Blindsight

Blindsight
Kisah



Kira-kira, kapan aku akan pulang? Bagaimana kalau mereka makin mencemaskanku?


"Bocah yang bernama Laalit, makanlah dulu. Setelah itu, aku akan langsung mengantarmu pulang secepatnya dari sini."


Nenek ini, apa dia bisa membaca pikiranku? Keringat dingin mengalir dipunggungku dan ruang makan pun terasa canggung.


"Laalit, setelah ini Laalit mau pulang?"


Aku hanya mengangguk lalu Gulinear menatapku, hawanya terasa gundah.


"Gulinear cucuku, bocah ini harus pulang ke rumahnya, Kakaknya pasti sangat mengkhawatirkan dia sekarang."


"TIDAK BOLEH! Laalit harus di sini dan kami akan belajar bersama. Gulinear mau mengajari banyak hal pada Laalit dan bersama-sama Laalit saat memasuki akademi nanti. Aku mau sama Laalit! POKOKNYA LAALIT GAK BOLEH PULANG!"


Aku tahu kamu memang manja, tapi ini sudah cukup, Gulinear.


Kukira kamu akan lebih mengerti keadaanku, ternyata kamu hanya mementingkan egomu sendiri.


Maaf Gulinear, tapi… Aku agak kecewa… Denganmu…


"Cucuku, mau kuceritakan kisah lamamu saat kecil? Kurasa kamu akan tertarik mendengarnya. Bocah, kemarilah dan dengarkan kisahku juga."


Aku mengangguk lalu berjalan mengikuti aura nenek.


Ternyata nenek berada di tingkat Analog. Kurasa aku sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang kuat.


"Apa kamu ingat saat ada suatu kejadian yang sangat membahayakan dirimu?"


Nenek bertanya kepada Gulinear tetapi Gulinear sepertinya tidak mengetahui jawabannya.


"Jadi, dulu ada seseorang yang dekat dengan keluarga kita yang menculik dirimu. Dia adalah Temannya Ayahmu, yang terkenal baik dan suka membantu orang lain. Sepertinya dia dan ayahmu memiliki konflik sehingga temannya Ayahmu menculik dirimu, lalu menyekapmu di ruang tertutup. Diramalanku, kamu tampak menangis dan Nenek buru-buru mengintip masa depan untuk bisa menyelamatkanmu. Nenek melihat sesuatu di tempat itu, awalnya Nenek melihat bahwa tempatmu disekap adalah ruangan yang agak luas tetapi minim akan cahaya. Nenek mencoba melihat lebih jauh dan melihat sebuah rumah kayu yang kecil dengan banyak pohon besar di sampingnya. Dan saat Nenek melihat ke dalam rumah kayu tersebut, kamu tidak ada di sana."


Gulinear terasa khawatir lalu sepertinya memeluk nenek,


"Ta-Takut! Apa temannya Ayah akan datang kemari dan membawa Gulinear lagi??"


Hawa seorang Nenek yang sangat menyayangi cucunya terasa sangat kuat dan lembut.


"Kalau Gulinear nakal, temannya Ayah akan langsung kemari dan membawa Gulinear lagi."


Perasaan Gulinear mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan menangis.


"Gulinear tidak akan nakal lagi. Maafkan Gulinear ya, Nenek…"


Seorang Nenek dan cucu yang sangat disayanginya, keduanya memiliki hawa yang lembut dan menenangkan.


Sebenarnya, aku penasaran di mana akhirnya Nenek menemukan Gulinear disekap.


Tapi, aku tidak enak hati mengganggu mereka berdua yang saat ini sedang tidak dapat dipisahkan.


Jadi, aku akan mencoba mengira-ngira sendiri dulu…


'Sebuah rumah kayu yang kecil dengan pohon besar di sampingnya'.


Aku akan membayangkan rumah Kakak terlebih dahulu.


5 hari ini, selain berlatih, aku juga menggunakan kesempatan luang untuk mengelilingi rumah Kakak setiap hari agar dapat mengetahui bentuk dan teksur bahannya.


Di saat aku meraba sekeliling rumah Kakak, aku jadi bisa menggambarkannya cukup jelas di dalam kepalaku.


Rumah Kakak sangat luas dan permukaannya menggunakan lebih banyak bambu daripada batu bata.


Tapi, bukan itu intinya sekarang. Kita akan beralih ke tempat kecil yang berada di samping rumah Kakak.


Aku dan Aamod terkadang duduk di 'Saung', sebuah gubuk kecil yang terbuat dari bambu.


Biasanya kami duduk di Saung sehabis berlatih. Aku menggunakan waktu luangku untuk memegang dan meraba Saung sampai aku terbiasa dengan bentuknya. Luas Saung cukup kecil, kira-kira 2x2 m².


