
"Aku tidak merasa begitu."
Apa maksudnya… Kenapa dia mengatakan hal itu…? Aku… Aku benar-benar tidak mengerti sama sekali…
Setelah kupikir-pikir, pernyataan yang dia katakan memang tidak jelas, apakah aku harus menanyakannya?
Masih melangkahkan kaki, aku berusaha bersikap tenang walaupun hatiku agak cemas.
Daripada tidak tenang, lebih baik aku menanyakannya langsung.
"Apa… maksudmu…?"
Aku menanyakannya dengan nada bicara yang penuh keraguan.
Aku mohon… Aku mohon jawab pertanyaanku yang ini. Jawabanmu sangat berarti untukku…
"Kalau mereka menyayangimu, kamu tidak akan seperti ini sekarang."
Hah...
Lagi-lagi, dia mengatakan hal yang tidak jelas… Aku benar-benar seperti orang bodoh karena tidak mengerti apa yang dia katakan.
Ini bukan hanya sekali saja, tetapi sudah beberapa kali...
'Kamu tidak akan seperti ini sekarang'. Memangnya aku ini kenapa sampai dia berkata begitu?
Apa karena aku memasang wajah murung? Atau karena aku ingin segera keluar dari tempat ini?
Bukankah wajar bila seseorang bersikap murung karena sudah berada di ruangan yang tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti ini?
Aku sangat bersyukur karena masih waras hingga sekarang.
Lebih aneh lagi kalau aku merasa senang berada di tempat yang sunyi seperti ini.
Kurasa ini tidak ada gunanya…
Iya… Lebih baik aku langsung menanyakan kepada suara misterius daripada berdebat secara batin.
Tidak akan mendapat jawaban apapun kalau hanya berdebat secara batin seperti ini…
"Memangnya aku seperti apa sekarang?"
Dia terdengar agak 'benci' saat aku mulai membicarakan kedua orang tuaku.
Apa dia mempunyai suatu dendam kepada orang tuaku?
Kalau ternyata memang benar begitu, aku harus memanggilnya 'paman' mulai sekarang.
Tidak, cukup pembicaraan dalam hati yang tidak berguna ini…
Aku yakin, karena dari nada bicaranya yang terdengar tinggi dan kasar saat membahas ini, kupikir dia akan menjawab pertanyaanku yang satu ini.
"Melarikan diri dari mereka."
Langkahku terhenti dan aku menjadi diam sepenuhnya. Perasaan campur aduk ini, kaget dan tidak percaya, mengerumuni jiwaku.
Aku berusaha mencerna apa yang baru saja dia katakan.
Aku… Aku tidak pernah melarikan diri dari mereka…
Tunggu sebentar… Apa maksudnya…
"Apa maksudmu, aku berada di tempat ini karena aku sedang melarikan diri dari kedua orang tuaku…?"
Pasti dia akan mengatakan 'tidak'. Lebih tepatnya, aku berharap agar dia mengatakan itu.
"Tentu saja."
Nada bicara yang awalnya terdengar kasar, samar-samar mulai terdengar sedu.
Meskipun begitu, aku tidak bisa mempercayainya… Aku tidak bisa mempercayai perkataan dari orang asing, apalagi yang menyembunyikan keberadaannya seperti ini.
Mungkin dia sengaja melakukan ini, menjatuhkan mentalku agar aku putus asa dan tetap berada di tempat ini untuk seterusnya.
Aku jadi curiga kalau dia yang sengaja membawaku kemari dan mengurungku di tempat yang sunyi dan penuh dengan kegelapan ini agar menemaninya dari kesepian abadi.
Kau pikir… Aku sudi menemani orang sepertimu? Aku sudah merubah pemikiranku tentang dirimu.
Kupikir kau adalah orang baik, juga tersesat di tempat ini sama sepertiku.
Awalnya aku ingin membawamu keluar dari sini dan kita bisa hidup bersama seperti seorang sahabat.
Ternyata kau adalah orang yang suka menghancurkan mental orang lain, seperti mengatakan bahwa aku melarikan diri dari orang tuaku karena mereka tidak menyayangiku.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya."
Dia… Dia membaca pikiranku sekarang?
Tidak mungkin… Dia pasti hanya kebetulan mengatakan hal yang berhubungan dengan pemikiranku.
Iya, pasti begitu. Mana mungkin ada seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain?
Lebih baik aku tidak menanggapi perkataannya. Kalau kutanggapi lagi, dia akan senang dan mengatakan hal-hal yang membuat hati dan pikiranku menjadi stres.
"Kamu yang begitu."
Sedikit kaget, aku tetap tidak menanggapi pernyataannya.
Aku langsung menggerakkan kakiku dan berjalan dengan cepat, ingin menghindarinya dan secepatnya menemukan pintu keluar agar bisa terbebas dari ruangan yang gelap ini.
