Blindsight

Blindsight
Bangun Kesiangan



Dengan kantuk yang masih melanda, aku membuka mataku dan teringat bahwa kemarin aku tidur saat sudah dini hari.


Aku tidak menyangka bahwa Nenek menurunkan kemampuan mantra pelindung padaku…


Apakah aku harusnya bersyukur? Apakah aku harusnya bersyukur karena ada orang yang langsung menurunkan kemampuannya padaku, sehingga aku tidak perlu mempelajari mantra dasarnya?


Tapi, ini jadi membuatku takut… Kalau ada orang yang mengetahui hal ini selain Tuan Mahajana, kemungkinan akan banyak orang yang benci padaku karena aku sudah bisa menggunakan mantra tanpa perlu susah payah mempelajarinya…


Mereka juga bisa berusaha melenyapkanku, seperti memukulku atau memaksaku menyerahkan mantra pelindung agar mereka bisa langsung menggunakan mantra pelindung tanpa mempelajari dasar-dasarnya terlebih dahulu.


Entah mengapa aku berpikir, kalau ada seseorang yang memaksaku, seketika itu juga kekuatan serta nyawaku akan lenyap.


Tuan Mahajana tidak mengatakan hal itu padaku. Hal itu hanya langsung terlintas dipikiranku saat memikirkan seseorang memaksa untuk menyerahkan kekuatanku padanya, aku akan langsung mati karena menyerahkan kekuatan secara paksa sama saja dengan dibunuh seseorang secara langsung.


Apakah ini adalah wasiat dari Nenek secara tak langsung?


Apakah Nenek sengaja memberitahuku hal ini, agar aku tidak menyerahkan kemampuan ini pada orang lain?


Dan kenapa Nenek tidak memperbolehkanku menyerahkan kemampuan ini pada orang lain?


Apakah peraturannya memang begitu?


Apakah saat memberikan kemampuan pada orang lain, orang yang mendapatkan kemampuan tidak dapat memberikan kemampuannya lagi kepada yang lainnya?


Entahlah… Kemungkinan memang begitu atau aku harus menemui Nenek secara langsung untuk menanyakan hal ini padanya.


Aku masih tidak mengerti bagaimana caranya Nenek memberitahukan hal ini padaku…


Aku membalikkan posisi tubuhku ke samping.


Tanda itu juga…


Tanda di bagian perutku… Aku tidak menyangka akan ada tanda seperti itu kalau sudah diturunkan kemampuan oleh orang lain…


Kemarin pria tua itu menunjukkan tandanya ada di sebelah sini…


Aku kemudian menyentuh perutku di sebelah kanan agak ke bawah, hampir mendekati pinggang.


"Di sini, ya…"


Walaupun sudah kusentuh, aku tetap tidak bisa 'melihat' bentuk tanda tersebut.


Apa bukan di situ ya, letaknya? Mungkin aku salah… Di mana, ya?


Aku menyentuh bagian tubuhku yang lain, termasuk ujung kaki dan pusar kepala yang jelas-jelas bukan di sana letak tandanya.


Hasilnya pun nihil, aku tidak bisa melihat tanda tersebut.


Sepertinya tanda tersebut tidak 'timbul' tetapi 'datar', menyatu dengan permukaan kulitku, makanya aku tidak bisa melihat tanda tersebut.


Aku hanya bisa melihat suatu benda, bila benda tersebut mempunyai bentuk permukaan yang terbentuk atau timbul, tidak rata atau datar seperti lantai.


Ini sangat menyusahkan, seandainya aku bisa melihat… Tidak…!


Cukup! Jangan berpikiran hal yang mustahil seperti itu, dipikirkan berulang kali pun, aku tidak akan bisa melihat seperti orang-orang yang lain.


Pemikiran seperti itu hanya membuang-buang waktu dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berguna.


Ayo! Kita alihkan saja pada hal yang lain!


Aku membalikkan badanku lagi, memegang rambutku yang ujungnya selalu naik dan menyisirnya dengan pelan.


Ternyata obrolanku dengan Tuan Mahajana berlangsung sangat lama, aku sampai tidak menyadari bahwa hari sudah menjelang pagi saja.


Ah… Gulinear memergoki kami berdua yang masih belum tidur dan menarik tanganku untuk tidur bersamanya.


Padahal rencananya, aku akan tidur dengan Tuan Mahajana karena aku sudah lelah dengan gaya tidur Gulinear yang berantakan.


Tapi tidak kusangka, pagi tadi aku bisa tidur dengan nyenyak, biasanya aku terbangun beberapa kali karena rambutnya yang mengenai wajah ataupun kakinya yang menimpa badanku.


