
"Laalit…"
Siapa… itu? Siapa yang… memanggilku…?
"Laalit…?"
Ada… apa? Kenapa… memanggilku?
"LAAALIT!"
A-Astaga! Gulinear?!
Telingaku… Ugh…
Telingaku sakit sekali… Bisa-bisanya anak ini berteriak sekeras itu…
Kepalaku agak pusing karena Gulinear membangunkanku secara paksa dengan menggoncang badanku seperti barusan.
"Ada apa, Gulinear?"
Gulinear menarik tanganku secara paksa.
"Ayo, kita makan malam dulu! Lihat ini! Tempatnya bagus, kan?"
Aku mengiyakan pertanyaan Gulinear agar anak itu merasa senang.
Mataku yang terbuka ini hanyalah pajangan saja… Kadang aku frustasi karena tidak bisa melihat, tidak seperti orang lain yang bisa melihat semuanya.
Tapi aku jadi penasaran, memangnya sebagus apa tempatnya?
Apakah lebih luas dari rumah Gulinear? Atau lebih megah daripada kereta kuda yang ku naiki barusan?
Entahlah… Tapi kurasa, tempat ini memang cukup bagus.
Selain Gulinear yang mengatakannya, aku yakin kalau Tuan Mahajana tidak akan makan di tempat yang kumuh.
Mereka akan makan di tempat yang makanannya berkualitas dan pelayanannya cepat.
Pastinya mereka juga berkelas dalam melihat desain rumah makan yang akan di tempati.
Tentu saja itu karena seorang master peringkat 10 besar di dunia adalah orang-orang terkaya juga.
Pemerintah pasti membiayai kebutuhan mereka karena mereka sudah melindungi negara sehingga kehidupan di negara ini cukup aman, tidak terdapat banyak penjahat seperti ******* dan tidak ada perang.
Para master berperingkat 10 besar di dunia menggunakan kekuatan penuh mereka untuk memberantas musuh atau negara lain yang ingin menghancurkan negara ini.
Tidak-tidak…. Maksudku, peringkat yang berada di bawah 10 besar juga ikut menggunakan kekuatan penuh mereka untuk memberantas musuh.
Tetapi, para masterlah yang paling banyak berpatisipasi dalam melindungi negara ini.
Berkat kekuatan mereka, seluruh manusia di negara ini masih banyak yang selamat dan hidup sampai saat ini.
Karena perjuangan mereka dalam memberantas setiap musuh lebih besar daripada yang lainnya, makanya mereka dibiayai pemerintah.
Aku tidak tahu pemerintah membiayai apa saja untuk para master.
Hmm… Tunggu dulu…
Kurasa aku mendengar bahwa para master akan diberikan sebuah rumah yang sangat besar seperti istana walaupun yang menempati rumah tersebut hanya satu orang saja.
Itu adalah balasan yang setimpal karena mereka sudah berjuang sampai mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi negara ini.
Memang usaha tidak pernah mengkhianati hasil, ya…
"Laalit? Kok diam saja???"
Ternyata aku sudah duduk disebuah kursi yang ukurannya cukup besar untuk aku tempati seorang diri.
"Laalit?"
Oh, ternyata Gulinear tepat di sampingku. Bodoh sekali aku sampai tidak bisa menyadari asal suaranya…
"Di sini menu makanannya apa saja?"
Hawa Gulinear terasa agak kesal? Apa pertanyaanku salah?
Bukannya pertanyaanku itu normal, ya? Wajar saja aku bertanya soal itu, kan aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya.
Gulinear… Meskipun kau pernah datang kemari beberapa kali, tapi aku belum pernah kemari.
Orang biasa sepertiku tidak akan bisa ke tempat makan yang bagus seperti tempat ini, aku hanya bisa jajan ke pasar saja sudah senang.
Biarkan saja, deh. Gulinear terkadang memang selalu marah secara mendadak dan perasaannya menjadi senang kembali dengan sendirinya.
"Laalit! Ini kan Gulinear sudah sodorkan buku menunya, Laalit tinggal pilih saja lewat buku ini."
Begitu ya…
Jadi yang Gulinear dekatkan pada posisiku sekarang adalah buku menu makanan.
Tapi… Bagaimana cara memilihnya? Aku bahkan tidak bisa melihatnya…
"Aku ingin memilih menu yang sama denganmu, Gulinear."
Nah, kan… Anak ini tiba-tiba sudah senang kembali seperti biasanya.
"Laalit juga memesan rendang sepertiku."
Seseorang yang berdiri di samping Gulinear perlahan berjalan mundur sambil mengambil buku menu yang Gulinear pegang sebelumnya.
