Blindsight

Blindsight
Semakin Membaik



Sudah belasan menit sejak Tuan Mahajana melakukan sesuatu pada kekuatan dalam tubuhku.


Meskipun aku tidak tahu apa yang Tuan Mahajana lakukan, tubuhku mengetahuinya dengan pasti.


Aliran kekuatanku semakin membaik, aku bisa merasakan inti kekuatan tidak lagi membebani tubuh ini.


Tuan Mahajana bisa mengubah intensitas sakitnya dari 80% menjadi 10%.


Tuan Mahajana memang sangat mengagumkan…


Sudah kuduga, Tuan Mahajana bisa mengatasi hal ini.


"Uhuk."


Kondisiku memang mendingan, tapi batuknya tetap tidak kunjung hilang.


Dengan batuk yang masih kualami ini, aku menyadari bahwa seorang master seperti Tuan Mahajana bahkan tidak bisa menyembuhkan tubuhku sepenuhnya.


Tidak, aku seharusnya bersyukur. Pasti tidak mudah untuk meringankan inti kekuatan yang terus-menerus membebani tubuhku.


Aku juga bisa menggerakkan tubuhku dengan bebas sekarang, tanpa merasakan kepedihan yang melanda.


Aku akan mengucapkan terima kasih nanti. Aku tidak boleh lupa!


"Tubuhmu masih terasa sakit?"


Jujurkah? Atau…


"Sudah mendingan."


Jujur saja. Sakitnya kan belum hilang sepenuhnya.


Saat ini, berbohong tidak diperlukan.


"Ini akan memakan waktu lama. Kamu boleh mengajakku bicara agar tidak merasa jenuh."


Aku mengangguk untuk mengiyakan perkataan Tuan Mahajana.


Perbuatan biasanya berbeda dengan pemikiran. Ya, aku tidak akan mengajak Tuan Mahajana berbicara. Aku tidak ingin mengganggunya.


Tuan Mahajana kan sedang berkonsentrasi agar inti kekuatanku seperti sedia kala.


Kalau mengajak Tuan Mahajana berbicara, aku bisa membuyarkan konsentrasinya.


Lagian aku tidak mungkin merasa jenuh. Yang Tuan Mahajana lakukan sekarang cukup membuat tubuhku merasa nyaman, sehingga rasa nyaman itu pun beralih menjadi segar kembali.


Dan, tidak apa-apa memakan waktu lama. Yang penting, kondisi tubuhku bisa lumayan stabil seperti baru-baru ini.


Aku ini anak yang cukup sabar, kok. Sampai sekarang aku tidak membentak Gulinear walaupun aku sangat kesal terhadap sikapnya.


"Tuberkulosis?"


Sial…


Mengagetkan sekali kamu, Jaleed…


Kenapa muncul mendadak, sih?!


Kalau dipikir-pikir…


Kurasa bukan Jaleed yang muncul secara mendadak, tapi aku yang tidak bisa merasakan hawa keberadaannya.


Padahal Tuan Mahajana sudah membantuku untuk menetralkan kondisi tubuhku.


Sepertinya kondisiku harus sehat sepenuhnya baru bisa merasakan keberadaan orang lain dengan bebas.


"Kamu kenapa di sini?"


Benar yang ditanyakan Tuan Mahajana, kenapa kamu ada di sini, Jaleed?


"Saya habis dari dapur untuk minum sebentar dan sekarang dalam perjalanan untuk bermeditasi di tempat semula."


Oh…


Kalau begitu, kembalilah ke tempatmu. Aku tidak butuh perhatian darimu.


"Kamu sering sekali sakit."


Iya, aku juga tidak tahu mengapa aku diberkahi tubuh yang payah seperti ini.


"Semoga cepat sembuh."


Apa Jaleed mengatakannya dengan sungguh-sungguh atau cuma sekedar basa basi?


Entahlah… Aku cukup tersanjung dibuatnya.


"Oke, terima kasih."


Tidak ada jawaban, sepertinya Jaleed sudah pergi dari sini.


Omong-omong, tentang batuk yang kualami ini…


Mengapa kondisi tubuhku menjadi kambuh secara mendadak setelah sekian lama?


Ini bukan disebabkan oleh alergi makanan, racun dalam makanan, dan dendam terselubung.


Aku rutin melakukan meditasi. Aku melakukannya sesering mungkin saat waktuku sedang senggang.


Kulakukan sambil berjalan, duduk bersila, duduk biasa, sampai tidur di kasur tetap aku lakukan.


Aku juga beristirahat dan makan dengan teratur. Tidak pernah kulewatkan waktu sarapan, makan siang, dan makan malam.


"Uhuk."


Meskipun aku makan teratur, bukan berarti aku makan dengan porsi yang sedikit seperti yang lainnya.


