
"Namanya 'rangkulan persahabatan'."
"Wah! Keren!"
Itu bohong… Dan berbohong itu sama sekali tidak keren…
Jaleed tadi merangkulku karena aku tidak bisa berjalan sendiri.
Bagian perutku akan terasa sakit kalau berjalan menggunakan tenagaku sendiri.
Intinya, aku hanya sedang kambuh saja.
"Kenapa Jaleed membohongi Gulinear? Laalit kan tidak sedang sakit!"
Jaleed, dia hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa sekarang.
Aku yang berbohong padamu, Gulinear. Jaleed sama sekali tidak bersalah.
Maaf karena telah membohongimu, aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir.
Aku selalu saja meminta maaf saat membohongi orang lain.
Bukannya berjanji untuk berbicara dengan jujur, aku malah melakukan kebohongan lagi seperti siklus yang berulang-ulang.
Sikapku sungguh memuakkan!
"Ayo kita berjalan-jalan ke taman sebentar."
Padahal aku mati-matiin agar Gulinear tetap berada di sini, tapi sekarang aku malah mengajaknya ke taman.
Aku tahu sikapku sekarang sangatlah plin-plan.
Sebenarnya, aku mengajak Gulinear ke taman hanya untuk pengalihan karena tidak ingin Gulinear terus-menerus menyalahkan Jaleed atas kebohongan yang telah kubuat.
Memang, masalahnya bisa selesai kalau aku mengakui kebohonganku dan mengatakan bahwa aku memang sedang tidak enak badan, tapi aku tidak ingin membuat Gulinear khawatir dan cemas berlebihan terhadapku.
"Benarkah?! Gulinear senang sekali! Sebentar ya, Gulinear siap-siap dulu!"
Bukankah, sebenarnya sikapku itu egois? Aku hanya memikirkan secara sepihak dan mengambil keputusan secara sepihak pula.
Iya, aku tahu aku egois. Tidak mengakui kebohongan dan mengalihkannya ke hal lain tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang tersebut nantinya, kalau dipikir-pikir, aku sangatlah egois.
Sifat manusia itu kan beragam, perasaan mereka pasti beragam juga.
Kenapa yang terlintas dipikiranku hanyalah, mereka yang mengkhawatirkan kondisiku?
Padahal, mungkin saja sebenarnya mereka sama sekali tidak peduli terhadapku.
Apa iya, aku tidak jujur soal keadaanku kepada Jaleed, agar dia tidak mengkhawatirkan kondisiku?
Apakah benar, aku membohongi Gulinear dan mengalihkan pembicaraannya hanya karena tidak ingin mencemaskannya?
Mungkin jawabannya adalah 'Tidak'. Aku membohongi mereka, hanya dari menyimpulkan sendiri dan berpikir bahwa pemikiranku yang paling benar.
Walaupun aku sudah tahu akan hal itu, aku tetap tidak mau memberitahukan kebenarannya pada mereka.
Aku malah mengalihkan kebohonganku dengan mengajak Gulinear ke taman.
Demi sebuah kebohongan, aku mengorbankan Gulinear yang sedang sakit ke taman dan tidak memikirkan bagaimana kondisi tubuhnya setelahnya.
Ah… Soal kondisi tubuhnya… Kurasa kalau hanya berkeliling sebentar tidak apa-apa.
Gulinear bisa memakai jaket yang tebal dan panjangnya sampai selutut.
Dia akan baik-baik saja dengan jaket itu. Yah, kuharap begitu…
"Gulinear sudah siap! Karena Jaleed sudah ikut menjenguk Gulinear, dengan senang hati Gulinear akan melupakan perkataan bohong Jaleed. Ayo, kita ke taman!"
Dasar… Seharusnya aku sudah tahu kalau dia itu bukan tipe orang yang pendendam…
Belum sehari, Gulinear sudah tidak mempermasalahkan kesalahan orang lain dan bersikap seperti biasa lagi.
Walaupun yang dia lupakan itu sebenarnya adalah orang yang sama sekali tidak bersalah, sih…
Tapi, memang sifat positifnya itu jarang dimiliki oleh orang lain.
Aku mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan, kemudian berusaha berdiri dengan tenagaku sendiri sambil memegang sesuatu yang terbuat dari kayu.
Ternyata, perutku sama sekali tidak merasa sakit lagi.
Sepertinya, rasa sakitnya sudah hilang sepenuhnya.
Aku menghela napas lega sekaligus bersyukur karena tidak akan merepotkan Jaleed lagi yang tadinya membantuku berjalan sampai sini.
Aku juga sempat khawatir kalau tidak akan bisa menemani Gulinear dengan benar, tetapi itu semua tidak perlu dikhawatirkan sekarang.
Masih belum terbiasa, aku lalu berjalan dengan gerakan yang agak kaku.
Sembari berjalan, sedikit demi sedikit, aku mulai bisa merasakan benda sekitar yang jaraknya berdekatan denganku, aku juga dapat menyadari keberadaan Gulinear yang sedang berdiri di depanku.
