Blindsight

Blindsight
Hal yang Mengejutkan



"Tatapannya kosong, dia tidak menggerakkan pupil matanya sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bola matanya. Bola mata abu-abu sangat jarang dimiliki manusia yang tinggal di Bumi, ah tidak, saya rasa disekitar kita juga sangat jarang. Kemungkinan orang tua Laalit adalah.."


Aku.. aku baru saja menjatuhkan cangkir yang kupegang,


"Ti-Tidak mungkin!"


Tanpa kusadari, tubuhku sudah gemetaran.


"Kakak kenapa?? Tuan, apa Kakak sakit?"


Tuan Mahajana tetap bereaksi dan merespon pertanyaan Gulinear dengan tenang,


"Nona ini hanya sedikit terkejut. Gulinear, bermainlah sebentar diluar sana."


Gulinear tampak cemas kepadaku,


"Tidak mau! Kakak tampak sakit, Gulinear mau merawat Kakak!"


Aku mengelus rambut merahnya, hanya tersenyum untuk menyiratkan bahwa aku baik-baik saja.


"Bermainlah diluar sebentar ya, Gulinear.."


Gulinear mau tidak mau menuruti perkataanku dan segera berlari keluar.


Masih dengan wajah cemas, Gulinear malah berlari dan menghampiriku.


"Hush.. hush.. Sakit, pergi ya!"


Tanpa sadar, aku sedikit tertawa dengan tingkah laku Gulinear yang polos.


"Terima kasih, ya! Berkat Gulinear, Kakak sudah sembuh sekarang, senangnya~. Wah, wah.. Gulinear memang master sejati!"


Gulinear lalu keluar rumah dengan kegirangan.


"Jadi, yang Tuan Mahajana maksud.."


"Sepertinya Nona sudah mengerti, ya."


Aku meremas kedua tanganku karena sangat cemas,


"Bukankah kita harus segera memberitahukan kepada Baginda raja, Tuan?"


Tuan Mahajana terdiam sebentar sebelum memegang janggutnya,


"Tampaknya Baginda raja telah membuangnya, malang sekali."


Masih dengan perasaan cemas yang tak karuan, aku bertanya lagi,


"Kenapa anda bisa seyakin itu, Tuan?"


"Warna mata abu-abu biasanya dimiliki oleh anggota kerajaan."


Ah, benar juga…


Meskipun hanya sebentar, aku yakin Tuan Mahajana tampak ragu-ragu?


"Tubuh anak itu, saya memeriksanya menggunakan kekuatan saya"


"Lalu...??"


Tuan Mahajana tampak semakin ragu,


"Mungkin saya salah, tapi ada beberapa bekas luka ditubuhnya, bekas luka di pergelangan di tangannya yang paling membuat saya terkejut. Bahkan anak itu menyembunyikan lukanya sehingga terlihat mulus bila terlihat dimata orang lain. Menyembunyikan luka seperti itu butuh keterampilan yang sangat tinggi, saya tidak terlalu tahu soal ini karena saya belum pernah bertemu dengan orang yang mampu menyamarkan bekas lukanya dengan sangat baik. Saya bahkan mengeluarkan kekuatan yang cukup besar hanya untuk memeriksa badannya, sepertinya anak yang menarik itu sudah menguasai kekuatan yang butuh keterampilan tinggi di usianya yang baru 11 tahun"


Aku agak tidak percaya dengan perkataan Tuan Mahajana,


"Kenapa anda tiba-tiba memeriksa tubuh anak itu, Tuan Mahajana?"


Gerak-gerik Tuan Mahajana seperti sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu,


Mendengar kata 'mata-mata', aku jadi sedikit penasaran,


"Apakah seseorang sering menguntit Tuan Mahajana?"


Tuan Mahajana menggenggam kedua tangannya,


"Tentu saja, dan sudah tidak terhitung berapa jumlahnya. Tahun lalu, seorang anak perempuan menguntit lewat atap rumah. Saya awalnya heran karena persediaan bahan makanan selama 1 bulan tiba-tiba habis dalam waktu kurang dari 2 minggu. Kecurigaan saya semakin meningkat ketika kamar mandi saya tampak basah, padahal saya pergi selama berhari-hari dan tidak pulang ke rumah sama sekali. Akhirnya saya memencar kekuatan sambil berkonsentrasi untuk menemukan apakah ada seseorang atau benda yang mencurigakan. Karena tidak ada, saya membolongi atap dengan kekuatan saya dan kebetulan anak perempuan yang sedang menguntit tepat berada diatas saya, dia terluka cukup parah karena terkena langsung kekuatannya. "


Aku terkejut sekaligus kagum, ternyata menjadi orang terkenal dan disegani hidupnya tidak selalu tenang.


