
"Huft… Huft…"
"Usahamu cukup bagus. Kita akan lanjutkan lagi nanti sore."
Aku mengangguk lalu mengelap keringatku yang bercucuran di sekitar wajah.
Tubuhku juga penuh keringat, rasanya sangat lengket. Setelah ini, aku harus mandi sebersih mungkin.
"Baik! Selanjutnya adalah push up! Sekarang, aku akan menuntunmu cara melakukan-"
"Kepalaku agak sakit sekarang. Biarkan aku beristirahat sebentar, Aamod…"
Aku memejamkan mataku lalu meregangkan tubuhku agar rasa capeknya berkurang.
"Ini enak sekali…"
Angin menyapu sebagian keringatku, membuat tubuhku seketika terasa ringan.
Kelelahan yang kurasakan semenjak tadi, perlahan sirna diikuti dengan suara alat musik yang terdengar merdu…
Cuacanya sejuk walaupun siang hari, ini membuatku agak mengantuk.
Aku tanpa sadar tertidur di rerumputan yang luas namun menenangkan.
...*TING*...
...Suara apa… Ini?...
...Ini… Ini suara piano yang biasanya kudengar. Jari-jari yang elegan dan menekan tuts dengan lemah gemulai, sepertinya ini adalah orang yang sama....
...Dan lagu yang dia mainkan hari ini adalah…...
...Moonlight Sonata?!...
...Aku mendengarnya lagi hari ini… Apa dia tidak pernah bosan memainkannya terus?!...
...Meskipun kau memainkan lagu ini terus sepanjang hari, aku tidak akan pernah bosan....
...Aku bahkan sampai hapal ke mana dia akan meletakkan jarinya setelah ini....
...*TING*...
...Sekarang adalah bagian ke 3 nya…...
...Bagaimana bisa seorang manusia menggerakkan jarinya dengan cepat seperti itu…...
...Jari lentiknya… Menekan tuts secara bergantian. Senyum di wajahnya yang indah itu membuat permainan pianonya semakin bagus…...
...Indah… Aku ingin mendampingimu… Melihat matamu yang berwarna biru laut lebih dekat…...
...Memelukmu dari belakang…...
...Membelai rambutmu yang panjang dan indah…...
...Memberi cincin ke jarimu…...
...Dan memberikan senyummu yang cerah itu kepadaku…...
...Tapi aku juga tidak boleh membahayakan dirimu, sayang…...
...Bila keadaannya sudah aman, aku akan menjemputmu dan membawamu pulang ke rumah…...
...Aku juga akan membelikan piano yang jauh lebih indah daripada yang kau mainkan sekarang…...
......Aku ingin kau memainkan tuts piano untukku…......
"Sepertinya dia sedang bermimpi indah."
"Kurasa juga begitu, wajahnya sedang tersenyum sekarang. Rona di pipinya juga agak memerah, mimpi apa ya adik kecilku?"
Suara ini… Siapa yang membangunkanku?! Tolong jangan bangunkan aku dulu.
Aku sedang bermimpi indah sekarang, jadi jangan ganggu aku.
"Lihat, rambutnya lucu ya~"
Perlahan ada tangan yang memegangi rambutku. Tangan itu memainkan rambutku dengan menggulung-gulungkan rambutku.
"Hi hi hi! Adik kecilku memang menggemaskan."
Berhenti menggangguku, dasar menyebalkan…
Tangannya masih saja memainkan rambutku, aku harus menjauhkan tangannya dari rambutku.
Dengan kasar, aku menepis tangannya lalu memegangi rambutku.
"Adik kecilku ternyata kasar ya sekarang…"
Aku merasakan bahwa pinggangku sedang dicubit saat ini.
"Aww!"
Dengan marah aku bangun dan merapikan rambutku.
"Tuts piano…"
"Aku ingin main piano…"
Tiba-tiba bahuku seperti diguncang dan kepalaku mendadak pusing karena itu.
"Kau… Kau GILA YA?! PIANO ITU KAN HARGANYA MAHAL SEKALI, SEUMUR HIDUP AKU SAJA TIDAK SANGGUP MEMBELINYA!"
Pasti yang barusan berteriak itu Aamod…
"Tidak bisakah kau tidak berteriak seperti itu, Aamod?!"
Aamod menggaruk rambutnya lalu tertawa dengan keras.
Sudah kuduga dia perlu keramas…
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin bermain piano?"
Kakak mendekat lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
"Oh… Tadi aku bermimpi ada seseorang yang memainkan piano, permainannya sangat indah."
Masih mengelus rambutku, Kakak tersenyum dengan lembut dan hanya mengangguk menanggapi jawabanku.
"Itu kan hanya mimpi… Lagipula, kurasa kau tidak akan bisa memainkannya. Selain mahal, piano itu juga sulit untuk dimainkan."
