Blindsight

Blindsight
Kambuh



"Laalit? Kamu masih sakit, ya?"


Kakak menyadarkanku dari pikiranku yang sampai bercabang ke Ayah dan Ibu.


Aku benar-benar penasaran apakah aku sempat mendapatkan kasih sayang dari mereka.


Ataukah mereka sudah tidak ada saat aku lahir di dunia ini?


Entahlah, kuharap ingatanku segera kembali. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai aku berjalan ke panti asuhan seorang diri.


"Laalit?"


Dasar, lagi-lagi aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.


"Iya, kak?"


Hawa Kakak terasa cemas dan khawatir.


"Apa kamu sakit lagi? Seperti tadi?"


"Tentu saja tidak! Aku sudah pulih sepenuhnya kok, tubuhku sudah baik-baik sa-"


Tu-Tubuhku!


A-Aku… Aku harus bergerak cepat…


"Laalit?! Ada apa?! Katakan pada Kakak!!"


Ti-Tidak mau, aku tidak mau, Kakak…


Aku… Aku harus menjauh dari Kakak, sekarang…


Aku memegangi perutku yang perlahan-lahan sakit. Aku ingin menahan rasa sakitnya tanpa berteriak, tapi sepertinya tidak bisa.


Aku… Setidaknya aku harus menjauh dari Kakak sebentar. Kalau tidak, Kakak akan mencemaskanku…


Aku berjalan tertatih-tatih dan berusaha menjauh dari Kakak.


"Laalit!"


Kedua manusia itu memanggilku secara bersamaan dan berusaha mendekatiku.


Aku perlahan mengarahkan tanganku yang gemetaran untuk menolak. Kuharap mereka mengerti.


Kurasa mereka sudah berhenti melangkah sekarang, syukurlah mereka mengerti yang kumaksud.


Aku tertatih-tatih menuju ke pintu kamar lalu menguncinya agar mereka tidak bisa melihat kondisiku saat ini.


"Sa-Sakit sekali…"


Masih dengan telapak tangan yang memegangi bagian perut, perlahan aku menuju ke ranjang dan duduk.


Aku mengarahkan telapak tanganku yang satu ke mulutku, agar teriakanku tidak terdengar.


Tanganku yang lain sedang mencari bantal untuk berjaga-jaga agar aku dapat meredam teriakanku dengan bantal.


"UGH!!"


Belum sempat mengambil bantal, rasa sakit di bagian perutku semakin bertambah.


Rasa sakitnya… A-Aku…


"HMPHHH!"


Masih dengan tubuh yang gemetaran, rasa sakitnya membuat tubuhku seakan terkoyak.


Air mata perlahan turun melewati pipiku. Tubuhku sekarang sangatlah lemas seperti tidak bertenaga.


Padahal aku barusan makan, tapi ini sangat aneh karena tenaga di dalam tubuhku seperti langsung diserap banyak oleh kesakitan yang berada di bagian perutku ini.


Nenek itu… Apakah dia sangat membenciku sampai melakukan hal ini padaku?


Padahal aku tidak berbuat sesuatu yang salah sehingga Nenek perlu menyiksaku seperti ini.


Entahlah, lebih baik aku segera keluar dan membuat suatu alasan pada Kakak dan Aamod.


Alasannya, apa ya?


Kalau kubilang karena ingin main petak umpet, kan tidak mungkin.


Kalau kubilang sudah lapar juga tidak mungkin. Jadi…


Perlahan aku memaksakan diri untuk membuka kunci pintu, ternyata Kakak sudah gedar-gedor dari tadi.


"Laalit!"


Sebentar Kak, tubuhku lemah banget ini…


Setelah membuka kunci pintu, aku cepat-cepat duduk di ranjang agar sakitnya berkurang.


"Laalit, ada apa?"


Dengan cemas, Kakak kemudian memeriksa kondisiku. Sifat Kakak memang keibuan sekali…


"Tidak apa-apa, kok. Aku hanya sedikit mengantuk dan ingin tiduran sebentar. Mungkin karena kondisi tubuhku yang sebelumnya sakit, jadi mudah kelelahan seperti sekarang. Hanya itu saja, kok."


Masih dengan cemas, Kakak dengan lembut menyentuh wajahku.


"Benarkah?! Tapi, kenapa kamu tadi memegang perutmu sambil kesulitan berjalan begitu? Apa perutmu sakit?"


Kakak, aku senang Kakak mencemaskanku karena itu artinya Kakak memang menyayangiku.


Tapi, rasa cemas sekarang tidak menyelesaikan masalah apapun.


Perlahan aku menyentuh telapak tangan Kakak yang memegang wajahku.


"Itu karena aku kelelahan saja, Kakak. Tubuhku kelelahan karena berdiri terlalu lama jadi aku memutuskan untuk tidur sebentar. Kakak tidak perlu khawatir, ya?"


Kurasa Kakak menangis sekarang.


Aamod yang menanyakannya padaku.


Aku hanya mengangguk pelan, aku sudah memberitahu alasanku jadi aku tidak perlu mengulang pernyataanku lagi.


