
Hari ini, aku melanjutkan latihan teknik berpedang bersama Aamod, tentunya dengan pedang baruku.
Kemarin, aku sudah mengetes Pedang Spatha dan hasilnya sangat memuaskan.
Aku memotong sebuah benda yang sepertinya tidak berguna, lalu benda tersebut mudah sekali terbelah.
Aku kemudian mencoba menyerang Aamod, tapi dia bisa dengan mudah menghindari seranganku.
Aamod kemudian meminta maaf kepada Ibu penjual karena aku sudah merusak barang di tokonya.
Aamod memaksaku ikut membungkuk juga, aku baru tahu kalau meminta maaf harus disertai bungkukkan.
Ibu penjual bilang bahwa benda yang kupotong adalah kotak kayu yang sudah tidak terpakai, jadi tidak apa-apa.
Ibu penjual mengatakan bahwa semangat membara adalah kunci kesuksesan. Perjalanan ribuan mil dimulai dari langkah yang paling awal.
Awalnya aku mengira bahwa Ibu penjual adalah tipe orang yang integritas, tapi ternyata dia juga seseorang yang sangat bijaksana.
Kata-katanya sangat berkesan sampai terngiang-ngiang di kepalaku.
Apakah Ibu penjual termasuk master peringkat 10 besar di dunia?
Kalau memang begitu, Aamod pasti sudah meminta tanda tangan padanya, jadi sepertinya bukan.
Tapi bisa saja Ibu penjual sengaja menyembunyikan jati dirinya agar terlihat tidak mencolok.
Ibu penjual, aku agak penasaran padamu. Apakah kau termasuk kuat?
Tanpa sadar, aku melamun dan Aamod menepuk bahuku.
"Kau tampak seperti sedang berpikir keras. Apa kau tidak sabar untuk mencoba pedang barumu, hmm?"
Aku hanya mengangguk tanpa berniat menjelaskan hal yang kupikirkan pada Aamod.
"Kakak…"
Aamod seketika berhenti.
"Kenapa berhenti?"
Aamod sepertinya menggaruk-garuk kepalanya lalu tertawa,
"Ti-tidak kok, hahaha…"
Sudah kuduga, pasti ada sesuatu di antara mereka. Yah, sikap mereka berdua terasa aneh.
Mereka berdua terasa seperti canggung dan gelisah? Mungkinkah musuh di masa lalu?
Ah, tidak… Kurasa mereka terasa canggung dan gelisah karena baru kenal dan belum dekat saja.
Saat mengobrol dengan Ibu-Ibu penjual di pasar, kukira Kakak tipe yang cepat bergaul dengan orang lain, tapi sepertinya aku salah…
Aamod juga, padahal dia cepat akrab denganku. Kalau dengan Kakak-
Sebenarnya sih dia memang sedang mencoba mengakrabkan dirinya dengan Kakak, tapi hawa Aamod terasa canggung?
Entahlah… Itu kan urusan mereka, bukan urusanku.
Oke, kembali lagi kehari ini.
Aku memegang Pedang Spatha untuk melihat bentuknya lagi.
"Sepertinya aku memang tidak salah pilih."
Aku mengangguk-angguk dengan bangga seperti telah menemukan permata yang langka.
"Kau tampak senang."
Aamod kemudian tertawa dan bangga karena dia yang merekomendasikan Pedang Spatha padaku.
"Kenapa saat pelatihan kemarin, kau langsung menyerangku tanpa mengajariku cara bertahan atau cara menyerang balik?"
Aamod memegang sesuatu dan terasa seperti sedang membersihkan.
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi alamimu. Selain itu, aku ingin tahu bagaimana kau akan mengatasi seranganku. Aku juga ingin kau merasakan kesan pertamamu dalam menghadapi pedang yang dapat melukaimu. Kesan pertama itu penting, kan?"
Benar juga… Reaksi alamiku tentunya kaget dan takut karena ini pertama kalinya ada yang menyerangku, apalagi dengan pedang yang tajam.
Soal mengatasi serangan, kurasa itu memang bisa melatih ketangkasanku.
Tapi Aamod, tindakanmu cukup berbahaya. Untungnya waktu itu, aku sempat menguping di tempat pelatihan, jadi aku punya cukup bekal untuk mengetahui dasar-dasarnya dan mengatasi seranganmu yang mematikan itu.
Kalau aku waktu itu tidak mengingat apa yang kudengar di tempat pelatihan, mungkin sekarang aku sudah terluka parah.
