
"Hey, Aamod."
Aamod kemudian menghentikan aktivitasnya dan melirik ke arahku.
"Kenapa?"
"Maafkan aku karena sudah melukaimu. Apa lukanya parah?"
"Wah… Ternyata kau diam-diam mengkhawatirkanku, bro~"
Oh…
Aku menyesal karena sudah mengkhawatirkanmu… dan aku tidak suka dipanggil 'bro'.
"Lukanya tidak parah, kok. Cuma luka gores kecil di bagian pipi dan di samping perutku. Bocah sepertimu tidak mungkin bisa melukai tubuhku sampai parah, aku ini kan seorang Askar~"
Lain kali aku akan memotong jarimu dan mencabut kuku kakimu…
"Lagipula, dalam bertanding, mendapatkan luka itu adalah suatu hal yang wajar. Pada saat bertarung, kita kan menggunakan pedang dan berusaha melukai lawan. Saat bertanding ataupun saat bertarung, kita berusaha menyerang lawan dan melukainya sebelum lawan yang melukai kita. Bila kita dilukai dengan senjata lawan, itu memanglah hal yang wajar, karena kita kurang waspada dan terlalu meremehkan lawan. Melukai atau dilukai, itu sudah kodratnya. Memang itulah gunanya latihan bertanding, selain untuk melukai atau dilukai, bisa juga untuk mengetahui sudah seberapa jauh kemampuanmu dan bagaimana menggunakan kekuatanmu secara maksimal tetapi efisien."
Benar kata Aamod, melukai atau dilukai.
Itu adalah hal yang wajar dalam latihan bertanding. Kalau tidak melukai, kitalah yang akan dilukai.
Aku mengangguk mendengarkan pernyataan Aamod. Terkadang dia bisa bijak juga…
"Aku lumayan suka dengan trik kecilmu. Kau melempar tanah ke mataku sehingga pandanganku menjadi kabur dan mataku agak pedih."
Aku hanya tertawa kecil.
"…"
"…"
"Kau tidak apa-apa?"
"Apa maksudmu?"
"Perkataan Ibu yang kemarin itu, kau bahkan sampai menangis."
Aku cuma pura-pura, Aamod. CUMA PURA-PURA.
Aku menangis agar Kakak memarahi orang itu. Kakak bahkan sampai mengusirnya, ha ha ha…
AKU MENANG~
"Oh… Aku bahkan sudah lupa soal itu."
Aamod hanya tertawa dan menepuk-nepuk bahuku.
"Aamod."
Aamod kemudian menghentikan tepukannya.
"Ya?"
"Bisa kau ajari aku berolahraga?"
*TUK*
Rasanya aku mendengar suara benda jatuh barusan…
"Kau…"
Aamod… Apakah aku yang ingin berolahraga semengejutkan itu?
"Beneran?"
Aku mengiyakan pertanyaan Aamod.
"Tumben sekali~"
Aamod mendaratkan telapak tangannya di rambutku kemudian mengacak-acak rambutku.
"Aku akan mengajarimu dengan keras nanti! Yang pertama adalah lari pagi, kemudian sit up, lalu push up, yang terakhir adalah pull up. Tubuhmu akan bagus sepertiku nanti! Lihatkan, otot-otot tubuhku~"
Apa itu… 'Otot'?
"Bisa kau jelaskan apa itu 'Otot'?"
*TUK*
Sekarang apa lagi yang dia jatuhkan…
"Peganglah lenganku sebentar."
Aku mengangguk kemudian memegang lengannya. Apa ini… Kenapa agak keras?
Aku kemudian memindahkan jariku dan memegang ke bagian belakang lengannya.
Jadi ini yang dinamakan otot… Bentuknya bagus juga.
Permukaannya memang agak keras, tetapi tidak sekeras batu.
Apa bentuknya memang menonjol? Hmm… Menarik…
Apa semua otot bentuknya seperti ini?
Jariku kemudian berpindah lebih ke bawah. Masih terdapat otot juga di bagian sini.
Otot ya, aku jadi ingin membentuk otot juga. Sepertinya tubuhku akan tampak keren kalau berotot.
Lalu jariku sampai di permukaan telapak tangannya. Telapak tangannya agak 'kasar' dan 'keras'?
Apa telapak tanganku juga akan seperti itu kalau rajin berolahraga?
"Kenapa telapak tanganmu agak kasar dan keras, Aamod?"
Seperti yang kuduga, setelah aku menyentuh otot tangannya, aku akan bisa 'melihatnya' walaupun tidak menyentuhnya lagi.
"Oh ini… Ini karena telapak tanganku kapalan, soalnya aku sering berlatih pedang dan bertarung dengan memegang pedang tanpa memakai sarung tangan."
Jadi begitu…
"Apa menggunakan sarung tangan saat memegang pedang itu 'wajib'?"
Aamod sepertinya sedang berpikir sebentar.
"Entahlah, kurasa 'tidak'. Memakai sarung tangan akan membuatmu kesulitan memegang gagang pedang karena permukaannya jadi lebih licin. Karena itulah aku selalu tidak memakai sarung tangan."
Begitu, ya…
"Apa gunanya memakai sarung tangan saat akan memegang gagang pedang?"
