
Bagus…
Setidaknya aku sudah mengerti sedikit mengenai lika-liku perjalanannya.
Walaupun begitu, aku harus mengingat dari awal sampai akhir hanya untuk satu tujuan…
Merepotkan.
Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya aku akan salah ruangan kalau tidak mengingat-ingat perjalanannya.
Ringkas saja biar tidak merepotkan.
Poin utamanya terdapat pada taman, pintu dorong yang besar, tangga, lalu tempat ini.
Karena 'taman' tidak berhubungan langsung dengan tempat ini, mari kita singkirkan 'taman'.
Ke sampingkan dulu 'tempat ini'.
Tersisa pintu dorong dan tangga. Kunci utamanya adalah 'pintu dorong', kunci terakhir ada di 'tangga'.
Aku tidak tahu tangga mana yang tadi kami lewati. Aku juga perlu mencari tahu itu juga.
Karena itu…
Nanti malam, aku harus mendatangi tempat yang terdapat pintu dorong itu, lalu berjalan menuruni tangga dan menuju ke tempat ini.
Kalau perlu, aku akan menanyakan pada Kakak Pelayan mengenai tempat ini.
Aku harus menghapal rutenya dalam semalam. Meskipun ruangan ini tidak mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan ruangan lain, aku harus mencari 'ciri khas' itu sendiri.
Setelah menemukan 'ciri khas'nya, akan mudah bagiku untuk berjalan menuju kemari.
Haaahhh…
Seandainya aku bisa melihat, aku pasti bisa langsung pergi kemana pun tanpa harus memikirkan sesuatu seperti ini.
Kondisi ini memang sangat menyedihkan.
"Kamaniai dan Gulinear sudah bangkit, kan?"
Benar…
Mereka sudah bangkit, Tuan.
Aku bisa mendengar suara lantang penuh keyakinan yang berasal dari Gulinear.
Kamaniai hanya mengiyakan dengan suara yang sangat lirih.
Ternyata sifat pemalunya itu sudah lengket dengan kepribadiannya.
Jangan-jangan sifatnya itu memang bawaan dari lahir?!
Soalnya dia selalu merasa ragu-ragu, aku sampai heran merasakan hawanya yang tidak jauh dari perasaan 'rendah diri'.
Padahal kebangkitan itu sesuatu yang membanggakan, tapi dia malah malu untuk mengakuinya.
Aku benar-benar tidak bisa memahami tingkah lakunya…
"Bagaimana kalau aku mengajari mereka juga?"
Guru selalu saja muncul dengan tiba-tiba…
Aku masih ingat kalau posisi Guru berjarak beberapa meter dari sini.
Dan lagi,
Ternyata Guru tidak sesibuk yang aku pikirkan…
"Ya sudah."
Tuan Mahajana juga langsung setuju.
Entah mengapa aku merasa aneh karena Tuan Mahajana tidak mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Sepercaya itukah Tuan Mahajana pada Guru?
"Laalit juga sudah bangkit!"
Tuan Mahajana sudah tahu soal itu, kok. Kami hanya merahasiakannya saja agar tidak menimbulkan iri dan dengki.
"Pantas saja… Aku bisa merasakannya, kekuatanmu sangat kuat untuk anak seusiamu."
Benarkah?!
Guru bisa merasakan kekuatanku?!
Guru adalah seseorang yang terpilih, sama sepertiku…??
Belum tentu juga, sih. Memangnya Guru bisa merasakan aura yang dipancarkan Tuan Mahajana?
Nah…
Berarti Guru belum tentu adalah seseorang yang terpilih-
Tunggu dulu… Bukankah aku tidak mengeluarkan kekuatanku sekarang?
Orang lain bisa melihat auraku bila aku melepaskan kekuatanku.
Tapi aku tidak melepaskannya sama sekali dan Guru tahu akan hal itu.
Hanya orang yang terpilih yang bisa merasakan aura orang lain meskipun orang tersebut tidak melepaskan kekuatannya.
Hmm…
Sepertinya terlalu cepat bagiku untuk menyimpulkan bahwa Guru adalah seseorang yang terpilih.
Bisa jadi Guru hanya asal memujiku saja barusan. Toh, aku tidak tahu apakah Guru serius atau hanya sekedar basa basi.
"Anda membawanya dari kandang singa?"
Hah?!
Aku tidak punya kandang singa…
Lagipula aku tinggal di rumah Kakak, bukan di kandang singa.
"Kita mulai dengan latihan meditasi. Jaleed, lakukan meditasi seperti yang biasa kamu lakukan. Kalau kesulitan, kamu bisa meminta bantuan padaku. Laalit akan ditangani langsung oleh Bahirun. Gulinear dan Kamaniai, duduk dengan tegap, aku akan melatih kalian mulai dari sekarang."
Ha. Ha. Ha…
Tuan Mahajana tidak menggubris pertanyaan Guru.
