
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini, rasanya sangat membosankan sekaligus jenuh.
Hanya aku saja yang ada di sini, sendirian dan tidak tahu arah pulang.
Ruangan ini memang tidak berujung. Aku sudah berjalan lurus dan tidak membelokkan arah sedikitpun, tetapi aku tidak bisa melihat tanda-tanda kehidupan di sini.
Sepi, hampa, kegelapan, dan kosong, semuanya ada di sini.
Tidak terdapat cuaca kecuali udara yang dingin. Tidak ada keramaian kecuali kehampaan.
Tidak terdapat suara makhluk lain, seperti kicauan burung ataupun suara pedagang kaki 5 yang sedang menawarkan makanannya pada pembeli.
Berapa kali pun aku berbicara, aku hanya akan mendengar suaraku berpantul kemudian memudar secara perlahan.
Kegelapan rasanya mengikutiku… Entah sudah berapa lama aku melangkah dan mencari sesuatu yang terang, semakin lama yang kulihat hanyalah kegelapan.
Cahaya atau sesuatu untuk menerangi ruangan ini, sepertinya mustahil menemukannya di ruangan yang mati rasa ini.
Rasanya memang benar-benar diikuti oleh kegelapan itu sendiri.
Apalagi ruangan ini tidak berujung dan kosong, layaknya kematian.
Sepertinya aku akan terkurung di ruangan ini selamanya.
Karena ruangan ini sama sekali tidak terdapat cahaya ataupun pintu untuk keluar…
Aku kemudian membaringkan tubuhku dan beristirahat karena sepertinya akan sia-sia walaupun berjalan lagi.
Walaupun sudah berjalan dengan sangat lama, tubuhku sama sekali tidak merasa lelah ataupun pegal.
Kakiku tidak terasa sakit dan capek, rasanya biasa saja. Aku juga tidak merasakan lapar dan haus, padahal aku belum mengisi perutku selama bangun dari tempat ini.
Aku menghela napas dan mengedipkan mataku berulang kali, masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi.
"Sepertinya aku pernah mendengar dari seseorang… Kalau aku mencubit tangan dan merasa kesakitan, berarti ini kenyataan. Kalau aku mencubit tangan dan tidak terasa apapun, berarti ini adalah mimpi…"
Aku mengarahkan jariku ke tangan yang satunya, mencubit sekuat tenaga dan berharap tidak terasa apapun.
Dan ternyata… Harapanku terkabul, tanganku sama sekali tidak merasakan sakit, rasanya seperti dipegang saja.
Kalau begitu, yang perlu kulakukan hanyalah memejamkan mataku di sini hingga terbangun di dunia nyata.
Aku merentangkan badanku agar nyaman, kemudian menutup mataku walaupun yang kulihat sama saja saat membuka mata.
Sebisa mungkin, aku membayangkan lantunan piano yang terdengar memasuki telingaku.
Piece Of Memories, nada yang terdengar dari setiap tuts piano yang ditekan, terdengar indah sampai ingin membuatku melayang.
"Nyanyian yang bagus~"
Masih membayangkan permainan piano, aku memejamkan mata lalu mengangguk.
Aku terdiam sesaat lalu membuka mataku karena menyadari ada sesuatu yang salah.
Lengan bajuku yang sedikit terangkat dan kakiku yang rasanya tidak berpijak pada apapun.
Ini memang terdengar mustahil, tetapi sepertinya saat ini aku benar-benar sedang melayang.
"Kenapa berhenti? Aku suka mendengar suaranya…"
Ini… Ini suara misterius yang mengacuhkanku tadi… Suaranya masih menyeramkan seperti monster…
Dasar, di saat butuh saja baru mengajakku bicara. Tapi dia salah tentang satu hal, piano itu bukan nyanyian.
Piano itu cara bermainnya ditekan. Benda mati tidak akan bisa bernyanyi, piano tidak memiliki pita suara seperti manusia.
Sudahlah, itu sama sekali tidak penting sekarang. Yang menggangguku sejak tadi adalah…
Aku bahkan tidak dapat melihatnya di manapun walaupun aku sudah membuka mataku.
Ini pasti karena ruangannya terlalu gelap. Tapi… Aku… Aku sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran si suara misterius ini.
Seharusnya kalau ada seseorang yang mendekat atau bergerak kemari, aku pasti bisa merasakan aura orang tersebut.
Aku juga bisa merasakan hewan yang bergerak di dekatku.
