Blindsight

Blindsight
Murid?!



Mata Tuan Mahajana menatapku lekat-lekat. Rasanya benar-benar menegangkan, karena seseorang yang kedudukannya sangat penting sekarang sedang menatapku dengan serius.


Aku pun membiasakan diriku, lalu menatap Tuan Mahajana dengan serius juga.


"Tentu saja penglihatannya. Tapi yang paling membuatku tertarik adalah kepekaannya."


"Kepekaan?"


"Apakah Nona barusan merasakan sesuatu?"


Aku bingung dengan pertanyaan Tuan Mahajana,


"Merasakan apa ya, Tuan?"


Tuan Mahajana kemudian meminum tehnya sebentar sebelum menatapku dengan serius,


"Aura kekuatanku."


HAH?!


Apakah Tuan Mahajana baru saja melepaskan kekuatannya?! Tapi, untuk apa???


"Tentu saja saya tidak merasakan apapun, Yang Mulia. Saya hanyalah orang biasa dengan tingkat kekuatan terendah, yaitu Intensity. Meskipun saya tidak dapat merasakan apapun, tapi saya merasa sangat bersyukur, Tuan Mahajana Yang Agung."


Tuan Mahajana meminum tehnya kembali, sepertinya dia sudah melakukannya beberapa kali tadi.


"Laalit bisa merasakan aura kekuatanku yang berada ditingkat Kontras. Meskipun Nona bukan petarung yang berpengalaman, Nona tahu apa artinya, bukan?"


Bagaimana mungkin.. Laalit bisa merasakan kekuatan tingkat kontras yang hanya dimiliki oleh peringkat 10 besar di dunia?


"Maaf, Tuan. Bukankah yang dapat merasakannya hanyalah orang-orang yang sangat kuat dan orang terpilih saja? Laalit sama sekali bukan petarung yang handal, dia adalah anak yang sangat pendiam dan belum pernah menjalani pelatihan inti kekuatan."


Gulinear lalu bereaksi seperti ingin mengatakan sesuatu yang ditahannya sedari tadi,


"Gulinear mengajari Laalit memegang busur panah dan Laalit cepat mengerti. Gulinear rasa Laalit benar-benar berbakat, Laalit sangat keren!"


Aku tidak menduga anak itu akan cepat mengerti. Benar juga.. Aku kan belum mengajarkan apapun padanya, jadi wajar saja kalau aku tidak tahu.


Aku melirik kepada gadis berambut merah itu.


"Sepertinya Laalit baru saja mempunyai penggemar rahasia."


Gulinear menempel padaku lalu menanyakan sesuatu padaku,


"Apa itu 'penggemar rahasia' ?"


Aku hanya tertawa kecil sebelum akhirnya fokus kembali kepada penjelasan Tuan Mahajana.


"Anak yang menarik itu bahkan langsung mengerti ajaran Gulinear walaupun hanya dasar-dasar memegang busur panah."


Aku hanya tersenyum ringan,


"Saya rasa, memegang busur panah memang mudah dipelajari oleh kebanyakan anak zaman sekarang, Tuan Mahajana. Gulinear pasti juga cepat mempelajarinya."


Tuan Mahajana memegangi janggutnya sambil tersenyum tipis,


"Tentu saja hal itu dapat cepat dipelajari oleh anak zaman sekarang seperti Gulinear. Tapi, kemampuan Laalit bukanlah kemampuan 'kebanyakan anak zaman sekarang'. Ketika kita mempelajari suatu hal, kita harus melihat langsung hal tersebut agar cepat mengerti dan dapat menerapkannya, bukan?"


Ah, aku semakin tidak mengerti dengan yang Tuan Mahajana maksud..


"Tentu saja, Tuan. Bukankah Laalit juga begitu? Dia memperhatikan dengan seksama lalu mengikuti sambil menerapkan gerakan yang dilakukan oleh Gulinear, kan?"


Mata Tuan Mahajuna menyipit dan senyumnya penuh misteri,


"Kalau memang seperti itu yang dilakukan Laalit, aku tidak akan pernah datang kemari dan ingin menjadikannya sebagai muridku."


Aku.. aku tidak tahu harus harus berekspresi seperti apa.


Apakah harusnya aku gembira? Atau bersedih karena ia akan pergi dari sini dan tinggal bersama Tuan Mahajana?..


Anak itu.. aku tidak menyangka orang sepenting Tuan Mahajana akan sangat tertarik padanya.


Yang kulihat dari Laalit hanyalah anak pendiam yang tidak suka berbicara dan selalu memberi dinding pembatas untuk orang-orang yang akan mendekat padanya.


