
"Uhuk… Uhuk…"
Baru saja, aku terlempar dari sebuah ledakan yang asalnya sangat dekat denganku.
Aku berusaha bangkit, seluruh tubuhku rasanya seperti habis tertimpa oleh sebuah beton.
Aku memegangi beberapa bagian tubuhku, permukaan kulitku terasa agak kasar, tidak biasanya yang permukaannya halus dan lembut.
Ini pasti karena aku habis terjatuh dari ledakan itu.
Mungkinkah tubuhku sedang luka-luka?!
Kalau iya, sebaiknya aku segera bangkit lalu mencari seseorang di sekitar sini yang bisa menolongku.
"Ugh!"
Kepalaku terasa sangat sakit seperti hampir pecah…
Setelah bangkit dengan posisi terduduk, aku terus-menerus memegangi kepalaku dan berharap agar rasa sakitnya segera berkurang.
Selain itu, telingaku masih saja berdenging, sepertinya karena mendengar suara yang sangat keras barusan.
Perlahan-lahan, aku membuka kedua kakiku, memajukan satu kaki sedikit ke depan, lalu sedikit menekuk lututku dan mengangkat bahu sampai posisiku sudah berdiri sempurna.
Berusaha berdiri saja, badanku sudah sangat sakit…
Memaksakan tubuhku yang masih terasa sakit, aku kemudian langsung berjalan dan mencari keberadaan Gulinear.
Sambil berjalan, aku melakukan meditasi supaya keadaan telinga dan kepalaku segera membaik.
Kalau telingaku tidak kunjung membaik, aku tidak akan bisa menemukan Gulinear.
Yang kulihat hanyalah kegelapan… Karena itulah aku harus dapat memanfaatkan fungsi tubuhku yang lain agar bisa mengetahui di mana Gulinear berada.
Aku menarik napas dan menghembuskannya berulang kali, membuat tubuhku menjadi santai.
Semakin lama tubuhku terasa semakin rileks, tidak setegang sebelumnya.
"Laalit!"
Jaleed memanggilku entah dari mana asal suaranya.
Aku memegangi tanganku dan baru menyadari bahwa pakaian yang kupakai tidak seperti sebelumnya.
Bagian lengan bajunya sudah sobek sebagian. Setelah memegangi bagian yang lain, ternyata bagian kerah, kancing, dan sebagian besar lainnya juga sudah tersobek.
Kalau ada orang yang tidak dikenal melihat penampilanku sekarang, mungkin aku akan disangka gelandangan.
Ha ha… Lucu sekali…
Sekarang bukan saatnya untuk bercanda…
Rasa sakit di kepalaku sudah banyak berkurang…
Eh… Telingaku sudah tidak berdenging.
Aku memfokuskan diriku pada pendengaranku, mulai mencari keberadaan Gulinear.
"Laalit!"
Ah, rupanya di sana kamu, Jaleed.
Sebentar, aku harus menaikkan celanaku agar simbol, maksudku tanda yang ada ditubuhku, tidak terlihat oleh orang lain.
Aku menghampiri Jaleed yang sedang membopong tubuh Gulinear, sepertinya anak itu sedang tidak sadarkan diri sekarang.
"Maaf terlambat. Aku tadi mencari Gulinear dengan arah yang berlawanan denganmu, jadi aku tidak bisa sampai dengan tepat waktu."
Jadi karena itulah aku tidak melihatmu dari tadi…
Kukira kamu pergi ke tempat lain karena ada urusan yang mendesak.
Ternyata kamu mencari Gulinear tetapi melalui arah yang salah…
Ternyata kamu tidak berbakat mencari keberadaan orang lain, Jaleed…
Kamu bisa berguru denganku kalau mau. Bukannya mau sombong, tapi aku ini memang ahlinya.
"Saat mendengar suara ledakan yang amat keras dari arah yang berlawanan, aku langsung bergegas kemari dan menemukan Gulinear sudah terbaring di tanah. Apa yang terjadi?"
Ini cukup membuatku terkejut…
Sekeras itu kah suara ledakannya?
Tunggu… Gulinear terbaring di tanah?
Apa anak ini terluka?
Aku mengarahkan tanganku ke wajah Gulinear dan menyentuh pipinya, tidak ada luka apapun di sini…
Aku juga memindahkan jari-jariku dan mulai menyentuh kedua tangannya, bagian lengannya baik-baik saja, hanya saja terdapat sedikit robekan di bagian pergelangan jaketnya.
Aku penasaran dengan bagian tubuhnya yang lain, tapi aku tidak akan memegangi bagian tubuhnya yang lain, itu sama sekali tidak sopan.
Aku jadi teringat…
Kakak pernah berpesan, bahwa aku tidak boleh sembarangan menyentuh tubuh perempuan. Tapi kalau sudah menikah, tidak apa-apa.
Mending aku tidak menyentuh tubuh perempuan seumur hidupku daripada melakukan pernikahan.
Pernikahan itu merepotkan, apalagi mengurusi anak-anak.