Pasti anak perempuan itu terluka parah dan masih berobat di rumah sakit sampai sekarang..


"Lalu, bagaimana dengan Laalit?"


"Setelah badannya kuperiksa, tidak ada barang mencurigakan, hanya ada 'kemampuannya yang mengagumkan'. Menarik.."


Aku menanggapi Tuan Mahajana dengan mengangguk sesaat,


"Soal 'bekas luka', tadi pagi, saya menggosok punggung Laalit dan saya tidak melihat luka ditubuhnya."


Tuan Mahajana tampaknya menghindari topik ini,


"Nona, kemungkinan adanya 'bekas luka' tersebut adalah 94%. Kekuatan saya agak melemah setelah memeriksa tubuhnya, menandakan bahwa 'bekas luka' tersebut pastilah ada. Seperti yang saya bilang, menyamarkan luka butuh keterampilan yang sangat tinggi. Bahkan hanya untuk memeriksanya saja butuh kekuatan yang cukup besar dan dibutuhkan keterampilan yang lebih tinggi pula. Selain menyamarkan luka, Laalit juga punya penangkal apabila ada yang secara paksa memeriksa lukanya lebih dalam."


"Dan penangkal tersebut?"


Tuan Mahajana tampak sangat serius,


"Menyerap kekuatan orang lain secara paksa."


"Mungkin menyerap paksa kekuatan orang lain ditujukan agar kita tidak pernah memeriksa lukanya lebih dalam lagi. Setelah memeriksa badan Laalit, saya kehilangan sebagian kekuatan saya lalu pergi untuk membeli ramuan pemulih kekuatan, tapi sampai sekarang, kekuatan saya belum pulih. Padahal ini sudah berjam-jam."


Aku tidak menyangka kekuatan Laalit dapat membuat Tuan Mahajana Yang Terhormat merasa kewalahan.


Anak itu, aku jadi sangat khawatir padanya sekarang..


"Lukanya seperti apa ya, Tuan? Separah apa?"


Tuan Mahajana meneguk teh sebelum mengatakan sesuatu,


"Di bagian punggung terdapat bekas pukulan, dibagian depannya.."


Tuan Mahajana tidak melanjutkan perkataannya, wajahnya tampak sedih dan Tuan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan,


"Nona sebaiknya bertanya langsung pada Laalit tentang itu, bukankah lebih baik mendengarkan dari orangnya langsung?"


Aku semakin khawatir karena Tuan Mahajana bilang begitu, memangnya seberapa parah lukanya? Sebenarnya apa yang terjadi?


Aku tidak menyangka anggota kerajaan tega melakukan hal seperti itu kepada putranya sendiri.


"Selain karena kemampuannya yang mampu menyamarkan luka dengan sangat baik, saya tertarik padanya karena anak itu mendatangi tempat pelatihan. Laalit bilang dia ketempat pelatihan karena merasakan aura yang terkesan menekan dan kuat."


Tuan Mahajana meminum teh dicangkirnya sebelum melanjutkan penjelasannya,


"Seperti yang saya lakukan pada Nona sebelumnya, saya melepaskan aura Kontras agar seseorang yang kuat atau terpilih mendatangi tempat pelatihan yang saya diami. Tidak saya sangka, seorang anak kecil yang kesulitan untuk duduk di kursi adalah seseorang yang terpilih."


Aku memegang dan memijat dahiku karena hari ini aku diberi tahu beberapa informasi yang sangat mengejutkan.


Laalit yang adalah seorang tunanetra, keturunan keluarga terpandang, mampu menyembunyikan dengan menyamarkan bekas luka di tubuhnya, dan seseorang yang terpilih.


Bahkan pemilik panti asuhan tidak mengetahui satu hal pun tentang itu.


Aneh sekali, bukankah Laalit disana sudah sekitar 2 tahunan?


"Nona tampak sangat pusing dan cemas. Saya maklum karena Nona mendengar hal-hal yang sulit dicerna hari ini, lama-kelamaan Nona juga akan terbiasa dengan semua ini. Jadi seperti tujuan awal saya kemari, saya akan mengangkat Laalit menjadi murid saya. Apakah Nona keberatan?"


Dari sekian banyaknya pertanyaan, mengapa Tuan Mahajana menanyakan pertanyaan ini?