku ingin lenganku berotot seperti Aamod."
Kakak tersenyum lalu membantuku mengelap keringat yang bercucuran di tubuhku.
"Benarkah? Kakak senang sekali. Tapi, Kakak lebih suka kalau badanmu imut begini~"
Aku ini kan laki-laki, kenapa selalu dibilang imut, sih? Aku ingin kekar dan kuat, dan bukannya bersolek layaknya perempuan.
"Coba kamu diam sebentar."
"Ke-Kenapa?"
"Diam saja sebentar, cuma beberapa detik kok."
Aku lalu diam seperti patung tanpa menggerakkan tubuhku sama sekali.
"Kau lihat juga, kan?"
"Lihat apa??"
Kakak lalu menarik tangan Aamod dan mengarahkan posisi Aamod menjadi menghadap padaku.
"Ini, coba perhatikan adikku baik-baik."
Aku merasa bahwa Aamod sedang memelototiku sekarang…
"Apa yang kau pikirkan saat melihat adikku?"
Aamod lagi-lagi memperhatikanku sampai membuatku tidak nyaman.
"Rambutnya aneh…"
Ya maaf kalau rambutku aneh, ini kan sudah genetik…
"Bukan itu! Coba perhatikan baik-baik!"
Berhenti memelototiku dengan aneh begitu, Aamod…
"Oh… Aku tahu!"
Aku bisa melihat bahwa wajah Kakak tampak sumringah sekarang.
"Bocah ini…"
"Yaa?"
"Tukang makan!"
Ternyata seperti itu orang-orang melihatku… Ha ha ha…
Kakak tampak marah tetapi kemudian meredam kemarahannya kembali.
"Bukan! Tunggu, tukang makan?! Apa maksudmu?"
Aku juga tidak mengerti dengan yang Aamod katakan.
"Dia makan 2 porsi mie aceh. Jadi, tadi kami lari pagi sampai ke pasar. Kemudian, bocah ini bilang ingin mampir makan sebentar padahal kita baru sarapan sejam yang lalu. Aku masih kenyang jadi aku cuma makan sedikit mie acehnya dan dengan santainya bocah ini menawari untuk menghabiskan porsi mie acehku. Yang paling membuatku kaget adalah…"
Ekspresi Kakak menjadi tegang, tapi aku tidak akan seperti itu.
Aamod pasti akan mengatakan sesuatu yang konyol lagi.
"Saat dia menawariku, dia sudah menghabiskan porsinya tanpa ada sisa sedikit pun! Lalu, dia memakan bagianku sampai tak tersisa juga!"
Sudah kuduga. Kau konyol, Aamod. Tapi Kakak…
Kenapa ekspresi Kakak seperti itu?
"Laalit, Kakak baru tahu kalau ternyata porsi makanmu banyak. Kakak benar-benar kaget dan tidak menyangka, padahal badanmu kurus dan kecil begini."
Kakak mengelus pipiku lalu aku masih tetap menjadi patung.
"Tolong jangan makan sebanyak itu, ya? Kakak tidak mau kamu menjadi gemuk. Selain tidak sehat, Kakak juga ingin agar kamu tetap imut begini!"
Kakak kemudian memelukku seperti memeluk seorang anak kecil.
"Jadi, apakah jawabanku benar?"
Kakak menggeleng lalu menatapku dengan aneh.
"Adikku…"
A-Aku kenapa? Apakah Kakak akan membuangku karena aku tukang makan?
"Dia…"
Cepat katakan, Kakak! Kakak tidak akan membuangku karena aku tukang makan, kan?"
"Laalitku imut seperti boneka~ Lihat ekspresinya, bahkan saat tanpa ekspresi, dia benar-benar imut! Aku khawatir jika kamu berkeliaran, orang-orang akan mengira kalau kamu adalah boneka berjalan."
Kakak mempererat pelukannya lalu menciumi pipiku. Karena tidak nyaman, aku segera menjauhkan wajahku.
"Benar juga… Saat pertama kali aku melihatmu di tempat pelatihan, kukira kau itu boneka pajangan yang di tempatkan di bawah mejaku. Awalnya, aku mencari sumber suara yang sepertinya mengajakku berbicara karena tidak yakin bahwa kaulah yang mengajakku bicara. Ternyata kau itu memang manusia sungguhan dan sedang meminta tolong padaku saat itu."
Aku… Bukan boneka… Aku juga manusia yang hidup dan bernapas seperti kalian.
Aku juga tidak imut…
Sudahlah, lebih baik kukatakan saja apa yang mengganjal dihatiku pada mereka.
"Aku bukan boneka dan aku tidak 'imut'. Aku ini kan laki-laki, yang imut itu hanya perempuan. Aku laki-laki sejati yang ingin menjadi kuat dan bukannya bersolek seperti anak perempuan."
"Siapa bilang kalau 'imut' hanya untuk anak perempuan? Anak laki-laki juga bisa imut, kok. Adikku ini kan imut."
Aamod hanya tertawa sementara Kakak hanya senyam-senyum sambil menatapku.
Masa-masa ini… Aku pasti akan merindukan masa-masa berkumpul seperti ini saat sudah menjadi murid Tuan Mahajana.
Kakak, Aamod, kuharap kalian tidak melupakanku setelah aku menjadi murid Tuan Mahajana dan tinggal di tempat yang jauh dari kalian.