Blindsight

Blindsight
Teman Baru



Duduk sambil menyilangkan kedua kaki, aku memposisikan diriku sambil menarik napas secara beraturan.


Ya, aku melakukan ini lagi, meditasi. Sebenarnya, aku ingin melakukan sit up sekarang, tetapi Tuan Mahajana menyarankan agar aku melakukan meditasi sesering mungkin.


Kenapa meditasi? Karena tubuhku perlu rileks dan beristirahat selama beberapa tahun, hingga mulai terbiasa dengan kekuatan yang diberikan oleh Nenek dan rasa kambuhnya menghilang sepenuhnya.


Aku tidak diperbolehkan melakukan hal yang berat terlalu sering agar tubuhku tidak terbebani lagi.


Padahal menurutku, sit up dan push up bukan hal yang seberat itu.


Awalnya memang terasa berat, tapi lama-lama aku menikmatinya.


Badanku terasa semakin bugar, bahkan berjalan dengan jarak yang lumayan jauh pun, badanku tidak mudah lelah, tidak seperti dulu saat aku belum berolahraga.


Dulu, berjalan 5 menit saja rasanya sangat melelahkan.


Semenjak sering melakukan olahraga yang lain dan lari pagi, berlari setengah jam baru membuat badanku kelelahan.


Padahal banyak hal positif dari berolahraga, tapi Tuan Mahajana membatasi dan hanya memperbolehkan seminggu sekali…


Aku kan ingin badanku segera berotot seperti Aamod…


"Kamu!"


Mataku yang awalnya tertutup, sekarang terbuka secara mendadak.


Aku biasanya melakukan meditasi sambil menutup mata karena ingin lebih berkonsentrasi untuk menstabilkan inti kekuatanku.


Setelah dirasakan melalui meditasi, ternyata alirannya kadang memang terasa acak dan ruwet.


Selain itu, kecepatannya juga tidak menentu. Kadang sangat cepat, kadang sangat lambat seperti tersendat-sendat.


Mungkin karena kekuatan yang dihasilkan sangat besar, area kekuatan yang dihasilkan oleh anak seumuranku, tidak bisa menyesuaikan diri dan berakhir dengan tertahan selama beberapa kali walaupun akhirnya bergerak juga.


Dengan melakukan meditasi, aku merasakan aliran kekuatannya, kemudian membantu melancarkan dan menstabilkan aliran agar terbawa dengan normal.


Tapi, berapa lama lagi aku harus melakukan hal ini setiap hari dan selama dua kali sehari?


Ini sangat membosankan…


Setelah menghela napas cukup lama, aku kemudian berdiri, lalu menghampiri kakak pelayan yang memanggilku barusan.


"Tuan Mahajana menyuruh saya untuk mengantar anda ke bawah. Mari…"


Aku mengangguk lalu mengikuti Kakak tersebut hingga menuruni tangga.


Ternyata sudah ada 3 anak di sebelah sana, mereka sedang mengobrol dan ada 1 anak yang sedang berlarian, dan anak itu pastinya adalah Gulinear.


Ternyata Gulinear punya teman juga, kok. Tapi, kenapa dia bilang temannya hanya aku saja?


Kakak tersebut memundurkan diri, tidak lupa aku mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkanku ke sini.


Aku mendekati mereka kemudian mengangguk untuk sekedar menyapa.


"Murid baru, ya?"


Masih merasa canggung, aku hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Aku Jaleed, yang di sebelahku Kamaniai. Kamu?"


Aku berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan mereka.


Yang mengajakku berbicara dari tadi bernama Jaleed, anak laki-laki yang hawanya terasa tenang dan sedikit ramah.


Sedangkan, yang bersembunyi di sampingnya berarti Kamaniai, anak perempuan yang hawanya terasa senang tetapi sangat pemalu.


Sepertinya mereka adalah anak yang baik. Oke, kalau begitu, aku akan menyambut mereka dengan baik juga.


"Aku Laalit. Salam kenal."


Aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dan Jaleed menerimanya.


Jaleed kemudian menarik tangan Kamaniai dan mengarahkannya pada tanganku.


Kami bersalaman dengan singkat sebelum Kamaniai menarik tangannya dengan cepat, sepertinya dia masih menganggapku seperti orang asing.


Jaleed kemudian mengarahkan wajahnya ke tempat lain lalu menatapku lagi.


"Yang di sana itu adalah Gulinear. Kamu harus bersikap sopan padanya, keluarganya cukup dekat dengan anggota kerajaan. Selain itu, Ayah Gulinear itu kepercayaan Baginda Raja. Tanpa aku beritahu padamu, berarti kedudukannya sudah jelas, bukan?"


Sambil menunjukkan ekspresi wajah yang serius, aku mengangguk mendengar pernyataannya.


