Blindsight

Blindsight
Bunga yang Mekar



"Laalit tidak berbakat!"


Jangan bilang begitu, dong. Aku kan baru belajar…


"Padahal Gulinear sudah mengajari pelan-pelan, tapi Laalit menekan tutsnya salah terus!"


Ya maaf, aku kan tidak bisa melihat tuts-tuts itu…


Aku harus merabanya pelan-pelan agar tahu seperti apa bentuknya.


"Laalit mau coba main alat musik yang lain saja?"


Main alat musik yang lain? Kalau boleh sih, aku mau-mau saja.


Memangnya di sini ada alat musik yang lain juga, ya?


Kukira ini hanyalah tempat pelatihan yang bertujuan untuk melatih kemampuan bertarung, ternyata ini tempat orkestra juga…


"Mau. Di sini ada apa saja?"


Kami sekarang sedang berjalan menuju ke taman. Aku dan Gulinear baru akan menuruni tangga.


Sebenarnya aku agak heran soal ini. Kenapa aku bisa turun dan menaiki tangga tanpa terjatuh?


Apa ini yang dinamakan 'insting'? Rasanya aku sudah terbiasa menuruni dan menaiki tangga.


Mungkinkah ini karena aku pernah menaiki tangga sebelum hilang ingatan?


"Cuma ada gitar dan biola, tapi Gulinear tidak bisa dua-duanya. Gulinear pernah lihat Tuan Mahajana main biola."


Aku tidak pernah mendengar 'biola' ini… Kenapa alat musik itu banyak sekali, sih?


"Apa itu 'biola'?"


Gulinear menghentikan langkahnya. Dia menggerak-gerakkan tangannya seperti membentuk sesuatu.


Aku tidak tahu dia sedang membentuk apa sekarang.


"Bentuknya begini… Eh, mungkin begini? Aakhh, Gulinear sudah lupa!"


Ya sudah… Kalau memang sudah lupa, tidak perlu dipaksakan, kok…


"Bagaimana Tuan Mahajana memainkannya? Seperti apa suaranya?"


Gulinear sepertinya sedang berpikir keras. Karena lucu, tanpa sadar aku menarik bibirku ke atas.


"Eumm… Tuan Mahajana pegang kayu tipis tapi panjang, setelah itu digesek disenarnya. Suaranya itu seperti 'ngek' gitu tapi Gulinear suka dengarnya."


Suaranya seperti 'ngek'? Apa suara 'ngek' itu seperti saat menginjak kayu, lalu berderit?


Sebentar… Kalau berderit, bunyinya 'ngek' atau 'ngik', ya?


Mungkin dua-duanya.


Sambil mengobrol, kami lanjut berjalan agar segera sampai ke taman.


"Gulinear pernah coba main biola, tapi dagu Gulinear sakit karena menahan biola, tangan kiri Gulinear juga capek karena diangkat terus. Main biola itu susah, Gulinear gesek-gesek disenarnya tapi suaranya jelek. Suaranya beda saat Tuan Mahajana yang main biola. Jadi setelah itu, Gulinear gak pernah main biola lagi. Gulinear lebih suka piano, suaranya cantik!"


Hmm… Jadi biola itu, cara bermainnya dengan diangkat menggunakan tangan kiri.


Setelah diangkat, kemudian diletakkan pada dagu? Gulinear tadi mengeluh bahwa dagunya sakit karena menahan biola. Berarti biolanya memang diletakkan di dagu.


Apa diletakkan di dagu dulu baru diangkat? Tapi, diangkatnya itu seperti apa?


Apa seperti mengangkat tangan saat ditunjuk oleh guru?


Membingungkan, dia tidak menjelaskannya dengan benar. Aku jadi pusing membayangkannya.


Entah mengapa aku agak penasaran dengan kesulitan bermain biola. Rasa sakitnya seperti apa?


Apa rasanya lebih pegal daripada berlari sejauh 1 km?


Aku jadi ingin mempelajarinya.


Kurasa aku tidak akan bisa memainkannya. Gulinear yang pandai bermain piano saja menganggap bermain biola itu susah, apalagi aku, yang tidak bisa bermain piano. Langsung gagal, sih. Sudah pasti itu…


"Gulinear!"


"Kamaniai!"


Tidak terasa, kami akhirnya sampai ke tempat tujuan.


Tempat ini lumayan luas, ada banyak benda di sini. Di sekelilingku penuh dengan benda.


Gulinear berlari dan langsung melompat ke Kamaniai.


Kenapa dia suka sekali melompat dan menindih orang lain, sih?


"Aduh!"


Ha ha ha…


Aku merasa puas karena yang merasakan 'timpaan Gulinear' bukan hanya aku saja.


Kamaniai pasti merasa kesakitan sekarang! Akhirnya ada orang lain yang merasakan hal yang kualami!


"Itu bunga apa?"


"Ini bunga geranium. Cantik, kan?"


Aku berjalan seperti biasa dan mendekati mereka. Kamaniai dan Gulinear, mereka sangat akrab seperti tak terpisahkan.


