Blindsight

Blindsight
Unik



Sudut pandang Tuan Mahajana


Anak ini… Anak yang menarik ini, masih terbaring lemah hingga saat ini, padahal ini sudah lebih dari sehari…


Pria berambut pirang itu sempat mengatakan padaku bahwa anak ini terkadang merasakan rasa sakit yang hebat di bagian perutnya, tetapi tidak kusangka rasa sakitnya sampai separah itu.


"Hiks… Hu… Hu… Laalit, maafkan Gulinear…"


Aku kemudian berjalan mendekat dan duduk di samping tubuh anak ini


Aku sekarang sedang memeriksa tubuhnya dan menyentuh perutnya dengan telapak tanganku.


Yang benar saja…


Aku masih merasakan bahwa kekuatan besar menghantam tubuhnya.


Kekuatan yang anak ini miliki, seperti memberontak dan ingin menghancurkan tubuh sang pemilik secara paksa.


Ini benar-benar mengkhawatirkan, untung saja anak ini menerima penawaranku agar dia menjadi muridku.


Kalau pria pirang itu tidak memberitahukan tentang rasa sakit yang anak ini rasakan, aku tidak akan pernah tahu bahwa anak ini sedang mengalami kondisi yang sangat rawan dalam tubuhnya.


Jika dia tidak menjadi muridku dan hanya menetap di rumah Nona itu, rasa sakit yang dia alami, tidak akan pernah sembuh untuk selamanya.


"Tuan… Apa Laalit sakit karena Gulinear tidak mau meminjamkan bantal pada Laalit?"


Aku menggelengkan kepalaku kemudian melihat sekilas bantal yang muridku pegang saat ini.


"Benarkah? Laalit… Laalit sebenarnya kenapa, Tuan? Kenapa Laalit masih tidur?! Kenapa Laalit tidak membuka matanya dari kemarin?"


Sebagai seorang master, aku harus bisa berperilaku dengan bijak untuk memberi contoh yang baik pada muridku.


Aku tersenyum dan berusaha mengusir kegundahan muridku yang sedari tadi terus merasa khawatir.


"Laalit hanya kelelahan. Lihat, lingkar matanya sedikit menghitam karena Laalit kurang tidur. Sekarang, Laalit sedang tidur nyenyak untuk mengganti waktu tidurnya yang tidak terpakai."


Muridku mudah percaya kepada orang lain. Jadi, dia akan mempercayai alasan yang kubuat barusan.


"Tapi, kenapa kemarin Laalit berteriak seperti itu? Kenapa Laalit berteriak dan menangis, Tuan?"


Aku berusaha tersenyum kembali untuk menutupi kecemasanku terhadap kondisi anak ini.


"Laalit berteriak seperti itu karena dia tidak terbiasa naik kereta kuda, dia mabuk darat. Laalit menangis karena ingin segera sampai di rumahku dan berlatih berbagai macam teknik agar dapat menyaingimu."


Muridku… Sebenarnya, kamu tidak sekuat itu.


"Gulinear tidak menyangka Laalit ingin bersaing dengan Gulinear sampai menangis seperti itu…"


Muridku, perkataanku barusan hanyalah mengada-ada…


"Laalit… Laalit cepat bangun, ya. Nanti Gulinear akan mengajari banyak hal pada Laalit. Gulinear akan membuat Laalit menjadi kuat seperti Gulinear!"


Muridku yang polos, Laalit akan melakukan hal yang sebaliknya padamu…


Aku melanjutkan memeriksa perutnya.


Aku berusaha membantunya agar kekuatannya tidak memberontak dengan menyerap sebagian kekuatannya.


Setelah menyerap sebagian kekuatannya, aku kemudian mulai menstabilkan inti kekuatan yang mengalir ditubuhnya untuk mencegah agar kekuatannya tidak bisa menghancurkan tubuhnya.


Walaupun aku sudah melakukan ini dengan rutin setiap 2 jam sekali, tetapi anak ini belum siuman juga.


Anak ini… Pasti dia menderita sekali beberapa hari ini.


Aku menggelengkan kepalaku, merasa bahwa aku tidak boleh cemas dan perlu mengendalikan sikapku sebagai seorang master.


"Tuan… Laalit… Kulitnya mulus sekali, ya. Gulinear ingin mempunyai kulit seperti Laalit! Apakah Tuan tahu caranya?"


Kulit yang mulus… Setelah kupegang, kulitnya memang sangat mulus.


Permukaan kulitnya ini bukan sekedar mulus saja, kulit muridku sebenarnya memang mulus.


