Blindsight

Blindsight
Bersembunyi



Hari berganti hari, kemarin pun sudah berganti menjadi hari ini.


Melalui satu persatu ruangan, aku akhirnya sampai di depan pintu.


Aku meletakkan telapak tangan dan merekatkan jari-jariku di gagang pintu yang berbentuk kotak memanjang, lalu menggesernya.


Aku menggerakkan kakiku hingga ke dalam dan menggeser pintunya lagi agar tertutup sempurna.


Sayup-sayup, aku mendengar dua orang yang sedang asyik mengobrol.


"Kekuatanmu sangat mengagumkan."


"Yeay! Gulinear bisa melakukan ini juga! Lihat!"


Tanpa mereka sadari, sudah ada seseorang yang mendekat kemudian duduk di tepi kasur.


"Sepertinya sedang seru…"


Kamaniai berteriak, kakinya langsung bergerak cepat, mencari tempat persembunyian untuk melindungi dirinya.


Apa kedatanganku terlalu mengejutkannya? Kamaniai ketakutan sampai terbirit-birit begitu…


Aku jadi agak menyesal karena sudah diam-diam ingin mengagetkan mereka…


Sementara Gulinear, anak itu hanya tertawa, menyusul Kamaniai yang sedang bersembunyi di dalam suatu benda yang terletak di atas kasur.


Dari tempat persembunyian, Gulinear mengatakan sesuatu sambil berbisik,


"Laalit. Cepat bersembunyi."


Bersembunyi?


Untuk apa?


Bukankah Kamaniai bersembunyi karena dia terkejut dengan kemunculanku yang secara mendadak?


*BRAK*


Aku refleks berdiri karena kaget.


Terdengar suara gebrakan dari pintu kamar.


"Hah… Hah…"


Ternyata Jaleed yang tiba-tiba menggeser pintunya dengan kasar…


Kenapa dia seperti kelelahan begitu?


Apa dia habis melakukan lari pagi?


Telat sekali… Aku sudah melakukannya subuh tadi…


Jaleed mengatur napas, kemudian menghampiriku.


"Apa kamu melihat Kamaniai dan Gulinear?"


Kamaniai dan Gulinear?


Mereka kan ada di dalam sana…


Sebentar, kenapa Jaleed mencari mereka?


"Hei… Cepat jawab pertanyaanku…"


Aku jadi kepikiran…


Kenapa Gulinear menyuruhku untuk bersembunyi, ya?


Tidak, bukan itu yang seharusnya kupikirkan sekarang.


Kenapa Kamaniai dan Gulinear bersembunyi?


Setelah mereka bersembunyi, Jaleed menggebrak pintunya dan mencari mereka berdua…


Kebetulan yang menarik…


Saat Jaleed bertanya apakah aku melihat mereka atau tidak-,


Aku memfokuskan konsentrasiku pada persembunyian Kamaniai dan Gulinear.


-Mereka malah tidak bergerak sama sekali, bersuara pun tidak.


Kamaniai dan Gulinear, gelagat mereka mencurigakan…


Kalau mereka tidak sedang menghindari Jaleed, mereka pasti tidak akan bersembunyi dan akan langsung muncul dihadapan Jaleed.


Dari gerak geriknya, mereka sepertinya memang sedang menghindari Jaleed.


Apa mereka sedang ada masalah pribadi?


Kalau memang iya, seharusnya mereka tidak menghindari masalah, tetapi menghadapinya langsung.


Apa yang harus aku lakukan?


Haruskah aku memberitahu tempat persembunyian mereka atau membohongi Jaleed?


"Dari mimik wajahmu, sepertinya kamu tahu di mana Kamaniai dan Gulinear bersembunyi."


Sial… Memangnya mimik wajahku seperti apa, sampai Jaleed menyimpulkan begitu?


Kamaniai…. Gulinear…


Aku harus bagaimana?


Kalau aku memberitahu letak persembunyian kalian, Jaleed akan menemukan kalian dan aku tidak tahu apa yang akan Jaleed lakukan pada kalian selanjutmya…


Jaleed mengarahkan tangannya ke bahuku, lalu mencengkeramnya kuat-kuat.


Sakit sekali… Sisi bahuku ada yang terluka lumayan parah, jadi rasanya sangat menyakitkan.


Jaleed… Dia seperti akan menelanku dengan paksa kalau aku hanya diam.


Hawanya memuncak, dia semakin mencengkram bahuku dengan kuat sambil menatapku dengan tatapan seperti ingin membunuh.


Aku gemetaran, hawanya terasa semakin menakutkan.


Rasa sakit di bahuku meningkat tajam. Saking tajamnya, aku sampai menahan bibirku agar tidak menjerit.


Cengkraman Jaleed membuat lukanya terbuka kembali. Semoga tidak ada darah yang keluar…


"Jaleed… Kita masih bisa membicarakannya baik-baik…"


Ya, aku tidak tahan dengan rasa sakitnya, jadi aku memutuskan untuk angkat bicara.


Jaleed melepaskan tangannya dari bahuku, menunggu jawaban yang akan kuberikan.


"Kamaniai dan Gulinear, mereka ada di… "


Aku masih bimbang, apakah harus jujur atau berbohong pada Jaleed…


"Di?"


Sepertinya aku harus mengatakannya…


"Suatu benda yang tidak kuketahui apa namanya."


Aku mengetahui di mana lokasi mereka bersembunyi.


Tapi, Jaleed tidak menyuruhku untuk mengatakannya secara rinci, kan?


Sejujurnya, aku memang tidak mengetahui apa nama benda itu, benda yang digunakan Kamaniai dan Gulinear untuk bersembunyi.


Perkataanku ini, bisa dianggap jujur, kan?


