
*TAP*
Suara langkah kaki yang terdengar menandakan tapak kaki menekan permukaan tanah.
Aku melangkahkan kaki kanan ke depan lalu menggunakan otot paha belakang dan kuadrisep kaki kiri untuk menggerakkan tubuh ke depan.
Setelah tubuh ke depan, aku memindahkan tumit kiri ke depan agar proses berjalan bisa dilakukan dengan baik.
Oh, iya!
Cara berjalan yang efektif yaitu dengan mengangkat telapak kaki mulai dari tumit sampai ke jari-jari kaki dengan arah lurus ke depan.
Cara ini dapat membuat telapak kaki membentuk sudut yang tepat saat terangkat dari permukaan tanah setiap kali melangkah.
Hmm…
Kenapa aku mengetahui hal ini?
Kalau aku bisa membentuk sudut yang tepat, lalu selanjutnya apa?
"Haahh…"
Aku menghela napas panjang tanpa disengaja. Sepertinya tubuhku bereaksi terhadap perasaanku yang sedang frustasi karena mengetahui sesuatu yang tidak berguna.
Dulu aku teringat mengenai daun pada bunga, sekarang aku teringat perihal cara berjalan secara efektif.
Aku jadi penasaran…
Sebelum aku hilang ingatan, keseharian seperti apa yang aku jalani setiap harinya?
Pasti aku melakukan hal yang membosankan, makanya ingatan yang muncul selalu berhubungan dengan hal-hal yang tidak berguna.
Aku tidak mengerti apa manfaatnya kalau aku mengetahui berbagai macam daun pada bunga.
Tidak ada gunanya juga jika aku mengetahui tata cara berjalan secara efektif karena manusia punya ciri khas tersendiri dalam berjalan.
Bagaimana caraku berpikir dan bertingkah laku? Apa aku dulu bersikap kekanakan atau malah mempunyai tingkah laku yang dewasa?
Lucu sekali kalau dulu sikapku sangat kekanakan. Aku sama sekali tidak bisa membayangkannya karena sikapku sekarang ini jauh berbeda dari 'kekanakan' itu sendiri.
Entahlah… Bisa saja sikapku saat hilang ingatan berbanding terbalik dengan sifatku yang mengingat seluruh ingatan.
Lebih baik aku menghentikan pemikiran yang jawabannya tidak bisa kudapatkan.
Tidak, tidak. Kalau aku langsung membuat kesimpulan begitu, jalan kaki ini akan terasa membosankan, bukan?
Meskipun hasil akhirnya tidak pasti, membuat analisa seperti ini bisa menambah daya kreatifitas, kan?
Oke, mari kita pikirkan lebih jauh...
Kalau dari caraku yang selalu mengatur sikap seperti sekarang, sepertinya aku ini adalah orang yang memiliki kepribadian melankolis.
Berpikir dahulu sebelum berbicara, meminimalisir rasa kecanggungan sampai akhirnya mengatakan hal yang berlawanan dengan pikiran, dan berusaha terlihat ramah setiap waktu agar tidak merugikan psikis orang lain.
Kaku sekali... Tapi, bukankah lebih baik berhati-hati daripada serampangan?
Orang lain tidak akan tahu jika kita adalah orang yang sangat berhati-hati karena dari luar, sikap kita terlihat sangat tenang.
Tetapi, orang yang bersikap serampangan kebanyakan menunjukkan sikapnya di luar.
Dengan kata lain, beberapa orang akan terganggu karena kita selalu seenaknya dan tidak memikirkan dampak serta akibatnya.
Jadi, bersikap hati-hati, maksudnya melankolis, membuat diri sendiri tidak dicap buruk oleh orang lain.
Selain melankolis, ternyata aku ini adalah orang yang berpikir kritis.
Orang yang berpikir kritis cenderung penasaran pada banyak hal dan sering berpikir terperinci untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Jadi...
Bukankah yang kulakukan sekarang ini adalah berpikir kritis?
Yang awalnya hanya membahas perihal berjalan kaki, menjadi penasaran mengenai ingatan lamaku, dan sekarang mencari tahu tentang bagaimana sikapku sebelum hilang ingatan.
Kalau ada pertanyaan, pasti ada jawaban. Sayangnya, setelah mengumpulkan kejadian pada ingatanku yang sekarang dan mengevaluasi semuanya, aku tidak mendapatkan jawaban apapun.
Bisa dibilang bahwa yang kulakukan ini hanyalah sia-sia.
Meskipun ada beberapa hal yang kuingat kembali, namun tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan yang tersimpan dibatinku.
Ini dikarenakan ingatan yang kudapatkan masihlah minim, dibutuhkan ratusan ribu puzzle lagi sampai aku mendapatkan jawabannya.
