Blindsight

Blindsight
Teror Mimpi



*TAP*


Aku melangkahkan kakiku lurus ke depan, mencari jalan keluar dari tempat yang memuakkan ini.


"Mau ke mana?"


Bukan urusanmu…


"Mau ke mana?"


Diam…!


Berhenti menanyakan hal yang sama padaku!


Aku mempercepat langkahku menjadi setengah berlari.


"Mau ke mana?"


Tentu saja mencari pintu keluar!


"Kenapa?"


Hah?


Ternyata kamu bisa menanyakan hal yang lain juga…


Kukira yang kamu bisa cuma menanyakan 'mau ke mana'.


"Kenapa?"


Sekarang, kamu menanyakan hal lain yang berulang selain 'mau ke mana'…


"Kenapa?"


Ugh… Tidak bisakah menanyakan hal yang lain saja?


Suaramu benar-benar menggangguku…


Aku mempercepat langkahku hingga berlari dengan terbirit-birit.


"Kenapa?"


Berisik!


"Kenapa?"


Diam…


"Kenapa… Kenapa?"


Hentikan…!


Aku… Aku hanya…


"Kenapa… Kenapa… Kenapa…?"


Itu…


Itu karena…


"Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…?"


Sebentar, biarkan aku menjelaskannya dulu…


"Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…"


Kepalaku pusing…


"Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…"


Hentikan… Hentikan…!!


"Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa… Kenapa…"


.......


.......


.......


.......


HAH!


"Ah… Hah… Hah…"


Lagi-lagi seperti ini… Mimpi yang sama seperti kemarin…


Ada apa dengan mimpi ini?


Sebenarnya, apa arti dari mimpi yang terus berulang ini?


Mimpi ini…


Apa mimpi ini muncul dikarenakan kekuatan yang diberikan oleh Neneknya Gulinear?


Apa kekuatan ini sedang menggangguku terus-terusan lewat mimpi?


Bahkan suaranya masih terbayang dengan jelas walaupun aku sudah bangun dari mimpi…


Selain itu, suaranya juga sama persis, bahkan kejadian per kejadian juga monoton.


Mulai dari berjalan, terdapat suara-suara yang mengganggu, sampai pada akhirnya aku melarikan diri dari kejaran suara itu.


Sesekali mimpinya diganti, dong!


Kalau selama seminggu diberikan mimpi yang sama, orang pasti akan berada di titik jenuh juga.


Oke, cukup dengan semua bercandaan ini. Lebih baik aku mengatur napasku sekarang.


Dengan napas yang tersengal-sengal, perlahan aku bangkit, memegangi kepalaku yang masih terasa pusing.


"Sakit sekali, apalagi yang di dahi. Mungkin kalau aku merilekskan tubuhku, sakit kepala ini akan berkurang."


Aku memijat dahi dengan gerakan memutar, sesekali menekan ringan di titik tertentu lalu menggerakkan jari ke arah vertikal.


Setelah beberapa menit, rasa sakit di kepalaku berkurang.


Yang tersisa sekarang adalah… Kepalaku terasa pegal-pegal…


Coba pakai cara yang lain…


Aku memundurkan badanku agak ke belakang, menumpukan bobot punggungku sampai bisa bersandar sepenuhnya di bagian headboard.


Tidak lupa aku menarik napas panjang, lalu membuangnya secara perlahan supaya aku bisa bernapas dengan rileks.


Sesekali, aku mengedipkan mataku karena bosan. Seperti biasa, mataku terbuka lebar tapi aslinya kosong.


Ruangan ini terlihat gelap pun aku tidak masalah, toh aku masih bisa mengetahui tata letak bendanya.


Tata letak benda, ya…


Aku jadi teringat dengan yang barusan, saat kami bersama-sama merayakan kebangkitan Gulinear.


Tentu saja bukan perayaan besar-besaran. Hanya berbagi cerita saja, kok.


Itu pun kami sudah menganggapnya sebagai perayaan yang menyenangkan.


Sebelum itu, kami mempersiapkan tata letak benda yang diperlukan.


Kami mengambil kursi dari ruangan lain, lalu memindahkannya kemari.


Kursinya kami letakkan berhadap-hadapan. Mau duduk di kursi yang mana, itu terserah saja.


Setelah itu, Gulinear ingin kami masing-masing bercerita tentang pengalaman yang paling berkesan dalam hidup.


Gulinear menceritakan pertemuannya dengan Tuan Mahajana yang sangat ia kagumi.


Kami mendengarkannya selama kurang lebih 2 jam.