Kau meremehkanku, ya…
"Kalau aku bisa memainkannya, bagaimana?"
Aamod lagi-lagi menertawaiku...
"Sit up saja kau kesulitan dan hampir menyerah, mana mungkin kau bisa memainkan piano yang lebih sulit daripada sit up, hmm?"
Sesulit itukah mempelajari piano? Kukira hanya menekan-nekan saja dengan jari, lalu bersikap anggun.
"I-Itukan berbeda, lagi pula akhirnya kan aku tidak menyerah dengan sit up. Bermain piano itu kan tidak perlu tenaga, hanya menekan-nekan saja dengan jari. Aku rasa aku bisa mempelajarinya dengan cepat."
Hawa Aamod terasa senang tapi meremehkan sedikit.
"Hanya mendengarnya dari mimpi saja lalu kau ingin bermain piano, aku yakin kau akan cepat menyerah. Mimpi itu hanya sesaat, tetapi bila kau mempunyai keyakinan yang kuat, maka hal tersebut bukanlah sesaat tetapi selamanya. Seperti aku, aku yakin kalau aku bisa menguasai teknik berpedang. Aku kemudian membeli pedang dan berlatih dari umur 15 tahun. Karena aku yakin dan giat berlatih, aku akhirnya bisa menguasai teknik berpedang dengan hebat. Seperti yang sudah kau rasakan saat kau bertarung denganku, kemampuan berpedangku tidak main-main, kan?"
Aku menanggapi pertanyaan Aamod dengan anggukan.
Aamod benar, kemampuan berpedangnya memang sangat baik.
"Kalau kau ingin belajar piano, pertama-tama kau harus membelinya dengan biaya yang mahal, lalu berlatih dengan guru yang dibayar mahal juga, setelah itu kau harus giat berlatih juga agar kau cepat mahir. Sejujurnya, aku tidak tahu bermain piano itu mudah atau sulit, tapi pasti butuh usaha keras agar bisa memainkan beberapa lagu. Kau harus punya tekad, bukan hanya mimpi semata. Lagi pula, piano itu harganya mahal sekali, hanya orang yang terpandang saja yang bisa membeli dan memainkannya. Lebih baik tidak usah, kalau kau memang ingin bermain alat musik, coba mainkan saja alat musik yang harganya lebih terjangkau, seperti gitar. Kudengar dari temanku, belajar gitar itu mudah dan kau akan bisa memainkan lagu hanya dalam waktu beberapa minggu."
Ternyata piano itu harganya mahal sekali, ya… Sepertinya memainkannya cukup sulit sampai harus mencari guru yang dibayar mahal juga.
Kakak pasti akan sangat terbebani kalau aku ingin belajar piano.
Kukira bermain piano itu cuma menekan beberapa tuts saja. Di mimpiku tadi, kedengarannya hanya menekan beberapa tuts saja dengan cepat. Kukira itu mudah, ternyata cukup sulit.
Dan aku juga harus mempunyai tekad yang besar, bukan hanya tertarik memainkannya karena mimpi.
Kurasa aku hanya sekedar tertarik saja, bukan ingin mempelajari dan memainkannya.
"Gitar itu… Bentuknya seperti apa?"
Aamod sepertinya sedang berpikir bagaimana menjawab pertanyaanku ini.
"Gitar itu terbuat dari kayu, bentuknya seperti angka 8, cara memainkannya dengan dipetik. Kalau kau ingin mempelajarinya, kapan-kapan aku akan mengajakmu bertemu dengan temanku yang ahli bermain gitar."
Oh, jadi gitar itu terbuat dari kayu, ya.
"Apakah gitar berat?"
"Entahlah, soalnya aku tidak pernah memegangnya. Kalau aku sih, pasti tidak akan keberatan memegangnya. Aku ini kan sangat kuat!"
Aamod mengangkat lengannya lalu memamerkan ototnya.
Kakak memperhatikan otot-otot Aamod dan wajahnya terlihat… Kagum?
Entahlah, itu bukan urusanku…
"Angka 8 itu, seperti apa?"
Aamod menyuruhku membuka telapak tanganku lalu dia seperti membentuk sesuatu dengan menggunakan jarinya.
"Apa cukup jelas?"
Aku mengangguk. Barusan, telunjuk Aamod menyentuh telapak tanganku kemudian seperti menggambar sesuatu di telapak tanganku.
Ternyata angka 8 bentuknya seperti itu...
"Dipetik itu bagaimana?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Nanti kau pegang saja langsung gitarnya, pasti kau langsung tahu."
Aku cuma mengangguk tetapi entah kenapa tidak terlalu penasaran dengan alat musik bernama 'gitar' itu.
Sepertinya aku cuma penasaran saja, tidak sampai ingin memainkan kedua alat musik tersebut.
"Kau makan siang dulu. Setelah itu, aku akan mengajarkan padamu cara melakukan push up."