Blindsight

Blindsight
Jajan



Perjalanan telah berlangsung selama lebih dari 3 jam, sudah kuduga tidak mungkin mengantar seseorang dalam beberapa detik.


Udara yang sangat dingin menyentuh kulitku, membuat kedua tanganku menyilangkan diri dan tubuhku gemetaran.


Anehnya, seketika tubuhku terasa lebih hangat. Mungkin Nenek juga menyalurkan sesuatu ke tubuhku sehingga aku akan merasa hangat saat perjalanan.


Karena angin terasa lebih kencang di langit, aku kemudian memutuskan mendarat.


Aku mulai berjalan dan mencari tempat ramai agar tak terasa sendirian.


Sepertinya aku melewati rumah penduduk sekitar, tetapi aku tidak mendengar satu orang pun berbicara, kurasa semuanya sudah tidur di dalam kamar.


Pandanganku tidak terlalu gelap lagi, aku melihat beberapa cahaya beterbangan dan mengelilingiku.


Aku mengarahkan jari telunjukku agak ke atas dan suatu cahaya mendarat di atas jariku.


Perlahan, aku merabanya untuk mengetahui seperti apa bentuknya.


"Ini seperti serangga…"


Serangga tersebut terbang kembali dan meninggalkanku.


"Kira-kira, berapa lama lagi aku akan sampai ke rumah?"


Entahlah, tapi aku tetap harus melangkah agar lebih cepat sampai ke rumah.


Hanya keheningan yang kujalani sampai membuatku sedikit bosan.


Aku ingin terbang lagi seperti kemarin dan tertidur agar perjalanan terasa lebih cepat.


Saat terbang tadi, aku sudah mencoba untuk mengerahkan kekuatanku seperti saat latihan, tetapi nihil.


Padahal aku tidak kelelahan, tapi entah kenapa elemen anginku tidak mau keluar sepenuhnya seperti kemarin.


Apa Nenek melakukan sesuatu pada kekuatanku? Semoga saja tidak…


Aku akan mencoba mengerahkanya lagi nanti. Mungkin karena aku baru bangun tidur dan tenagaku belum pulih sepenuhnya, makanya aku tidak bisa mengerahkan kekuatan penuh.


.......


.......


.......


Perjalananku masih berlanjut dengan melewati pasar. Berarti dalam waktu 20 menit lagi, aku akan sampai ke rumah.


Kurasa sekarang sudah dini hari, lama juga aku melakukan perjalanan.


Berarti kalau mau ke rumah Gulinear, aku perlu menempuh sekitar 4 jam.


Kalau dipikir-pikir, rumah Gulinear juga berada di tengah-tengah hutan.


Rumah Gulinear sangat luas, jarak ruang makan dan dapur saja lumayan jauh.


Rumahnya juga bertingkat dan lantainya cukup dingin dan bersih. Apa Gulinear termasuk keluarga terpandang?


Tapi sikapnya tidak cocok… Mungkin karena masih anak-anak.


Aku berhenti sejenak karena merasakan sesuatu yang harum.


Dalam jarak 4 meter, terdapat orang yang sepertinya sedang berjualan dan aku perlahan berjalan ke sana.


Aku merogoh kantong bajuku dan ternyata masih tersisa beberapa koin.


Maaf Kakak, tapi sekali-sekali jajan nggak apa-apa, kan?


"Mau beli apa, Nak? Ada cakue, sempol, leker, dan pentol."


Kurasa semuanya enak…


Karena baunya harum semua, aku membeli masing-masing satu bungkus.


"Kenapa dini hari begini kamu keluyuran, Nak? Di mana orang tuamu?"


Orang tuaku sudah tidak ada lagi di dunia ini…


"Orang tua saya sedang tidur dan saya diam-diam keluar untuk jajan."


Kurasa begini saja sudah cukup, aku tidak perlu memberitahu hal yang sebenarnya.


Sebenarnya aku memang seperti 'kabur' dari rumah, kan tiba-tiba aku terbang dan meninggalkan rumah Kakak tanpa pamit terlebih dahulu.


"Sebaiknya kamu cepat pulang atau orang tuamu akan khawatir, Nak. Siapa tahu mereka terbangun dan sedang mencarimu sekarang."


Tidak kok…


Aku memakan salah satu yang kubeli dan rasanya enak.


"Yang ini namanya apa ya, Bu?"


Ibu itu melihat sekilas sebelum menjawab,


"Itu namanya sempol. Kamu belum pernah makan, ya?


Oh, jadi seperti inilah rasa sempol. Aku memegangi agar bisa mengenali bentuknya.


"Belum. Rasanya enak, benar-benar gurih. Seperti ada rasa telur?"