Dari rumahnya yang sangat luas, sebenarnya aku sudah mengira bahwa dia berasal dari keluarga yang terpandang.


Tapi, waktu itu aku hanya mengira-ngira saja, aku juga tidak yakin kalau perkiraanku benar karena sifat Gulinear yang tidak terlihat seperti keluarga terpandang.


Ini mengejutkan bahwa Gulinear memang bagian dari keluarga yang penting.


Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah memperlakukannya dengan hormat.


Beberapa hari yang lalu, aku muak dengan sikapnya dan membatin kalau dia sangat menyusahkan.


Aku masih bersyukur karena dia tidak bisa membaca pikiran orang lain, tidak seperti Neneknya.


Kalau dia bisa membaca pikiranku saat itu, mungkin dia sudah memukulku dan mengadukanku ke Ayahnya… Dan aku…


Ah! Aku pernah memegang pahanya juga… Bagaimana kalau Gulinear mengatakan hal itu ke Ayahnya?


Apa aku… Apa aku akan diadili kemudian dihukum mati?!


Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Lagipula, aku memang tidak tahu kalau itu adalah pahanya.


Mana kutahu kalau paha perempuan itu lebih berisi daripada paha laki-laki?!


Ekspresiku berubah menjadi muram, aku baru teringat nasihat Kakak yang tidak seharusnya kulupakan.


Kakak… Kakak bilang kalau aku tidak boleh memegang dada dan paha perempuan…


Kakak juga bilang kalau aku tidak boleh sembarangan memegang tubuh perempuan.


Aku… Kemarin aku menarik tangan Gulinear saat dia hampir terjatuh…


Aku memeluk Gulinear saat kami sedang tiduran waktu itu…


Yang paha itu… Aku sungguh tidak sengaja, tapi… tetap saja aku sudah memegangnya.


Padahal aku sudah berjanji pada Kakak kalau aku tidak akan memegang tubuh perempuan, tapi aku sudah mengingkari janji itu…


Aku memang pantas dihukum oleh Kakak dan Ayahnya Gulinear.


Kalau bertemu, aku akan mengatakannya langsung pada mereka.


Aku akan jujur atas perbuatanku dan menerima hukumannya.


Tidak apa-apa kalau aku akan dijatuhi hukuman, walaupun hukuman mati sekalipun.


Tapi… Bagaimana dengan Kakak?


Kalau aku mati, Kakak akan sendirian lagi. Kakak akan sedih, tidak mau makan, dan tidak semangat menjalani hidup.


Membayangkannya saja sudah membuatku ingin menangis.


Ah, tidak! Aku baru ingat bahwa Kakak sudah tidak sendirian lagi sekarang.


Tapi, aku kan sudah bermimpi untuk menjadi master yang kuat dan membahagiakan Kakak.


Kalau begitu, aku tidak boleh mati. Sebisa mungkin, aku harus hidup sampai impianku tercapai sepenuhnya.


Berarti, aku harus memperlakukan Gulinear layaknya seorang putri kerajaan.


Sebisa mungkin, aku akan meminta maaf lagi padanya. Setelah itu, aku akan melayaninya agar dia melupakan perbuatanku.


Mengambilkan minum, memijat tangannya, memakaikan sepatu, menyapu seluruh ruangan ini…


Aku akan melakukan apapun yang dia minta. Aku harus membuatnya senang agar dia segera memaafkanku.


Soal 'memaafkan', apakah dia sudah memaafkanku waktu itu?


Gulinear sepertinya trauma dengan perbuatanku. Waktu itu, dia menangis dengan kuat sampai berlari dan mengadukanku ke Tuan Mahajana.


"Laalit!"


Panjang umur… Baru juga dipikirkan, anaknya sudah muncul menghampiriku.


Dengan sigap, aku langsung mengubah ekspresi wajahku dengan tersenyum seramah mungkin sebagai awalan untuk menebus kesalahanku.


Tidak lupa, aku melambaikan tangan dan sedikit menundukkan badanku.


Seperti biasa, dia langsung memelukku sehingga nafasnya pun terasa menggelitik di dadaku.


"Kok nggak nyapa Gulinear?"


Aku hanya tertawa singkat dan tersenyum padanya.


"Gulinear sepertinya sedang asyik berlarian, aku hanya tidak ingin mengganggu."


Jaleed dan anak yang pemalu itu, maksudku Kamaniai, sedang memperhatikanku dengan lekat sekarang.


Hawa yang dipancarkan Kamaniai adalah bingung, sedangkan Jaleed seperti sedang marah.


Mungkin itu hanya perasaanku saja? Matanya terasa seperti memelototiku saat aku berbicara dengan Gulinear.


Gulinear lalu menarik tanganku dan menyuruhku untuk duduk.


"Hari ini Laalit mau dikuncir satu atau dikuncir dua?"


Aku tidak mau dikuncir…