Blindsight

Blindsight
Resmi



Tangisnya pecah, Gulinear lalu memegang bahuku dan mendekatkan wajahnya.


"Ta-Tapi kenapa? Padahal memasuki akademi bersama-sama itu menyenangkan, kenapa Laalit tidak mau?"


Aku berusaha tersenyum agar dia tidak begitu sedih.


"Aku ingin melatih kekuatanku dulu agar lebih kuat, aku juga ingin lebih sering berkumpul dengan keluargaku. Kurasa aku akan memasuki akademi saat usiaku memasuki 13 tahun, aku akan menghampirimu saat itu. Tunggu aku, ya?"


Gulinear awalnya tidak terima, namun sepertinya dia sudah mulai dewasa sekarang.


Dia memelukku dan menangis kencang. Aku hanya menepuk bahunya dan membiarkannya menangis.


Aku membiarkannya menangis agar dia merasa lega dan dapat meluapkan kesedihannya dengan benar.


Kalau ditahan, biasanya akan terasa sesak di dada dan terus menerus memikirkan masalah tersebut.


Jadi, menangis itu tidak perlu ditahan. Setelah menangis, biasanya hati kita akan lega dan tidak merasa sedih lagi.


Beban yang seolah-olah menimpa hati kita akan terangkat setelah menangis, kemudian kita bisa tersenyum kembali seperti sebelumnya.


"Gulinear mengerti. Maaf ya tadi Gulinear memaksa Laalit, Gulinear egois sekali. Gulinear seharusnya tidak memaksa Laalit dan menangis seperti ini… Hiks… Hu… Hu…"


Sekali lagi, Gulinear menangis sementara aku hanya mengelus punggungnya.


Kakak memperhatikan kami dan tersenyum padaku, sementara yang lainnya aku tidak tahu.


Aku tidak bisa melihat ekspresi yang lainnya karena aku belum pernah menyentuh wajah mereka.


Aku cuma bisa merasakan bahwa yang lainnya hanya memperhatikanku dari jauh.


Gulinear mengarahkan jari kelingkingnya,


"Laalit akan memasuki akademi saat umur 13 tahun, kan? Iya, kan? Janji??"


Aku mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingku padanya.


"Janji…"


Setelah mengaitkan jari kelingking, Gulinear lalu melepaskan diri dari badanku.


Tangisnya sudah mereda, sepertinya anak ini sudah ceria kembali seperti biasanya.


Syukurlah dia bukan tipe orang yang sedih sampai berlarut-larut.


Memang kadang aku tidak mengerti kenapa moodnya cepat sekali berubah-ubah.


Tetapi, sekarang aku bersyukur karena kepribadiannya yang gampang berubah-ubah itu.


Perasaan sedihnya tidak akan terlalu lama dan akan langsung ceria kembali, itu sisi positif dari sifatnya yang labil.


Kakak mendekatkan diri lalu menyentuh punggungku, sepertinya Kakak melakukan hal yang sama pada Gulinear.


"Kakak akan lebih senang kalau kalian lebih dekat lagi. Guliku, kamu senang bila di samping Laalit, bukan?"


Perasaan Gulinear mendadak bahagia, sepertinya dia senang.


"Iya! Tentu saja Gulinear senang! Laalit adalah teman pertama Gulinear, Laalit juga keren! Pokoknya Gulinear senang kalau bersama-sama dengan Laalit! Laalit juga begitu, kan?"


Aku berusaha tersenyum ramah lalu mengangguk agar menyenangkan mereka berdua.


"Kalau begitu, Laalit adikku~"


"Ya…??"


Apa yang sebenarnya sedang Kakak rencanakan? Aku tidak bisa memikirkan apapun sekarang.


Aku sudah mencoba untuk memikirkan apa yang sebenarnya Kakak sedang rencanakan, tapi tidak ada apapun yang terlintas di dalam benakku.


"Kakak ingin kamu melindungi Gulinear saat kalian sedang berdua saja nantinya. Kakak juga ingin kamu lebih dekat dengan Gulinear."


Saat berdua saja, ya… Kurasa setelah ikut Tuan Mahajana, kami akan dilindungi oleh Tuan Mahajana.


Pasti ada seseorang yang akan menjaga Gulinear sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk melindunginya.


Lagipula, kekuatanku belum cukup kuat untuk melindungi orang lain.


Kalau begitu, aku akan berlatih dengan giat sampai aku bisa melindungi orang lain yang penting bagiku.