"Laa… LIT…!"


Ugh… Hawanya mengerikan…


Perlahan, aku memundurkan badanku, hingga tersudut pada dinding kamar.


Dia merapatkan tubuhnya ke tubuhku, tarikan napasnya yang kuat terasa di samping wajahku.


Aku bisa merasakan bahwa Jaleed sudah sangat marah.


Sebisa mungkin, aku harus membuatnya tenang-


*SRET*


Eh…


Aku yakin aku mendengar sesuatu barusan…


Kenapa Gulinear sedikit menggerakkan tubuhnya? Mungkinkah dia tidak tahan terus-menerus bersembunyi dan sedang menggeser sedikit tubuhnya agar dapat bersembunyi dengan nyaman?


Aku mengerti, membuat tubuh nyaman itu penting.


Masalahnya, pergerakanmu itu terlalu jelas. Aku tidak tahu apakah Jaleed mendengar pergeseran tubuhmu barusan, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Tentu saja aku bisa mendengarnya dengan jelas karena pendengaranku memang tajam, seorang tunanetra harus dapat menggunakan bagian tubuhnya yang lain dengan baik, kan?


"Aduh!"


Kamaniai… Jaleed bisa mendengar teriakanmu, jarakmu termasuk dekat dengan jarak kami, apalagi suaramu lumayan kencang.


Yang awalnya terasa menakutkan, hawanya sekarang terasa senang, lebih tepatnya seperti 'Tertangkap Kalian!'.


Nah… Jaleed sekarang sedang berjalan mendekati tempat persembunyian kalian.


Aku tidak mengatakan kalian ada di mana, lho. Kalian sendiri yang mengatakannya pada Jaleed. Jadi, jangan salahkan aku, ya?


"KYA!"


Jaleed menarik paksa benda tersebut, membuat Kamaniai dan Gulinear terpental dan saling bertubrukan satu sama lain.


"Bersembunyi di dalam selimut rupanya…"


Oh, ternyata mereka bersembunyi di dalam selimut…


Pasti rasanya pengap sekali, harus berada di dalam selimut dan kesulitan bernapas karena kekurangan oksigen…


Tunggu, apa yang Jaleed lakukan sekarang?


Dia seperti mengangkat badan dua anak itu, tapi posisinya sedikit aneh, badan mereka seperti… menggantung?


Entah apa namanya. Yang pasti, mereka sudah tertangkap basah dan tidak akan bisa bersembunyi lagi.


"Gulinear benci sama Jaleed! Turunkan Gulinear!"


Kamu tidak boleh membencinya, dia yang sudah membopongmu ke dalam sini saat kamu tidak sadarkan diri kemarin.


Gulinear merengek, sementara Kamaniai hanya diam, sudah pasrah sepenuhnya dan tidak berniat untuk melawan.


Omong-omong, bukankah Jaleed menyuruhku agar bersikap sopan pada Gulinear?


Kukira dia akan bersikap sopan juga pada Gulinear, tapi yang dia lakukan sekarang, sama sekali tidak menunjukkan kesopanan.


Mungkin dia lupa karena sedang marah dengan mereka…


Sebentar… Jaleed sepertinya melepaskan Gulinear secara perlahan, mungkin dia baru teringat tentang bersikap sopan pada Gulinear…


Jaleed menurunkan Gulinear, menyisakan Kamaniai yang masih dia angkat(?) tanpa memberikan pelonggaran sedikit pun.


"Jaleed Jahat! Turunkan Kamaniai!"


Lihat apa yang Gulinear lakukan sekarang! Dia sedang menarik-narik baju Jaleed.


Oh iya, aku kan buta…


Aku cuma merasakannya saja, kok. Mana bisa aku melihat tingkah laku mereka secara langsung.


Yang awalnya cuma diam, kini mengajak Jaleed untuk berbicara,


"Turunkan aku, Jaleed. Kalau Bibi melihat kita, Bibi bisa salah paham."


"Apa maksudnya 'salah paham'?"


"Ah, itu… Kamu kan tahu…"


"Aku tidak tahu."


Hawa mereka terasa aneh. Meskipun aneh, entah mengapa aku merasa agak 'deja vu' dengan hawa ini.


"Jaleed, turunkan aku. Aku mohon…"


"Tidak mau."


Jaleed keras kepala…


Seharusnya kamu segera menurunkan Kamaniai. Gulinear bisa menghajarmu kalau kamu terus-terusan keras kepala.


Bahkan Kamaniai sudah berusaha meronta-ronta, tapi Jaleed malah semakin menahannya.


Tidak bisa dibiarkan lebih lama. Aku harus menyelamatkan mereka berdua dari amukan Gulinear.


Aku mendekati Jaleed, langsung menarik Kamaniai hingga kami terjatuh di atas kasur.


Aku buru-buru bangkit, menolong Kamaniai yang masih tersungkur di sampingku.


"Te-Terima kasih…"


Tidak perlu berterima kasih. Menolong orang lain merupakan kewajiban setiap orang, bukan?


Kamaniai menerima uluran tanganku, perlahan bangkit lalu duduk selonjor.


*PLAK*


"JAUHKAN TANGANMU DARINYA!"


Hah…?


Kenapa amarahmu malah lebih memuncak daripada sebelumnya?


Aku kan bermaksud baik, menolong kalian dari pukulan Gulinear.


Dan tanganku yang kamu pukul barusan, aku hanya membantu Kamaniai bangkit.


Biasanya kamu bersikap tenang seperti air mengalir.


Apakah kamu sadar, kamu baru saja menunjukkan amarahmu secara terang-terangan saat aku menyentuh tangan Kamaniai?


Dasar kekanakan…