
Setelah mencoba mengingat-ingat banyak hal, aku mengelilingi rumah yang kutinggali sekarang sambil menghapal tata letak ruangannya.
Padahal Kakak tinggal sendirian, tapi rumahnya sangat luas.
Kurasa, luasnya sekitar 120-150 meter persegi. Sangat luas untuk orang yang tinggal sendirian sebelum aku dibawa kemari..
Di teras depan terdapat berbagai macam tanaman, aku meraba satu-persatu dan kebanyakan adalah Bunga Gladiol. Kurasa orang-orang lebih mengenalnya sebagai Bunga Bakung.
Bunga Gladiol umumnya digunakan sebagai dekorasi ataupun hiasan.
"Bunga yang cukup indah.."
Aku beralih ke daunnya.
Daun ini berukuran kira-kira 50 cm. Daunnya berbentuk panjang dan meruncing. Setelah 8 helai, bunga Gladiol biasanya baru dapat berbunga.
"Yah, ini sudah lebih dari 8 helai, makanya sudah berbunga."
Dan aku mengetahui hal yang tidak berguna lagi..
Makna dari bunga ini adalah ketulusan, kemurahan hati, kenangan...
Berbicara soal kenangan, kurasa Kakak merawat Bunga Gladiol sebagai rasa hormat dan ketulusan bagi orang tuanya yang sudah meninggal.
Ah.. apakah kedua orang tuaku juga sudah meninggal ya? Sayang sekali, aku tidak bisa mengingat Ayahku ataupun Ibuku..
Aku memutar jalan dan menuju ke teras bagian samping.
Tidak ada yang mengejutkan atau membuatku tertarik, aku meraba-raba dan hanya ada beberapa meja serta kursi untuk duduk sambil menikmati pemandangan pedesaan yang hijau dan subur.
"Menikmati pemandangan apanya, untuk mengenali benda saja aku harus susah payah begini. Meraba satu-persatu itu sungguh melelahkan. Lagipula, hijau itu seperti apa? Aku benar-benar penasaran apa yang orang-orang biasanya lihat.."
Akupun menuju teras bagian belakang. Ternyata jauh lebih luas dari pada teras depan ataupun teras samping.
Terdapat kursi rotan dan beberapa Bunga Lily. Sepertinya Kakak benar-benar menyukai bunga.
Ada juga kursi atau meja yang berukuran minimalis di bagian sudut. Walaupun minimalis, tetapi memiliki daya tariknya sendiri. Sepertinya Kakak juga mempunyai nilai seni yang bagus.
Aku duduk di kursi rotan dan menikmati udara pagi yang masih sejuk meskipun sudah hampir siang hari.
"Kurasa aku baru saja mengedipkan mata, padahal itu sama sekali tidak diperlukan. Mataku tidak perlu beristirahat sejenak karena aku tidak menggunakannya untuk melihat."
Anehnya, setiap seseorang merespon sesuatu yang berhubungan denganku, aku mengetahui dan dapat membalas respon tersebut.
Padahal aku tidak dapat melihat apa-apa, tapi pergerakan orang lain terasa lebih tajam dari pada yang kuduga.
Aku juga penasaran seberapa pekanya tubuhku dengan lingkungan makanya aku berkeliling teras dari tadi.
"Ini menarik, sepertinya aku tidak sepenuhnya buta."
Pikiranku tenggelam lebih jauh lagi.
Tanpa kusadari, aku tertidur sambil terduduk di kursi rotan.
.......
.......
.......
"..lit."
"Laalit.."
"Sepertinya anak ini sudah tertidur cukup lama. Tapi lucu juga wajahnya saat tidur, seandainya aku 8 tahun lebih muda."
Aku terbangun karena Kakak mengelus rambutku, perlahan mataku terbuka.
Sebentar, untuk apa aku membuka mataku? Toh, tetap kegelapan saja yang kulihat.
Tubuhku masih lemas karena baru bangun tidur, tapi aku tetap memaksa mulutku untuk bersuara.
"Ada apa, Kakak?"
Kakak berhenti mengelus kepalaku. Dia lalu beralih ke pipiku.
"Aww, sakit!"
Kakak mencubit pipiku agak kuat sampai membuatku bisa berteriak kesakitan.
"Hehehe, kamu lucu sekali, menggemaskan!"
Kakak sudah tidak mencubit pipiku lagi, tapi entah kenapa bulu kudukku berdiri mendengar apa yang barusan dia katakan.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku bertanya,
"Apa aku memang semenggemaskan itu?"
"Tentu saja, bahkan anak tetangga pun kalah imut dibandingkan dirimu!"
Kakak menjawabnya dengan nada yang bangga, seperti baru saja membanggakan prestasi yang anaknya capai.