Aamod, kau sangat berbahaya. Lebih baik kau tidak menjadi pelatih untuk anak yang lain, nanti mereka trauma dengan seranganmu yang mendadak itu.
Bisa-bisanya dia menggunakan elemen apinya juga. Itu sangat-sangat berbahaya!
Untungnya aku langsung mengerti dan menerbangkan tubuhku sedikit dengan elemen angin.
Dan untungnya lagi, aku teringat dengan teknik mengintimidasi lawan yang kudengar di tempat pelatihan.
Sepertinya 2 hari yang lalu, aku memang sedang beruntung.
Yang kemarin itu bukan hanya sekedar latihan, tapi latihan bertanding.
Aku belum cukup kuat dan terlatih, tapi bisa-bisanya Aamod melakukan latihan bertanding.
Apa kau kira aku ini teman sebayamu makanya kau bisa seenaknya melakukan latihan bertanding?
Aamod, bukan seperti itulah cara mengajari anak-anak berlatih teknik dasar.
Apa dia sudah mengajari orang lain? Kalau iya, berapa manusia yang tidak bersalah yang telah dia bunuh?
"Kenapa ekspresimu tampak aneh?"
Aamod membuyarkanku dari lamunanku.
"Aku hanya berpikir bahwa kau sangat berbahaya, Aamod."
Saking syoknya, Aamod menjatuhkan benda yang dia pegang.
"Ya ampun… Benarkah? Bagaimana ini? Siapa yang mengatakan itu? KATAKAN PADAKU!"
Kenapa laki-laki bisa seperti ini, ya?
"Pertama, aku yang mengatakannya. Kedua, kau memang berbahaya. Yang ketiga, jangan coba-coba menjadi pelatih, orang lain akan trauma kalau kau yang menjadi pelatihnya."
Harusnya dia tetap tenang dan tidak dilanda kecemasan, laki-laki harus bisa berpikir dingin.
"Aku mengatakan ini karena kau langsung menyerangku bahkan dengan elemen api, itu sangat berbahaya untuk orang yang belum berpengalaman, Aamod."
Hawa Aamod tidak terasa terlalu cemas lagi, hawanya mereda sedikit demi sedikit.
"Begitu ya, kukira itu adalah langkah yang bagus untuk membuatmu terbiasa dalam serangan mendadak."
Aamod berjalan mendekat kemudian membelakangiku.
"Baiklah, sekarang aku akan mengajarimu dengan serius dan hati-hati."
Aku langsung mempraktekkan ajaran Aamod yaitu memposisikan kaki selebar bahu agar tubuhku tetap seimbang
Aamod menyuruhku untuk memegang Pedang Spatha dan menggenggam gagangnya dengan benar.
Karena masih pemula, aku tidak mengerti cara memggenggam gagang pedang dengan benar.
Aamod tiba-tiba mendekap telapak tanganku lalu merapatkan jari-jari tanganku.
*SRET*
Aamod kemudian seperti 'menarik?' tanganku ke atas tetapi agak lurus ke depan.
Sekarang, lenganku lurus satu garis dengan pedang. Mata pedang menghadap ke belakang.
Masih dengan tenaga yang kuat, Aamod kemudian mengayunkan tanganku dari atas ke bawah dengan cepat dan agak kasar.
*SRING*
Sekarang, posisi tanganku sudah tidak terangkat lagi.
"Seperti itulah cara menghunuskan pedang yang benar. Rapatkan jari-jari tanganmu, usahakan jari telunjuk tidak keluar dari genggaman. Kalau jari telunjukmu keluar saat pertarungan, jari telunjukmu bisa remuk."
Kurasa, tanganku juga bisa remuk kalau kau menggenggamnya lebih lama lagi…
"Angkat tanganmu ke atas, posisinya seperti yang telah kuajarkan barusan. Hunuskan pedangnya dengan cepat tapi tidak tergesa-gesa."
Aku kemudian mencoba mempraktekkan yang telah Aamod ajarkan padaku.
Pertama-tama, posisikan kaki selebar bahu.
Kemudian, genggam pedangnya dengan merapatkan jadi-jari tanganku, usahakan agar jari telunjuk tidak keluar dari genggaman.
Lalu, angkat pedang ke atas hingga lenganku lurus segaris dengan pedang, mata pedang sekarang berada di belakang.
Yang terakhir…
"Aamod, bolehkah aku menambahkan elemen anginku pada pedangnya?"
"Memangnya kau tahu caranya?"
Setelah itu, aku menyesali perbuatanku…