Blindsight

Blindsight
Kesal



"Kamu bisa mendaratkan tubuhmu kalau kamu mengontrol setiap bagian tubuhmu dengan benar."


Aku tertegun, kemudian mencari asal suaranya agar bisa menatap wajahnya dengan benar.


Masih melayang dengan tidak konsisten, aku berusaha terbang walaupun kecepatannya tidak teratur.


"Bagus! Tetap tenang dan jangan cemas!"


Sekali lagi, aku berusaha mencari asal suara yang misterius itu.


Akhirnya aku bisa menggerakkan tubuhku dengan tidak terlalu cepat, tetapi masih sangat lambat.


Dengan gerakan yang masih kaku, aku mencoba bergerak sambil mengingat-ingat asal suaranya.


Tetapi setelah kuingat-ingat, rasanya aku mendengar suaranya seperti menyebar di seluruh ruangan ini.


Kalau begitu, apakah suara misterius itu sebenarnya adalah 'ruangan ini'?


Apa tubuhku sedang terjebak di badan makhluk yang sangat besar?


Sebesar-besarnya tubuh makhluk, pasti ada batasnya juga.


Kurasa aku tidak terjebak di tubuh makhluk yang sangat besar, karena ruangan ini tidak berujung dan kosong.


Kalau aku memang terjebak di tubuh, aku pasti bisa merasakan ada usus, lambung, paru-paru, jantung, dan sistem pencernaan yang lainnya.


Dan ruangan ini tidak akan kosong melompong, pasti akan dipenuhi oleh macam-macam sistem pencernaan dalam tubuhnya.


Atau aku saja yang belum menemukannya? Bisa saja aku tidak bisa merasakan benda apapun di sini karena dia menyembunyikannya dengan sangat baik…


Aku jadi penasaran, bagaimana cara menyembunyikan aura? Apa dia memakai suatu alat? Atau dia mempelajarinya di suatu tempat?


"Kenapa gerakannya kacau lagi?"


Pikiranku seketika buyar saat dia bertanya padaku. Aku berusaha tenang dan menggerakkan tubuhku secara perlahan sesuai dengan perkataannya.


Entah sudah benar atau belum, tapi aku berusaha melakukannya sebaik mungkin agar dia tidak kecewa.


"A-Apakah sudah sesuai?"


"Gerakanmu terlalu pelan, coba lebih percepat lagi."


Aku berusaha mempercepat gerakanku dan menjaga agar gerakanku tetap stabil.


Sambil terbang, aku merentangkan kedua tanganku agar badanku tetap seimbang.


"Bagaimana?"


"Hmm… Sedikit lagi."


Setelah terbang melayang untuk beberapa saat, aku jadi mengetahui bagaimana cara mengontrol tubuhku agar terbang dengan santai dan tidak tegang.


Rasakan bagian tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah-olah kesadaranku telah diambil alih oleh ketenangan, bukan ketakutan.


Rasa ringan dan tenang perlahan-lahan merambat memasuki tubuhku.


Aku perlahan menurunkan kedua tanganku dan menempatkannya di samping badan. Sekarang, tubuh dan jiwaku sudah tenang dan rileks.


Kemudian, aku mencoba santai dan lebih mempercepat gerakanku.


"Bagus!"


Aku perlahan-lahan mendaratkan badanku ke permukaan yang berpijak.


Bangga dan senang aku tunjukkan secara terang-terangan, aku kemudian tertawa dengan lirih.


Suara misterius juga ikut tertawa bersamaku. Kami tertawa bersama-sama sekarang.


Aku memposisikan badanku agar sebisa mungkin berhadapan dengannya.


"Terima kasih…"


Suara tersebut hanya mengiyakan pernyataanku. Aku mengangguk kemudian melanjutkan perjalananku agar bisa segera keluar dari tempat ini.


Tempat ini masih terasa sama, kehampaan dan kegelapan yang terus menerus mengikutiku.


Aku hanya mendengar suara langkah kakiku sendiri, sementara suara misterius itu sudah tidak terdengar lagi.


Mungkin dia sudah menghilang lagi dan meninggalkanku sendirian.


Aku sangat kesepian di sini, aku harap perjalanan panjang ini tidak sia-sia dan akhirnya aku bisa keluar dari sini.


"Kenapa kamu terlihat murung?"


Tidak kusangka, suara misterius itu mengajak bicara duluan.


Kukira, dia sudah pergi meninggalkanku seperti sebelumnya.


Kuharap dia tidak tahu kalau aku sedang berekspresi aneh sekarang.


Aku sedikit tersenyum karena senang dia tidak meninggalkanku lagi.


Secara tidak sadar, aku langsung mengatakan hal yang ingin kukatakan sedari tadi.


"Aku ingin segera meninggalkan tempat ini."


Suara tersebut tidak mengatakan apapun, lagi-lagi hanya kehampaan yang ada di tempat ini.


Aku hanya berjalan dalam diam, gelap, dan hampa, mengikuti karakteristik ruangan ini.