Tuan Mahajana tidak mungkin menjadikan Laalit murid kalau dia tidak punya bakat atau skill apapun.


Tapi, dari awal pertemuan kami, dia tidak menunjukkan kekuatan apapun.


Sang pemilik panti asuhan juga tidak pernah mengatakan hal-hal yang berhubungan dengan bakat ataupun kekuatannya padaku.


Hah.. semua ini membuatku pusing. Aku mengangkat cangkirku dan meminum teh untuk menjernihkan pikiran.


"Ma-Maaf, saya.. tidak salah dengar, kan?"


"Laalit tidak seberbakat itu, saya mengatakan hal ini sekarang agar Yang Mulia tidak berekspektasi terlalu tinggi padanya."


Tuan Mahajana lalu mengajukan suatu pertanyaan yang tampak sepele tapi juga membingungkan,


"Apa Nona tahu bagaimana Laalit memperhatikan dan menerapkan ajaran dari muridku, Gulinear?"


Hmm.. tentu saja-


"Tentu saja dia akan melihat Gulinear, ma-maksudku dia melakukannya denga-"


"Dengan.. ini."


Tuan Mahajana menunjuk telinganya. Apa maksudnya ini?


"Saya tahu Nona pasti sangat bingung, tapi memang begitulah cara Laalit melihat dunia ini, semua benda di sini, bahkan cangkir ini."


Tuan Mahajana kemudian mengangkat cangkirnya dan meminum teh kembali.


"Ah.. Saya mengerti maksud Tuan Mahajana, salah satu pegawai di panti asuhan juga mengatakan hal yang sama pada saya. Tapi saat saya bertanya kepada sang pemilik panti asuhan, dia bilang Laalit dapat mengerjakan semuanya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Jadi pemilik asuhan pun menyimpulkan bahwa dia tidaklah buta, saya juga merawat Laalit dan dia beraktivitas seperti biasanya, tanpa perlu bimbingan atau bantuan dari saya."


"Itulah hal yang menarik darinya, Nona."


Tuan Mahajana tertawa sampai suaranya menggema di ruang tamu.


"Ya ampun, anak yang benar-benar sangat menarik. Dia dapat menyembunyikannya sebaik itu, bahkan dengan Nona yang tinggal bersamanya dan melihatnya sepanjang hari. Saya memang harus menjadikannya murid saya secepat mungkin."


Aku sangat terkejut,


"A-apa maksud anda dengan... 'menyembunyikan'?"


Sekali lagi, Tuan Mahajana tertawa dan membuatku makin terkejut,


"Padahal saya menduga bahwa Nona tahu sedikit bahwa anak itu memanglah tunanetra total. Saya benar-benar tidak menduga bahwa Nona juga terkecoh dengan anak itu, dia memang sangat menarik. Murid saya bahkan tidak menyadarinya, padahal ia cukup berbakat di usianya."


Gulinear lalu berlari mendekat kepada Tuan Mahajana,


"Apa yang tidak Gulinear sadari, Tuan?"


Dengan ekspresi polosnya yang memandang Tuan Mahajana, Gulinear bertanya sambil berputar-putar di sekitar Tuan Mahajana.


"Kemampuanmu tampaknya masih belum cukup kuat, Gulinear. Kalau begini terus, Laalit bisa mengejarmu."


Gulinear tampak cemas lalu berputar-putar di sekitarku.


Ah lucunya... dia benar-benar sangat imut!


Aku mengambil Gulinear seperti mengambil apel di keranjang.


Aku lalu menciumi pipinya karena sangat gemas padanya, aku paling tidak tahan kalau ada anak yang imut dan lucu di depanku!


Anak itu membalas dengan memelukku erat-erat. Rasanya seperti sedang bermanja-manja dengan anak sendiri.


"Maaf kalau saya lancang, tapi apakah yang membuat Tuan Mahajana sangat yakin kalau Laalit memanglah tunanetra total? Bola matanya juga tidak seperti orang yang buta. Saya benar-benar penasaran.."


Entah kenapa Tuan Mahajana sangat puas dengan pertanyaanku, seperti menantikannya dari tadi.


"Tatapannya kosong, dia tidak menggerakkan pupil matanya sama sekali. Itulah yang membuat saya penasaran, bola matanya. Bola mata abu-abu sangat jarang dimiliki manusia yang tinggal di Bumi, ah tidak, saya rasa di sekitar kita juga sangat jarang. Kemungkinan orang tua Laalit adalah.."


Tanpa sadar aku menjatuhkan cangkir yang kupegang,


"Ti-Tidak mungkin!"