
Aku meregangkan badanku dan berjalan menuju ruang makan.
Bau yang harum… Sepertinya Kakak sedang menghaluskan cabai.
Aku kemudian berjalan ke halaman rumah, udaranya terasa agak dingin tapi juga terasa sejuk di saat bersamaan.
Aku merasakan Aamod sedang lari pagi di sebelah sana.
Karena aku memang dasarnya 'malas' untuk melakukan hal-hal melelahkan seperti itu, aku cuma duduk di rerumputan dan menunggunya selesai.
Angin semilir mengelilingi diriku, aku menyahutnya ramah dengan merasakan bagiannya yang berputar.
Aku membuat angin menerbangkan rambutku dan memasuki sela-sela bajuku.
Di saat aku sedang keasyikan bermain angin, Aamod berteriak memanggilku.
"OI… LAALIT! KAU MEMBUAT ANGIN MARAH, YA?!
Aamod kemudian berlari menghampiriku karena penasaran.
"Wah, apa ini? Tampak seperti badai angin…"
Apakah anginnya memang sebesar itu ataukah Aamod yang terlalu berlebihan?
Aku mengantisipasi dan perlahan melepaskan sebagian angin dariku.
"Kau beneran masih 11 tahun?"
Apa maksud dari pertanyaannya itu?
"Kurasa aku sudah memasuki usia 19 tahun hari ini."
Dia terasa gelisah dan mondar-mandir.
"Memangnya kenapa menanyakanku soal itu?"
Aamod menghentikan langkahnya dan sepertinya duduk di sampingku.
"Huff.. Dengar, Nak. Di usia 14 tahun, biasanya kekuatan intimu baru bangkit dan kau masih belajar untuk mengeluarkannya walaupun kekuatan yang dihasilkan masih sangat sedikit. Tu-tunggu, kau bangkit saat umur berapa?"
Aku mengangkat bahuku karena aku memang tidak tahu.
"Hmm, jadi begini.. Umumnya, inti kekuatan manusia akan bangkit saat mencapai usia 14 tahun. Saat inti kekuatanmu bangkit, terdapat elemen khas yang muncul dalam dirimu.
Elemen tersebut terdiri dari :
- Api
- Air
- Es,
- Tanah,
- Logam,
- Gravitasi,
- Kayu,
- Angin,
- Kecepatan,
- Suara,
- Listrik atau yang sering dikenal sebagai 'petir'.
- Cahaya,
- Kegelapan.
Umumnya, orang-orang terlahir memiliki elemen api dan jarang terlahir dengan elemen kegelapan. Aku terlahir dengan elemen api dan kau terlahir dengan elemen angin."
"Ternyata aku elemen angin."
Aku mengangguk-angguk sambil mencerna semua informasi itu dikepalaku.
"Para master diperingkat 10 besar di dunia biasanya dapat menguasai sebanyak 2 elemen, tapi tidak seimbang. Maksudku, kemungkinan elemen yang sudah ada sejak lahir akan kalah kuat dengan elemen yang hanya dipelajari. Seingatku, Master Bellance mampu menguasai suara dan tanah. Waktu di tempat pelatihan, aku melihatnya sedang berlatih bersama Master yang lain, lawannya dapat menggunakan elemen angin. Saat lawannya menyerang dengan angin topan, lawannya tiba-tiba terjatuh sambil menutup kedua telinganya."
Aku mengerti, berarti lawannya…
"Lawannya mengacaukan gelombang suara dan membuatnya menjadi berisik."
Aamod sepertinya membenarkan perkataanku. Benar juga,
"Lebih kuat yang mana, Tuan Mahajana atau Master Bellance?"
Aamod meletakkan tangannya didagu, sepertinya sedang mengira-ngira,
"Soal itu… Aku juga tidak tahu. Aku belum pernah melihat kekuatan Tuan Mahajana secara langsung dan mereka belum pernah bertarung bersama. Master Bellance menurutku juga sangat kuat. Selain kecantikannya yang membuat banyak pria jatuh cinta, bakat dan kemampuannya sangat luar biasa. Tidak seperti anak kebanyakan, Master Bellance bangkit saat usia 12 tahun. Master Bellance dididik oleh guru yang dibayar mahal. Saking berbakatnya, ia lalu dapat membelah tanah saat usia 16 tahun. Master Bellance juga terlahir di keluarga bangsawan, semua pelayan patuh padanya, semua pengawal melindunginya, dan semua pria memujanya. Bakatnya memang tidak bisa ditampik, bagaimana bisa ada orang sehebat itu-"
Aamod mendadak memegang bahuku,
"Benar, kan?"
Aku mengangguk dan tersenyum semaksimal mungkin untuk menghargai ceritanya,
"Kau, juga…"
"Ya?"
