
Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang…
"Aku tidak tahu."
Tiba-tiba Jaleed mengangkat salah satu tanganku, kemudian seperti merangkul pundakku, tanganku juga menyentuh pundaknya.
Dia berusaha bangkit sambil merangkulku. Ternyata dia sedang membantuku untuk berdiri.
Setelah berdiri dengan tegak, Jaleed perlahan melepaskan tangannya dari pundakku.
Saat aku berdiri tanpa bantuan Jaleed, aku langsung merasakan sakit di bagian inti kekuatanku.
"ARGH!"
Aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku lalu terhuyung ke belakang.
Tidak… Aku akan terjatuh…
*SRET*
Dengan cepat, Jaleed langsung meraih tanganku kemudian menariknya.
Dia lalu meletakkan lengannya di bawah lengan atasku, jarinya tangannya mengenopang punggungku, kemudian merangkulku seperti sebelumnya.
Maksudku, dia sedang memapahku sekarang…
Dengan langkah yang sangat pelan, Jaleed menggerakkan kakinya.
Masih dibantu, aku kemudian menggerakkan kakiku juga.
Aku menghela napas lega.
Sungguh, kukira aku akan benar-benar terjatuh tadi.
"Terima kasih, Jaleed."
Karena kepalanya berdekatan dengan kepalaku, aku bisa merasakan bahwa dia menganggukkan kepalanya barusan.
"Di mana kamarmu?"
Kamarku?
Tidak, tidak. Kita akan menjenguk Gulinear sekarang, kan?
Kenapa malah menanyakan kamarku?
"Bukankah kita akan menuju ke kamar Gulinear?"
"Kamu sedang sakit. Hari ini, biar aku sendiri yang menjenguk Gulinear. Kamu bisa menjenguknya besok kalau sudah sembuh."
Aku tidak sakit. Sepertinya, badanku hanya sedang kambuh saja.
"Aku baik-baik saja."
Tolong percaya padaku, Jaleed. Kondisi tubuhku memang sudah tidak separah tadi.
Mungkin kalau nanti duduk sebentar di kamarnya Gulinear, rasa sakitnya akan mendingan.
Memang kambuhnya agak lain dari yang kemarin-kemarin.
Biasanya, tubuhku akan terasa terkoyak dari dalam.
Rasa sakitnya benar-benar nyata, bagian kaki, tangan, wajahku, semuanya seperti akan hancur secara bersamaan.
Tapi hari ini, aku tidak merasakan apapun. Hawa orang lain dan benda di sekitar, semuanya seperti sudah menghilang dari ruangan ini
Bahkan aku sempat tidak bisa merasakan bagian tubuhku sendiri.
Tubuhku yang terjatuh dan air mata yang mengalir di pipiku, aku baru sadar saat menyentuhnya.
Apalagi saat sedang berdiri, rasa sakitnya baru terasa. Apa itu artinya, keadaanku semakin membaik?
Anjuran Tuan Mahajana rupanya berdampak besar bagi tubuhku.
Ternyata melakukan meditasi memang membuat rasa kambuhnya menjadi semakin berkurang.
Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan melakukan meditasi dengan sungguh-sungguh dan lebih ulet lagi.
Mungkin kalau aku melakukannya setiap 2 jam sekali, tubuhku akan semakin cepat menyesuaikan diri dengan kekuatan ini.
Baiklah, setelah menjenguk Gulinear, mari bermeditasi setiap 2 jam sekali!
"Bisakah kamu yang membuka pintunya?"
Membuka pintu?
Di sini tidak ada pintu…
"Di mana pintunya?"
Bukannya menjawab, Jaleed malah menghela napas.
Aku masih belum bisa merasakan benda sekitar, makanya aku tidak menyadari letak pintunya, Jaleed…
"Di depanmu."
Aku kemudian meraba pintu yang ada di depanku sampai menemukan gagangnya.
Gagang pintunya tidak seperti pada pintu kamarku…
Gagang pintu di kamarku bentuknya bulat memanjang, sedangkan yang ini bentuknya kotak memanjang.
Gagang pintu ini mirip dengan gagang pintu pada kamar Gulinear.
Apa kita sudah sampai di kamarnya Gulinear?
Jadi, Jaleed mempercayai perkataanku kalau aku baik-baik saja?
Kalau dia tidak percaya, dia pasti bersikeras mengantar ke kamarku sekarang.
Syukurlah…
Cukup membatinnya! Sekarang, ayo geser pintunya!
Aku pun menggeser pintunya ke samping kanan.
Masih dirangkul Jaleed, kami melangkah ke dalam kamar.
Suara Gulinear terdengar dari jarak yang cukup dekat.
Kami pun berjalan mendekat. Jaleed melepaskan tangannya dan menurunkanku dengan posisi terduduk di ujung tempat tidur.
"Terima kasih."
Tidak kusangka Jaleed mau bersusah payah mengantarku kemari.
Awalnya, kukira dia tipe orang yang akan bersikap baik hanya pada seseorang yang kedudukannya tinggi.
