
"Apa kamu sudah bangkit juga?"
Kenapa bertanya hal itu padaku…
Begitu Kakak Pelayan menanyakan tentang kebangkitanku, mata semua orang langsung tertuju padaku, menunggu jawabanku.
Padahal barusan mereka fokus mengobati luka di tubuhku, sekarang tangan mereka terhenti dan menatapku dengan tajam…
Aku mulai membuka mulutku, namun menutupnya kembali.
Aku harus mempertimbangkan dulu, lebih baik aku memberitahu yang sebenarnya atau mengatakan kebohongan pada mereka?
Kalau aku mengatakan bahwa aku sudah bangkit, pasti mereka akan menanyakan berapa usiaku sekarang dan berapa usiaku saat bangkit.
Setelah tahu berapa usiaku saat bangkit, mereka pasti akan heboh dan membicarakannya sampai seluruh orang yang tinggal di sini tahu, termasuk Gulinear dan Jaleed.
Saat Jaleed mengetahuinya, aku tidak akan bisa menebak hawa apa yang akan dia tunjukkan.
Pembawaan yang tenang dengan hawa yang tidak sabaran…
Hmm…
Mungkinkah dia akan marah?
Untuk apa dia marah?!
Kurasa, tatapan mata seperti akan menerkamku lebih cocok untuknya.
Jaleed bukan anak yang rendah diri, jadi hawa yang akan dia tunjukkan paling hanya penasaran.
Aku jadi teringat saat Jaleed tidak percaya bahwa aku adalah seorang tunanetra.
Dia menatapku dengan tajam seperti akan menerkamku, tapi aku tahu kalau dia hanya penasaran, aku bisa merasakan hawanya.
Baiklah, aku sudah menyimpulkannya!
Saat Jaleed mendengar pembicaraan dari para pelayan bahwa aku sudah bangkit lebih dini, Jaleed akan menunjukkan tatapan yang tajam sekaligus hawa yang penasaran.
Untuk Jaleed, Selesai…
Sekarang Gulinear…
Sampai di telinga Gulinear, tebakanku, dia akan kecewa dengan dirinya sendiri karena aku bangkit lebih dulu darinya.
Aku bisa membayangkan bahwa dia akan menangis dan mungkin memukulku karena sudah menyembunyikan kebangkitanku padanya.
Aku sama sekali tidak masalah bila dia memukulku.
Dia boleh memukulku sepuasnya. Aku memang bersalah karena tidak jujur padanya.
Tapi kalau menangis, aku tidak bisa mendengar tangisannya.
Saat Kamaniai bercerita bahwa dia bangkit lebih dulu, Gulinear bahkan menangis sesenggukan.
Hanya mengingat suara tangisannya saja membuat jantungku seperti disayat-sayat.
Iya, aku sudah sangat sadar kalau sifatku itu egois. Aku tetap akan membungkam mulutku sampai menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya langsung pada Gulinear.
Kembali ke permasalahan utama.
Memberitahu yang sebenarnya atau mengatakan kebohongan…?
Sudah jelas, kalau memberitahu yang sebenarnya, akan menimbulkan perasaan yang tidak mengenakkan nantinya, khususnya pada Gulinear.
Opsi yang tersisa berarti-
"Laalit?"
Suara yang lirih langsung mengalihkan perhatianku.
Dalam batin, aku sangat bersyukur karena ada yang datang kemari dan bisa mengalihkan perhatian Kakak Pelayan, sehingga aku tidak harus berbohong lagi.
Kamaniai yang dari kejauhan, mendaratkan langkahnya hingga berjarak sepersekian meter saja dariku.
Para Kakak Pelayan yang awalnya cuma terdiam menunggu jawabanku, otomatis menggerakkan tangannya dan lanjut mengobati lukaku.
Mungkin Kakak-Kakak Pelayan ingin menunjukkan kepada Kamaniai bahwa mereka cukup profesional saat melakukan kewajiban mereka?
Memangnya Kamaniai itu bos mereka?
"Ah… Itu… Kamu tidak apa-apa?"
Aku hanya mengangguk cepat, mengisyaratkan agar Kamaniai tidak berbelit-belit dan langsung mengatakan hal yang ingin dia katakan sedari tadi.
"Siapa yang bangkit? Apakah… Jaleed? Atau Gulinear?"
Aku membuka mulutku-
"Tidak mungkin kamu… Kamu kan sudah-"
Kamu ini…
Saat aku akan menjawab, kamu malah menyela dan mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan.
Memang tidak sopan, tetapi aku akan menyela balik.
