
Sudut pandang Laalit
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan..
Mulai dari :
• Bangun tidur,
• Sarapan,
• Berkeliling rumah,
• Makan siang,
• Pergi ke pasar,
• Ke tempat pelatihan,
• Bertemu dengan Pria tua yang mengagumkan,
• Pulang dengan menunggang kuda.
Padahal ini hari pertamaku membuka mata dan berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
Kupikir tidak akan berjalan lancar karena aku tidak ingat apapun, tapi sepertinya aku salah..
Aku bersyukur karena hari ini benar-benar hari yang menyenangkan, kurasa aku bisa mengingatnya seumur hidupku.
Tapi, aku penasaran dengan hari-hari yang kujalani sebelum hilang ingatan. Seperti apa, ya?
Apakah lebih menyenangkan dari pada hari ini? Apakah lebih menantang juga?
Aku jadi berpikir kalau aku dulunya adalah seorang tukang kebun, soalnya aku paham sekali sama bunga-bungaan.
Aku juga lumayan paham soal nilai seni, apakah aku dulunya sekolah di sekolah kesenian?
"..-Mau kubantu?"
Aku seketika berhenti dan mengarahkan kepalaku ke arah Kakak, posisinya lumayan jauh dari sini.
"Bajunya di mana ya, Kak?"
Kakak menuntunku menuju tempat diletakkannya baju.
Sepertinya Kakak mengambilkan baju untukku. Syukurlah, karena aku memang tak tahu letak bajunya di mana.
"Makasih ya, Kak."
Kakak langsung ke ruang makan sehingga tidak mendengar ucapanku barusan.
Aku keluar dari ruangan tersebut kemudian menuju ke kamar mandi.
Kakak menanyakan sesuatu sehingga langkahku terhenti sebentar,
"Tunggu sebentar, kamu tidak mau makan malam dulu?"
Aku hanya menggeleng dan langsung masuk menuju pintu kamar mandi.
Aku benar-benar lelah, setelah mandi aku ingin langsung tidur saja.
Aku kemudian menggantung bajuku di gantungan baju.
"Hmm.. Sepertinya rambutku agak lepek, sebaiknya aku keramas."
Pelan-pelan aku meraba benda-benda di kamar mandi untuk mencari sampo.
"Ah, tidak ada di sini sepertinya. Apa di sebelah sana ya."
Aku kemudian berbalik-
"Kamu tidak mau di man-"
"KAKAKKK!"
Saking kagetnya, aku buru-buru menutup bagian asetku, bukannya menutup pintu duluan, bodoh sekali..
Untungnya kakak cepat-cepat menutup pintu kamar mandinya.
Pelan-pelan aku mengunci pintu kamar mandi. Bagaimana aku bisa sebodoh ini, lain kali aku harus mengeceknya dulu.
Aku kemudian terduduk bersender di pintu, wajah dan telingaku terasa sangat panas.
I-itu.. Itu sangat memalukan, kenapa Kakak tiba-tiba membuka pintu kamar mandi seperti itu.
Apakah Kakak melihat semuanya? A-Aku rasa tidak, kan aku langsung menutupnya..
"...-lit?? ADA APA?!"
*DEG*
Ke-kenapa Kakak mendorong pintunya barusan?
*DEG*
Kenapa.. Kenapa melakukan hal ini padaku?
Sudah, diamlah! Apa karena kamu cacat makanya kamu tidak mengerti walaupun sudah sering kukatakan?!
Tapi.. Aku tidak mau, kumohon.. Aku mohon selain ini..
Diam atau aku akan memukulmu! Dasar cacat!
*DEG*
"TIDAK!"
Yang barusan itu adalah refleks, aku berteriak dan berusaha melindungi tubuhku.
Tanpa kusadari, pipiku sudah sangat basah.
Tapi, tadi itu apa? Kenapa rasanya sangat sesak.. Kenapa rasanya sangat sakit? Aku benar-benar takut..
Seluruh tubuhku gemetar sambil meringkuk ketakutan.
Tenanglah Laalit, itu pasti cuma khayalanmu. Sepanjang hari aku sama sekali tidak merasakan adanya hawa yang sangat menakutkan seperti suara yang mengerikan itu.
Ingatlah hari ini kau bertemu siapa.. Ingat bahwa hari ini kau sudah mendapatkan ilmu baru.
Tuan Mahajana adalah Pria tua yang kuat tapi misterius dan Aamod adalah Pria yang hawanya selalu positif tapi sifatnya agak konyol.
Hari ini benar-benar sebuah pengalaman untukku, aku tidak boleh terpengaruh oleh khayalan suara itu.
Telapak tangan menutupi wajahku, wajahku gemetaran menahan tangis, dan bibirku tertahan takut.
Pelajaran memanah.. Itu juga hal yang menyenangkan, Itu juga..