Kalau aku berada diposisi Tuan Mahajana, aku pasti tidak akan menggubrisnya juga.
Gulinear dan Kamaniai mengikuti instruksi Tuan Mahajana, Jaleed menyendiri, sedangkan aku masih bersama dengan Guru.
"Cari posisi ternyaman."
Aku mengangguk kemudian duduk bersila dengan kedua tangan di atas lutut.
"Bagus. Jernihkan pikiranmu agar bisa berkonsentrasi dalam setiap situasi."
Jernihkan pikiran... Jernihkan pikiran...
Walaupun penglihatanku akan sama saja ketika membuka mata ataupun menutup mata, sebaiknya aku menutup mataku agar terlihat bersungguh-sungguh dalam melakukan meditasi.
Aku memejamkan mataku dengan pelan. Sesekali memastikan posisi tangan dan kaki agar sesuai dengan tingkat kenyamananku.
"Rileks... Sekarang, aku akan membimbingmu dengan lembut. Tarik napas, tahan hingga 5 detik, kemudian hembuskan selama 4 detik."
Tarik napas. Huft...
Tahan sampai 5 detik.
1... 2... 3... 4... 5...
Sekarang hembuskan. Haaahhh...
1... 2... 3... 4...
"Jangan berhenti. Ulangi terus pernapasannya sampai aku menyuruhmu untuk berhenti."
Oke...
Tarik napas lagi. Huft...
1... 2... 3... 4... 5...
Hembuskan. Haaahhh...
1... 2... 3-
Ah!
"Tidak apa-apa, aku hanya meletakkan tanganku."
Aku tahu…
Aku tahu Guru hanya ingin membimbingku dalam melakukan meditasi.
Yang barusan itu… badanku tersentak karena merasa deja vu dengan telapak tangan yang menyentuh punggungku.
Tubuh dan jiwaku masih mengingatnya dengan jelas.
Aku merasakan rasa sakit yang tak terbendung saat Nenek memasukkan sesuatu yang menyakitkan pada inti kekuatanku.
Aku hanya takut kalau Guru akan melakukan hal yang sama padaku…
Hmm…
Sekarang aku perlu berkonsentrasi dalam bermeditasi.
Jadi, sebaiknya aku tidak berbicara terus dalam hati
"Rileks, tidak perlu tegang. Lakukan teknik pernapasan seperti yang aku ajarkan barusan."
Rileks…
Lupakan perasaan deja vu itu dan fokuslah pada meditasi…
Aku hampir melupakan soal teknik pernapasan!
Baik…
Tarik napas. Huft...
Tahan sampai 5 detik.
1... 2... 3... 4... 5...
Sekarang hembuskan. Haaahhh...
1... 2... 3... 4...
Aku mengulangi teknik pernapasan sampai merasakan sedikit pergerakan yang berasal dari dalam tubuhku.
"Kamu merasakannya?"
Iya… Aku merasakannya, Guru.
Aku merasakan pergerakannya…
Meskipun pergerakan kekuatannya berbeda dari meditasi yang biasanya aku lakukan, tapi ini cukup menyenangkan.
Sulit dijelaskan, tapi rasanya seperti digelitik sambil diterbangkan secara bersamaan.
Kira-kira seperti itulah…
"Kamu tampak menikmatinya."
Hehehe~
Itu benar, aku cukup menikmatinya.
Biasanya aku sulit terbiasa, apalagi menikmati hal-hal baru. Langsung menikmati sesuatu yang baru itu tidak ada dalam kamusku.
Namun, berbeda dengan ini. Aku langsung menikmati pergerakan ini, kekuatan yang mengalir dengan gerakan yang agak berbeda tetapi membuat tubuhku semakin nyaman dan rileks.
Guru tahu cara menyenangkan orang lain.
"Guru…"
"Ya?"
"Sedang apa yang lainnya sekarang?"
…
"Mereka sedang kesulitan dalam menggerakkan kekuatannya."
Kesulitan?
Apa mereka tidak paham dengan ajaran dari Tuan Mahajana?
Atau Tuan Mahajana mengajarkan cara yang berbeda dari yang Tuan Bahirun ajarkan?
"Mengapa pergerakan kekuatanmu menjadi kusut?"
Hah?!
Apa Guru bisa merasakan pergerakan kekuatanku dari tadi?
Jangan-jangan Guru mempunyai kemampuan yang luar biasa sampai bisa merasakan pergerakannya dari luar tubuhku?
"Apa Guru bisa merasakan pergerakan kekuatanku dari luar??"
"Apa maksudmu?"
A-Apa aku salah bicara?
"Aku tidak merasakannya, tapi aku melihatnya. Ya, aku bisa melihat pergerakan kekuatanmu dari sini."
Ternyata saat melakukan meditasi dengan menggerakkan kekuatan, pergerakannya akan terlihat dari luar.
Aku baru tahu akan hal itu…