
Ah, Nenek ini. Bagaimana bisa Nenek tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang?
Aku jelas-jelas mengatakan semua itu di dalam hati. Apa selain meramal, kemampuan Nenek adalah membaca pikiran orang lain?
Tentu saja, pasti begitu… Saat memikirkan kapan aku akan pulang, Nenek langsung tahu dan menyuruhku makan agar bisa segera mengantarku pulang.
Dan saat aku memikirkan tentang di mana tempat Gulinear disekap, Nenek juga sepertinya tahu karena Nenek bilang bahwa aku adalah anak yang pandai berlogika.
Tentu saja aku harus melakukan itu. Aku tidak bisa melihat apapun dan aku tidak ingin membebani orang lain, jadi satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah menganalisis.
Mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, aku harus pandai-pandai menganalisis untuk mengetahui jawabannya.
Meskipun aku juga tidak tahu apakah yang kupikirkan ini memang benar, tapi minimal aku sudah berusaha untuk memecahkannya sendiri.
Aku juga harus berhati-hati karena Nenek ini bisa membaca pikiran orang lain, dia pasti sedang membaca pikiranku sekarang.
Aku tidak boleh memikirkan hal yang membuatnya tersinggung ataupun hal-hal negatif lainnya.
"Santai saja, Nak. Yang kamu pikirkan barusan memang benar, Nenek bisa meramal dan membaca pikiran orang lain. Dan kesimpulanmu tadi juga benar, Gulinear memang disekap di lantai bawah tanah pada rumah kayu tersebut. Awalnya, Nenek beserta orang tua Gulinear kebingungan karena cucuku tidak dapat ditemukan di rumah kayu tersebut, lalu kami tidak sengaja menginjak sesuatu yang berlubang kecil dan muncullah tangga bawah tanah. Kami turun perlahan dan menemukan Gulinear yang terikat, dengan lilin yang jaraknya agak jauh dan apinya redup."
Aku mengangguk, mendengarkan penjelasan Nenek tentang menemukan Gulinear.
Ternyata kesimpulanku benar, aku agak bangga karena ini pertama kalinya aku berpikir sekeras ini dalam hidupku.
Tapi… Aku agak lapar. Setelah berpikir sekeras itu, sepertinya makanannya terserap ke otakku.
"Sepertinya kamu lapar. Kemarilah, Nenek akan menambahkan makanan lagi untukmu."
Lagi-lagi Nenek membaca pikiranku, memalukan sekali…
"Tidak perlu, Nek. Aku ingin segera pulang saja, aku juga akan makan malam di rumahku saja. Kakak dan temanku pasti sudah mengkhawatirkan keadaanku."
Nenek sepertinya menatapku,
"Kalau begitu… Tunggulah sebentar, sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan mantranya. Makanlah dahulu sambil menunggu, mungkin mantranya akan siap setelah kamu selesai makan, jadi kamu bisa pulang dalam keadaan yang kenyang juga."
Hahaha, ini memalukan. Bisa-bisanya di rumah orang aku makan lebih banyak daripada pemilik rumah tersebut.
Aku hanya mengangguk sambil menyembunyikan rasa maluku.
Kurasa sia-sia menyembunyikannya, Nenek pasti sudah tahu. Ha. Ha. Ha…
Kami berjalan ke dapur, ternyata dapurnya agak jauh dari tempat makan.
.......
.......
.......
Makanan di sini agak aneh, mungkin karena aku belum terbiasa saja.
Namanya lebih aneh lagi, yaitu 'Nasi Kentut'? Kukira aromanya seperti kentut, tapi ternyata aromanya harum sekali!
Rasanya juga enak! Aku memakan sesuatu bernama 'sambal' dan rasanya sangat pedas, kentangnya juga terasa sangat pedas dan gurih!
Ternyata, penyebab yang membuat makanan ini bernama 'Nasi Kentut' adalah karena bumbu yang digunakan, yaitu Daun Kentut.
Tapi selain Daun Kentut, Nasi Kentut juga dimasak dengan bumbu rempah-rempah lainnya, seperti kunyit.
Cara memasaknya adalah dengan membungkus nasi dengan daun pisang kemudian memanggangnya hingga matang.
Nenek yang menjelaskannya padaku saat kami berjalan menuju ruang makan.
Kapan-kapan, aku harus memasakkan Nasi Kentut untuk Kakak, pasti Kakak akan langsung suka dengan rasanya.
Aku juga harus menunjukkan kehebatanku pada Kakak, aku tidak mau menjadi adik yang tidak berguna dan suka menggantungkan diri pada Kakaknya.
