
Ugh…
Aku… Aku masih tidak bisa merasakan hawa siapapun…
Ini karena kondisiku yang memburuk, aku jadi kesulitan untuk mendengar suara dan kurang peka terhadap keberadaan orang lain.
Meskipun begitu, aku yakin Tuan Mahajana masih berada di ruangan yang sama denganku.
Aku masih mengingatnya dengan jelas.
Sebelumnya, Tuan Mahajana mengajak dua anak itu untuk mengikutinya. Telingaku bisa mendengar suara langkah kaki mereka yang tidak jauh dari sini.
"Apa kamu merasa sakit di area tertentu?"
"Aku… Baik-baik saja…"
Iya, sejujurnya, aku merasakan sakit tepat diinti kekuatanku.
Ugh…
Aku harus menahan rasa sakitnya sedikit lagi…
Aku harus bisa…
Dan Maaf…
Maaf karena aku membohongi Guru barusan…
Rahasia mengenai turun temurun kekuatan ini hanya boleh diketahui olehku dan Tuan Mahajana.
Lagipula, rasa sakitnya akan hilang setelah Tuan Mahajana melakukan sesuatu dan membuat inti kekuatanku menjadi lebih jinak.
Yah…
Kuharap itulah yang terjadi…
"Kita hampir sampai."
Akhirnya…
Tinggal beberapa langkah lagi…
"Uhuk!"
Langkah kakiku semakin lama semakin terasa berat, kesadaranku juga semakin menurun.
Aku harus mempertahankan kesadaranku hingga tiba di tempat Tuan Mahajana…
"Lebih baik kita berobat dulu-"
"Tuan… Mahajana… saja…"
Tuan Mahajana lebih bisa mengobatiku daripada yang lain.
Tuan Mahajana sudah tahu mengenai tubuhku sebelumnya, jadi kondisiku akan membaik jika Tuan Mahajana yang melakukan penanganan padaku.
"Darahnya semakin banyak."
Tadi orang lain juga mengatakan tentang 'darah'. Luka ditubuhku hampir sembuh sepenuhnya, berarti bukan karena itu.
Mungkinkah ini disebabkan oleh batuk yang aku alami?
Apa aku batuk berdarah?
Walaupun tenggorokanku tidak nyaman pada saat mengeluarkan suara, aku tetap harus berbicara meskipun sedikit.
Aku harus memastikannya.
"Di bagian… ma… na… darah… Uhuk!"
Aku lebih sering batuk dibandingkan sebelumnya.
Sial, bahkan suaraku semakin melemah…
Kesadaranku juga…
Jangan jatuh, tetaplah melangkah seperti biasa. Jangan kehilangan kesadaran, sebentar lagi kita akan sampai.
Pendengaranku…
Aku mencubit tanganku yang lain agar kesadaranku tetap terjaga.
"Di telapak tanganmu, namun di bagian baju dan bibirmu juga ada meskipun tidak sebanyak di tanganmu."
Begitu, ya…
Jadi darah itu memang berasal dari batuk yang kuhasilkan.
Soalnya darahnya kebanyakan terdapat di telapak tanganku.
Aku meletakkan telapak tanganku di bibir saat batuk, sehingga di tanganku terdapat banyak darah dibandingkan bagian lainnya.
Dan yang kugunakan untuk menutup bibirku saat batuk adalah tangan kanan.
Aku akan menyembunyikan tangan kananku agar orang lain tidak melihat darahnya.
Aku menarik tangan kananku ke belakang, lalu mengangkat tangan kiriku agak ke depan agar tanganku yang lain tidak terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Ini bisa, kan?
Bagaimana dengan darah yang terdapat di bibir dan baju?
Aku tidak mendapatkan ide apapun…
Aku tidak bisa berpikir jernih karena kondisi yang menyedihkan ini…
*DEG*
"Huft… Huft… Hah…"
Tubuh yang berangsur lemas kupaksakan bergerak, denyut yang berpacu semakin terdengar, dan penderitaan yang semakin meningkat tajam.
Aku bisa merasakan getaran hebat berasal dari tubuhku yang semakin menjadi.
Dengan tanda-tanda tersebut, aku menyadari kalau aku terlalu memaksakan diriku.
Tapi, memangnya apalagi yang bisa kulakukan selain ini?
Diam di tempat?
Menerima rasa sakit ini sampai mati-
"Ugh…"
Sakit…
Kenapa rasa sakitnya…
"Kalau sudah… beberapa… me…ter… uhuk! Guru… kata…kan."
Karena tidak tertahankan, aku sampai meremas baju depanku.
"Uhuk…"
Telapak tangan tanganku refleks menutup mulutku.
