Blindsight

Blindsight
Satu Hari Lagi



Aku bisa mandi dengan teratur dan tidak makan roti ini lagi, akhirnya…


Ah… Aku tidak sabar! Sehari lagi, kami akan sampai ke tempat tujuan.


Aku bisa tidur nyenyak tanpa ada kaki yang mengarah ke wajahku.


Aku bisa berlatih berbagai macam teknik dengan Tuan Mahajana.


Aku bisa olahraga tanpa ada yang mengangguku. Aku…


Aku juga bisa… Makan mie aceh, indomie, ikan bakar, ayam penyet, bebek penyet, dan makanan enak lainnya.


Mungkin nanti setelah selesai latihan, aku akan meminum teh manis panas sambil memakan indomie rasa ayam bawang…


Rasanya seperti di surga… Enak sekali… Hmm…


"Ih, Laalit ngiler!"


Gulinear tiba-tiba berteriak di sampingku. Aku baru menyadari bahwa air liurku sudah menetes melewati bibirku.


Aku kemudian buru-buru mengelapnya sambil tertawa kecil untuk menutupi rasa maluku.


"Kamu kenapa?"


Tuan Mahajana menatap ke arahku, aku merasakan bahwa dia sedang menahan tawa sekarang.


Dasar orang tua ini… Dari kemarin menertawakanku terus…


Aku jadi teringat…


Kemarin siang, Gulinear tetap menempel padaku sampai aku tertidur.


Aku tidah tahu kapan dia bangkit dan melepaskanku, tapi…


Aku ketiduran hingga baru terbangun pagi ini… Hah, sial…


Tuan Mahajana sama sekali tidak membantuku, dia hanya membiarkanku ditahan oleh anak ini.


Anak ini… Anak yang duduk di sampingku ini… Dia… sangat….


MEREPOTKAN!


Kenapadiaselalumengganggukudanmenimpakusepertiituapaakupunyasalahpadanyaapaakupernahmengganggunyaapaakupernahtidaksengajamemukulnyaataukarenaakupernahmemegangpahanya.


Akukansudahmintamaafwaktuitulaluapalagiyangharuskulakukanapakahakuharusmenundukpadanyaatauakuharusmemohonpadanyaagardiatidakmenimpakulagisepertikemarin.


Aku… Aku sangat… Hah…


Aku menghela napas kemudian memijat dahiku sebentar.


"Sepertinya kamu sedang mempunyai banyak masalah."


Tuan Mahajana… Sebenarnya kau tidak memedulikan itu, kan?


Kau saja tidak membantuku kemarin, hanya menertawakanku saja.


Masalahku… Tidak banyak, sih. Ini masalah yang saaagggggaatt ringgaaannn bagi kebanyakan orang.


Iya, ditimpa berkali-kali oleh seorang bocah dan diganggu olehnya, energiku sudah terkuras habis selama 4 minggu ini.


Gulinear, kapan kamu dewasa? Kamu harus cepat dewasa agar tidak menyusahkan orang-orang di sekitarmu.


Tidakkah kamu mengerti bahwa sikapmu itu sangat menyebalkan?


Seperti anak yang nakal dan liar, padahal Nenekmu itu sangat sopan.


Tidak, kurasa Nenek tidak terlalu sopan. Nenek saja seenaknya membaca pikiranku.


Bahkan Nenek juga berbohong. Dia berkata bahwa aku akan sampai ke rumah Kakak hanya dalam beberapa detik, nyatanya aku jalan kaki selama 5 jam.


Belum lagi rasa sakit yang ada di tubuhku ternyata bukan hanya hal yang bisa disepelekan, terdapat kekuatan ganas yang selalu berusaha untuk menghancurkanku dari dalam.


Nenek hanya mengatakan bahwa rasa sakit itu disebabkan karena dia memberikan penunjuk arah padaku.


Iya, aku tahu Nenek memang misterius dan sifatnya tidak tertebak.


Masalahnya... Kamu sama sekali tidak mirip dengan Nenekmu, Gulinear…


Kamu seperti anak yang usianya lebih muda dariku.


Jadi…


Apakah seperti ini rasanya mempunyai anak? Rasanya sangat merepotkan karena harus memaklumi sifatnya yang nakal setiap hari.


Belum lagi kalau dia merajuk, aku harus membujuknya agar tidak marah lagi padaku.


Ah, kenapa dia yang jadi anaknya? Aku kan jauh lebih muda darinya…


Tapi kalau dia yang jadi orang tuanya, lebih tidak cocok lagi perannya.


"Halo, adikku!"


Eh, aku… Aku mendengar suara Kakak barusan? Tidak! Aku pasti sedang berkhayal sekarang.


Kakak kan masih berada di desa dan tinggal bersama adik sepupunya Aamod.


Berarti, kakak tidak mungkin di sini. Sepertinya aku sudah sangat kesepian sehingga aku bisa mendengar suara Kakak yang begitu nyata lewat khayalanku.


Aku hanya mengalihkan wajah ke depan sambil melakukan meditasi.


"Kakak! Ini Gulinear!"


"Gulinear! Bagaimana kabarmu?"