Dan setelah aku bisa menunjukkan kehebatanku ini, Kakak pasti akan senang lalu memamerkan kehebatanku pada anak tetangga.
Aamod pasti juga akan bangga karena mempunyai teman sepertiku dan akan memohon padaku agar aku bisa mengajarinya memasak.
Tanpa sadar, aku melagakkan diriku sendiri hingga Gulinear menyadarkanku
"Laalit?"
Hawa Gulinear terasa ragu saat mengajakku bicara.
"Ya?"
"Apa Laalit marah sama Gulinear?"
Anak ini… Aku memang tadi agak kecewa dengan sikapmu, tapi tidak sampai marah kok…
"Lain kali jangan begitu, ya. Maaf kalau aku terkesan ikut campur, tapi akan lebih baik kalau kamu tidak membentak orang yang lebih tua. Kan bisa bicarakan baik-baik. Tidak perlu marah-marah begitu, oke?"
Gulinear yang awalnya duduk di depanku, berlari lalu duduk di sampingku.
Aku menepuk-nepuk punggungnya agar tangisnya segera mereda.
"Aku tidak marah, aku cuma kecewa saja dengan sikapmu tadi. Yang penting kamu tidak mengulanginya lagi, janji?"
Aku mengarahkan jari kelingkingku.
"Tentu! Aku janji!"
Gulinear membalasnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.
Kami melakukan janji pinky. Janji pinky dilakukan dengan cara saling mengaitkan jari kelingking.
"Nanti kita masuk ke akademi sama-sama, ya?"
Aku tidak mengerti dengan yang Gulinear maksud.
"Apa itu 'akademi'?"
Sambil makan, aku mendengarkan penjelasan Gulinear.
"Akademi itu tempat untuk belajar bersama, nanti kita akan diajari cara menggunakan elemen kekuatan setelah bangkit. Aku akan memasuki akademi yang ada di pusat ibu kota. Aku harap Laalit juga masuk ke akademi yang sama denganku."
Sepertinya ide bagus untuk belajar di tempat bernama 'akademi' itu.
Kemungkinan akan ada pelatih berpengalaman yang mengajari kami, aku juga akan mendapatkan pengalaman baru di sana.
Kalau di sana banyak orang-orang kuat, aku bisa menguping teknik-teknik yang akan sangat berguna untuk melindungi Kakak.
Akademi yang ada di ibu kota ya, apa Kakak akan mengizinkanku?
Kami kan tinggal di pedesaan dan untuk ke ibu kota pasti butuh berbulan-bulan.
Biaya untuk menyewa kereta kuda selama sebulan berapa, ya?
"Laalit?"
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gulinear.
"Aku akan membicarakan hal ini ke Kakakku dulu."
Gulinear sepertinya senang, anak ini cepat sekali berubah moodnya.
Langkah kaki Nenek terdengar sampai ke telingaku.
"Mantranya sudah siap."
Aku mengangguk lalu mengikuti Nenek, Gulinear mengekor di belakangku.
"Pejamkan matamu sebentar, Nak."
Aku memejamkan mataku dan merasakan ada yang salah dengan tubuhku.
"Ughh… AARRGGHH!"
Saat itu, Nenek meletakkan tangannya di punggungku. Nenek seperti menyalurkan sesuatu sehingga tubuhku terasa panas dan rasanya seperti akan terkoyak.
"Nenek, Laalit kenapa?"
"Tidak apa-apa, sayang. Nenek hanya memberikan petunjuk arah agar Laalit pulang dengan selamat."
Rasanya benar-benar menyakitkan. Air mata menetes dan membasahi pipiku.
"Apa kamu sudah melihat sesuatu?"
Aku melihat sesuatu, seperti sebuah 'tali'? Tali itu terlihat terang dan panjangnya seperti tidak terbatas.
"Yah, aku melihatnya. Apa ini petunjuk arahnya?"
Nenek mengiyakan jawabanku, lalu mempersilahkanku pulang.
"Nenek sudah menaruh mantra pelindung juga, jadi tidak ada yang bisa menyerangmu atau mencelakaimu. Kamu juga boleh melapisi pelindungku dengan elemen anginmu untuk memperkuat pelindungnya. Coba saja, kamu bisa melakukannya karena Nenek sudah memberitahu caranya saat memberikan mantra pelindung."
Aku berterima kasih lalu bersiap untuk pulang ke rumah.
Aku melambaikan tangan ke Gulinear.
.......
.......
.......
Ternyata sekarang sudah sangat malam, aku menerbangkan tubuhku dan mengikuti tali penunjuk arahnya.
Nenek bohong, katanya bisa mengantarku dalam beberapa detik, tapi ini sudah lebih dari satu jam…