"Kalau lari dari masalah terus, kapan selesainya?"
Aku… Aku tidak pernah lari dari masalah!
"Lalu, yang kamu lakukan sekarang ini apa?"
Aku hanya ingin keluar dari ruangan yang suram dan kosong ini.
"Kalau begitu, tetaplah di sini dan selesaikan masalahmu."
Semakin mendengar suaranya, hatiku semakin gelisah dan tidak tenang.
Aku mempercepat langkahku, hampir seperti berlari karena tidak ingin mendengar suaranya lagi.
"Selesaikan masalahmu."
Aku refleks menyilangkan kedua tanganku dan menutupi bagian atas tubuhku.
Setiap langkahku seperti sedang diikuti olehnya. Semakin lama, langkah kakiku terasa semakin berat.
"Selesaikan masalahmu."
Berhenti! Berhenti mengatakan hal itu, dasar orang aneh!
Aku tidak punya masalah apapun, jadi berhenti mengatakan hal itu!
"Selesaikan masalahmu."
Tidak! Aku tidak punya masalah apapun!
Bukannya berjalan maju, aku perlahan memundurkan langkahku dengan sangat pelan.
Napasku juga cepat dan tidak teratur, seperti sedang menangkat banyak barang yang berat.
"Selesaikan masalahmu."
Diam…
"Selesaikan masalahmu."
Berhenti…
"Selesaikan masalahmu."
"DIAM!"
Aku berteriak.
Aku memundurkan badanku dengan lebih cepat. Tanpa kusadari, tubuhku terjatuh ke belakang.
Aku memegangi kepalaku karena pusing dengan suaranya yang terngiang-ngiang di kepalaku.
Suara itu tidak mengatakan apapun lagi. Entah sudah menghilang atau hanya diam saja di sini, aku sudah tidak peduli lagi dengannya.
Lebih bagus lagi kalau dia pergi dari sini dan meninggalkanku sendirian di ruangan ini.
"Aku tidak pernah pergi dari sini."
Pembohong! Sudah berulang kali kau meninggalkanku.
"Aku hanya tidak menjawabmu."
Kalau begitu, tinggalkan aku sekarang. Pergilah…
"Aku tidak bisa melakukan itu."
Apa… Tapi, kenapa…?
"Aku tidak tahu."
Aku hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa di dalam batinku sendiri.
Aku benar-benar bingung, cemas, dan khawatir sekarang.
"Kamu bisa mengatakan apapun yang ingin kamu katakan sekarang."
Aku membenarkan posisiku yang terjatuh lalu perlahan mengangkat kakiku hingga duduk menyilang.
Awalnya ragu, tapi akhirnya aku membuka mulutku dan berbicara secara langsung, tidak di dalam hati lagi.
"Aku hanya tidak mengerti semua yang kau katakan. Sejujurnya, aku tidak pernah meninggalkan orang tuaku."
"Kalau memang begitu, kamu seharusnya tidak ada di sini sekarang."
Aku menghela napas panjang, kemudian menggenggam pergelangan tanganku.
Pemikiranku… Aku akan mengatakannya saja padanya.
"Kau kan yang membawaku ke sini."
"Kamu yang membawaku ke sini."
Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Aku menggelengkan kepala karena rasanya percuma berbicara dengannya.
"Berhenti mengelak dan antarkan aku ke pintu keluarnya sekarang!"
Aku benar-benar sudah emosi sekarang. Dia dari tadi mengatakan hal-hal yang ingin membuatku marah.
"Aku tidak bisa melakukan itu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau bertemu dengan mereka."
Dasar…
"KALAU MENGATAKAN SESUATU, SEHARUSNYA KAU MENGATAKANNYA DENGAN JELAS DAN TIDAK MEMBINGUNGKAN SEPERTI INI! KATAKAN SEMUANYA DENGAN JELAS SEKARANG!"
Perlahan, aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh bahuku.
Aku berbalik dan melihat seseorang. Dia adalah…
"Aku, maksudku kita. Kita membenci mereka. Ingatan ini, kamu menghapusnya karena ingin melupakan mereka."
Aku hanya diam, menyaksikan diriku sendiri berbicara. Suaranya bahkan persis seperti suaraku.
"Mereka tidak mengerti kita, mereka tidak mendengarkan keinginan kita, mereka hanya beropini tanpa memedulikan kita."
Suara misterius yang ternyata adalah diriku sendiri, masih mengatakan beberapa hal lainnya.
Seketika, aku perlahan terpisah darinya, saat dia mengatakan ini…
"Meskipun begitu, menghapus ingatan bukanlah tindakan yang benar. Aku di sini, menyimpan semua ingatan lamamu. Kelak suatu saat, aku tidak akan bisa menyimpannya lagi. Jadi yang perlu kamu lakukan adalah, jangan menghindarinya…"