Gulinear lalu berbicara dengan suara yang mirip dengan Kakak, suara itupun menyahutnya.


Mereka berbincang-bincang seperti sudah kenal lama, mungkin hubungan mereka memang sudah cukup dekat.


Gulinear menceritakan saat dia menguncir rambutku dan dia malah bangga akan hal itu.


Kenapa dia tidak menguncir rambut Tuan Mahajana saja?


Lagipula, kudengar rambut pria tua itu agak panjang.


Kalau agak panjang, bukankah lebih mudah untuk dikuncir, ya?


Itu bukanlah hal yang penting sekarang. Bukankah…


Di sini hanya ada aku, Tuan Mahajana, dan Gulinear saja?


Kalau begitu, dari mana asal suara yang mirip dengan Kakak itu?


Apakah ada sesuatu di sini? Semacam alat pengubah suara agar seseorang bisa merubah suaranya?


Mungkin Tuan Mahajana merubah suaranya secara sengaja? Tapi, untuk apa?


Tuan Mahajana tidak mungkin merubah suaranya hanya untuk sekedar menjahiliku.


Tuan Mahajana punya banyak hal yang perlu diurus, seperti terjaga sepanjang hari untuk melindungi kami dari musuh yang kalau-kalau langsung menyerbu ke kereta kuda ini.


Gulinear juga tidak mungkin merubah suaranya karena dia sedang berbicara dengan suara yang mirip dengan Kakakku sekarang.


Aku bahkan masih mendengar suara itu dengan jelas sampai sekarang…


Aku menggelengkan kepalaku agar mengurangi khayalanku dan berusaha berkonsentrasi dalam meditasi.


"Kamu tidak ingin berbicara dengan Kakakmu?"


Konsentrasiku seketika buyar karena Tuan Mahajana mengatakan hal yang cukup mengagetkan padaku.


Apa Tuan Mahajana memang sedang menjahiliku sekarang?


Kakak kan tidak ada di sini, bagaimana caranya aku berbicara dengan Kakak?


Aku menghela napas sebentar kemudian melanjutkan meditasi yang sempat terhenti.


"Laalit! Adikku yang tampan!"


Sepertinya aku akan berobat ke rumah sakit setelah ini.


Gejalanya makin parah, suara Kakak terdengar semakin jelas di telingaku.


Apakah aku mengidap halusinasi auditori ? Kalau memang benar, aku harus mengatasi halusinasi ini dengan sungguh-sungguh, yaitu dengan mengalihkan perhatian agar halusinasi yang kualami segera menghilang, sehingga tidak menganggu aktivitas yang kujalani setiap harinya.


Aku menarik napas, mulai memfokuskan perhatianku pada setiap tarikan napas yang terus berulang dari hidung dan mulut.


Tiba-tiba, Tuan Mahajana menarik tanganku dan memberikan sesuatu yang ternyata adalah sebuah kertas.


"Hai, apa adikku tidur dengan cukup di sana?"


Kukira aku mengidap semacam halusinasi, ternyata itu tidak benar. Syukurlah…


Karena kertas yang kupegang ini… Suara itu ternyata berasal dari kertas ini!


Saking kagetnya, tanpa sengaja aku menjatuhkan kertas tersebut dan tidak mengambilnya kembali.


Aku masih tidak percaya bahwa kertas ternyata mempunyai pita suara.


Aku dilanda kecemasan dan ketakutan yang berlebihan.


Karena sedang bingung dan takut, suara orang lain yang kudengar barusan pun, entah Tuan Mahajana ataupun Gulinear, menjadi tidak jelas seperti tercampur dalam kerumunan yang berdesakan satu sama lain.


Aku merasakan bahwa seseorang mengambilnya dan menaruh kembali kertas tersebut di telapak tanganku.


"Apa adikku sakit?"


Suara itu berbicara lagi, tetapi aku berusaha agar tidak menunjukkan tingkah laku yang kaget seperti tadi.


"Sayang?"


Walaupun masih kaget, aku berusaha menjawabnya seperluku.


"Tidak!"


"Apa kamu tidur dengan cukup di sana?"


Aku menelan ludah dan berusaha menjaga ekspresi agar tidak kelihatan ketakutan.


"Iya!"


Gulinear tiba-tiba mendekat dan menyenderkan kepalanya pada bahuku.


Aku yang agak bingung pun berusaha menjauh, tetapi Gulinear malah semakin mendekat dan menyenderkan kepalanya kembali pada bahuku.


"Kenapa menjauh? Gulinear kan mau lihat Kakak juga!"


Jadi, aku memang sedang berbicara dengan Kakak sekarang?


Aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana bisa suara kertas adalah suara dari Kakak yang letaknya jauh dari sini?


Apa ini semacam kertas ajaib yang bisa berbicara langsung kepada orang lain yang jaraknya sangat jauh dari kita?


Luar biasa! Siapa orang jenius yang membuat benda semacam ini?


Kapan-kapan, aku harus mendatanginya dan menanyakan proses pembuatannya.


Tawa tidak percaya keluar dari mulutku. Melalui kertas ini, aku kemudian mengobrol dengan Kakak sampai waktu sudah menunjukkan makan malam.