Ibu penjual sepertinya sedang melakukan sesuatu yang tidak kuketahui sambil menjelaskan padaku,


Aku mengangguk sambil meraba benda di sekitar. Aku akhirnya menemukan kursi karena ingin duduk.


Sepertinya nongkrong sebentar di sini tidak apa-apa. Lagipula, Nenek sudah memberi mantra pelindung padaku.


"Memangnya selama ini kamu makan apa? Kok sempol aja gak tahu?"


Soalnya aku anak rumahan, Bu… Sehari-hari aku cuma mengurung diri di rumah karena takut dengan dunia luar.


Bercanda kok…


"Biasanya orang tua saya sudah memasak lauk di rumah, jadi saya tidak jajan di luar. Karena itulah saya kemari diam-diam, saya penasaran rasa jajanan di pasar. Ternyata Ibu pandai membuat makanan enak, ya."


Puji sedikit tidak apa-apa lah, ya. Ramah kepada orang lain kan juga penting, aku ingin orang lain senang saat mengobrol denganku.


"Aduh, bisa aja, sih… Orang-orang juga bilang begitu~ Katanya aku ini berbakat lah, pandai lah~ Kata mereka, aku juga bisa jadi koki dikeluarga bangsawan kalau mereka tahu bakatku~ Ohohoho~ Kuharap kata-kata mereka menjadi kenyataan."


Apa aku memujinya terlalu berlebihan, ya? Ibu penjual ternyata sangat senang ketika dipuji. Tentu saja semua orang juga begitu, kan…


"Anakku ada yang seumuran denganmu. Kuharap kamu mau berteman dengannya, dia anak yang sangat baik dan suka membantu Ibunya. Cantik dan sopan juga seperti Ibunya~"


Begitu ya…


"Anak Ibu ada di mana sekarang?"


Ibu penjual kemudian selesai melakukan sesuatu dan sekarang ada di depanku.


"Anakku sedang tidur, dia kelelahan karena membantuku sampai sore. Kurasa sebentar lagi dia akan bangun, kamu mau bertemu dengannya?"


Ide yang bagus, aku juga bisa menambah teman. Tapi sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus pulang sekarang.


Aku harus pulang sebelum mereka makin mengkhawatirkanku.


"Maaf, Bu. Saya harus segera pulang karena orang tua saya akan segera menyadari kalau saya tidak ada di rumah. Mereka biasanya bangun dini hari jadi sebentar lagi pasti akan bangun. Terima kasih makanannya."


Aku izin pamit dan hawa Ibu penjual menunjukkan bahwa ia edikit kecewa padaku.


Aku mendengar suara kuda meringkik dan berdepak-depak yang semakin mendekat.


"Dia di sini! Anak itu di sini!"


Suara ini…


"Laalit! Laalit kau dengar!?"


Tentu saja aku dengar, suaramu lebih keras daripada terompet. Tunggu, terompet itu apa?


"Dasar anak ini! Kenapa terbang seperti itu dan menghilang seperti debu?!"


Aku kemudian berpura-pura bahwa mereka adalah orang tuaku.


"Maafkan aku, Ayah… Aku juga minta maaf, Ibu…"


Kakak buru-buru menghampiriku kemudian memelukku dengan erat.


"Kau sakit?! Bagaimana ini, Aamod?!"


Ukh, Kakak… Aku-


"Anak kalian tadi mampir dan jajan di sini. Dia sepertinya suka sekali dengan jajanan yang kubuat, jadi jangan marahi anak ini~ Kalian tidak boleh terlalu mengekangnya, Anak ini bahkan tidak tahu sempol. Sekali-sekali jajan kan tidak apa-apa~ Benar kan, Nak?"


Kakak mengendurkan pelukannya,


"Apa maksudnya, 'anak kalian'?? Ada apa ini?"


Tanpa kuberitahu, beberapa menit kemudian Kakak langsung paham sendiri.


"A-ANAK?!"


Aamod, tidak bisakah kau kecilkan suaramu sedikit…


"DIA BUKAN ANA-"


"-MAafkan Anak kami kalau sudah merepotkan ya, Bibi. Anak ini… Ayo, pulang ke rumah sekarang!"


Bagus, Kakak!


Aku mengangguk dan melambaikan tangan pada Ibu penjual.


.......


.......


.......


Kukira Kakak dan Aamod hanya menunggang satu kuda, ternyata mereka naik kuda secara terpisah.


Aku dibawa bersama Aamod, sedangkan Kakak menunggung sendirian di samping kami.


"Kau sudah menghilang selama 2 hari! Kami hampir gila karena mengira kau sudah mati dimakan hewan buas!"


"Maafkan aku…"


Aamod menghela napas panjang,


"Kita bicarakan nanti di rumah."