Iya, aku tahu… 'Ruangan' bukanlah seseorang. Aku hanya menggunakan 'karakteristik' karena aku lebih menyukainya daripada 'ciri khas' atau 'apa yang terdapat dalam ruangan ini'.


"Kenapa?"


Suara misterius itu secara mendadak bertanya padaku. Masih dengan perasaan yang kecewa dan kesepian, aku kemudian menjawab pertanyaannya.


"Karena aku lebih suka melihat Ibu daripada melihat dirimu."


"…"


Dia diam lagi… Sepertinya dia sedang memahami apa yang baru saja kukatakan.


Bisa jadi, dia tidak mengetahui bahwa aku memberitahukan hal itu secara tersirat…


Sudahlah, aku benar-benar tidak ingin membahas hal yang simpel seperti ini padanya.


Biarkan dia memahaminya sendiri. Kalau dia kuberitahu secara tersurat, dia tidak akan pernah memakai otaknya dengan benar. Tunggu… Sepertinya pernyataanku terlalu kasar.


"Tapi aku tidak suka dengan Ibu."


Memangnya aku peduli soal itu… Kenal saja tidak, untuk apa aku memedulikan kalau kau menyukai Ibuku atau tidak.


Lagipula, bukan itu intinya sekarang. Maksud dari perkataanku barusan bukan itu, dia tidak menangkap perkataanku…


Aku tahu kalau aku terlihat seperti anak nakal sekarang.


Tapi, aku hanya kesal karena dia sudah pernah meninggalkanku di ruangan yang menyeramkan ini.


Selain itu, dia juga lebih sering mendiamkanku saat aku benar-benar membutuhkan jawabannya.


Dia hanya datang saat penasaran terhadap suatu hal kemudian menanyakan hal itu padaku…


"Apakah kamu benar-benar sayang kepada Ibu?"


Apakah dia sedang mengetesku sekarang? Bisa-bisanya dia menanyakan hal itu kepada seorang anak yang lahir dari rahim Ibunya.


Dia benar-benar membuatku kesal sekarang. Aku ingin mengacuhkannya tetapi suara dimulutku malah dengan entengnya menjawab pertanyaannya.


"Tentu saja. Ibu sangat cantik dan pandai bermain piano. Ibu juga menyayangiku…"


Mungkin terkesan sombong, tapi aku hanya mengatakan kenyataannya saja.


Ibu selalu memainkan piano dengan lembut dan penuh penghayatan.


Kadang, aku diam-diam mendengarkan Ibu yang memainkan piano dan aku sedikit demi sedikit merasakan tangannya kemudian mempelajari gerakan jarinya yang lentik.


Tangan kiri sebagai pengiring dan tangan kanan sebagai melodi utama.


Aku jadi tahu sedikit tentang C mayor, G minor, dan letak-letak tuts piano lainnya.


Sebenarnya aku sangat ingin mahir bermain piano seperti Ibu. Hanya saja, Ibu tidak pernah mengizinkanku untuk menyentuh piano miliknya, aku juga tidak tahu kenapa, Ibu tidak pernah memberitahukan alasannya padaku.


Selain itu…


Ibu memang sangat cantik. Semua orang menjulukinya sebagai 'Dewi Kecantikan'.


Setiap pria yang lewat selalu memberikan bunga dan kebanyakan langsung melamar Ibu secara terang-terangan.


Ibu dengan nada bicara yang sopan langsung menolak pria tersebut dan mengatakan bahwa aku adalah anaknya.


Aku tidak tahu kenapa, tetapi pria itu sepertinya kaget lalu cepat-cepat memundurkan dirinya.


Sikap Ibu sangat sopan dan juga berkelas. Ayah sering mengutarakan bahwa Ibu adalah orang yang anggun dan lembut, tetapi juga tegas di saat bersamaan.


Ayah pernah mengatakan bahwa Ibu sangat indah seperti Patung Dewi Saraswati.


Oh iya, Ayah juga pernah menceritakan pertemuan pertamanya dengan Ibu.


Saat itu, Ayah yang masih remaja sering mengintip Ibu bermain piano, Ayah juga sangat kagum terhadap permainan piano yang Ibu mainkan dengan merdu. Aku lupa apa yang terjadi selanjutnya…


Yang kuingat adalah…


Pada akhirnya, Ayah melamar Ibu dan membelikan piano sebagai hadiah pernikahan mereka.


Ayah bilang bahwa Ayah sangat beruntung bisa menjadi pasangan Ibu, tapi kurasa tidak begitu.


Kata orang-orang, wajah ayah sangat rupawan layaknya pahatan patung.


Selain itu, Ayah juga sangat setia dan hanya jatuh cinta kepada Ibu, itu yang dikatakan salah satu pelayan padaku.


Semua orang mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna…


Semua orang mengatakan bahwa aku adalah anak yang beruntung karena lahir dari orang tua yang sempurna.


Dan memiliki orang tua yang selalu menyayangiku setiap saat…


"Tidak."


Apa…? Apa yang dikatakan… Oleh suara ini… Barusan…?


"Aku tidak merasa begitu."