Ah…
Aku merasakan ada beberapa orang di sini. Ada satu, dua… totalnya ada lima orang.
Sepertinya kita sudah sampai?
Aku bisa merasakan aura yang sangat kuat dan aura yang tipis tetapi tajam.
Jadi yang sedang berada 6 meter dari sini adalah Tuan Mahajana dan Guru.
Sedangkan 3 meter dari sini ada seseorang yang aku kenal-
"Laalit!"
Ternyata Gulinear sudah ada di sini lebih dulu…
Dia menuju kemari dengan berlari, aku bisa mendengar derap kakinya.
"Tadi Laalit ngobrol apa sama Jaleed?"
Tadi kami cuma duduk-duduk saja. Belum sempat Jaleed bicara, sudah ada orang yang menyelinap. Tapi…
Hey, Gulinear…
Bukankah Jaleed bilang kalau dia hanya ingin berbicara berdua saja denganku.
Jaleed memintaku berbicara empat mata itu, tujuannya agar tidak ada orang lain yang tahu isi pembicaraannya kecuali kami.
Kalau kamu menanyakan tentang keseluruhan obrolan kami, seharusnya kami tidak perlu berbicara empat mata tadi, tapi enam mata.
Pertanyaanmu itu tidak layak untuk kujawab. Seharusnya kamu sudah memahami artinya sendiri tanpa perlu dijelaskan.
Sudahlah, sebaiknya aku menghampiri Tuan Mahajana sekarang.
Tanpa sepatah kata pun, aku langsung melewati Gulinear.
Kakiku mengarah pada aura kuat yang penuh dengan penekanan.
Semakin aku berjalan mendekat, semakin terdengarlah suara yang saling berbicara.
Kedengarannya mereka menyebutkan beberapa kata seperti 'negara' dan keamanan'.
Mari mendekat dengan lebih pelan lagi.
Yang awalnya terdengar samar-samar, lama kelamaan pun terdengar jelas.
Sekarang Tuan Mahajana sedang menasehati Guru rupanya.
"Selagi muda, pergunakan waktu dengan baik. Lakukan aktifvitas yang mempunyai dampak positif."
"Saat di sini, saya melakukan aktivitas yang berdampak positif, Tuan. Saya mengajari Laalit dan membantu para pelayan di sini untuk meletakkan beberapa barang."
Ternyata Guru membantu Kakak pelayan. Apakah hawa Guru yang licik sebenarnya hanyalah kamuflase untuk menyembunyikan sikap guru yang asli?
Ini bukan saatnya untuk berbicara dalam hati. Kalau membatin terus, aku akan melewatkan setengahnya.
Aku tidak boleh melewatkan satu hal pun karena mendengarkan pembicaraan mereka bisa membantuku untuk memahami perilaku mereka sehingga dapat menyesuaikan sikap dengan lebih baik lagi.
"-hargai perbuatanmu itu, tapi bukan hal itu yang aku singgung darimu sekarang. Aku tidak sepenuhnya melarang kamu untuk berpacaran. Hanya saja, akan lebih baik kalau kamu hanya mempunyai satu pasangan."
Pasangan??
Memangnya ada apa dengan pasangan??
"Tuan, saya kan juga butuh bersenang-senang. Cara saya bersenang-senang tentunya berbeda dengan cara anda bersenang-senang-"
Tunggu, apa yang kulakukan sekarang?!
Menguping pembicaraan orang lain bukanlah sikap yang terpuji!
Tuan Mahajana dan Guru pasti tidak mau ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka.
Lebih baik aku menjauh dari sini hingga Tuan Mahajana kemari dan memulai ajarannya
"Gulinear juga ingin bersenang-senang."
HAAAKHHH!!
Kagetnya…
Gulinear! Sejak kapan kamu menempel padaku?!
Kenapa aku sama sekali tidak menyadari keberadaanmu sejak tadi…
"Laalit, Gulinear ingin makan kue melon dengan jumlah yang banyak. Kalau Laalit ingin bersenang-senang apa?"
"Gulinear, kecilkan suaramu…"
Suaramu bisa membuat Tuan Mahajana dan Guru menyadari keberadaan kita.
Lebih baik aku pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaanku.
Aku mengendap-endap, berusaha menjauh dari tempat.
"LAALIT! KENAPA DARI TADI LAALIT MENGACUHKAN GULINEAR?! HUAAAA…"
Aduh… Kacau deh…
Mereka akan segera menyadari kami-
"Tampaknya murid-muridku sudah tiba."
Sial…
Tuan Mahajana dan Guru pasti tahu kalau aku menguping pembicaraan mereka.