Ternyata perkiraanku salah. Dia bahkan mau menolongku yang kedudukannya hanya rakyat biasa.
Hawamu yang terasa arogan juga membuatku salah sangka terhadapmu.
Mungkin memang hawa seorang bangsawan seperti itu.
Aku minta maaf karena sudah menilai sikapmu seenaknya, Jaleed.
Ini bisa menjadi pembelajaran untukku. Lain kali, aku tidak akan terlalu cepat menilai orang lain.
Menyudahi pemikiranku, aku kemudian membuka mulutku dan berbicara pada Gulinear.
"Kami datang untuk menjengukmu."
Aku terkejut karena Gulinear tiba-tiba memelukku.
Biasanya, dia memang selalu mendadak tiap kali memelukku.
Tapi hari ini, aku tidak bisa merasakan hawa atau pergerakannya.
Jadi, aku tidak menyadari saat dia mendekatkan badannya dan langsung merentangkan kedua tangannya di punggungku.
Aku kemudian balas memeluknya, sesekali mengelus rambutnya.
Seluruh tubuhnya terasa hangat, bahkan jari-jari tangannya juga hangat.
Kasihan sekali, pasti rasanya tidak nyaman, ya? Tidak apa-apa, aku akan menemanimu di sini.
"Kalau kamu perlu sesuatu, kamu tinggal mengatakannya padaku."
Kamu boleh meminta apapun. Bahkan kepang rambut bagian belakang itu, kamu juga boleh mengepang rambutku sekarang.
Awalnya aku memang mempermasalahkannya. Tapi kalau dipikir-pikir, kurasa hal sepele macam itu tidak perlu dipermasalahkan sama sekali.
Kepang rambut hanyalah sebuah kepangan, bukan hal yang bisa membuatku terbunuh, kok.
Aku kemudian menyudahi sesi pelukannya dan mengarahkan tanganku pada kening Gulinear.
Hangat sekali…
Aku harap kamu lekas sembuh dari demam. Kamu ingin bisa segera berlarian lagi, kan?
Entah mengapa aku malah kangen dengan sikapmu yang petakilan itu…
"Gulinear sebenarnya ingin jalan-jalan mengelilingi taman yang berada di luar bersama Laalit, Gulinear bosan dari kemarin tiduran di sini terus. Ayo, kita ke taman sekarang!"
Mengelilingi taman? Tapi, kamu kan sedang demam, Gulinear.
Sebenarnya, aku sedang tidak bisa merasakan keberadaan orang lain, ku harap yang aku pegang ini memang benar tangannya Gulinear.
Aku mengulurkan tangan dan sebisa mungkin menuju ke tangannya Gulinear.
Untung benar…
Kalau salah pegang, Gulinear bisa menggorok tanganku sekarang…
Astaga… Bahkan tangannya terasa lebih kurus dari yang kemarin.
Padahal beberapa hari yang lalu, lengannya masih sedikit berisi.
Sekarang aku hanya merasakan tulang tangannya saja…
Gulinear… Kamu ingin berjalan mengelilingi taman dengan kondisi badan yang hangat begini?
Kamu bahkan lebih kurus daripada sebelumnya. Seharusnya kamu beristirahat yang cukup.
Aku hanya khawatir kamu akan pingsan kalau kamu memaksakan diri untuk ke taman dengan kondisimu yang sedang sakit seperti ini.
Maaf, tapi kamu harus tetap berada di sini, Gulinear.
"Cuaca di luar sangat dingin. Kita di sini saja, ya?"
"Tadi katanya kalau perlu sesuatu tinggal mengatakannya saja pada Laalit. Gulinear perlu keluar sekarang!"
Anak ini… Apa dia tidak paham dengan kondisi tubuhnya sekarang?
Kamu itu sedang sakit… Bagaimana kalau setelah kita keluar, kondisimu menjadi lebih parah dari yang hanya sekedar demam?
Apalagi cuacanya berangin sekarang. Kalau ke taman, kamu bisa masuk angin…
"Aku bisa menemanimu ke taman."
Jaleed!
Aku tahu kamu ingin dipandang baik oleh Gulinear, tapi sekarang bukanlah saatnya!
Gulinear harus beristirahat agar suhu tubuhnya segera turun.
"Tidak mau!"
Gulinear menolak!
Syukurlah… Sepertinya dia sudah berubah pikiran. Ternyata Gulinear memikirkan kondisi tubuhnya juga, anak itu ingin segera sembuh dari demam.
"Gulinear maunya sama Laalit!"
Apa sih yang kupikirkan barusan?
Harusnya aku sudah tahu kalau Gulinear itu tidak akan pernah merubah pemikirannya secepat itu.
Dia itu anak yang keras kepala. Kalau inginnya begitu, ya harus begitu.
"Laalit sedang sakit. Dia sedang tidak bisa berjalan dengan benar sekarang."
Kenapa kamu mengatakan hal itu pada Gulinear…