Blindsight

Blindsight
Tidak jadi



"Gema yang dihasilkan oleh gelombang suara kemudian menentukan lokasi di sekitarmu… Kemampuanmu seperti kelelawar, namanya ekolokasi."


Jadi begitu… Ternyata kemampuanku dalam merasakan keberadaan di sekitarku mirip seperti kemampuan yang dimiliki oleh kelelawar. Namanya ekolokasi, ya…?


Aku seperti kelelawar. Berarti…


Aku seperti hewan…


"Apa yang kamu lihat adalah warna hitam?"


Aku diam tak berdaya.


Aku… Aku tidak tahu seperti apakah warna itu.


Warna langit yang biru, warna hijau pada rumput, dan warna hitam, aku tidak mengetahui itu semua.


"Ehem!"


Dehaman Tuan Mahajana menyadarkanku dari lamunan.


Aku langsung melangkahkan kakiku mendekati Tuan Mahajana.


Ternyata sudah ada Gulinear dan Kamaniai yang sedang berdiri di sana. Aku menempatkan diriku di samping Gulinear.


"Dikarenakan teman kalian yang telah melakukan perjalanan jarak jauh, kalian hanya akan melakukan lari pagi selama seminggu ini. Pembelajaran tentang teknik bertarung akan dilaksanakan minggu setelahnya. Apa ada yang ingin bertanya?"


Jaleed yang tidak kusadari sudah berada di sampingku, mengangkat tangannya.


"Bolehkah saya menantang Laalit untuk bertarung?"


Ber-Bertarung?! Kukira aku bisa beristirahat sebentar… Tapi…


Sepertinya Jaleed cukup mengakuiku, dia sampai mengajakku bertarung duluan…


Mungkinkah aku harus menerima sambutannya?


"Laalit kurang sehat, dia belum bisa bertarung untuk sementara ini-"


Tuan Mahajana langsung menatapku. Aku bisa merasakan bahwa pria tua itu sedang menahan tawanya sekarang.


Memangnya kuncir rambut ini selucu itu, ya? Pria tua itu selalu saja menahan tawa kalau melihat rambutku yang dikuncir.


Padahal Jaleed tidak tertawa saat melihat kuncir rambutku tadi, tapi Tuan Mahajana mati-matian untuk tidak tertawa saat melihatku dikuncir. Berarti, Tuan Mahajana selera humornya receh…


Sangat tidak terduga! Orang yang berwibawa ternyata bisa receh juga, ya…


"Aku menerima tantanganmu."


Aku mengatakannya langsung, menampik perkataan Tuan Mahajana yang beralasan kalau aku kurang sehat.


Tuan Mahajana tidak menanggapi apapun. Sepertinya dia masih berusaha untuk menahan tawanya sampai tidak bisa menanggapi pernyataanku.


Kalau ingin tertawa, mending tertawa saja. Untuk apa ditahan-tahan?


Jaleed… Hawanya terasa senang, dia sepertinya memberi suatu isyarat yang artinya tidak kuketahui.


Ternyata, Jaleed pun tidak terlalu mendengarkan perkataan Tuan Mahajana.


Dia menyuruhku untuk mengikutinya. Aku pun menyusulnya dengan berjalan di belakangnya.


"KALIAN MAU KEMANA?!"


Suara yang memekakkan ini tentu saja adalah suaranya Gulinear.


Anak itu menghampiriku dan memegang tanganku.


Dia menatap Jaleed dengan tatapan yang tidak mengenakkan.


Si Jaleed malah diam saja. Apa karena dia sangat menghormati Gulinear?


Kalau begitu, aku yang harus mengatasi ini…


Aku harus membujuknya!


Aku langsung mengubah ekspresi wajahku dengan menggerakkan otot mulut dan pipi yang kemudian membentuk senyuman diwajahku.


"Kami akan bertarung sebentar. Gulinear mau ikut?"


Gulinear menarik tanganku dan tidak membiarkanku untuk pergi.


"Tidak boleh! Gulinear kan belum mengajari Laalit dengan benar. Jaleed itu kuat, Laalit nanti bisa terluka."


Aku berusaha menenangkan Gulinear bahwa aku akan baik-baik saja, tetapi Gulinear tetap memaksaku untuk menurutinya.


Aku juga membujuknya agar segera melepaskan tanganku, tapi Gulinear tidak mau dan malah semakin menarik tanganku.


Sepertinya memang tidak bisa, ya. Kalau aku terus memaksakan padanya, bisa-bisa dia menangis atau memukulku.


Dengan sangat terpaksa, aku akan menolak tantangan Jaleed.


"Jaleed… Maaf, sepertinya lain kali saja."


Jaleed berjalan mendekat ke arahku. Gulinear yang awalnya hanya menarik tanganku, sekarang juga menarik bajuku.


"Tidak apa-apa."


Jaleed kemudian berjalan menjauh sementara aku masih berdiam di sini.


Hah…


Padahal aku ingin bertarung dengan anak yang seumuran denganku, tapi sepertinya belum bisa hari ini.


Kuharap kami bisa bertarung besok, atau besoknya lagi.


