
"Elemenku adalah angin."
Barusan, Kamaniai menanyakan apa elemen kekuatanku.
Sebelum itu, dia menjelaskan bahwa elemen kekuatannya adalah…
Angin!
Iya, elemen kami sama-sama angin. Setelah kurasakan, Kamaniai masih ditingkat Value.
Bukan 'masih' tapi 'sudah'. Kamaniai bangkit baru-baru ini dan menguasai satu kemampuan bukanlah hal yang mudah, tentu saja aku tidak boleh meremehkannya.
"Aku tidak mengira kalau elemen kita sama."
Aku juga tidak mengira begitu…
Benar-benar suatu kebetulan yang bagus!
"Umm… Karena kamu sudah bangkit saat umur 7 tahun, kamu pasti sudah sangat mengerti bagaimana cara menggunakan elemen angin yang benar. Jadi… Bisakah kamu mengajariku?"
Walaupun aku sudah bangkit dari umur 7 tahun, bukan berarti aku sudah sangat mengerti tentang elemen angin, Kamaniai…
Mengajari Kamaniai cara menggunakan elemen angin…
Bukankah itu memang tujuannya?
Tujuanku memberitahunya kalau aku sudah bangkit adalah agar kami bisa saling membantu satu sama lain, termasuk cara menggunakan elemen angin secara efektif. Tentu saja jawabannya juga sudah jelas.
Aku mengangguk sebagai tanda persetujuan bahwa aku memang akan sukarela membantunya.
"Kalau begitu… Aku akan menunjukkan kekuatanku."
Kamaniai mengambil suatu benda kemudian meletakkan di tangannya.
*PSHHH*
Dia kemudian mengeluarkan kekuatannya dan mengangkat benda tersebut hingga melayang.
*CTAS*
Setelah terdengar sedikit bunyi, benda tersebut mengeluarkan wangi yang menyengat seperti bunga.
Tunggu… Kurasa 'benda' tersebut memanglah sebuah 'bunga'…
Apa tadi dia sedang memekarkan bunga tersebut seperti kemarin?
Tapi, bunga yang ini lebih wangi, berarti jenisnya berbeda dari yang kemarin.
Dengan pelan, Kamaniai mengarahkan tangannya di bawah bunga tersebut hingga bunga tersebut berhenti melayang dan menjatuhkan dirinya.
"Bagaimana?"
Kukira elemen angin hanya bisa digunakan untuk membuat angin topan atau angin yang menyejukkan saja.
Aku baru tahu kalau elemen angin bisa digunakan untuk memekarkan bunga juga…
Sebenarnya, aku tidak tahu dengan pasti bagaimana proses mekarnya bunga.
Aku juga tidak mengetahui apakah yang dia lakukan barusan adalah cara memekarkan bunga yang benar, tapi dia melakukannya dengan luar biasa.
Kalau tidak salah…
Dia tadi melakukannya dengan memberikan sedikit air pada bunga, kemudian angin seolah menarik setiap bagian sisi dalam mahkota bunga tersebut hingga akhirnya bunga tersebut merekah.
Aku saja tidak bisa melakukan hal itu. Yang biasanya kulakukan hanyalah membuat angin topan kecil lalu mengontrolnya supaya mengelilingiku agar terasa sejuk.
Aku sepertinya harus banyak belajar dari Kamaniai.
"Itu bagus. Gunakan kekuatan yang barusan dan coba serang aku."
Aku memundurkan langkahku dan membuat jarak hingga sejauh 3 meter.
Iya, aku penasaran dengan seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh kekuatannya saat digunakan untuk menyerang orang lain, karena itulah aku meminta Kamaniai agar menyerangku.
Apakah badanku akan 'merekah' juga seperti bunga itu?
Ha ha ha… Sial, ini bukan saatnya untuk bercanda. Ayo… Sekarang, fokus!
Hawa Kamaniai terasa seperti kikuk. Dengan ragu-ragu, dia mengarahkan tangannya padaku.
"A-Aku… Aku harus menyerang bagian mana?"
Kenapa dia malah menanyakan hal itu?
Seharusnya dia menganggapku sebagai musuh dan langsung menyerangku…
Anak ini terlalu baik…
"Terserah kamu."
Setelah aku mengatakan hal itu, dengan cepat Kamaniai langsung mengeluarkan kekuatannya kemudian mengarahkannya padaku.
"Eh…"
Wangi bunga seketika mengarah ke wajahku lalu menerbangkan sisi samping rambutku.
Karena sangat terkejut, aku masih terdiam seperti patung.
Kukira dia akan menyerang di bagian tubuhku yang lain seperti tangan atau perutku.
Ternyata dia malah menyerang bagian wajahku dengan angin yang wanginya seperti bebungaan, mungkin karena dia memegang bunga barusan.
Bukan. Bukan berarti dia tidak boleh menyerang wajahku, tentu saja boleh.