Tetapi, kulit anak ini… Selain mulus, kulitnya juga sangat lembut seperti kulit bayi.


Hmm… Biasanya yang mempunyai permukaan kulit seperti ini adalah keturunan anggota kerajaan atau keturunan langka.


Anak ini sepertinya memang anak raja…


Muridku mengangguk kemudian memainkan rambut anak ini sekarang.


Rambutnya juga cukup unik, ujung rambutnya yang berwarna gelap agak melengkung ke luar, seperti 'naik'.


"Hi hi hi… Rambut Laalit memang lucu! Gulinear suka!"


Bentuk rambutnya juga jarang dimiliki orang lain. Umumnya, orang-orang memiliki bentuk rambut yang lurus atau bergelombang.


Tapi anak ini… Aku tidak tahu bentuk rambutnya disebut apa…


Para bangsawan juga jarang memiliki rambut yang bentuknya unik seperti itu.


Keturunan langka di zaman sekarang… Tidak mungkin, pasti bukan.


"Gulinear, apakah Laalit ada menceritakan suatu hal yang tidak kamu mengerti?"


Muridku kemudian menatapku.


"Oh… Itu… Hmm…"


Masih memainkan rambut anak ini, muridku kemudian duduk di tempat yang sama denganku.


"Sepertinya tidak ada… Memangnya kenapa??"


Berarti anak ini tidak mengatakan apapun pada muridku.


Aku benar-benar penasaran siapa orang tuanya. Kemampuannya untuk menyamarkan luka itu… Aku tidak pernah bertarung dengan orang yang memiliki kemampuan seperti itu.


Seorang master berperingkat 10 besar tidak memiliki pengetahuan yang luas, semoga rivalku tidak mengetahui soal ini.


Sebagai seorang master, aku seharusnya mengetahui bermacam-macam kemampuan karena sudah berhadapan dengan banyak lawan yang sangat kuat.


Tapi aku tidak mengetahui tentang kemampuan anak ini sama sekali, ini bisa menurunkan harga diriku sebagai seorang master.


Aku akan mencari tahu kemampuan anak ini, walaupun harus menyewa penyelidik yang mahal sekalipun.


Aku ragu anak ini akan memberitahukan rahasianya padaku, dia pasti tidak akan membeberkan rahasianya karena kemampuannya sangat sulit dipelajari dan tidak bisa dikuasai oleh sembarang orang.


Aku bahkan tidak yakin kalau aku bisa menguasai kemampuan yang dimiliki anak ini.


"Tuan… Gulinear bobo siang dulu ya, ngantuk~"


Muridku kemudian menaruh bantal di belakang kepalanya dan merebahkan badannya di kasur yang telah tersedia.


"Cuacanya lumayan panas."


Karena hanya duduk dan tidak memiliki kesibukan apapun, aku lalu bermeditasi.


Sambil bernapas secara perlahan, aku kemudian mulai merasakan kekuatan yang mengalir di tubuhku.


Pada inti kekuatan, alirannya mengalir cukup deras dan cepat.


Inti kekuatan tersebut kemudian menyalurkan kekuatan ke seluruh tubuh.


Kekuatanku mengalir secara perlahan, dari paru-paru hingga ujung tangan, alirannya bergerak dengan tenang.


Kemudian aku mulai merasakannya di ujung kaki, kepala, sampai akhirnya pada inti kekuatan kembali.


Setelah menyerap sebagian kekuatan anak ini, kekuatanku meningkat sebanyak 2 kali lipat dari biasanya.


Lebih tepatnya, aku hanya menyerap energi dari kekuatannya, bukan kemampuannya.


Aku tidak bisa menyerap kemampuan orang lain dan tidak ada orang yang bisa melakukan hal itu.


Tapi ini lumayan janggal, kekuatan ini bukanlah kekuatan yang kurasakan pada anak ini saat pertama kali kami bertemu.


Pria yang berambut pirang itu mengatakan bahwa anak ini sempat bertemu dengan seseorang, kemudian orang tersebut menyalurkan sesuatu ke dalam tubuh anak ini sampai anak ini sempat kesakitan.


Apakah kekuatan ini adalah kekuatan orang tersebut? Aku sepertinya pernah berhadapan dengan orang yang memiliki kemampuan seperti ini.


Setelah anak ini siuman, aku akan menanyakan siapa orang yang ditemuinya tersebut dan bagaimana orang tersebut menyalurkan kekuatan padanya.


Perlukah aku mengetes kekuatanku sekarang?


Sepertinya aku akan turun sebentar dan mengujinya nanti.