Aku kemudian mendekat kepada Gulinear, dia langsung menggandengku, aku bisa merasakan lengan jaketnya yang panjang tetapi lumayan tipis untuk melindungi tubuhnya dari angin yang dingin.
Hmm… Kainnya memang tipis tapi kurasa tidak apa-apa karena kami hanya akan berjalan sebentar, mungkin sekitar 5 menit?
Semoga saja angin di luar tidak sedingin tadi.
Dengan Jaleed yang posisinya berada di depan kami, Jaleed lalu berjalan lebih dulu dan kami mengikutinya dari belakang.
Kami menuruni tangga dan semakin dekat dengan pintu keluar.
"Yeay! Bentar lagi sampai di taman! Gulinear duluan, ya!"
Gulinear langsung berlari dengan sangat cepat hingga sudah berada di luar rumah.
Saking jauhnya, aku bahkan tidak bisa merasakan hawanya lagi.
Anak itu berlari tanpa pikir panjang dan hanya ingin melihat taman saja…
Padahal dari tadi aku sangat mengkhawatirkan kondisi badannya yang sedang demam…
"Gulinear!"
Aku berteriak dan memanfaatkan gelombang suara agar bisa menemukan Gulinear pada jarak yang cukup jauh.
Terdengar sedikit suara gema, aku bisa 'melihat' Gulinear yang sedang berdiri di sebelah kanan sambil melihat sesuatu yang sepertinya adalah bunga.
Aku langsung berlari ke sana dan Gulinear yang menyadari derap kakiku seketika mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Laalit! Lihat ini, bunga ini!"
"Hah… Huft… Huft…"
Aku menghentikan langkahku dan hanya mampu mengambil napas pendek-pendek karena habis berlari dengan tergesa-gesa seperti kesetanan.
Tidak peduli dengan keringatku yang bercucuran, Gulinear menarik-narik lengan bajuku dan memaksaku untuk melihat bunga yang sedang dipegangnya.
"Ini, bunga ini warnanya merah seperti rambut Gulinear. Cantik, ya?"
Masih tersengal-sengal, aku hanya asal mengangguk saja.
Lagipula, aku tidak bisa melihat warna bunga tersebut, aku juga tidak mengetahui seperti apa warna merah itu…
"Gulinear sudah mencari bunga yang mirip dengan warna rambut Laalit, tapi sampai sekarang Gulinear belum menemukan bunga itu. Oh! Gulinear akan meminta tolong pada Tuan Mahajana untuk membawakan bunga berwarna biru langit seperti warna rambutnya Laalit!"
Masih sakit tapi tetap banyak bicara…
Perlahan, angin menyapu keringat di seluruh tubuhku sampai semuanya tak bersisa.
Yang kurasakan sekarang hanyalah angin semilir dengan suhu yang semakin dingin dibandingkan sebelumnya.
Ini mengkhawatirkan… Sepertinya kami harus segera kembali ke dalam sana.
"Ayo kita kembali ke dalam-"
Tunggu… Bukankah tadi Jaleed juga ikut berlari dan mencari Gulinear?
Kenapa dia tidak ada di sini?
Kemana dia pergi barusan?
Apa dia buru-buru pergi untuk mengurusi hal yang jauh lebih penting?
Benar juga, bukankah Jaleed sama sekali tidak mengatakan persetujuannya saat Gulinear mengajak ke taman?
Mungkinkah sebenarnya dia memang tidak ikut ke taman bersama kami?
"Laalit…"
Aku buru-buru menangkap badan Gulinear yang hampir terjatuh.
Badannya sangat panas dan napasnya tidak beraturan.
Ini salahku…
Kenapa malah mengajaknya ke taman dengan kondisinya yang sedang demam?
Apalagi aku sudah tahu kalau cuacanya dingin begini…
Laalit… Dasar anak bodoh!
"Panas…"
Cuacanya sedang dingin begini…
"Ayo kita ke dalam."
Aku menarik tangan Gulinear tetapi Gulinear malah menahanku.
"Tidak mau… Gulinear mau di sini saja…"
"Tidak boleh, cuacanya sangat dingin. Yuk?"
Gulinear meremas bajuku, memaksaku agar tetap berdiri di sini dan tidak bergerak ke manapun.
Semakin lama, Gulinear semakin bertumpu padaku, napasnya juga semakin tidak beraturan.
"Panas… Hiks…"
Aku bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir di dadaku, air mata Gulinear terasa sangat panas sampai membuatku merinding.
"Gulinear…?"
Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa aku harus segera menjauh darinya…
Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Gulinear sedang sakit, aku harus tetap berada di sampingnya.
"Gulinear takut… Hu hu…"
Aku hanya mengelus punggung Gulinear untuk menenangkannya, aku benar-benar tidak tahu harus apa sekarang.
"Ugh! Laalit, menjauh…"
Aku semakin mencemaskannya…
"Ada apa, Gulinear-"
*BLAR*
Belum sempat mengucapkan mantra pelindung, tubuhku sudah terkena ledakannya…