"Kekuatanmu sudah sebesar ini di usia yang sangat muda. Kau beneran 11 tahun, kan?"
"Tentu saja."
"Kalau kau memang umur 11 tahun sekarang, kemungkinan kekuatanmu bangkit saat umur… 7 TAHUN?!"
Aamod berteriak histeris dan berlarian kesana kemari seperti seekor banteng.
"Kemampuan yang kukuasai adalah senjata. Jadi, itu adalah sebuah pedang. Aku akan mengajarimu dasar-dasarnya."
Aku meraba secara perlahan untuk mengetahui seperti apa benda yang dinamakan 'pedang'.
Bagian ujungnya cukup runcing, aku merasa bisa langsung memotong Aamod bila dia terlalu usil.
Aku tertawa sedikit ketika membayangkan suara Aamod yang kesakitan setelah kutebas.
"Ternyata kau bisa tertawa."
Aamod malah ikut tertawa.
"Aku sedang menertawaimu, bukan tertawa bersamamu…"
"Hah, apa?"
Aku menggeleng cepat dan berusaha mengalihkan perhatiannya,
"Bukankah kau akan mengajariku teknik dasar berpedang?"
"Ah, benar juga!"
Aamod lalu mengambil sesuatu dan mempersiapkan tubuhnya,
"Tegakkan badanmu sampai rileks dan nyaman untuk bergerak."
Aku lalu menegakkan badanku sampai terasa nyaman,
"Bagus! Posisikan kaki agar selebar bahu, jangan berdekatan.
"Selebar bahu, ya..."
Aamod bertepuk tangan kecil lalu merapikan posisinya.
"Genggam pedangmu! Pedang yang kuberikan padamu adalah tipe pedang yang tidak terlalu berat dan mudah untuk menggerakkannya, jadi kamu tidak akan kesulitan memakainya."
Aku mulai menggenggam pedangku,
"Baiklah!"
Aamod menggenggam benda yang dipegangnya juga, sepertinya itu adalah sebuah pedang juga...
"Elemenmu angin, kan?"
Aku mengangguk.
"Gunakan elemen anginmu seberguna mungkin, percepatlah gerakanmu dan usahakan untuk dapat menangkis seranganku. Kalau bisa, lakukan serangan balik padaku."
Aku mulai serius dan mengangguk mantap.
*SRING*
Aku sedikit kaget lalu tanpa sadar mundur ke belakang.
"Apa kau tahu aku sedang apa barusan?"
Aku mengangguk lalu menjawab,
"Kamu mengayunkan pedangmu barusan, kan?"
Gerakan Aamod tampak aneh, aku tidak tahu dia sedang apa sekarang.
"Bo-boleh aku tahu, apa yang sebenarnya kau lihat? Aku sebenarnya sangat penasaran bagaimana kemarin kau berjalan ke kamar mandi sendiri, kau juga berjalan ke sini tanpa bimbingan dari kakakmu, kan?"
Padahal aku lebih penasaran dengan yang biasanya kalian lihat…
Aku tanpa sadar menghela napas.
"Kau tahu kan kalau aku adalah seorang tunanetra? Tentu saja aku tidak melihat apapun."
"Tidak perlu berbohong padaku, katakan kebenarannya padaku sekarang… Kau bisa tahu kalau aku tadi sedang mengayunkan pedangku, kau pasti melihatnya entah bagaimanapun, kan?"
Aku menghela napas lebih panjang lagi…
"Sudah kubilang, aku tidak melihat apapun. Aku bersumpah!"
Aamod lagi-lagi bergerak aneh.
"Lalu, bagaimana caranya kamu mengetahui gerakanku barusan?"
Kenapa orang ini penasaran sekali, sih…
"Aku merasakannya, aku merasakannya ketika kau mengayunkan pedangmu. Bahkan saat kau mondar-mandir, aku juga bisa merasakannya."
Aamod benar-benar mondar-mandir sekarang…
"Sekarang aku sedang apa?"
"Kau sedang berjalan tapi tidak bertujuan…"
Lagi-lagi Aamod berteriak histeris seperti sedang mengajak bicara seorang hantu.
"Kapan kau akan mengajariku dengan serius, Aamod?!"
Aamod kemudian menghentikan langkahnya dan bergerak serius.
"Ingat, gunakan elemen anginmu sebaik mungkin, percepatlah gerakanmu dan usahakan untuk dapat menangkis seranganku. Kalau bisa, lakukan serangan balik padaku."
Aku mengangguk dan bersiap untuk bertahan,
Aamod kemudian mengangkat pedangnya dan berlari ke arahku.
"HEI KALIAN BERDUA! KEMARILAH, AYO SARAPAN!
Kak Fakeehah memanggil kami dan Aamod akhirnya membatalkan gerakannya…