Hah…
Merasakan rasa sakit yang sama secara terus-menerus sama saja dengan mati.
Tidak, rasa sakit ini lebih buruk dari kematian.
Rasa sakitnya bagaikan bagian tubuhku ditarik paksa sampai putus tak bersisa.
Dan aku terus mengalami hal ini selama hampir satu bulan.
"Uhuk! Ugh…"
Seharusnya aku tidak mengalami hal ini!
Aku yang tidak menginginkan kekuatan ini tapi aku yang menanggung dampak dari kekuatan ini…
Beda cerita kalau aku memang menginginkan kekuatan yang melimpah ruah ini sejak awal.
Aku tidak akan mengeluh kalau ini atas keinginanku sendiri.
Namun, aku tidak tahu apa-apa. Semuanya terjadi tiba-tiba dan aku tidak sempat untuk menolak…
Aku tidak mau. Kekuatan ini, aku tidak pernah memintanya.
Bukankah ini termasuk pemaksaan?
"Wah, itu Tuan Mahajana."
Bagus…
Kesadaranku dan tenaga dalam tubuhku sudah hampir mendekati minus.
Dalam jarak sedekat itu, aku bahkan tidak bisa merasakan aura Tuan Mahajana.
Kondisiku benar-benar parah…
Ayo, tinggal beberapa langkah lagi.
Kamu akan segera disembuhkan, Laalit!
Silih berganti, namun pasti. Aku mengangkat kaki kananku, menumpukan pada lantai seraya memindahkan kaki kiriku ke depan.
"Ada apa kalian kemari?"
Aku sudah bisa mendengar suara Tuan Mahajana…
Oh iya, tutupi bibir dengan telapak tangan yang satunya lagi.
Aku menyembunyikan tangan kananku di belakang, menutupi bibirku dengan tangan kiriku.
Hanya begini saja tanganku bergetar hebat…
"Laalit, dia…"
"Uhuk! Uhuk… Uhuk!"
Bagaimana aku akan mengatakannya pada Tuan Mahajana kalau aku batuk-batuk begini?
Aku harus mengatakannya, aku harus memaksakan diriku untuk mengatakannya!
Aku membuka bibirku. Mencoba mengatakan mengenai kondisi tubuhku pada Tuan Mahajana.
"A-Aku…"
"LAALIT!"
Ini suaranya Gulinear…
Sepertinya darahnya juga berceceran pada telapak tangan kiriku.
Aduh… Bagaimana ini…
Kalau Gulinear melihat ini…
Aku langsung memalingkan wajahku ke samping.
"Gulinear. Bukankah aku menyuruhmu untuk melatih meditasimu?"
"Gulinear tidak bisa melakukan meditasi itu… Gulinear bosan~ Gulinear ingin bermain sebentar bersama Laalit~"
Aku sedang tidak bisa bermain, Gulinear.
Aku harus melakukan sesuatu agar Gulinear tidak melihat ini…
"Kemampuanmu akan tertinggal jauh dari Laalit kalau bermalas-malasan-"
"Gulinear akan berlatih sekarang!"
Mudah sekali…
Tuan Mahajana memang paling tahu apa yang harus dilakukan untuk mengusirnya.
"Anak itu sudah pergi jauh dari sini. Duduklah, aku akan mengecek kondisimu."
Aku mengangguk lalu menjatuhkan tubuhku ke lantai.
Tidak, tidak. Aku tidak ingin menjatuhkan tubuhku. Tubuhku terjatuh dengan sendirinya karena sudah tidak kuat lagi.
"Uhuk! Uhuk!"
Dengan tenaga yang lemah lunglai, aku mendorong badanku agar segera terbangun.
Namun sia-sia, tanganku tergelincir, menjatuhkanku kembali ke tempat semula.
Aku bisa merasakan ada tangan seseorang yang mengangkat badanku dan memposisikan tubuhku dalam posisi terduduk.
Setelah itu, telapak tangannya perlahan menyentuh punggungku.
Hmm…
Orang yang menolongku dengan telapak tangan yang bersender dipunggungku adalah orang yang sama.
Jadi, orang ini pastilah ini Tuan Mahajana.
"Hah… Urgh!"
Aku tidak tahu Tuan Mahajana sedang melakukan apa, tapi rasanya kekuatanku seperti bergerak sesuai arahannya.
Energi di dalam tubuhku yang awalnya bergerak tak karuan, berangsur teratur dengan gerakan yang jauh lebih stabil.
Rasa sakit yang terdapat pada inti kekuatanku pun agak berkurang.
Tentunya penderitaan ini tidak sepenuhnya berakhir, masih tersisa sedikit ketidakenakan dalam inti kekuatan ini.