"Laalit! Kenapa Laalit memilih menu yang sama dengan Gulinear? Mau kompakan sama Gulinear, ya?"
Kalau dari yang tubuhku rasakan, tempat ini sepertinya cukup ramai.
Ini membuatku agak tidak nyaman, beberapa orang yang berada di sini sedang memperhatikan kami sekarang.
Beberapa mata tertuju padaku, sedangkan mata yang lainnya tertuju pada Tuan Mahajana.
Benar juga… Kenapa Tuan Mahajana memilih tempat yang terbuka untuk umum seperti ini?
Tuan Mahajana kan cukup terkenal dan memiliki beberapa penggemar, pasti dia akan langsung dikenali karena makan di tempat yang umum seperti ini.
Awalnya aku mengira bahwa kami akan makan di tempat yang cukup sepi atau kami akan makan di tempat yang sudah Tuan Mahajana sewa.
Tapi, tidak ada satupun yang ada di antara pilihan tersebut.
Mari kita pikirkan…
Jika Tuan Mahajana makan di tempat yang sepi, kami tidak akan menjadi pusat perhatian dan bisa makan dengan tenang.
Keselamatan kami juga akan terjamin walaupun makan di tempat yang sepi karena tidak ada yang mungkin berani macam-macam dengan master dari peringkat 10 besar di dunia.
Jika Tuan Mahajana menyewa tempat mahal untuk makan malam, kami juga tidak akan menjadi pusat perhatian dan bisa makan dengan tenang.
Pelayanannya juga hanya akan tertuju untuk kami dan aku tidak perlu segan untuk tambah porsi lagi.
Sekarang kan aku muridnya Tuan Mahajana, jadi pasti Tuan Mahajana akan membiayaiku dalam apapun.
Aku adalah tanggung jawab Tuan Mahajana. Kalau Tuan Mahajana tidak memenuhi kebutuhanku dengan baik, berarti dia tidak akan mengangkatku sebagai muridnya.
Jadi, pasti Tuan Mahajana akan membiayaiku dalam apapun karena sekarang aku muridnya.
Oke, kurasa itu bukanlah hal yang penting sekarang…
Berarti Tuan Mahajana sengaja memilih tempat makan yang umum di tempati orang lain karena…
Ingin menjadi pusat perhatian?
Ha. Ha. Ha. Sepertinya aku sudah ketularan sifat Aamod sekarang…
Aamod sedang apa ya sekarang? Kudengar bahwa dia akan mengambil suatu misi, karena itulah adik sepupunya yang jago pencak silat itu akan menemani Kakak dan tinggal bersama Kakak.
"Laalit? Laalit mendengarkan Gulinear tidak, sih?"
Hah… Mendengarkan… Apa?
Sial, sepertinya aku terlalu hanyut dalam pikiranku sendiri.
"Tentu saja aku mendengarkan!"
Maaf karena aku membohongimu, Gulinear. Aku dari tadi memikirkan hal lain dan tidak mendengar ocehanmu...
"Benarkah?"
Aku mengangguk dengan gugup, takut Gulinear tahu kalau aku membohonginya.
"Kalau begitu, bagaimana menurut Laalit?"
Apanya yang… BAGAIMANA?!
Sial… Aku benar-benar terpojok sekarang…
Alasan yang masuk akal… Ayo pikirkan alasan yang masuk akal…
"Rendang untuk 2 orang dan gulai ayam untuk Tuan Mahajana, air putih masing-masing 3, selamat menikmati~"
Terima kasih Kakak pelayan, kau sudah menyelamatkan kepalaku sebelum dipukul oleh gadis labil ini karena tidak mendengarkan ocehannya.
"A-Ayo kita makan..."
Gulinear menurut dan dia sedang makan sekarang. Untung dia anaknya gampang dialihkan…
Porsinya lumayan juga... Mungkin karena biaya makannya cukup mahal, karena itulah porsi makanannya pun cukup banyak juga.
Soal porsi makan, aku jadi teringat sesuatu…
"Gulinear, kau harus memakan lauk yang bergizi untuk pertumbuhanmu."
"Lho, memangnya kenapa?"
Anak ini… Sepertinya dia memang tidak menyadarinya…
"Kau pendek sekali, anak seumuranmu seharusnya sudah lebih tinggi dariku."
*TAK*
Sepertinya dia menjatuhkan sesuatu barusan…
"Hiks… Huaaaa~"
Ti-Tidak! Sepertinya aku salah bicara barusan…
"Gulinear… Ma-Maafkan aku?"
Tangisannya semakin keras…
"Laalit jahat! Gulinear benci sama Laalit! Huaaaa~"
Salahku di mana, ya? Kan Gulinear memang pendek… Aku cuma mengatakan hal yang sebenarnya saja, kok…