"Ayo kita makan siang dulu, setelah itu kita akan berkeliling agar kamu terbiasa dengan desa ini."
Aku duduk lalu mencicipi makan siang yang sudah Kakak buat.
"Sop dengan daging sapi ya, aku lumayan suka."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan memasaknya sesering mungkin! Aku akan meracik bumbu lebih sering agar bisa menemukan resep yang baru dan lebih enak dari ini."
Kami menikmati makan siang lalu bersiap untuk berkeliling desa.
.......
.......
.......
Kami ternyata pergi ke pasar, Kakak ingin membeli bahan makanan untuk stok sampai Minggu depan.
"Kamu mau yang mana, Laalit? Yang ini atau yang ini?"
Apa maksudnya 'Yang ini atau yang ini'? Kenapa Kakak tidak bilang saja apa yang dimaksud dengan 'Yang ini' itu..
Aku sedikit merasakan bahwa penjual bahan makanan tersebut sedang menatap diriku. Saat dia menatapku, tiba-tiba emosiku memuncak sesaat. Aku tidak tahu kenapa itu terjadi.
"Apakah anak yang manis ini adalah anakmu, nona pembeli?"
"Hah.. Apakah aku setua itu sampai dikira ibu-ibu yang sudah mempunyai anak? Pertama aku dipanggil 'Nyonya' dan sekarang aku dikira sebagai 'Ibu'?"
Aku menyela,
"Nona ini adalah Kakakku, ibu penjual."
Penjual bahan makanan tersebut tidak enak karena sudah membuat Kakak tersinggung.
Dia lalu meminta maaf kepada Kakak, untunglah Kakak bukan tipe yang pendendam, Kakak bersikap santai seolah-olah kejadian barusan tidak pernah terjadi.
Saat Kakak sedang marah-marah tadi, aku menggunakan celah agar bisa meraba-raba bahan makanan dan dapat memilih apa yang kuinginkan.
"Aku mau ikan saja, yang ini."
Aku menunjuk ke ikan nila, penjual lalu menimbang dan membungkus ikan tersebut.
Setelah itu, kami juga membeli beberapa bahan makanan yang lainnya.
Kakak ternyata kenal dengan beberapa penjual dan cukup akrab dengan mereka. Kakak juga memperkenalkanku kepada mereka.
"Wah, kukira kamu sudah menikah, ternyata anak manis ini adalah adik angkatmu.."
"Bibi! Sudah berapa kali beberapa orang menganggapku seperti itu hari ini.. Memangnya wajahku sudah setua itu!
Aku bisa merasakan nada bicara Kakak yang sedikit tersinggung dan agak cemberut. Aku berusaha bersikap sopan, lalu menyapa Bibi tersebut.
"Aku Laalit, senang bertemu denganmu, Bibi."
Bibi mengangkatku kemudian memelukku erat-erat seperti menggendong bayi.
"Anak yang ramah sekali, Bibi juga senang bertemu dengan anak yang punya sopan santun sepertimu. Coba lihat anak zaman sekarang, agresif dan tidak menghargai orang yang lebih tua."
"Ah, tidak semuanya begitu kok Bi. Kakak saja bersikap baik dan sopan."
"Kamu tidak dengar nada bicaranya tadi? Kakakmu memarahiku tadi dan kamu bilang dia sudah bersikap 'sopan' "?
Ah, ternyata Bibi ini orang yang cukup sulit ditangani juga..
"Kakak seperti itu karena beberapa orang mengatakan hal yang sama padanya berulang kali, apalagi hal tersebut bukan yang ingin Kakak dengar. Kurasa kalau aku menjadi Kakak, aku juga akan kesal. Hehe.."
.......
.......
.......
Tidak terasa sudah sore hari, kamipun menuju perjalanan pulang.
Tiba-tiba aku terhenti dan merasakan ada sesuatu yang menarik perhatianku. Kakiku melangkah seperti sudah tahu tempat manakah yang akan kutuju.
Dengan terburu-buru, Kakak mengikuti langkah kakiku sambil setengah mengejar.
Tetapi terlalu banyak kerumunan orang, sehingga Kakak pun akhirnya kesulitan mengejarku.
"Laalit!"
"..lit!"
Aku berlari meninggalkan Kakak dan sampailah pada tempat yang benar-benar kunantikan.
Tempat ini tidaklah gelap! Aku merasakan beberapa aura yang kontras silih berganti dan hawa yang terkesan menekan dan kuat.
Pria tua menyambutku dengan nada yang sopan.
"Selamat datang, nak. Apakah kamu kemari karena tersesat atau karena penasaran dengan tempat ini?"