"Bolehlah, aku memeriksa perutmu sebentar?"


Kenapa Aamod mau melakukan itu? Memangnya dia tahu caranya?


Aku… Aku takut dia tahu kondisiku sekarang. Bagaimana jika Aamod memberitahu Kakak?


Kakak akan menangis lagi karena aku. Kenapa aku malah menjadi beban sekarang?


Padahal aku ingin menyenangkan Kakak dan membuatnya bahagia, tapi sekarang aku malah membuatnya menangis setiap saat.


Tapi kalau aku diam saja, mereka akan curiga padaku. Lambat laun mereka pasti juga akan mengetahui ini.


Baiklah, lebih baik kubolehkan Aamod memeriksa kondisi perutku. Toh, aku juga penasaran apa yang terjadi diperutku.


Aku mengangguk lalu Aamod mulai meletakkan telapak tangannya pada perutku.


"Kau…"


Hawa Aamod terasa aneh, aku tidak tahu apa yang sedang dia rasakan sekarang.


"Ini… Saat kau menghilang selama 2 hari, siapa yang kau temui?"


Sontak aku terkejut dan terdiam saat Aamod menanyakan itu. Kakak memaksaku untuk menjawab sementara Aamod mengunggu jawabanku dalam diam.


Memangnya ada apa, sampai Aamod bertanya seperti itu?


Tidak ada gunanya berpikir sendiri seperti ini, lebih baik aku mengatakannya pada mereka.


"Aku… Aku bertemu Gulinear dan Neneknya."


"Apa Gulinear memintamu untuk mengunjunginya ke sana?"


Aku kemudian mengingat-ingat tentang hari pertemuan pertama kami dan di saat pertemuan di depan rumah.


"Tidak. Bukan begitu maksudku… Saat latihan dengan Aamod, aku menyalurkan elemen anginku pada pedang spatha dan mengeluarkan kekuatan yang terlalu besar. Setelah itu aku-"


Kakak tiba-tiba menyentuh tanganku lalu memotong pembicaraan.


"Elemen angin!? Laalit, kamu… Berapa umurmu sekarang?"


Apa maksud Kakak menanyakan itu? Kukira Kakak sudah tahu berapa umurku sekarang.


"Tentu saja umurku 11 tahun, Kakak. Kukira Kakak sudah tahu…"


Hawa Kakak terasa terkejut lalu Kakak refleks melepas tanganku.


"Aamod! Kita… Kita harus membawanya ke politeknik sekarang! Kenapa tidak bilang kalau Laalit sudah mengalami kebangkitan?!"


Masih memegang perutku, Aamod hanya diam saja mendengarkan pertanyaan Kakak.


Aku mengangguk agar Aamod merespon pertanyaan Kakak.


"Bukankah lebih baik kalau mendengarnya langsung dari orangnya? Aku rasa, aku tidak berhak ikut campur dalam urusan kalian."


Aamod hanya mengatakan itu, membuat hawa Kakak menjadi sentimen.


"Jadi… Kau menganggap dirimu sebagai orang asing sekarang?! Kita sudah tinggal bersama dan cukup dekat, aku tidak menyangka kau-"


"-Kita baru saja tinggal bersama selama hampir 6 hari dan kau sudah menganggapku dekat?! Di mana letak kewaspadaanmu? Aku ini seorang pria, semua pria itu berbahaya. Aku bisa saja kemari untuk membunuhmu atau melakukan hal berbahaya untuk memata-mataimu. Ingat, semua pria berbahaya, termasuk aku. Semua pria berbahaya, jadi jangan menaruh kepercayaan pada pria. Adikmu, adikmu juga! Dia berbahaya! Dia, diaa-!"


Boleh ketawa gak, sih? Ternyata Aamod bisa bertingkah seperti ini juga.


Aamod ternyata bisa salah tingkah… dan hanya mendengar apa yang ingin dia dengar.


Padahal kan, bukan itu inti pembicaraannya. Kenapa sih, dia seperti ini?


"Pffttt…"


Sial, aku malah tertawa. Jangan tertawa! Biarkan mereka menyelesaikan perdebatan yang kelihatannya menarik ini.


Diam! Pfftt, sialan…


"A-Apa? Kenapa tertawa? Hah?!"


Lihat, Aamod masih saja bertingkah aneh!


Oh iya, percuma sih, aku kan tidak bisa lihat…


Tapi dia ini benar-benar lucu.


"Aamod… Aku…"


Kakak malah mendekat…


"Ada apa? Apa kamu sakit lagi?!"


Kakak, kumohon menjauhlah, ha ha…


Bantu aku mengerjai Aamod.


"Aamod… Mende…kat."


Aamod mendekat dan hawanya terasa khawatir.


"A-Ada apa?! Hey, apa keadaan tubuhmu memburuk? Sebentar, aku akan memeriksa perutmu lagi."


Ini saatnya…


Aku memasang wajah pilu.


"Aku cuma merasa sedih karena kamu mengatakan aku berbahaya. Kakak, hiks~"