Aku makan lahap, banyak sekali. Nasi goreng, mie rebus, ayam bakar, aku makan semuanya sampai habis tak bersisa! Air putih, aku meminumnya saat sarapan tadi.


Berarti bukan karena aktivitas yang setiap hari kukerjakan.


Kalau penyakit bawaan…?


Tubuhku tidak mengidap penyakit seperti itu. Inti kekuatan yang membuatku kesakitan ini disebabkan oleh kekuatan yang membebani tubuhku.


Dan yang turut andil dalam hal ini adalah… Neneknya Gulinear.


Walaupun Tuan Mahajana sudah menjelaskan, aku ingin menanyakan lebih lanjut mengenai kekuatan ini kepada pada Neneknya Gulinear. Namun, Neneknya Gulinear tidak ada di dekat sini.


Ini membingungkan, sangat membingungkan…


Sudah berulang kali aku pikirkan, tapi aku tidak dapat jawabannya.


"Baju ganti untukmu. Tidak baik orang lain melihat darah berceceran di bajumu."


Aku mengganti bajuku dengan cepat. Tuan Mahajana melanjutkan yang dia lakukan.


Sebenarnya kenapa?


Kenapa tiba-tiba aku batuk berdarah seperti ini?!


Kekuatan ini? Ada apa dengan kekuatan ini? Kapasitas tubuhku tidak mencukupi? Ya, tentu saja. Aku kan masih anak-anak. Apa aku tertular semacam virus baru? Tapi orang lain baik-baik saja. Mungkin karena aku tidak cukup kebal terhadap pergantian suhu dari rumah Kakak ke rumah ini? Ya ampun Laalit, dasar kampungan. Sudah 9 hari dan kamu masih belum bisa membiasakan diri dengan pergantian atmosfer dari tempat ini. Cepat biasakan dirimu agar tidak merepotkan Tuan Mahajana dan semua orang yang ada di sini…


Pasti bukan itu jawabannya…


"Sudah lebih baik?"


Aku hanya mengangguk.


Tuan Mahajana menyudahi menetralkan inti kekuatanku.


Telapak tangannya kini sudah tidak berada dipunggungku lagi.


Aku mencoba merasakan seluruh anggota tubuhku.


Dan batinku mengatakan…


Ini jauh lebih baik!


Tubuhku tidak lagi gemetaran, bila dirasakan, aliran kekuatannya bergerak sesuai sedia kala.


Batuknya juga… hilang…


Aku tidak merasakan sakitnya lagi, tinggal rasa tidak nyaman yang terjadi pada inti kekuatanku.


Perlahan, aku sudah bisa merasakan keberadaan orang lain.


Yah, meskipun tidak bisa merasakannya terlalu jauh, sih.


Tidak apa-apa, lebih bagus begini kan daripada tidak bisa merasakan keberadaan orang lain sama sekali?


Ini semua berkat Tuan Mahajana.


Tuan Mahajana adalah Master dari para Master!


Tuan Mahajana bisa melindungi orang lain, bermain alat musik, hingga mengobati orang lain. Orang tuanya pasti bangga.


Kelak, aku akan menjadi seperti Tuan Mahajana, mahir dalam beberapa hal sekaligus. Kakak dan Aamod akan bangga-


Oh iya, di mana sopan santunku. Aku hampir melupakan hal yang penting.


"Terima kasih, Tuan Mahajana."


Aku sudah bisa merasakannya...


Tuan Mahajana berdiri dari duduk, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit.


"Sama-sama."


Aku menerima uluran tangan Tuan Mahajana, menarik tubuhku ke atas, lalu membuka kedua kaki selebar pinggul, mengarahkannya lurus ke depan.


Tidak seperti sebelumnya, sekarang aku sudah bisa berdiri tanpa kehilangan keseimbangan.


Tumpuan pun tidak seberat sebelumnya, yang harus bersusah payah agar tidak terjatuh.


Ah… Aku harus bertanya mengenai kondisi tubuhku.


"Apa yang terjadi dengan tubuhku?"


Kuharap Tuan Mahajana mau menjelaskannya padaku secara terperinci dan menyeluruh.


Tunggu, di sini kan ada Guru. Bagaimana Tuan Mahajana akan menjelaskannya?


"Inti kekuatanmu terbebani oleh energi yang diberikan oleh Bahirun."


Energi itu…


Apa saat aku melakukan meditasi tadi, yang Guru salurkan adalah…


"Aku akan menjelaskannya nanti. Katakan pada yang lainnya, pembelajarannya sudah selesai untuk hari ini. Setelah itu, beristirahatlah di kamarmu."


A-Apa?!


Mengapa tiba-tiba?!


Aku harus tahu alasannya!


"Tunggu-"


"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, Bahirun."


"Dengan saya?"


"Hey, Laalit. Aku akan mengajarimu bermain biola saat keadaan tubuhmu sudah membaik."


Mereka berdua pergi meninggalkanku…