Aku tahu kami mendengarkannya selama 2 jam karena Kakak pelayan mengatakan hal yang berhubungan dengan itu.


Jaleed bercerita saat membaca buku untuk yang pertama kalinya.


Katanya sih, buku itu berisi resep-resep dalam membuat makanan.


Jaleed juga mengatakan, dia bisa memasak dan membuat kue karena membaca buku itu.


Kalau Kamaniai… Pengalaman yang paling berkesan baginya adalah, saat bisa memekarkan bunga untuk pertama kalinya.


Menurutku, kemampuannya itu memang mengagumkan, bahkan ia bisa merias wajah hanya dengan mengarahkan serangannya kepada orang lain.


Kebetulan, giliranku bercerita diurutan terakhir. Aku hanya mengatakan tentang sayur sop buatan Kakak sangatlah lezat.


Wortel yang legit, kuah yang ringan, dan daging yang gurih, semuanya menjadi satu!


Mereka serius mendengar ceritaku, bahkan aku sempat merasakan hawa kekaguman beberapa kali.


Saat aku sudah selesai bercerita, Gulinear bilang bahwa dia rindu dengan Kakak. Dia juga ingin mencoba sayur sop buatan Kakak.


Mereka memang sangat dekat, Gulinear dan Kakak itu sudah seperti bunga yang berbeda dari taman yang sama.


Aku senang melihat keakraban mereka…


Setelah semuanya merasa lelah, Jaleed memberikan sesuatu pada Gulinear lalu angkat kaki meninggalkan kami.


Kamaniai berbincang sebentar sebelum akhirnya berpamitan untuk tidur.


Tinggal yang tersisa di sana hanyalah kami berdua. Aku mengucapkan selamat pada Gulinear atas kebangkitannya.


Hadiahnya… Sebagai penebusan karena aku sudah beberapa kali berbuat salah pada Gulinear, aku memperlakukan Gulinear layaknya seorang putri.


Aku menggendong Gulinear di bagian belakang, mengantar Gulinear hingga sampai di kamarnya.


Sebelum aku meninggalkannya, Gulinear mencegahku, menyuruhku tetap di sana karena dia ingin mengatakan sesuatu.


"Laalit… Jangan sembunyikan apapun dari Gulinear lagi, ya?"


Maaf, Gulinear… Sebenarnya, aku masih menyembunyikan beberapa hal darimu…


Tapi, aku tidak bisa mengatakannya untuk saat ini. Suatu hari, aku pasti akan mengatakannya padamu. Aku janji…


Selepas itu, aku mengucapkan selamat tidur pada Gulinear, membalikkan badan dan menuju ke kamar untuk tidur.


Dan di sinilah aku sekarang, hanya duduk termenung sambil mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi.


Sebentar…


Kurasa, diam di sini tidak ada gunanya. Lebih baik aku menggerakkan badanku sedikit.


Aku menapakkan kakiku ke lantai, berjalan mengelilingi kamar.


"Hah… Cuacanya lumayan dingin…"


Agar kekuatanku cepat beradaptasi, aku bermeditasi seraya berjalan menuju pintu kamar.


Selain membuat perasaan menjadi tenang, meditasi juga bisa memperbaiki aliran kekuatan yang berantakan.


Saat melakukan meditasi, inti kekuatan perlahan mengatur gerak kekuatan agar bergerak lebih stabil.


Jadi, gerakan yang membuat tubuhku sakit, seperti gerak kekuatan yang terlampau cepat, bisa distabilkan dengan melakukan meditasi.


Aku menggeser pintu keluar kemudian menutupnya kembali.


Aku lalu melangkahkan kakiku menuju ke ruang tengah.


Sambil melangkah, aku mencoba merasakan keberadaan orang lain yang ada di sini.


Tidak seperti biasanya. Pagi ini, tidak ada satupun pelayan yang berlalu lalang.


Omong-omong…


"Ini… Kenapa keadaannya hening sekali?"


Apa para Kakak pelayan sedang libur kerja?


Mungkin iya…


Untung mengisi waktu luang, aku melanjutkan langkahku lurus ke dalam.


Semakin ke dalam, semakin ku rasakan kesenyapan di sini.


Keadaan yang hening ini tidak seperti biasanya, sama sekali tidak ada pergerakan dari mana pun. Aku hanya merasakan pergerakan pada kakiku sendiri.


Hmm…


Haruskah aku kembali ke kamar?


"Apa ini? Aku bertemu denganmu lagi, murid baru."


Orang ini…


Dia yang tadi!