Blindsight

Blindsight
Lupa



"Huft… Huft…"


Entah sudah berapa lama aku melakukan ini, kuharap hal ini tidak sia-sia dan ada hasilnya.


Aku menaik turunkan badanku, terus menerus mendorong tubuhku menggunakan telapak tangan dan menurunkan tubuhku secara perlahan seperti posisi semula.


Aku mengulanginya secara teratur, tidak terburu-buru tetapi dilakukan secara bertahap dengan kecepatan yang tepat.


Keringat bercucuran membasahi bajuku. Masih dengan semangat yang membara, aku melanjutkan aktivitasku dengan giat.


"Huft… Huft…"


Olahraga memang menguras banyak tenaga. Karena aku bolos olahraga selama lebih dari seminggu, rasanya seperti berolahraga untuk pertama kalinya.


Tubuhku sekarang harus membiasakan diri dari awal lagi, seperti saat Aamod pertama kalinya mengajariku.


Tidak kuduga efeknya akan ada sampai seperti ini, baru berolahraga sebentar saja tubuhku sudah sangat kelelahan.


Sepertinya setelah ini selesai, tubuhku akan sakit selama 4 hari seperti saat pertama kali berolahraga.


"Laalit lagi apa?"


Aku menghiraukan pertanyaan Gulinear dan melanjutkan aktivitasku.


Aku menurunkan bagian bahu secara lurus sampai membentuk siku 90 derajat, kemudian mendorong bagian bahu dan lengan dengan menggunakan telapak tangan sampai posisinya lurus ke depan.


Tidak lupa sambil menarik napas, aku mengulangi gerakanku dengan telaten.


Aku kemudian menghitung jumlah gerakanku agar mencapai target yang sesuai dengan saran Aamod.


"32… 33… 34-… ADUH!"


Saat aku sedang mengangkat tubuh dengan lengan dan bahu yang lurus ke depan, Gulinear tiba-tiba duduk di punggungku


Tubuhku kemudian kehilangan keseimbangan sampai posisiku menjadi tengkurap.


Masih dengan napas tersengal-sengal, aku kemudian berusaha menggeser tubuhku tetapi ditahan oleh badan Gulinear yang masih duduk di sana.


Sangat… Berat… Dikiranya aku kursi apa, ya…


"Gulinear… Bisa tidak… Jangan… Duduk… Huft… Huft…"


Gulinear malah semakin menindih di atasku dan membuat punggungku menjadi sakit.


Sepertinya tulang di belakangku akan segera patah kalau aku tidak mencegahnya dan membiarkannya di atas sana.


Aku berusaha menyingkirkan badannya dengan mengarahkan lenganku untuk mengenai pinggangnya, tetapi Gulinear dengan cepat menepis tanganku.


"Gulinear suka duduk di sini. Kenapa Laalit seperti mengusir Gulinear?"


Gulinear malah menggoyangkan badannya dan sedikit melompat di atasku.


Rasanya sangat tidak nyaman, dia menaruh seluruh beban tubuhnya ke atasku dan terasa semakin berat saat dia menggoyangkan badannya.


Aku berusaha mengumpulkan sedikit tenaga untuk bangkit, tetapi tidak berhasil.


Dengan napas yang pendek, aku berusaha berbicara pada Gulinear.


"Punggungku sakit, Gulinear. Berhenti bermain-main di atas sana… cepatlah… bangkit lalu duduk di kursi yang telah… tersedia. Aku manusia, bukan kursi… yang bisa kau duduki… sesuka hatimu, Gulinear."


Gulinear merengek lalu menarik rambutku dengan kuat.


Semakin lama, Gulinear semakin membebani tubuhku dengan menggerakkan pinggulnya dan memainkan rambutku dengan kasar.


Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi Gulinear sepertinya sedang marah padaku…


Karena Gulinear sepertinya tidak mendengarkanku, aku mengumpulkan tenaga sebanyak mungkin untuk bangkit.


"Kya!"


*BRUK*


Aku berhasil bangkit dari posisi tengkurap, tetapi kehilangan keseimbangan lalu terbaring dengan posisi telentang.


Rasanya melegakan karena tidak ditindih oleh sesuatu yang berat lagi, tidak kusangka badannya yang kecil itu memiliki bobot yang luar biasa berat…


Aku kemudian merilekskan tubuhku dengan bernapas secara teratur dan meregangkan otot lengan dan punggung.


Tanganku ditarik oleh telapak tangan seseorang yang tentu saja adalah… Gulinear…


"Laalit! Kenapa membuat Gulinear jadi jatuh seperti itu?! Untung Gulinear masih jatuh di kasur, kalau jatuhnya menggelinding ke bawah, bagaimana?! Nanti Gulinear bisa terluka…"


Aku bersyukur karena kondisi tubuhmu baik-baik saja dan tidak terluka, tapi…


Gulinear, aku bangkit seperti itu karena kamu tidak mau menyingkir dan bersikeras menduduki punggungku…


Punggungku juga bisa terluka parah kalau terus ditindih dan dijadikan tempat lompatan seperti itu…


Apalagi bagian rambutku yang dikuncir, dijambak sangat kuat sampai kukira semua rambutnya akan tercabut…


"Laalit mendiamkanku lagi! Gulinear benci sama Laalit!"


Sambil tiduran, Gulinear mengatakannya menghadap wajahku.


Rambutnya yang harum seperi buah-buahan membuatku ingin menyentuhnya, tetapi entah mengapa aku mengurungkan diri.


