Blindsight

Blindsight
Persiapan Latihan



"Nih, pedangmu."


Aamod melempar sesuatu kepadaku. Aku refleks menangkap benda yang dia lempar padaku.


"Ini…"


Aku kira pedang ini sudah hilang karena terjatuh di suatu tempat saat aku terbawa angin.


Saat di rumah Gulinear waktu itu, aku mencarinya susah payah dengan mengelilingi seluruh kamar Gulinear yang ukurannya seperti gabungan dapur + ruang tamu di rumah Kakak.


Itu hanya kamarnya saja, bahkan berjalan ke ruang makannya saja sepertinya sangat jauh sekali.


Luar biasa, kurasa dia benar-benar berasal dari keluarga terpandang.


Saat akan pulang pun, aku mengelilingi kamar Gulinear sekali lagi lalu aku mengelilingi sambil meraba-raba bagian ruang makan untuk menemukan pedang milikku.


Ternyata… Ternyata pedangku masih di sini.


"Pedang Spatha!"


Aamod mengeluarkan sesuatu yang sepertinya adalah pedang miliknya.


Aku membantunya karena Aamod sepertinya agak kesulitan untuk mengeluarkan pedangnya.


Ternyata pedang milik Aamod bernama 'Pedang Goujian'.


Pedang Goujian terbuat dari tembaga. Ujungnya terbuat dari timah sehingga permukaan ujung pedang tersebut terasa lebih keras.


Kurasa, ujung pedang ini mampu mempertahankan bagian tepi agar tetap tajam.


Pedangnya juga sangat besar dan berat. Aku bahkan tidak mampu memegang ini seutuhnya tanpa bantuan elemen angin, jadi sekarang Aamod sedang mengangkat pedangnya dan aku mencuri kesempatan merabanya walaupun hanya sesaat.


Aamod ternyata memang kuat. Aku bahkan tidak bisa mengangkat pedang ini walaupun sedikit dengan tenagaku sendiri, tanpa elemen angin.


"Makasih, bro."


Ternyata itu panggilan baruku, ya…


Ternyata Aamod agak gaul…


"Untung saja pedangmu tidak hancur. Kukira pedangmu sudah hancur saat kau menggunakan kekuatanmu sampai membuat semuanya tak berbentuk, ternyata pedangmu berada di sekitar sini. Sepertinya kau menjatuhkannya saat terbang melayang ke arah sana."


Aamod menunjuk ke suatu tempat yang aku tidak ketahui itu tempat apa.


Lagipula, aku tidak bisa melihat tangannya menunjuk ke arah mana.


Aku hanya bisa merasakan bahwa tangannya agak sedikit terangkat saja.


Aamod kadang lupa kalau aku adalah seorang tunanetra.


"Aku ingin kau memanggilku 'Laalit' saja, aku kurang suka dipanggil 'Bro'."


Aamod hanya tertawa lalu membersihkan pedangnya.


"Panggilan 'Bro' itu aku tujukan bila orang tersebut sudah cukup dekat denganku. Kau ini kan sudah seperti adikku, jadi akan terasa lebih dekat kalau aku menyebutmu 'Bro'."


Aku hanya menggeleng-geleng kepala, menganggap nama panggilan itu tidaklah penting.


Apa gunanya nama panggilan, lebih bagusan juga memanggil nama asli.


"SEMANGAT, YA! KAKAK AKAN MELIHAT DARI SINI!"


Dari kejauhan, Kakak berteriak dan menyemangati kami sambil melambaikan tangan.


Aamod tiba-tiba terasa sangat senang dan hawanya sangat bahagia.


"KAKAK! KAKAK GAK MAU BERLATIH BERSAMA KAMI? AKU BISA MENGAJARIMU, AKU SANGAT PANDAI MENGAJARI ORANG LAIN. LIHAT ADIKMU, AKU SUDAH MELATIHNYA MENJADI MONSTER KECIL. KALAU KAKAK MAU KU AJARI, KAKAK AKAN MENJADI SANGAT KUAT DAN BISA MENJADI SEORANG PETARUNG!"


Aamod, sepertinya kau sudah lupa apa yang kau lakukan padaku sebelumnya.


Kau melakukan hal berbahaya dengan menyalurkan elemen apimu ke pedang, lalu menyerangku secara mendadak dengan itu.


Aku hanya berharap bahwa kau tidak akan gegabah seperti waktu itu, tapi…


Aku khawatir kalau Kakak diajari oleh orang sepertimu.