Kalau lebih dekat… Bukankah kami sudah cukup dekat? Atau itu hanya perasaanku saja?


Hubunganku dengan Gulinear :


Bertemu → Mengajariku memakai busur → Mengaitkan jari kelingking → Makan bersama → Berpelukan.


Kurasa hubungan kami sudah cukup dekat… Gulinear sudah menganggapku sebagai temannya dan aku juga sudah menganggapnya sebagai temanku juga.


Apa mungkin Kakak ingin kami berlatih bersama? Apa sesuatu yang lain seperti… Bersaing?


Ughh… Pemikiran yang belum jelas kepastiannya ini membuatku pusing…


"Kakak! Gulinear dan Laalit kan sudah cukup dekat, kami itu berteman sekarang."


Gulinear kelihatannya seperti sedang mengelilingi Kakak.


Entahlah, aku hanya merasakan dia bergerak cepat dan berputar-putar seperti gasing.


"Oh, bukan itu maksud Kakak~ Sudahlah, nanti Laalit akan mengerti, kamu tinggal menunggunya saja~"


Kakak mencubit bagian wajah Gulinear, sepertinya itu pipinya.


"Aww! Kenapa Kakak cubit Gulinear??"


Mereka lalu bercanda ria seperti dunia hanyalah milik mereka.


Karena pembicaraanku dengan Gulinear sudah selesai, aku kemudian duduk di sofa.


Ternyata, Tuan Mahajana dan Aamod sedari tadi mengobrol.


Hawa Aamod terasa senang, sedangkan Tuan Mahajana tetap terasa kuat seperti biasanya.


"Bocah itu mengalaminya beberapa kali, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya."


"Aku mengerti…"


Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya mereka membicarakan tentang aku.


"Oh, kau sudah mengobrol dengan temanmu?"


Aku hanya mengangguk seperti biasa.


"Ya sudah, aku akan menyapa temanmu dulu."


Aamod lalu pergi dan hanya tersisa kami berdua saja sekarang.


Aku tahu Aamod sengaja meninggalkan kami agar aku bisa lebih nyaman berbicara kepada Tuan Mahajana.


"Bagaimana kabarmu?"


Aku hanya mengangguk,


"Tidak perlu berbasa-basi lagi. Mari kita bicarakan topik utamanya sekarang."


Tuan Mahajana tertawa lalu menatapku dengan tatapan yang agak serius


"Kakakmu pasti sudah menceritakan semuanya padamu. Aku bukanlah orang yang suka mengulang-ulang perkataan. Jadi, apakah kamu bersedia menjadi muridku?"


Baiklah, aku sudah memikirkan hal ini sebelum tidur kemarin.


Aku mendiskusikannya sedikit kepada Aamod dan meminta tolong agar Aamod bisa menjaga dan selalu berada di sisi Kakak.


Kukira Aamod akan keberatan, ternyata kebalikannya, dia justru senang.


Mungkin karena hawanya yang positif, jadi dia senang kalau diberi suatu kepercayaan kepada orang lain.


Tidak lupa aku mengancamnya kalau dia sampai melakukan hal macam-macam pada Kakak.


Dan pernyataannya, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu pada anak kecil.


Aamod adalah pria yang baik dan kuat, kurasa tidak apa-apa bila Kakak bersama dengan dirinya.


Aku hanya akan mendukung kalian, aku tidak akan ikut campur tentang hubungan kalian.


Kau harus bisa memikirkannya dengan bijak, Aamod. Buat Kakak juga membalasmu, berusahalah sendiri karena aku tidak akan membantumu.


Saat kau berhasil, kau akan sangat bangga karena itu dari jerih payahmu sendiri, bukan karena bantuanku.


Tanpa sadar aku tersenyum, aku senang sekaligus lega karena ada orang baik yang bersama dengan Kakak. Aku tidak perlu mengkhawatirkan Kakak sekarang.


Terima kasih karena sudah bersedia menjaga Kakak, Aamod.


Aku sungguh berhutang padamu. Suatu saat, aku akan membalas kebaikan yang kau tujukan pada kami.


Aku bisa menerima ini, menerima penawaran Tuan Mahajana tanpa mengkhawatirkan keamanan Kakak.


"Aku bersedia, Tuan."


Aku dan Tuan Mahajana saling bersalaman.


Mulai hari ini, kami resmi menjadi guru dan murid.