Blindsight

Blindsight
Menceritakan Banyak Hal



"Aamod, sebenarnya hal ini agak membuatku penasaran."


Aamod yang awalnya seperti nyamuk, akhirnya sekarang dianggap sebagai manusia yang duduk bersama kami semenjak tadi.


"Kenapa?"


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Waktu itu kan kau meminta izin pada temanmu untuk tidak ikut berjaga dan sampai sekarang kau masih menginap di sini."


Aamod sepertinya menggaruk-garuk kepalanya. Akhir-akhir ini dia sering sekali melakukannya, apa rambutnya berkutu?


"Kan sudah kubilang, waktu itu aku hanya menjadi petugas cadangan. Malam itu adalah malam terakhirku menjadi petugas cadangan. Sebenarnya, setelah itu, aku berencana untuk berpetualang bersama teman-temanku, tetapi ada seorang gadis cantik menawariku untuk menginap di sini. Bagaimana bisa aku menolak, hmm?"


'Gadis cantik'? Kakak, ya?


Tapi kan Kakak sudah dewasa, kok disebut 'gadis'?


"Aamod, aku setuju kalau Kakak 'cantik', tapi 'gadis'? Kakak kan sudah dewasa. Seorang gadis mana mungkin sikapnya dewasa seperti Kakak. Memasak makanan yang enak, tersenyum, dan lembut. Seorang 'gadis'. lebih cocok untuk Gulinear."


Aamod bertingkah aneh lagi, aku harus mulai membiasakan diriku…


"Tetap saja dimataku Kakakmu itu adalah seorang 'gadis'."


Aku masih bingung kenapa Kakak harus disebut 'gadis' sementara Kakak adalah seorang 'wanita'.


Gadis itu hanya cocok untuk Gulinear, sifatnya egois dan manja.


Wanita itu lebih cocok untuk Kakak, sifat Kakak benar-benar dewasa.


Aamod, kenapa kau mempermasalahkan ini… Tunggu, kenapa aku juga mempermasalahkan ini?


Berhenti memikirkan hal yang tidak berguna ini… Tunggu, apa? Tidak berguna?!


Apa aku barusan menganggap bahwa Kakak 'Tidak berguna'?


Kenapa sifatku jadi seperti ini, sih? Kakak itu sangat peduli padaku dan Kakak adalah keluarga baruku.


Aku harus menanamkan dalam pikiranku bahwa 'Kakak adalah Kakakku yang berguna'.


Kakak adalah Kakakku yang berguna. Ulangi!


Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna.Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang berguna. Kakak adalah Kakakku yang bergun-


"Sayangku, bolehkah Kakak bertanya sesuatu padamu?"


Pikiranku seketika buyar karena Kakak tiba-tiba berbicara.


"Bagaimana caramu 'mengetahui' bahwa Kakak itu 'cantik'?"


Hawa Kakak terasa sangat penasaran. Tidak kusangka kata 'cantik' akan membuat Kakakku penasaran.


"Saat aku menyentuh wajah Kakak beberapa hari yang lalu, aku merasa bahwa wajah Kakak sangat indah."


Ekspresi Kakak tampak malu-malu tapi juga terlihat senang.


"Haduh, haduh! Kamu masih kecil, tapi bisa-bisanya berkata begitu."


Apa maksudnya 'berkata begitu'? Kan aku cuma mengatakan kebenarannya.


Karena aku ingin mengatakan semua hal pada Kakak kecuali hal yang akan membuat Kakak cemas, aku kemudian mengatakan hal lainnya tanpa ditanya,


"Sebenarnya, semenjak aku menyentuh wajah Kakak waktu itu, aku bisa melihat ekspresi Kakak dan bentuk wajah Kakak tanpa menyentuhnya lagi. Saat ekspresi Kakak tersenyum, sedih, ataupun malu-malu, aku bisa melihatnya dengan jelas."


Ekspresi wajah Kakak tampak terkesiap, lalu sedikit bingung ditambah agak kagum.


Dalam sekilas, aku langsung tahu kalau Kakak…


"Kakak tersenyum padaku."


Masih terkesiap, Kakak kemudian bertepuk tangan dan mengelus rambutku dengan lembut.


"Ah, adikku memang LUAR BIASA! Benar-benar mengagumkan! Sayangku, kamu memang agak 'berbeda'."


