Blindsight

Blindsight
Sakit Lagi



"Pemandangannya bagus! Gulinear paling suka dengan pohon itu, cantik!"


Sepertinya Gulinear sangat menikmati pemandangan di luar sana.


Pohon ya… Aku belum pernah melihat pohon sebelumnya…


Suatu hari nanti, aku pasti sempat melihatnya. Pasti…


"Wow! Gulinear suka tempat duduk yang itu! Gulinear mau punya yang seperti itu!"


Aku jadi penasaran seperti apa tempat duduknya…


Apakah lebih megah daripada yang ku duduki saat ini? Atau lebih empuk seperti saat aku duduk di tempat makan yang kemarin?


Kemarin, ya…


Kemarin Gulinear marah padaku karena aku mengatakan hal yang menyinggungnya.


Dia menangis sangat keras. Karena aku sudah mencoba menghibur tapi tidak ada hasilnya, akhirnya aku membiarkannya saja sampai makan malamnya kuhabiskan juga.


Kukira dia akan berterima kasih karena aku sudah membantunya menghabiskan makan malam yang tidak ia sentuh sama sekali, tapi ternyata dia semakin marah padaku.


Saat kami sampai di penginapan dan akan tidur, Gulinear mengacuhkanku saat aku memberikan selimut padanya.


Dia masih ngambek padaku sampai siang ini, padahal aku juga sudah berusaha minta maaf padanya…


Kalau aku memasang wajah terpuruk dan menangis sekarang, mungkin Gulinear akan langsung memaafkanku…


Menangis, ya…


Aku jadi teringat saat Kakak menangis dan tidak ingin aku pergi dari sana.


Hatiku sakit saat mendengar Kakak menangis, rasanya seperti jantungku sedang disayat dengan benda tajam secara perlahan.


Entah mengapa, aku ingin kembali lalu memeluk Kakak. Aku ingin tangisan Kakak mereda dan kita bisa hidup bersama-sama lagi seperti biasanya.


Kakak, aku, dan Aamod… Padahal rasanya seperti baru kemarin aku merasakan bagaimana rasanya mempunyai keluarga.


Saat makan bersama, saat minum teh bersama, dan saat duduk di rerumputan sambil mengobrol bersama.


Rasanya sangat menyenangkan… Temanku yang konyol dan Kakakku yang penyayang, mereka berdua sangat menyayangi dan mencintaiku.


Walaupun kami tidak memiliki ikatan darah, tetapi hubungan kami bertiga seperti keluarga harmonis yang kasih sayangnya tak bisa dipisahkan oleh apapun.


Aku kadang jadi berpikir, apakah keputusanku meninggalkan Kakak dan menjadi murid Tuan Mahajana adalah keputusan yang benar?


Hanya demi kekuatan, aku menjauh dari Kakak dan membuat Kakak menangis…


Kakak sekarang sedang apa, ya?


Apakah Kakak makan dengan teratur?


Apakah Kakak tidur dengan nyenyak?


Apakah Kakak masih menangis seperti 3 hari yang lalu?


Apakah Aamod menjaga Kakak dengan benar?


Apakah Aamod memang baik seperti yang kurasakan?


Apakah keputusanku mempercayakan Kakak kepada Aamod adalah keputusan yang benar?


Apakah Aamod bisa dipercaya?


Aamod… Kuharap, kau bisa menjaga Kakak dengan benar.


Aku harap kau tidak macam-macam dengan Kakak. Kalau kau macam-macam dengan Kakak, seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkanmu.


Aku akan menghabisimu bila perlu, tapi kuharap itu tidak diperlukan.


Aku akan berusaha mempercayaimu untuk sekarang. Kalau aku berpikiran negatif terus terhadapmu, aku pasti akan gila karena terus-menerus khawatir bahwa kau akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Kakak.


Tenang, tarik napas, hembuskan perlahan…


"Hah… Huft…"


Ayo kita pikirkan hal yang positif sambil menikmati perjalanan kereta kuda yang membosankan ini.


Aku akan memikirkan Kakak…


Kakakku yang baik hati…


Terkadang aku bersyukur bahwa aku diasuh oleh orang sebaik Kakak.


Apa jadinya kalau sekarang aku diasuh oleh orang jahat dan disuruh menjadi budak?


Mungkin aku tidak akan bisa merasakan lauk yang Kakak masak, mungkin juga aku akan ketakutan setiap saat sehingga tidak berani keluar dari rumah dan bertemu dengan orang lain.


Banyak hal-hal lain yang mungkin saja terjadi, misalnya aku tidak akan diberi makanan yang layak dan akan dimarahi karena tidak mau memakan makanan tersebut.


Karena aku tidak mau makan makanan yang tidak layak tersebut, pengasuhku pun tidak memberiku makan sampai nyawaku menghilang dari dunia ini.