Saking dekatnya wajah kami, aku bisa merasakan bau nafasnya yang seperti wangi cokelat.


"Gulinear, aku bangkit seperti itu karena punggungku akan terluka parah kalau aku membiarkanmu menindihku seperti itu. Maaf ya, badanmu tidak terluka, kan?"


Aku mendekatkan wajahku, kemudian mengarahkan tanganku untuk mendekat pada tubuhnya.


Dengan perlahan, aku menyingkirkan rambut panjangnya dan menepuk punggungnya dengan lembut.


Aku bisa merasakan bahwa perasaannya sedih, tetapi sudah tidak sesedih tadi.


Sepertinya meminta maaf adalah langkah yang tepat, syukurlah…


"Laalit… Kenapa… Kenapa tadi Laalit… Cuek kepada Gulinear?"


Aku terdiam karena tidak mengerti apa yang Gulinear maksud.


Cuek? Kapan aku mencuekkannya? Aku tidak pernah bersikap cuek padanya…


Sebentar… Gulinear tidak mungkin mengarang hal itu, mungkin saja aku yang lupa.


Coba kuingat-ingat dulu…


Tadi aku berolahraga sampai badanku basah seperti mandi keringat.


Meskipun rasanya sangat melelahkan, aku tetap melakukannya dengan giat dan penuh semangat.


Kemudian aku menghitung jumlah gerakanku agar sesuai dengan yang diajarkan Aamod.


Setelah itu, Gulinear secara mendadak duduk di punggungku. Lalu… aku tengkurap-


Sepertinya ada yang kulewatkan… Apa, ya? Sebentar, aku berolahraga dengan semangat…


Aku menghitung jumlah gerakan naik turun agar sesuai dengan-


Iya… Di antara itu, pasti ada hal yang terlewat. Sebelum aku menghitung jumlah gerakan, aku…


"Laalit lagi apa?"


Itu… Aku tidak menjawabnya saat itu… Ternyata itu permasalahan utamanya…


Ini memang salahku… Aku harus menjelaskan pada Gulinear dengan bahasa yang benar dan tutur kata yang sopan.


"Aku tidak menjawabmu karena aku ingin fokus berolahraga. Aku sudah tidak berolahraga selama lebih dari seminggu, jadi aku berusaha keras untuk mengejar ketertinggalanku dalam berolahraga agar otot di tubuhku cepat terbentuk. Tadi aku sedang melakukan olahraga bernama 'push up'. Aku… Aku minta maaf, Gulinear."


Gulinear sudah tidak sedih lagi, perasaannya perlahan menjadi ceria seperti biasa.


Dengan pelan, Gulinear mendekatkan badannya padaku, memelukku balik.


Gulinear semakin mendekatkan wajahnya dan aku bisa merasakan dahinya yang mengenai leherku.


Aku juga bisa merasakan napasnya berhembus mengenai dadaku.


Rasanya agak menggelikan tapi menyenangkan juga di saat bersamaan.


Mungkin terasa begitu karena ini pertama kalinya aku berpelukan dengan seseorang yang lebih kecil dariku.


Jadi seperti ini ya rasanya berpelukan dengan seorang teman…


"Persahabatan yang indah."


Tuan Mahajana tiba-tiba berbicara padahal sebelumnya hanya diam membisu melihat ke luar jendela.


Aku tertegun dan refleks melepaskan diri dari peluk-memeluk bersama Gulinear.


Hawa Gulinear terasa bingung, kemudian mendekatkan dirinya ke tubuhku lagi.


Aku dengan sigap berdiri lalu duduk di samping Tuan Mahajana.


"Bagaimana gerakan push up yang kulakukan? Apakah sudah benar atau masih ada beberapa gerakanku yang salah?"


Aura Gulinear terasa mendekat kemudian ikut duduk di sampingku.


Masih menatap ke luar, Tuan Mahajana mengatakan sesuatu padaku,


"Sudah cukup baik. Saranku, lebih baik kamu melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum mulai melakukan push up. Pemanasan bertujuan agar tubuhmu tidak cedera. Selain itu, pemanasan dilakukan agar otot lebih mudah digerakkan saat berolahraga."


Seperti biasa, aku merespons pertanyaan Tuan Mahajana dengan anggukan.


Biasanya aku melakukan pemanasan bersama Aamod sebelum mulai berolahraga.


Hanya saja, karena tadi terlalu bersemangat, aku langsung melakukan push up dan melupakan pemanasannya.


"Terima kasih atas sarannya, Tuan. Kalau boleh tahu, berapa lama waktu yang dianjurkan untuk beristirahat sehabis melakukan push up?"


Tuan Mahajana terdiam sebentar sebelum menjawab,


"2-3 jam saja sudah cukup. Kalau tubuhmu masih terasa lelah, kamu boleh menambah waktu istirahatnya sampai tubuhmu benar-benar rileks dan santai."


Begitu, ya… Berarti beberapa jam lagi aku akan beristirahat kemudian melanjutkan olahraga yang lain.


Aku menarik napas, kemudian menghembuskannya secara perlahan.


Jalanan yang agak berbatu membuat kereta kuda menjadi agak bergoncang.


Meskipun begitu, aku tidak merasa terganggu karena sudah mulai terbiasa semenjak hari pertama menaiki kereta kuda milik Tuan Mahajana.


Awalnya memang sangat tidak nyaman, tetapi lama kelamaan, tubuhku mulai terbiasa dan bisa tidur dengan lelap meskipun badanku sampai bergoyang karena jalanan yang berbatu.