Jadi, ayo kita bayangkan 'rumah kecil' tersebut sesuai dengan bayanganku.


Ukuran rumah ini lebih kecil daripada rumah Kakak dan rumah ini terbuat dari kayu.


Kita Ganti 'Saung' yang terbuat dari bambu menjadi 'Saung' yang terbuat dari kayu.


Sempurna! Sekarang, kita tutup tempat terbuka 'Saung'.


Bangun kayu di sekeliling 'Saung' dan kita tutup seluruh tempat terbuka pada Saung, sehingga sekarang tidak terdapat celah udara untuk masuk.


Oke, sepertinya aku sudah mengerti sedikit… Kemudian,


'Dengan banyak pohon besar di sampingnya'.


Kebetulan, di sebelah Saung yang biasa kugunakan sebagai tempat untuk istirahat, terdapat pohon besar di sampingnya.


Aku tentu saja sudah meraba pohon tersebut walaupun tidak sesering meraba Saung.


Permukaan kayu pada pohon tersebut cukup tebal dan di bawah pohon tersebut terdapat daun yang berguguran.


Kita bayangkan saja pohon itu adalah pohon besar yang dikatakan Nenek tadi.


Aku akan membayangkan banyak pohon tersebut terletak mengelilingi rumah kayu.


Aku akan membayangkan bahwa 'Saung' yang sekarang adalah rumah kayu yang kecil tempat Gulinear disekap dan 'Pohon di samping Saung' adalah pohon yang terletak di sebelah rumah kayu.


Sekarang rumah kecil dengan banyak pohon sudah dapat kubayangkan dan kupahami.


'Banyak pohon' itu… Apakah berarti rumah kecil tersebut terletak di hutan?


Hutan kan memang tempat yang banyak pohonnya, sepertinya aku menerbangkan diriku dengan angin sambil melewati hutan dan menyentuh pohon-pohon di sana.


Makanya, aku jadi mengerti kalau hutan itu banyak pohonnya.


Tapi kata nenek, Gulinear tidak terdapat di dalam rumah kayu tersebut…


Tidak mungkin Gulinear disekap di dalam pohon karena yang Nenek lihat adalah 'tempat yang agak luas'.


Kalau Gulinear disekap di dalam pohon, pasti yang Nenek lihat adalah 'tempat yang sangat sempit'.


Apa… Rumah kayu tersebut mempunyai lantai bawah tanah, lalu Gulinear disekap di sana?


Itu adalah satu-satunya hal yang memungkinkan, karena tidak mungkin teman Ayahnya akan menggali dan mengubur Gulinear di dalam tanah hidup-hidup.


Teman Ayahnya tidak berniat membunuh Gulinear sejak awal.


Kalau memang berniat membunuhnya, pasti Gulinear akan dikubur hidup-hidup dan tidak akan ada di sini sekarang.


Lagipula tempatnya 'minim akan cahaya' jadi pasti masih ada sedikit cahaya yang tersisa.


Mungkin teman Ayahnya menyalakan lilin yang apinya kecil agar Gulinear tidak terlalu ketakutan.


Lilinnya mungkin diletakkan berjauhan, pasti ada meja atau apapun yang menopangnya.


Kalau dikubur di dalam tanah, tidak mungkin terdapat cahaya minim yaitu 'lilin yang apinya kecil', pasti yang Gulinear rasakan hanyalah pasir yang menimbun dirinya.


Kalau Gulinear dikubur hidup-hidup dan yang memang Nenek lihat sebagai cahaya minim adalah lilin yang apinya kecil, kulitnya akan terbakar secara perlahan karena yang teman Ayahnya bisa lakukan adalah 'melemparkan lilin langsung ke tanah' bukan 'meletakkan lilin di tempat yang agak berjauhan dengannya'.


Kecuali, tanah tersebut sudah dibentuk menjadi suatu tempat yang agak luas yang bisa di tempati oleh Gulinear.


Tapi, saat mengubur Gulinear di tanah, bukankah harus ada 'semacam penopang' agar tanahnya tepat di atas kepala Gulinear dan tidak menimbung Gulinear.


Dan Gulinear merasa 'pengap'. Berarti meskipun sedikit, tempat tersebut masih terdapat oksigen.


Kalau sudah tertimbun di dalam tanah, kan tidak akan bisa merasakan 'pengap' dan Gulinear akan langsung mati.


Berarti, Nenek memang menemukan Gulinear disekap di rumah kayu di bagian lantai bawah tanah.


"Serius sekali…"


Aku tercengang karena Nenek memudarkan lamunanku.


"Kelihatannya Gulinear baru saja berteman dengan seorang anak yang pandai berlogika tapi tidak sesuai dengan umurnya. Aku akan senang bila kamu mengajari cucuku sedikit agar cucuku juga bisa bernalar sepertimu."