Bayangkan saja kalau sikap anakku itu tidak bisa diam, cerewet, dan egois seperti Gulinear.
Kalau aku yang jadi orang tuanya, aku akan stres dan segera berobat ke rumah sakit agar tidak mengalami sakit jiwa.
Baru-baru ini, aku memang sering bersama Gulinear, tapi aku tidak pernah selalu bersamanya selama 13 tahun…
Selain itu, ada biaya ini biaya itu, begini begitu… Pertengkaran karena satu sama lain tidak mau mengalah yang akhirnya mengajukan gugatan cerai.
Tidak bahagia sama sekali. Tetap saja diakhiri dengan perpisahan.
Memang melajang itu yang terbaik…
Oh iya, aku harus menjawab Jaleed.
"Badannya sangat hangat, lebih hangat dari saat kita masih berada di dalam kamar. Sebelum terjadi ledakan, Gulinear mengatakan bahwa dia kepanasan, padahal cuacanya semakin dingin."
Mungkin Jaleed akan mengerti tentang ini. Jaleed kan sering membaca buku, pasti wawasannya lebih luas daripada aku.
Tampaknya dia sedang berpikir, tetapi hawanya terasa ragu-ragu untuk mengatakan apa yang dia pikirkan.
Karena tidak sabaran, aku langsung angkat bicara.
"Katakan saja."
Masih ragu-ragu, Jaleed kemudian berbicara sambil setengah berbisik.
"Gulinear… Dia bangkit…"
Apa maksud Jaleed, kekuatan Gulinear sudah bangkit?
Wah… Tidak kusangka…
Bukankah ini kabar bahagia?
Setelah Gulinear bangun, kita harus langsung merayakannya, dia pasti akan sangat senang.
Tanpa kusadari, ekspresiku telah berubah dari yang awalnya datar menjadi cerah.
Aku memegang rambut Gulinear, mengelus rambutnya dengan lembut. Senyum bahagia langsung merekah di wajahku.
"Selamat, ya."
Akhirnya kamu bangkit juga, Gulinear. Bukankah beberapa hari sebelumnya, kamu sempat khawatir soal kebangkitanmu?
Kamaniai yang umurnya lebih muda setahun darimu, kekuatannya malah sudah bangkit lebih dulu.
Sedangkan kamu yang setahun lebih tua darinya, malah belum bangkit.
Tentu saja sekarang tidak begitu. Meskipun kebangkitanmu terhitung telat dibandingkan dengan Kamaniai, tapi tetap saja kamu sudah bangkit sekarang.
Sekarang kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu lagi. Pasti rasanya melegakan, ya?
"Kamu sudah tahu arti 'kebangkitan'?"
Tentu saja sudah… Aku kan sudah bangkit…
Tapi aku tidak boleh bilang begitu. Jaleed masih belum bangkit, jadi aku tidak akan mengatakan kebenarannya pada Jaleed.
"Kamaniai yang menjelaskannya padaku."
Hawa Jaleed sedikit terkejut, kemudian kembali seperti sebelumnya.
Aku bisa merasakan bahwa dia kelelahan… Apa karena membopong Gulinear?
Kalau begitu, aku akan membantunya-
"Aku harap kita juga bisa bangkit lebih cepat dari usia normal, sama seperti mereka."
Dan aku sudah bangkit jauh sebelum mereka…
Ya, benar. Aku tidak akan berkata begitu. Jaleed malah akan merasa putus asa kalau mengetahui hal itu.
Aku sebenarnya juga bertanya-tanya tentang ini.
Bagaimana aku bangkit saat usiaku masih terbilang muda?
Apa ada penyebabnya? Lalu, bagaimana dampaknya?
Apa bangkit terlalu cepat itu berbahaya?
Kalau tidak, apakah bangkit terlalu cepat adalah sebuah anugerah?
"Kamu akan terus di sini?"
Masih membopong Gulinear, Jaleed melangkah lebih dulu.
Nada suaranya agak naik, seperti sedang kesal?
Bahkan aku bisa mendengar suaranya yang agak ngos-ngosan saat dia melewatiku.
Kalau dia memang butuh bantuan, dia bisa mengatakannya langsung padaku.
Mungkin dia segan…
Aku akan menawarkan bantuan terlebih dahulu.
"Biar aku yang membawa Gulinear."
Jaleed menghentikan langkahnya. Tatapan yang awalnya lurus ke depan, dengan sekejap mengalihkan pandangannya dan langsung menatapku.
"Tubuhmu terluka. Aku bisa melakukan ini sendiri. Sebaiknya kita segera ke dalam karena cuacanya semakin dingin."
Dikiranya aku tidak tahu apa, dia kesulitan begitu membopong Gulinear.
Bahkan seseorang yang jaraknya jauh sekalipun, akan langsung tahu kalau tubuhnya gemetaran karena keberatan dengan bobot bocah yang digendongnya.
Ya sudahlah, biarkan saja. Dia sendiri sangat bersikeras untuk melakukannya.
Aku mulai menyusul Jaleed yang ternyata sudah hampir sampai di pintu masuk.