Aku bingung dengan pernyataan 'berbeda'? Mungkin karena aku adalah seorang tunanetra dan tidak bisa melihat, berbeda dengan Kakak dan Aamod yang sangat beruntung…


"Jadi, bagaimana caramu untuk merasakan aura orang lain?"


Cara merasakan aura orang lain ya. Itu… Bagaimana ya cara menjelaskannya?


Aku juga tidak terlalu mengerti tentang ini, sih. Tapi, aku tetap harus berusaha menjelaskannya pada mereka.


Tenang, aku tidak perlu bimbang mereka akan mengerti penjelasanku atau tidak.


Yang penting kan, aku sudah berusaha untuk menjelaskan.


Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan,


"Jadi, aku… Seperti biasa, menarik napas lalu menghembuskannya. Biasanya, aku memfokuskan diri kepada satu orang, agar lebih mudah merasakan auranya. Kalau berfokus pada banyak orang sekaligus, auranya terasa seperti sama atau tercampur dengan aura yang lebih kuat. Aku membuat tubuhku menjadi santai. Kalau tegang, tubuhku kurang bisa merasakan aura. Sebenarnya aku tetap bisa merasakan aura walaupun sedang tegang atau tidak tenang, hanya saja, rasanya agak samar, tidak sejelas saat tubuhku rileks dan santai. Lalu, aku mulai merasakan aura orang lain. Saat bergerak seperti berjalan atau berlari, medan energi pada aura bergerak bersama orang tersebut. "


Kakak dan Aamod mendengarkan secara seksama, saat kemudian aku melanjutkan pernyataanku,


"Aku merasakannya melalui perasaan dan kulit yang menyentuh udara sekitar. Hanya begitu saja, sih. Saat ke tempat pelatihan milik Tuan Mahajana, mataku melihat sesuatu yang cerah silih berganti dan dapat melihat berbagai macam aura cerah dan gelap, karena itulah aku langsung berlari menuju tempat pelatihan. Biasanya yang kulihat hanyalah kegelapan, tetapi di tempat pelatihan tidaklah begitu. Dan kurasa prinsip penglihatanku berbeda dengan prinsip penglihatan orang lain. Saat bersama dengan Tuan Mahajana, aku seperti melihat sesuatu yang cerah. Padahal saat mendengar pembicaraan orang lain, tingkat Kontras memiliki aura berwarna hitam yang berarti gelap. Karena itulah aku jadi mengetahui kalau prinsip penglihatanku berbeda dengan orang lain, aneh kan?"


Kakak menggelengkan kepalanya,


"Tentu saja tidak! Itu sangat unik! Laalitku, adikku yang kusayangi, kamu tidaklah aneh. Kamu tampan dan cerdas, Kakak benar-benar menyayangimu."


Kakak kemudian memelukku dengan gemas?


Aneh sekali, padahal aku belum tinggi dan juga belum kuat, tapi Kakak mengatakan bahwa aku tampan.


Mungkin Kakak tidak ingin membuatku kecewa… Terima kasih, Kakak.


"Jadi, bagaimana keputusanmu? 2 hari lagi, Tuan Mahajana akan kemari dan menagih jawaban kita. Kamu tidak perlu memikirkan Kakak, sayang. Tenang saja, Kakak akan tetap mendukung apapun keputusan yang kamu buat. Kakak akan menerimanya, apapun keputusanmu."


Senyum diwajah Kakak disertai dengan sorot mata yang sedih, aku bisa melihatnya dengan jelas meskipun Kakak berusaha menutupinya.


"Tentu saja aku akan membuat keputusan yang terbaik untuk kita semua. Aku, Kakak, dan Aamod, kita semua. Aku akan membuat keputusan yang akan membuat keadaan kita aman dan bahagia."


Aku bisa melihatnya, air mata turun dari bola mata Kakak yang indah.


Meskipun begitu, Kakak masih tetap mempertahankan senyumnya.


Kakak lalu menggelengkan wajahnya dan mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Kakak ingin melihat kalian berlatih, bolehkah? Kakak ingin melihat kemampuanmu dan Aamod."


Aku langsung mengangguk mantap, sepertinya Aamod juga melakukan hal yang sama.


Kami kemudian pergi ke halaman yang letaknya jauh dari rumah Kakak.


Rasanya halaman ini jauh lebih luas daripada halaman yang biasanya kami gunakan untuk berlatih.


"Ayo, aku ingin melihat sampai mana kemampuanmu setelah pelatihan pedang yang aku ajarkan!"