Blindsight

Blindsight
Guru



"Mau kuajari bermain piano?"


Tidak kusangka maestronya menawarkan langsung…


Tapi…


Benarkah? Benarkah kamu akan mengajarimu bermain piano?!


Aku akan bisa memainkan piano sama seperti Gulinear?!


Bagus! Aku bisa menunjukkan kalau aku bisa bermain biola dan piano pada Kakak!


Kakak tidak akan merasa sia-sia karena sudah mengangkatku sebagai adik angkatnya.


Kakak juga bisa membanggakanku pada teman-temannya.


Aku memang adik yang pengertian…


Namun, mampukah aku mempelajari dua-duanya sekaligus?


Biola saja aku kepayahan, bagaimana dengan piano…?


Hmm…


Bukankah lebih baik kalau aku fokus ke salah satunya dulu, baru mempelajari yang satunya lagi?


"Aku ingin fokus ke biola dulu."


Ini pilihan yang terbaik. Selain untuk mempercepat pemahamanku dalam bermain biola, aku juga lebih tertarik ke biola daripada ke piano.


Tidak, bukan berarti aku sudah tidak tertarik ke piano lagi.


Tentu saja aku masih tertarik, makanya aku berencana untuk mempelajarinya juga nanti.


Hanya saja, saat pertama kali mendengar gesekan biola, aku langsung jatuh hati pada suaranya.


Rasanya seperti… ingin menguasainya, ingin memainkannya sesegera mungkin.


Entahlah… Pokoknya, ada muncul perasaan bergejolak di dalam hati kecilku ini. Sulit menjelaskannya.


"Laalit, kan?"


Badanku terkesiap, walaupun sedang menahan biola, aku tetap bisa menganggukkan kepalaku


Ini agak mengejutkan. Aku bahkan belum memperkenalkan diri, tapi orang ini mengetahui namaku…


Jadi, aku ini memang cukup sering dibicarakan rupanya… Kukira penguji itu cuma mengada-ada.


Eh… Bukankah kami belum saling memperkenalkan diri, ya?


Aku sangat tidak sopan, orang ini sampai harus menanyakan namaku lebih dulu.


Seharusnya aku yang memperkenalkan diri terlebih dahulu.


Jaleed pernah mengatakan bahwa anak muda wajib memperkenalkan diri lebih dahulu kepada seniornya.


Senior itu maksudnya adalah orang yang usianya lebih tua dariku.


"Kalau Tuan?"


Aku penasaran dengan namanya. Tidak mungkin kan namanya itu memang 'Tuan yang Tampan'?


"Kamu bisa memanggilku Bahirun."


Jadi namanya Bahirun…


Mahajana dan sekarang Bahirun… Nama orang dewasa memang unik, ya…


Tapi aku tetap akan memanggilnya menggunakan 'Tuan', bukan hanya namanya saja.


Rasanya agak aneh kalau memanggilnya langsung dengan nama.


Yang pertama, orang ini pembawaannya tenang sampai aku tidak bisa merasakan hawanya.


Kedua, dia juga mahir memainkan dua alat musik sekaligus.


Terakhir, kami belum cukup akrab sampai bisa memanggil dengan nama langsung.


Kalau sudah cukup akrab pun, aku tetap akan memanggilnya dengan Tuan.


Tentu saja karena orang ini berbakat dan tenang, aku pun harus menunjukkan kesopananku.


Lagipula dia menjadi guruku sekarang. Yah… meskipun dia hanya sekedar basa-basi saat menawarkan diri, tapi tetap saja kami sekarang guru dan murid.


Sebagai muridnya, aku harus menunjukkan sikap hormatku pada guru.


Oh, mungkin lebih baik aku menanyakan hal ini padanya.


"Apa aku boleh memanggil Tuan Bahirun dengan panggilan 'guru'?"


Kenapa Tuan Bahirun hanya diam saja?


Mungkin Tuan Bahirun sedang mempertimbangkan perkataanku…


"Ha ha…"


Eh…


Tuan Bahirun barusan… tertawa kecil?!


Aku tidak salah dengar, kan?


Hawa yang dipancarkan oleh Tuan Bahirun juga berubah menjadi agak bangga, padahal sebelumnya hanya hawa yang lembut saja yang bisa kurasakan darinya.


Yang membuatku penasaran adalah…


Apa yang membuat Tuan Bahirun bangga?


Mungkinkah dipanggil 'guru' adalah sebuah kebanggaan bagi Tuan Bahirun?


"A ha ha… Bolehlah…"


Tuan Bahirun sepertinya merasa senang karena aku memanggilnya guru.


Yang kurasakan sebelum ini hanyalah hawa yang jahat dan menyeramkan.


Setelah aku membuka diriku sedikit kepada Tuan Bahirun, hawa negatif itu tidak pernah kurasakan lagi.


Mungkinkah hawa negatif yang kurasakan dari Tuan Bahirun itu dikarenakan diriku yang awalnya tidak ingin menjalin keakraban dengan Tuan Bahirun?