Dasar cacat!
*DEG*
Tangisanku pecah, sepertinya suaranya menggema di seluruh kamar mandi.
Aku.. Aku juga tidak ingin cacat seperti ini..
Aku juga ingin melihat seperti yang lainnya..
Aku penasaran bagaimanakah itu warna..
Aku ingin tahu bagaimana bentuk air..
Indah itu seperti apa?
Seperti apa warna hijau?
Seperti apa bentuk awan?
Seperti apa bentuk matahari?
Seperti apa bentuk bintang-bintang di langit?
Aamod bilang bahwa bintang-bintang itu sangatlah indah, aku penasaran bagaimana itu 'indah'..
Aamod ya.. sepertinya aku mendengar suaranya barusan.
"Ba-bagaimana ini? Adikku, dia hanya diam saja dari tadi! Coba kamu cek sebentar ke kamar mandi.."
*Tok.. Tok.. Tok*
"Oi.. Laalit! Kau masih hidup, kan?"
Aku tidak mau meresponnya..
"Ah.. sepertinya dia sudah mati, Kak. Aku akan bersiap-siap mendobrak pintunya dan membawa jenazahnya."
Dasar gila..
"..."
"Aku masih hidup, kok."
Tawa Aamod terdengar sampai dalam sini.
"Masih hidup dia, silahkan dicek sendiri keadaan adiknya."
Hah.. Kenapa sih sifat konyolnya itu tidak pernah berubah?
"Laalit.. Kamu tidak apa-apa, sayang? Kakak cemas karena kamu berteriak seperti tadi.."
Masih dengan wajah yang memanas, aku menanyakannya,
"Kakak… Tadi… Kenapa tiba-tiba membuka pintu seperti… itu?"
"..."
Kenapa Kakak… diam saja?
"Oh… Itu… tadi Kakak mau menggosok punggungmu seperti tadi pagi."
Aku sudah lupa kalau tadi pagi Kakak melakukan itu…
"Aku… Aku bisa melakukannya sendiri, kok"
"Mana bisa begitu, pasti akan kesulitan. Ayo, biarkan Kakak masuk dan menggosok punggungmu."
Aamod, dasar sialan. Lagi-lagi dia menertawaiku…
"Kakak ini~ Harga dirinya sebagai pria sudah tercoreng karena Kakak~ Kenapa Kakak tidak mengerti, sih?"
Ukh… Ini memalukan, tapi yang Aamod katakan sejujurnya benar.
Kakak sepertinya tidak menganggapku sebagai laki-laki…
"Kenapa 'tercoreng'? Memangnya aku melakukan apa sampai harga dirinya 'tercoreng'?"
Aamod tertawa semakin keras dan membuat wajahku semakin panas
Kakak, bisakah Kakak tidak mengulang-ulang kalimat memalukan itu?
Aku benci ini… Tubuh, cepatlah tumbuh dewasa agar Kakak paham betapa berbahayanya laki-laki itu.
"Haduh, haduh. Sini, biar Abang yang gosok!"
"Tu-tunggu, kenapa harus kamu? Biar aku saja, seorang Ibu harus mengurus anaknya dengan benar!"
Jadi seperti itu aku di mata Kakak…
"KAU BUKAN IBUKU!"
"Anakku, teganya dirimu membuang Ibu…"
Aku tahu Kakak sedang menggodaku sekarang. Dasar Aamod, dia menularkan sifatnya kepada Kakak. Harusnya aku tidak menyuruhnya masuk tadi.
"Abang sudah sangat kedinginan nih, biarkan Abang masuk kesitu!"
Mandi saja sendiri, kenapa memaksa…
Mau tidak mau, aku membuka pintu kamar mandi.
.......
.......
.......
Akhirnya aku bisa tiduran di ranjang yang empuk ini~
"Akhirnya aku bisa tiduran di ranjang yang empuk ini~"
Apa Aamod bisa membaca pikiran orang lain?
Kami tidur di satu ruangan karena kamar yang lainnya belum sempat dibersihkan, masih banyak debunya.
Meskipun seruangan, kami tidur di ranjang yang terpisah. Aku tidak mau seranjang dengannya…
Kalau Kakak, tentu saja Kakak tidur di kamarnya.
"Kau sudah tidur?"
Mataku memang tertutup, tapi aku masih sadar sepenuhnya.
Aku tidak membalas pertanyaan Aamod karena aku tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengobrol panjang lebar dengannya.
"Sebenarnya tadi aku mendengarmu menangis. Kakakmu tadi sedang beberes di ruang tamu sebentar, jadi dia tidak mendengarnya. Sebenarnya, aku memaksa masuk ke kamar mandi untuk memeriksa keadaanmu."
"Besok aku akan mengajarimu teknik dasar berpedang."