"KAKAK! JANGAN MAU DIAJARI OLEH AAMOD, DIA BERBAHAYA! DIA TIDAK PANDAI MENGAJARI ORANG LAIN. BEBERAPA HARI YANG LALU SAAT KAMI SEDANG LATIHAN TANDING, AAMOD MENYALURKAN ELEMEN API PADA PEDANGNYA, LALU DIA MENYERA- UMMPHH!"


Aamod menutup mulutku dengan telapak tangannya yang bau.


"UMMPHH! HMMPHH!"


Pasti dia hanya mencuci tangan pada saat mandi saja, aku bahkan tidak pernah melihatnya mencuci tangannya saat mau makan.


Aku memang harus berusaha melepaskan diriku dari tumpukan kuman ini.


Aamod! Sial, dia kuat sekali! Aku sudah meronta-ronta tapi belum bisa lepas dari telapak tangannya.


"HEI! LEPASKAN ADIKKU!"


Aamod langsung melepaskan telapak tangannya yang sedari tadi membuatku hampir pingsan.


"Huft… Huft…"


Aku ngos-ngosan dan berusaha mengumpulkan udara ke paru-paruku karena tadi yang ku hirup di telapak tangan Aamod bukanlah oksigen, tapi karbon dioksida.


"Apa yang kau lakukan tadi?! Kenapa tiba-tiba menutup mulut adikku seperti itu?! Lihat, sekarang dia bahkan terengah-engah karenamu. Laalit, kamu tidak apa-apa?"


Tanpa aku sadari, ternyata Kakak sudah berada di sampingku.


Aku tersenyum lalu mengangguk pada Kakak.


Kakak masih memarahi Aamod dan Aamod hanya ciut saja, dia tidak berani melawan Kakak.


Padahal aku juga salah sih, Kakak saja yang tidak tahu.


Aku tidak ingin Kakak memarahi Aamod, tapi aku juga tidak mau dimarahi oleh Kakak. Jadi berjuanglah, Aamod.


Masih menunggu mereka, aku pun berusaha mengumpulkan kekuatan elemen anginku.


Aku ingin sejuk kembali dan membuat angin beterbangan di sekitar tubuhku.


"Laalit! Jangan gunakan kekuatanmu dulu!"


Oh iya, kata Aamod kan, tubuhku terbebani karena elemen angin yang ku keluarkan saat latihan terlalu besar.


Untuk sementara, aku tidak boleh menggunakan elemen anginku dulu, agar aku tidak kambuh lagi dan tubuhku juga tidak terbebani.


Aamod perlahan menuju ke sini, berarti Kakak sudah selesai memarahinya.


Aku mencari keberadaan Kakak dan aku menemukan Kakak sedang duduk di sampingku dalam jarak 6 meter.


Aku perlahan mendekat pada Kakak dan memberinya pelindung agar Kakak tak terluka pada saat kami sedang latihan bertanding.


"A-apa ini?"


Masih dengan ekspresi terkejut, Kakak menyentuh sekeliling pelindung tersebut.


"Ini pelindung, Kak. Ini akan membuat Kakak agar aman untuk sementara. Aku tidak mau Kakakku terkena serangan pada saat kami sedang latihan bertanding, jadi aku akan memberikan pelindung ini pada Kakak."


Kakak hanya menurut saja. Aku lalu kembali berjalan menuju Aamod.


"Hei! Apa itu?! Kau tidak pernah menceritakan hal ini padaku."


Aku hanya menunduk pelan,


"Nanti akan aku ceritakan. Nanti saja, ya."


Sambil berbisik, aku pun mengatakannya pada Aamod agar Kakak tidak mendengar percakapan kami.


Malam itu, Nenek memang mengatakannya. Nenek berkata bahwa dia sudah memberitahu cara membuat mantra pelindung saat memberikan mantra pelindung.


Tapi, bagaimana caranya? Apa setelah dia memberikan perlindungan padaku, aku langsung bisa mengeluarkan mantra pelindung juga?


Tapi, aku memang langsung tahu mantra apa yang harus diucapkan.


Padahal, aku tidak pernah mempelajarinya atau mendengarnya di manapun!


Neneknya Gulinear memang sangat misterius dan kuat.


Aku lalu merilekskan tubuhku agar nyaman untuk bergerak saat latihan bertanding.


"Seranglah aku duluan, aku ingin melihat bagaimana perkembanganmu setelah ku latih dengan tegas."


Memang, Aamod melatihku dengan keras seperti neraka.


Sebenarnya yang paling kutakutkan sekarang adalah dia menggunakan elemen apinya.


Kalau dia memang menggunakan elemen apinya, aku harus menggunakan elemen anginku juga.


Aku harus melindungi diriku dengan cara apapun, walaupun menggunakan elemen yang membebani tubuhku sekalipun.