"Ini pertama kalinya aku mempunyai murid. Aku belum pernah menjadi guru sebelumnya, jadi ini adalah hal yang baru untukku."


Dengan kemampuan yang mengagumkan itu, bagaimana mungkin orang seperti ini tidak pernah punya murid satupun?!


Itu tidak mungkin!


Aku tidak percaya…


Tapi, perkataannya itu ada hubungannya dengan hawa yang dia tunjukkan sekarang.


Aku jadi mengerti alasan Tuan Bahirun, maksudku Guru, menunjukkan hawa yang senang dan bangga secara bersamaan.


Alasannya adalah… Baru kali ini Guru dipanggil 'guru' dan baru kali ini juga Guru mempunyai murid.


Menurut Guru, menjadi Guru itu adalah pencapaian pertama dalam hidup.


Karena itulah ada rasa bangga dan senang di hatinya.


"Berapa umur kamu?"


Kukira keadaannya akan kembali sunyi. Ternyata Guru masih ingin membuka topik denganku, ya…


Kalau memang ingin berbincang-bincang, ayo kita mengobrol saja!


"Aku 11 tahun, Guru. Kalau Guru?"


Aku bisa merasakan hawa Guru sedikit tercengang.


Apa 'umur' itu pertanyaan yang sensitif bagi Guru?


"Umurku 32 tahun."


Sudah om-om rupanya…


Pantas saja Guru tercengang saat kutanyai umurnya…


Kukira umur Guru masih sekitar 20 an, ternyata umur Guru sudah lebih dari itu.


Hmm…


Dari tadi kan Guru yang mencari topik pembicaraan. Sekarang, giliranku saja yang mencari topiknya.


Aku sudah dapat topiknya. Masalahnya…


Bagaimana aku mengatakannya…?


'Kenapa Guru hobi menghilang?'


'Guru tadi pagi muncul tiba-tiba, bagaimana bisa?'


Tidak, kurasa keduanya memiliki makna yang kurang bisa dimengerti.


Coba pikirkan kalimat yang lain…


'Kenapa Guru tiba-tiba menghilang dan muncul lagi dengan tiba-tiba?'


Ini cukup bisa dimengerti. Tapi, penyusunan kalimatnya agak dipaksakan.


Oke, pikirkan kalimat satu kali lagi…


'Kemarin Guru menghilang tiba-tiba, hari ini Guru muncul tiba-tiba. Bagaimana bisa begitu?'


Ah, ini bisa dimengerti. Aku hanya perlu merapikan kalimatnya sedikit dan menambah beberapa kata lagi agar kalimatnya menjadi bagus.


"Guru, kita kan bertemu tadi malam. Setelah Guru mengatakan bahwa ada kesibukan lain, Guru langsung menghilang secara mendadak. Saat kita bertemu tadi pagi, Guru juga muncul secara mendadak. Bagaimana bisa Guru melakukan dua hal itu secara tiba-tiba?"


Aduh… Sepertinya pertanyaanku terlalu berbelit. Kuharap Guru bisa mengerti dengan hal yang ingin kutanyakan.


Kalau Guru tidak mengerti, itu sama sekali bukan salah Guru.


Itu salahku sendiri karena tidak pandai merangkai perkataan.


Ketika ingin mengatakan sesuatu, aku selalu berpikir dua kali baru bisa mengatakan hal yang ingin dikatakan.


Aku tidak bisa seperti ini terus. Kalau aku terus-menerus berpikir keras sebelum berbicara, bisa-bisa lawan bicaraku langsung mengantuk hanya untuk menunggu tanggapanku.


"Sebenarnya, aku bukan menghilang dan muncul secara mendadak seperti yang kamu pikirkan."


Begitukah?


Jadi?!


"Aku hanya bergerak dengan kecepatan yang tinggi. Kemampuanku adalah bergerak cepat, jadi yang kulakukan kemarin hanyalah berjalan dengan sangat cepat."


Berarti elemen Guru adalah kecepatan…


Berjalan sangat cepat tetapi seperti menghilang tanpa hawa yang tersisa…


Guru sudah sangat berpengalaman. Guru bisa menggunakan kekuatannya secara efisien seperti menghilangkan jejak, pasti Guru sangat kuat.


Tapi ada yang aneh dengan Guru…


Meskipun Guru sangat kuat, tapi aku sama sekali tidak bisa merasakan auranya.


Kenapa bisa begitu? Padahal aku bisa merasakan aura Tuan Mahajana, seorang master berperingkat 10 besar di dunia.


Apa Guru lebih kuat dari Tuan Mahajana, sehingga Guru tidak bisa kurasakan aura kekuatannya?


Aku benar-benar ingin menanyakannya. Hanya saja, aku masih belum percaya sepenuhnya pada Guru.


Kalau aku menanyakan aura kekuatannya, otomatis Guru akan mengetahui kalau aku adalah seseorang yang terpilih.


Entah mengapa perasaanku mengatakan agar tidak menyinggung tentang 'seseorang yang terpilih' itu.