Bahkan aku bisa merasakan benda mati yang berada di sekelilingku. Berarti…
Apakah dia itu bukanlah 'seseorang'? Jadi, 'dia' ini apa? Tapi dia bisa bersuara, dia pasti juga manusia…
Apa dia menyembunyikan auranya sehingga aku tidak bisa merasakan keberadaannya?
Tapi, untuk apa? Kami sama-sama terkurung di ruangan ini, dia seharusnya menunjukkan auranya agar tidak kesepian dan berbaur denganku.
Apa dia adalah seorang penjahat sehingga harus menyembunyikan keberadaannya? Sepertinya memang begitu karena suaranya sangat menyeramkan.
Yang pasti…
Orang yang sangat misterius, seperti suaranya. Kalau begitu, aku akan menyapanya sebentar…
"Halo, suara yang misterius…"
Mungkin dia akan mendiamkanku lagi, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba mengajaknya berbicara.
Kuharap dia menjawab sapaanku meskipun kemungkinannya hanyalah 15%
"Halo…"
Tidak kusangka dia akan menjawabnya! Aku senang bukan main!
Cukup, sekarang bukan saatnya untuk senang seperti ini.
Aku benar-benar ingin menanyakan tempat apakah ini, tetapi sepertinya dia tidak akan mau memberitahuku.
Mungkin kalau dia sudah menganggapku cukup dekat, dia akan mengatakannya padaku.
Kalau begitu, aku akan mengajaknya berbicara mengenai kesukaannya agar dia nyaman mengobrol denganku.
"Apakah anda menyukai suara piano tadi?"
Ayo, jawablah walaupun hanya singkat!
"Aku sangat menyukainya!"
Bagus! Dia menjawabnya dengan nada yang antusias! Sepertinya dia benar-benar menyukainya!
Baiklah, karena aku cukup mengerti soal piano, aku bisa membuka topik pembicaraan yang dia sukai.
"Mau mendengarnya lagi? Aku suka River Flows in You, apakah anda menyukainya juga?"
"Aku belum pernah mendengarnya. Kalau nyanyiannya bagus, aku akan menyukainya juga."
Hah…
Itu bukan nyanyian, piano itu ditekan dan tidak mempunyai pita suara…
Sepertinya aku belum mengatakan hal itu padanya, aku harus mengatakannya secepat mungkin.
Kurasa kapan-kapan saja aku akan memberitahu hal itu padanya, aku takut membuatnya tersinggung.
Kalau dia tersinggung, aku tidak akan bisa menanyakan hal yang sebenarnya ingin kutanyakan padanya.
Aku tidak mau terjebak di ruangan yang gelap dan hampa ini selamanya, aku ingin segera keluar dari sini.
Kalau bisa, aku juga akan membawanya keluar dari sini dan kami bisa menjadi sahabat. Itu kalau dia mau, sih…
Sudahlah, sekarang aku akan membayangkan lantunan pianonya terdengar melewati telingaku.
"Ini sangat bagus! Terus nyanyikan lagunya, aku sangat menyukainya!"
Aku mengangguk, membayangkan setiap nadanya dimainkan dengan penuh penghayatan.
Dari dulu aku tidak pernah bosan dengan permainan pianonya, sangat merdu sampai membuatku ingin terbang sekarang.
Tubuhku kemudian terbang melayang tanpa permisi. Aku berusaha turun karena takut terjatuh, tetapi sampai sekarang aku masih tetap terbang melayang.
Aku tarik kembali pemikiranku yang ingin terbang tadi. Sekarang, tolong turunkan aku!
Ayo, turunkan tubuhku sekarang! Cepatlah, aku sebenarnya agak takut ketinggian…
Tubuhku tetap melayang dan semakin bergerak dengan cepat seperti terbang dengan menggunakan sayap. Sejujurnya, aku sangat ketakutan sekarang.
Saking takutnya, tubuhku gemetaran hebat sampai aku memejamkan mataku dengan paksa.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Suara yang misterius itu menanyakan keadaanku, entah mengapa aku sedikit senang.
"Aku agak ketakutan karena ini pertama kalinya tubuhku terbang melayang."
"Apakah kamu menikmatinya?"
Menikmati? Menikmati saat terbang melayang seperti ini…?
Aku perlahan merasakan tubuhku, memejamkan mata dengan perlahan dan tenang.
Tangan dan kakiku yang melayang bebas, badanku yang terbang seperti mempunyai sayap di bagian punggungku, rasanya tidak terlalu buruk.
Ternyata aku cukup menikmatinya. Aku memang takut, tetapi lumayan seru dan menyenangkan secara bersamaan.
Terbang seperti ini, tubuhku rasanya sangat ringan seperti sedang mengambang di laut mati.