Aku hanya sangat terkejut saja karena tidak menyangka dia akan menyerang wajahku. Itu saja, kok…
Hmm… Apakah wajahku baik-baik saja? Kurasa tidak…
Perlahan, aku meletakkan jemariku di pipi sembari menggesernya untuk melihat keadaan wajahku.
Kamaniai menyerangku dengan sepenuh tenaga barusan, pasti terdapat luka gores di sekitar sini…
Aku kemudian memindahkan jariku ke bagian dekat mata.
Hah… Kenapa?? Kenapa tidak boleh??
Kamaniai sampai mengatakannya dengan lantang begitu…
Untuk pertama kalinya, aku mendengar Kamaniai berteriak, sepertinya memang keadaan wajahku tidak sedang baik-baik saja. Ini membuatku semakin khawatir…
Dengan cepat, aku memeriksa rambut juga.
"Tidak! Rambut juga tidak boleh…"
Sepertinya wajahku memang terluka parah…
Aku harus melihat seberapa parah lukanya…
Kamaniai memegang tanganku kemudian menurunkannya.
Anak ini… Sejak kapan dia berjalan mendekat kemari?
"Tolong jangan pegang wajah dan rambut dulu."
Kondisi wajahku sudah terlalu mengkhawatirkan, ya.
Aku mengangguk, menuruti permohonannya yang nada bicaranya terdengar cemas pada kondisiku.
Aku bisa merasakan hawa Kamaniai yang memancarkan kekaguman tetapi juga sedikit kegelisahan.
"Aku pergi sebentar, ya."
Aku hanya mengiyakan dan melanjutkan pemikiranku yang sempat tertunda.
Aneh, kenapa dia kagum? Apakah luka di wajahku seperti lukisan di museum?
Gawat! Kalau begitu, sebentar lagi kepalaku akan dipotong kemudian di tempatkan pada museum, dong.
Aku harus mengobati luka di wajahku secepatnya. Selain agar kepalaku tidak dipotong, membiarkan luka terlalu lama dapat menyebabkan infeksi.
Tapi, aku sudah mengangguk tadi. Berarti aku sudah menyetujui permohonan Kamaniai.
Aku harus bagaimana? Menepati persetujuanku atau mengkhianati anggukanku?
Kalau aku mengkhianatinya, Kamaniai mungkin akan kecewa dengan sikapku dan tidak menganggapku sebagai orang yang jujur.
Lebih buruk lagi, dia tidak mau bekerja sama denganku, saling membantu dalam mengendalikan kekuatan yang sudah bangkit.
Kalau aku menepatinya, Kamaniai akan menganggapku sebagai orang yang dapat dipercaya.
Dia juga agak mengkhawatirkan kondisiku, aku bisa merasakannya.
Tapi, kalau aku menepati persetujuanku, aku akan membiarkan luka yang estetis ini dan tidak mengobatinya, kemungkinan besok kepalaku sudah dipajang di museum…
Ini membuatku pusing, lebih baik aku diam saja dulu.
Aku menuju ke kursi kemudian duduk sambil menunggu Kamaniai kembali ke sini.
Oh iya, ayo minum tehnya dulu. Setahuku, teh mawar bisa menenangkan tubuh.
Kuharap, ingatanku cepat pulih dan aku bisa mengingat keluargaku yang dulu.
Setelah mengingat tentang mereka, aku akan mengunjungi mereka, itu juga kalau mereka masih hidup…
Tentu saja keluargaku yang dulu masih hidup! Mari berdoa yang baik-baik saja.
Setelah menemui mereka, aku tetap akan menyayangi Kakak dan kalau bisa menemani Kakak saat sudah tua nanti.
Aku kemudian menyeruput teh mawar.
Yang benar saja, pikiranku menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Khasiatnya memang tidak main-main!
Aku mengarahkan wajahku ke depan, seperti saat duduk berhadap-hadapan dengan Kamaniai tadi.
Dia masih belum kembali…
Kenapa dia pergi, ya?
Mungkin dia sedang meminta bantuan pada yang lainnya.
*TAP*
Sebentar… Ini…
Aku mendengar suara langkah kaki. Dari gerakan langkahnya, ada sekitar 3 orang yang mendekat kemari.
Mereka masih berada di lorong dekat ruangan sebelah.
"Anak laki-laki?"
"Iya, Bibi."
"Maksudnya Laalit?"
"Nama anak itu Laalit?"
Ternyata mereka sedang membicarakanku…
Aku bisa mendengar suara Kamaniai dan Jaleed, yang satu lagi aku tidak tahu siapa.
Seseorang yang tidak kuketahui siapa itu… Tadi Kamaniai memanggilnya 'bibi'.
"Benarkah?"
"Iya."
"Bagaimana bisa kamu melakukannya?"
"I-Itu…"
Mereka sudah hampir sampai ke sini, tinggal 2 langkah lagi.
"Apa anak yang sedang duduk itu?"
Mereka sudah sampai. Apa Kamaniai membawa mereka kemari untuk mengobati luka di wajahku?