Aamod sepertinya sedang berpikir lagi…
"Hmm… Kurasa agar telapak tangan tidak kapalan. Hanya itu saja yang kutahu~"
Oh…
Kalau memang begitu, aku tidak akan memakai sarung tangan.
Memangnya kenapa kalau 'kapalan'? Toh, itu memang resikonya kalau berlatih pedang.
Aku akan 'menghadapi' resiko itu, bukan 'menghindarinya'.
"Bagaimana otot lenganku?"
Otot lengannya, ya…
"Bentuknya bagus dan lumayan menarik. Aku sepertinya juga ingin membentuk otot lenganku."
Aamod sepertinya senang, dia sedang tertawa sekarang.
"Lenganku yang satu lagi juga punya otot, lho. Mau lihat?"
Permukaannya agak keras, bentuknya juga menonjol seperti lengannya yang satu lagi.
Aku kemudian memegang telapak tangannya. Permukaannya juga agak kasar dan keras, sepertinya kapalan juga.
"Bagus juga."
Aamod tertawa senang lalu mengangkat lengannya dengan bangga.
"Aku juga punya otot perut~"
Astaga… Ternyata selain otot lengan, otot perut itu juga ada…
Apakah bentuknya menonjol dan agar keras seperti lengannya Aamod?
Aku benar-benar penasaran, aku ingin melihatnya sekarang juga.
Aku dengan cepat mengarahkan jariku ke perut Aamod.
*TAP*
Aamod menggenggam pergelangan tanganku sehingga tanganku tidak bisa melihat otot perutnya.
"Kau tidak boleh memegang otot perutku."
Ke-Kenapa? Kenapa kau menghentikanku, Aamod?! Aku kan ingin lihat!
"Kenapa?"
Aamod menarik napas panjang, tiba-tiba seluruh ruangan ini terasa sangat serius.
"Karena…"
Karena… Apa? Kenapa tiba-tiba jadi serius begini?!
Tubuhku berkeringat dingin dan jantungku berdegup kencang karena tegang.
"Karena… Hanya istriku yang boleh memegangnya."
Kukira apaan…
Kalau kau tidak memperbolehkanku untuk memegangnya, seharusnya kau bilang saja, kan.
Tidak perlu bercanda dan mempermainkanku seperti ini. Aamod akhir-akhir ini sering sekali menjahiliku.
Aamod, sekali dua kali kau boleh menjahiliku. Tapi kalau terus-terusan, orang lama-lama akan muak juga…
Tapi… Hawanya kenapa masih serius begini? Apa dia tidak sedang bercanda?
"Kau… Serius?"
Aamod mengiyakan pertanyaanku, kukira dia sedang bercanda tadi.
Siapa juga yang akan menganggap serius alasannya yang konyol itu?
Sudahlah… Aku tidak mau membicarakan hal yang tidak terlalu penting sekarang.
"SARAPAN SUDAH SIAP!"
Kakak berteriak dari luar, ternyata sudah selama itu kami di sini?!
*BYUUURRR*
*BYUR*
"Aamod, berikan satu gayungnya padaku, jangan kau pakai dua-duanya."
*BYUUURR*
Aamod sepertinya tidak mendengarkanku… Aku kan juga ingin mandi.
"AAMOD-"
*JRASSHH*
Guyurannya mengenai seluruh badanku sekarang…
"Uhuk! Uhuk!"
Sial, airnya masuk ke hidungku. Aku harus mengeluarkannya sebisa mungkin.
"Uhuk! Uhuk!"
*BYUUR*
Dengan gegabah, Aamod melempar salah satu gayung padaku.
"Nih, bro. Aku sudah siap. Selamat berjuang."
Orang ini… Suka sekali ya melempar…
Kemarin pedang, sekarang gayung. Besok apa lagi yang akan kau lempar, Aamod?
Dan kau akan meninggalkanku? Dasar, padahal mandinya samaan.
Oh iya, aku baru ingat sesuatu…
Aku tidak akan membiarkanmu keluar secepat itu~
"Tunggu sebentar, Aamod."
Mendadak Aamod menghentikan langkahnya.
"Kau… Kau tadi keramas, gak?"
"Enggak."
Aamod lalu melanjutkan langkahnya.
"Kau keramas dulu."
Dari gerak geriknya, sepertinya Aamod melambaikan tangan padaku.
"Besok saja~ Aku mau sarapan sekarang."
"Tidak boleh! Akhir-akhir ini, kau sering sekali menggaruk rambutmu. Kapan kau keramas terakhir kali, Aamod?"
Aamod sepertinya sedang mencoba untuk mengingat-ingat…
"Sepertinya seminggu yang lalu."
Dasar jorok…
"Daaahh~"
Aku lalu menarik bajunya.
"Ti.dak bo.leh"
Aamod kemudian menekuk lututnya sehingga kami sekarang sejajar.
Ia memegang bahuku, entah kenapa firasatku tidak enak sekarang.
"Mau ku mandikan?"
Dasar sinting…
Aku lalu melempar gayung yang sedari tadi kupegang mengarah ke wajahnya.
"ADUH!"
"KALIAN KENAPA LAMA SEKALI?! PERCEPAT SEDIKIT MANDINYA. KALAU LAMA-LAMA, SARAPANNYA NANTI DINGIN DAN TIDAK ENAK LAGI!"