Kebangkitanku yang sebenarnya tidak boleh diketahui oleh para Kakak Pelayan yang kerjaannya menggosip…
"Gulinear telah bangkit!"
"Itu… Jaleed mungkin sedang membuatkan sesuatu untuk Gulinear."
Jadi, itu alasan sebenarnya mengapa Jaleed tidak berlama-lama di sini dan pergi entah kemana tujuannya.
Ternyata dia sedang sibuk membuat sesuatu untuk diberikan kepada Gulinear sebagai penghargaan karena Gulinear sudah bangkit.
Dari luarnya pendiam dan tenang, di dalamnya terdapat sosok yang perhatian pada teman.
Sangat tidak terduga, ternyata Jaleed pemalu. Bahkan dia menunjukkan perhatian kepada teman dengan cara yang masih terbilang kaku.
Jaleed tidak mengatakan apapun tentang 'membuat sesuatu untuk Gulinear' saat mengantar Gulinear ke dalam sini.
Kalau dia adalah orang yang fleksibel, Jaleed pasti akan merundingkan yang terbaik untuk Gulinear, kemudian mengajak aku dan Kamaniai untuk membantunya.
Nyatanya, dia hanya mengantar Gulinear dan berpura-pura tidak peduli dengannya.
"Sudah siap!"
Tidak terasa…
Apa karena aku yang terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri…
Seperti biasa, aku hanya menanggapi dengan mengangguk, mereka pun langsung undur diri dan membiarkan kami hanya berdua saja.
Kamaniai memandangiku,
"Aku… Tadi kami sudah membicarakan tentang kekuatanku…"
'Kami' itu maksudnya Kamaniai, Tuan Mahajana, dan Nenek sihir, kan?
Kurasa memang begitu…
"Te-Ternyata… Kekuatanku itu bisa digunakan untuk… Merias…"
Oh… Berarti kemarin, wajahku sedang 'didandani'…?
Sudah dikuncir, didandani lagi…
Pemikiranku ini memang sudah kelewat konyol…
Aku curiga, apa aku ini sebenarnya… perempuan?
Kakak mengatakan kalau aku imut seperti boneka. Selain itu,
Rambutku selalu dijadikan mainan oleh Gulinear, kadang kuncir satu, tapi keseringan kuncir dua.
Kamaniai mengatakan bahwa kuncir rambut cocok untukku.
Sudah kuduga, aku salah jenis kelamin.
Eh, tunggu dulu…
Wajahku sering dipuji 'sempurna', 'luar biasa', dan 'tampan'.
Untunglah ada pujian 'tampan'… Itu membuktikan bahwa aku memanglah seorang laki-laki.
Selain itu, aku kan 'berbatang'. Sepertinya anak perempuan tidak punya 'batang'.
Aku memanglah seorang lelaki sejati!
Agar tidak diperlakukan seperti perempuan, aku harus segera membentuk otot dan menjadi pria yang gagah!
"Bisakah aku melihat kekuatanmu juga?"
Kekuatanku, ya…
Setelah memperlihatkan kekuatannya, Kamaniai pasti juga ingin melihat kekuatanku.
Aku tidak berpikiran sampai ke sana…
Sebenarnya, aku juga ingin memperlihatkan kekuatanku padamu.
Masalahnya… Keadaanku sedang tidak mendukung sekarang, lebih tepatnya, hingga beberapa bulan ke depan, belum ada kepastian.
Maksudnya, aku tidak tahu kapan kekuatan yang diturunkan oleh Nenek bisa beradaptasi dengan baik di dalam tubuh ini.
Beberapa saat yang lalu saja, kekuatan ini masih memberontak, melawan pemiliknya.
Makanya, dengan berat hati, aku akan menolak untuk menggunakan kekuatan ini.
Aku masih dalam masa penyembuhan…
Jika keadaanku sudah membaik sepenuhnya, aku akan dengan senang hati untuk memperlihatkan elemen anginku.
"Maaf, saat ini kondisi tubuhku sedang terluka, jadi-"
"A-Akulah yang seharusnya meminta maaf! Padahal aku sudah tahu kalau tubuhmu sedang penuh dengan luka, tapi aku… Aku…"
Kamaniai… Hanya mengatakan hal sederhana saja, kamu sampai gugup begini…
Anak-anak di sini sifatnya unik-unik, ya…
Ada Gulinear yang egois, Jaleed yang tidak sabaran, dan Kamaniai yang sangat pemalu.
Mereka semua mempunyai sikap yang berbeda-beda dan saling bertolak belakang.
Sepertinya tempat ini akan menjadi tempat ternyaman yang tidak akan pernah ku lupakan.