Mungkin Gulinear sudah merubah gaya tidurnya menjadi lebih tenang?


Syukurlah kalau begitu… Dia sepertinya sudah mulai dewasa dan tidak akan rewel lagi…


Aku meregangkan badanku kemudian bangkit dari tidur.


"Laalit kesiangan, lho. Ini sudah mau siang hari, tapi Laalit baru bangun tidur."


Aku… Kesiangan?!


Sial… Tidak kusangka aku akan bangun hampir siang hari begini!


Kalau tahu akan begini, aku akan tidur sesuai jam tidurku dan bangun pada pagi hari seperti biasanya.


Kata Aamod, aku harus membiasakan diri untuk bangun pagi agar badan lebih sehat dan bisa olahraga dipagi hari.


Selain badan lebih nyaman, bangun pagi juga bisa membuat kita menghirup udara yang segar sambil lari pagi agar tulang dan otot menjadi lebih kuat.


Soal olahraga, aku belum berolahraga semenjak hari pertama melakukan perjalanan.


Aku lupa kalau push up dan sit up harus dilakukan secara rutin agar otot ditubuhku cepat terbentuk.


Sepertinya kedua olahraga itu bisa dilakukan di dalam kereta kuda ini.


Apa push up boleh dilakukan di atas kasur, ya?


Aku belum menanyakan hal ini pada Aamod, tapi kurasa boleh-boleh saja. Yang penting olahraganya, kan?


Mau tempatnya di laut sekalipun, kalau memang tujuannya untuk hal yang bermanfaat, pasti boleh-boleh saja.


"Laalit, ini rotinya dimakan. Gulinear tadi makan yang rasa cokelat, kalau yang ini rasanya vanila."


Aku menerima roti yang diberikan oleh Gulinear. Terserah mau rasa vanilla, cokelat, atau stroberi sekalipun, yang penting bisa dimakan.


Tapi, ini enak juga. Rasanya manis dan permukaannya lembut, sepertinya lidahku menyukainya.


Aku jadi penasaran dengan rasa cokelat dan stroberi. Sepertinya sebelum hilang ingatan, aku sempat memakannya.


Soalnya aku bisa tahu ada rasa stroberi padahal aku belum pernah memakan rasa tersebut dan tidak ada orang yang pernah membicarakan rasa stroberi padaku.


Cokelat itu pasti rasanya enak juga. Aku jadi tidak sabar untuk memakannya dan menikmati rasanya.


"Laalit, kok kemarin Laalit belum tidur walaupun sudah malam?"


Kemarin aku belum tidur walaupun sudah pagi, Gulinear…


"Aku tidak bisa tidur kemarin."


Gulinear memegang-megang rambutku lalu memainkannya dengan jarinya.


"Rambut Laalit lucu~ Rambutnya selalu seperti ini, naik-naik seperti telinga kelinci!"


Semua orang mengatakan bahwa rambutku aneh dan lucu.


Bagaimana lagi, orang tuaku memang bentuk rambutnya seperti ini. Aku jadi penasaran seperti apa bentuk telinga kelinci.


Aku hanya pasrah saja dan menunggu sampai Gulinear selesai bermain-main dengan rambutku.


"Laalit! Ini, lihat! Lucu, he he~"


Entah apa yang Gulinear lakukan, dia seperti mengikat rambutku dengan sesuatu lalu mengaitkannya dengan rambutku yang lain.


Gulinear menarik-narik rambutku kemudian melakukan hal yang tidak ku mengerti sama sekali.


"Tuan! Coba lihat kemari."


Aku merasakan hawa Tuan Mahajana yang menatapku sambil duduk di kursi seperti biasanya.


Suara tawa tapi tertahan, aku mendengarnya dari mulut Tuan Mahajana walaupun Tuan Mahajana berusaha menyembunyikannya.


"Bagus sekali."


Itu agak terdengar seperti sarkasme, kau kira aku tidak tahu bahwa kau sedang tertawa kecil sambil menutup mulutmu sekarang…


Aku kemudian memegang rambutku yang ternyata sudah dikuncir dua.


Ini… Memangnya aku anak perempuan?


"Laalit! Lihat ke sini!"


Memangnya kenapa? Apakah ada sesuatu yang menarik di sana?


Aku kemudian mengarahkan kepalaku ke benda yang disodorkan oleh Gulinear.


"Bagus, kan? Laalit kelihatan lucu dikuncir seperti ini~"


Sepertinya Gulinear menyodorkan cermin padaku. Padahal itu perbuatan yang sia-sia karena aku tidak bisa melihat pantulanku sendiri.


Aku memegang-megang rambutku lagi untuk melihat bentuknya.


"Ini memalukan…"