*CTAS*


Eh, apa itu? Aku merasakan sesuatu tadi.


"Wow! Itu cantik! Gulinear suka!"


Aku langsung mendekatkan badanku ke Kamaniai.


"Apa yang kamu lakukan barusan?"


"KYA!"


Apa aku mengagetkannya? Kamaniai sampai bersembunyi di belakang Gulinear.


"Maaf, aku hanya penasaran dengan yang kamu lakukan barusan."


Gulinear menenangkannya sampai akhirnya Kamaniai tidak bersembunyi lagi di belakang.


Sekarang, kami saling berhadap-hadapan. Aku bisa merasakan bahwa Kamaniai agak malu entah karena apa.


"Itu tampak cocok untukmu…"


"Hah…?"


Apanya yang cocok denganku?


"Ti-Tidak!"


Aneh…


Dia pemalu sekali… dan tidak enakan…


"Itu… Apa yang kamu katakan tadi?"


Nada bicaranya bahkan terdengar bergetar.


"Apa yang kamu lakukan barusan?"


Wah… Hawanya langsung berubah menjadi ceria. Dia tidak grogi lagi.


"Oh… Yang barusan itu… Aku sedang memekarkan bunga geranium! Lihat, cantik kan?"


Kamaniai memberikanku sesuatu yang sepertinya adalah bunga geranium.


Aku perlahan mencoba 'melihat' bunga tersebut. Ternyata benar, bunga ini lumayan indah.


Setelah kuingat-ingat, sepertinya Kakak tidak punya bunga geranium ini di rumahnya.


Kapan-kapan, aku harus membawakan beberapa bunga geranium pada Kakak.


Kakak pasti akan senang, bunga ini juga seindah wajah Kakak.


Soal bunga. Dia bilang barusan sedang memekarkannya, kan?


Dia bisa melakukan hal yang menarik. Aku harus menanyakan.


"Bagaimana cara membuatnya mekar?"


*PSHHH*


Ini… Dia… Menggunakan kekuatannya?


Aku bisa merasakan kalau dia baru saja mengeluarkan suatu kekuatan dari tangannya.


Kalau begitu, dia pasti sudah…


"Kamaniai sudah bangkit?! Kapan? Kok tidak beritahu Gulinear?!"


Terdengar suara tawa yang lirih dari Kamaniai. Anak itu terasa grogi lagi sekarang.


"Aku bangkit 7 bulan yang lalu. Tiba-tiba tubuhku terasa agak panas seperti demam, ledakan juga muncul dari badanku sendiri. Jaleed turut senang karena aku bangkit lebih awal dan kami merayakannya dengan dia membuatkan makan malam untukku."


"Berarti Kamaniai bangkit saat Gulinear baru meninggalkan tempat ini, ya?"


Tidak kusangka bahwa ada yang sudah bangkit sebelum berusia 14 tahun.


Kata Aamod, yang bangkit sebelum usia 14 tahun itu jarang.


Master Bellance, aku, dan sekarang Kamaniai. Yang usianya dekat denganku adalah Kamaniai.


Mungkin sekarang adalah 'era'nya. Era anak-anak yang bangkit lebih cepat daripada usia yang seharusnya.


Oh iya, aku belum mengetahui berapa umur Kamaniai.


"Berapa umurmu sekarang?"


"Umurku 12 tahun. Kamu?"


Mereka semua lebih tua daripada aku. Rasanya seperti menjadi bocah sendirian.


"11 tahun."


Nada bicaraku tidak seperti sedang malu, kan?


Semoga saja tidak.


"Kamu seumuran dengan Jaleed, dia juga 11 tahun. Selamat!"


Aku hanya mengangguk dan bersikap tenang seperti biasa.


Padahal, dalam hati, aku berpesta pora. Aku sangat gembira karena ada 'teman' yang akhirnya seumuran denganku.


Memang manusia itu tidak tertebak, ya…


Awalnya, aku mengira Jaleed seumuran dengan Gulinear karena sikapnya yang 'lumayan dewasa' untuk anak seumurannya.


Maksudku, dia sudah mengetahui tentang bersikap sopan dan menyambut murid baru walaupun hanya seperlunya.


Dia juga bisa mengendalikan emosinya. Aku merasakan hawanya yang tidak sabaran, tetapi sikapnya tidak begitu.


Jaleed bersikap dengan tenang seperti air mengalir.


"Kamu sudah bangkit atau belu-"


"Kenapa Gulinear belum bangkit?! Padahal Gulinear lebih tua dari Kamaniai… Hiks…"


Yang tadinya Gulinear menenangkan Kamaniai, sekarang menjadi terbalik.


Kamaniai menenangkan Gulinear yang menangis dengan kencang.


Aku berharap bahwa Gulinear juga bisa bangkit secepatnya, sama seperti aku dan Kamaniai.


Oh iya, apakah barusan Kamaniai bertanya kalau aku sudah bangkit atau belum?


"Sudah."


Kamaniai langsung mengalihkan pandangannya padaku.