Tentu saja aku tidak berharap menang. Aku hanya ingin tahu sampai mana batas kemampuanku.


"Gulinear benci sama Jaleed. Gulinear pernah bertarung sama Jaleed, terus Jaleed langsung serang-serang gak ngasih kesempatan sama Gulinear untuk nyerang balik."


Gulinear tidak menarik tanganku sekuat tadi, dia mengendorkannya sedikit.


Tidak kusangka Jaleed anak yang sangat kuat, Gulinear sampai kewalahan melawannya.


Pasti waktu itu Gulinear kalah, makanya dia jadi benci sama Jaleed.


Tapi entah mengapa, aku malah semakin bersemangat untuk melawannya.


"Laalit ikut Gulinear, yuk!"


Dan dia menarik tanganku dengan kuat lagi…


Tapi aku tidak akan mengalah kali ini. Dengan sekuat tenaga, aku menarik tangan Gulinear.


Ternyata kalau soal kekuatan, aku lebih kuat darinya.


"Bukankah Tuan Mahajana akan mengajari kita sekarang?"


Gulinear kemudian menunjuk ke arah yang tadi, ke tempat saat kami mendengarkan yang Tuan Mahajana ucapkan.


"Tuan Mahajana cuma memberi tahu saja, kok. Lihat tuh, Tuan Mahajana juga sudah pergi setelah memberi tahu tentang jadwal pembelajaran kita. Jadi, selama seminggu ini, kita cuma lari pagi saja. Setelah lari pagi, kita boleh melakukan apa saja, bebas!"


Ah, jadi begitu…


Minggu depan…


Masih lama…


Nanti Tuan Mahajana akan mengajari apa, ya?


Mungkin Tuan Mahajana akan mengajari cara mengendalikan kekuatan yang baik atau cara memenangkan pertarungan dengan cepat.


Omong-omong, Tuan Mahajana menghilang seperti hantu lagi. Mungkin itu memang hobinya…


"Kalau begitu, ayo! Laalit ikut Gulinear!"


Langkah Gulinear lumayan cepat. Mau tidak mau, aku mempercepat langkahku juga.


Benar juga! Bagaimana dengan teman-teman yang lain?


Kurasa Gulinear memang sengaja tidak mengajak Jaleed karena membencinya.


Tapi kalau Kamaniai, mereka tampak lumayan akrab.


"Kita tidak mengajak Kamaniai?"


"Tidak usah! Kamaniai tidak suka bermain piano. Kamaniai sukanya melihat bunga."


Bermain piano, ya…


Tunggu…


Apa kami sedang menuju ke ruangan yang terdapat pianonya sekarang?


Oh, iya! Arahnya kan memang sedang menuju ke sana.


Sepertinya kami sudah sampai.


"Laalit duduk di sebelah kiri, ya. Laalit dibagian chord."


Tunggu… Apa kami akan memainkan lagu sekarang?


Tapi, aku kan tidak bisa…


"Sebentar, ya. Gulinear sedang lihat-lihat dulu. Yang ini terlalu sulit… Yang ini membosankan…"


Sepertinya Gulinear sedang membuka buku musik dan memilih lagu.


Aku tidak menyangka bahwa anak ini bisa bermain piano.


Anak yang egois dan manja ini, ternyata benar-benar tidak terduga.


Syukurlah dia punya kelebihan.


"O Ina Ni Keke saja. Tangan kiri Laalit, kesini!"


Gulinear menarik tangan kiriku ke tuts piano. Saat kutekan, ternyata agak berat.


"Gulinear main yang not G dulu. Saat not C, Laalit mulai memainkan chordnya."


Aku tidak mengerti…


"Gulinear, sebenarnya aku…"


"Ayo kita mulai!"


Dia tidak mendengarkanku…


*TING*


"Kok Laalit diam saja? Sekarang sudah gilirannya Laalit!"


Makanya, biarkan aku bicara, dong…


"Jarinya tidak boleh seperti itu, jarinya harus ditekuk seperti ini."


Gulinear memegang jariku kemudian menekuknya. Ibu jari tidak ditekuk, hanya lurus. Posisinya seperti tidur di atas tuts.


Ternyata posisi jari pun ada aturannya.


"Begini, ya. Ayo kita ulangi dari awal!"


Aku harus mengatakannya sekarang.


"Gulinear! Sebenarnya aku… Aku tidak bisa bermain piano…"


"Eh…"


Gulinear langsung menatapku.


"Tapi Laalit bilang Laalit akan bermain saat resital piano. Laalit juga bilang kalau Laalit akan memainkan lagu saat dewasa nanti."


Jadi karena khayalan yang kemarin, makanya Gulinear mengira kalau aku bisa bermain piano.


Ha ha ha…


"Itu impianku, Gulinear. Aku berharap agar bisa langsung fasih bermain piano seperti profesional karena aku tidak bisa memainkan piano sama sekali."


Gulinear menarik tangan kananku dan menekuknya jari-jarinya.


"Gulinear akan mengajari Laalit, kita mulai dari yang paling dasar."