Itu adalah kemungkinan terburuknya, untungnya hal itu tidak pernah terjadi hingga saat ini…


Semoga saja hal itu tidak pernah terjadi sampai kapanpun, aku berharap kehidupanku akan aman dan bahagia seperti sekarang.


Keluargaku yang baru sangat menyayangiku seperti aku adalah adik mereka sendiri.


Keluargaku, ya…? Aku ingin mengingat mereka, aku ingin tahu bagaimana masa kecilku saat bersama mereka.


*DEG*


Entah kenapa hatiku sakit kalau berusaha mengingat keluargaku yang sebenarnya…


Mungkin karena mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi makanya aku merasa sakit seperti ini.


Tapi, kenapa? Kenapa rasanya sesakit ini? Rasanya seperti…


Hatiku juga, rasanya sakit saat berusaha mengingat ibu…


Perasaanku agak sakit tapi terasa aneh di saat bersamaan, rasanya seperti…


Aku sangat menyayanginya tapi aku juga sangat takut padanya.


Aneh… Aneh sekali… Padahal kalau berusaha mengingat ayah, rasanya tidak aneh seperti itu…


Ayah… Ibu…


Aku…


Aku ingin mengingat kalian… Aku ingin segera mengingat kalian…


Kuharap… Ingatanku… Segera… Kembali…


Perasaan yang sedih dan menyakitkan ini… Kenapa… kenapa hal ini yang selalu kurasakan kalau berusaha mengingat keluargaku?


Tanpa kusadari, badanku gemetaran hebat sekarang. Aku berusaha menenangkan diriku dengan menarik napas beberapa kali, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Hah… Huft… Hah…"


Masih gemetaran, aku mencoba menarik napas sekali lagi dan menghembuskannya dengan tenang.


"Hah… Fyuh…"


Aku harus tenang, aku…


*DEG*


Tu-Tubuhku sakit! Tubuhku sangat sakit sekarang!


Tidak… Jangan… Jangan sekarang…


Kumohon…


Sekarang ada Tuan Mahajana dan Gulinear yang sedang bersama denganku.


Mereka bisa melihat sisiku yang lemah dan terlihat menyedihkan saat air mata menetas dari mataku yang hanya pajangan.


Dalam jarak yang tidak terlalu jauh seperti sekarang, teriakanku pasti akan terdengar jelas di telinga mereka.


Aku harus melakukan sesuatu…


Aku harus melakukan sesuatu untuk menyembunyikan teriakanku dari mereka.


Bantal…


Di mana… Bantalnya…


Dengan gemetaran, aku mencari keberadaan bantal yang seharusnya tidak jauh dari sini.


Ti-Tidak ada… Apa… Apa Gulinear sedang membawanya… sekarang?


"Ugh…"


Aku… Aku harus merebut bantalnya… Sekarang…


"Huft… Hah… Hah…"


Aku harus memanggil Gulinear agar dia memberikan bantalnya padaku…


"Guli… near…"


Gulinear masih asyik melihat pemandangan lewat jendela, sepertinya suaraku terlalu kecil sampai Gulinear tidak bisa mendengarnya.


"Gulinear…"


Aku sedikit mengeraskan suaraku agar Gulinear mendengar panggilanku.


Dia melihat ke arahku sekarang, sepertinya suaraku cukup kuat tadi.


"Hmph! Gulinear masih marah, ya!"


Karena rasa sakitnya semakin terasa, aku kemudian mencengkram bagian perutku sambil gemetaran.


"Maafkan aku, ya? Aku… Aku merasa… bersalah… padamu… Ugh!"


Si-Sial! Bertahanlah sedikit lagi, Laalit.


"Aku… Ingin pinjam ban…tal. Sebentar… saja. Bo…leh?"


Gulinear dengan terang-terangan mengabaikanku, rasanya dia masih menatapku dengan kesal.


Tidak ada… pilihan lain, aku akan menutup mulutku dan berharap semoga teriakanku tidak terdengar oleh mereka.


"Huft… Ah! Hmph!"


Sakit… Ini lebih sakit dari biasanya…


Masih dengan air mata yang berlinang, tubuhku gemetaran, merasakan akan datangnya rasa sakit yang lebih parah daripada yang kualami barusan.


"ANAK INI!"


Aku sekilas mendengar suara seseorang yang datang menghampiriku kemudian menggenggam pergelangan tanganku secara perlahan.


"ARGH!"


Sakit… Sakit sekali…


Air mata sudah membasahi seluruh wajahku hingga mengenai pakaianku yang tipis.


Karena rasa sakit yang tak tertahankan, perlahan kesadaranku menghilang dengan rasa sakit yang masih membekas di bagian perutku.