
"Bukankah kita bertemu lagi, murid baru?"
Iya… Kita bertemu lagi, Tuan yang Tampan…
Kamu tiba-tiba saja menghilang saat ada urusan mendesak.
Sekarang, kamu muncul tiba-tiba tanpa kurasakan hawa keberadaannya.
Sepertinya, hobimu itu muncul dan menghilang secara mendadak, ya…?
Aku bahkan mendadak menghentikan meditasiku karena kamu muncul secara mendadak juga.
Ternyata, hobi 'mendadak' itu bisa menular dengan cepat ke orang lain.
Tidak, tidak! Aku bukan sedang menyindirnya… Aku kan hanya mengatakan kenyataannya saja~
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sedang mencari seseorang, misalnya… temanmu?"
Orang ini berusaha memperkecil jarak kami, tapi aku langsung menghindar dengan memberi jarak yang lebih jauh.
Aku melakukan ini bukan tanpa alasan sama sekali…
Orang ini… Perasaanku hanya tidak enak saja saat berhadapan dengannya.
Hawanya masih sama dengan yang sebelumnya. Mencurigakan!
"Aku tidak sedang mencari siapapun."
Kurasa itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya, lebih baik aku memutar arah sekarang.
"Ah… Kita tanpa sengaja bertemu, lalu sama-sama tidak mencari siapapun. Kebetulan yang menarik, bukan?"
Sama sekali tidak menarik. Aku tidak menarik, tapi kamu cukup menarik.
Hal yang membuatmu menarik adalah… keberadaanmu tidak bisa kurasakan barusan.
Padahal biasanya aku bisa merasakan keberadaan orang lain dalam jarak tertentu, apalagi kamu berbicara saat jarak kita tidak terlalu jauh.
Kamu ini sebenarnya apa?
Ninja yang sedang menyamar?
"Bagaimana kalau kita berbincang sebentar?"
Tidak mau… Auramu terasa aneh…
Aku sama sekali tidak bisa merasakan tingkat kekuatanmu…
Aku memundurkan langkahku, semakin menjauhkan diri darinya.
Semakin aku menjaga jarak, semakin mendekat pula dia padaku.
"Aku bisa memainkan beberapa alat musik."
Langkahku terhenti seketika. 'Alat musik' itu membuat tubuhku langsung menghampirinya.
Dia mengajakku ke ruangan yang ada alat musiknya.
Tanpa ragu-ragu, aku mengangguk lalu menyusul orang tersebut.
Hanya beberapa langkah saja, kami sudah sampai di ruangan musik.
Ternyata ada ruangan seperti ini di rumah ini…
Benda-benda yang ada di ruangan ini, auranya terasa kuat.
Yang di sebelah kanan itu yang auranya lebih kuat daripada yang lainnya.
Hah!
I-Itu…!
Terutama yang sedang orang itu sentuh sekarang, kurasa itu yang paling kuat di sini.
Orang tersebut memegang benda yang kuat itu, meletakkannya di bagian pundak kanan.
Kalau dari yang kurasakan, orang itu meletakkannya di pundak kanan.
Tapi, sebenarnya kalau dirasakan dari sudut pandang orang itu, dia meletakkannya pada pundak di sebelah kiri.
Sedang tangan yang satunya, memegang benda panjang yang auranya cukup kuat juga, walaupun tak sekuat aura benda yang sedang dia jepit di pundaknya.
Dijepit begitu… Apa tidak sakit?
Apa yang akan orang ini lakukan?
"Sebentar, ya. Aku sedang mengatur nadanya agar pas."
Orang itu melepaskan jepitan pundaknya, menaruh benda yang panjang ke sembarang tempat, kemudian memegang benda yang auranya kuat itu dengan kedua tangannya.
Dia sepertinya sedang mengatur nada pada benda itu sekarang…
Jadi, alat musik apakah itu?
Piano?
Tapi, waktu itu Gulinear tidak mengatur nadanya. Gulinear cuma duduk dan menekan tuts pianonya.
Lagipula, piano itu besar, mana bisa diletakkan di bahu begitu…
Piano juga memiliki bobot yang berat. Kurasa tidak mungkin mengangkat piano, apalgi meletakkannya di pundak. Bisa patah tulang bahunya.
Soal piano… Katanya, dia bisa memainkan beberapa alat musik.
Apa orang ini mahir bermain piano juga?
Kalau bisa, dia benar-benar heba-
Hmm? Sepertinya aku mendengar suara petikan barusan.
Oh! Pasti orang ini sedang mengatur nada pada gitar sekarang.
Kata Aamod kan, gitar dimainkan dengan cara di petik.
Jadi aku akan mendengarkan permainan gitar sekarang!
Ya ampun, aku sudah tidak sabar! Aku benar-benar penasaran bagaimana suara gitar yang dimainkan itu.
Apa yang benda kuat itu atau yang benda memanjang itu?
Mungkin dua-duanya??
Kurasa setelah ini, aku ingin memintanya untuk mengajariku memainkan gitar. Kuharap, dia mau mengajariku.
Saat menemui Kakak nanti, aku ingin menunjukkan keahlianku pada Kakak.
Pasti Kakak akan senang dan bangga mempunyai adik sepertiku.
Sudah baik, sopan, suka menolong, bisa bermain gitar lagi.
Aku ini benar-benar adik idaman~
"Ada permintaan?"
Permintaan?
Maksudnya, minta dimainkan lagu tertentu?
Sebentar… Lagu apa yang cocok dimainkan dengan gitar, yaa…?
Lagu…
Aku tidak kepikiran apapun…
"Tidak. Anda mainkan saja lagu yang anda sukai."
Cepat juga dia mengatur nadanya. Kukira akan memerlukan waktu selama berjam-jam hanya untuk mengatur nada pada gitar, ternyata memerlukan waktu beberapa menit saja…
Kalau begitu, ayo kita dengarkan bagaimana permainan gitar itu!
Dengan pelan, orang ini meletakkan benda yang kuat itu ke pundak dan menjepitnya.
Tangan yang satunya lagi memegang benda yang panjang, meletakkannya di atas benda yang kuat itu.
Bukan benda, tapi gitar. Iya, itu maksudku!
*♪♪*
Eh…
Ini…
Ini bukan gitar…
Benda ini bukan dipetik, tapi digesek.
Suara gesekan yang indah ini… Aku…
Hatiku menjadi tenang dibuatnya.
Betapa tulusnya dia saat memainkannya…
Orang ini menggesek benda kuat ini, maksudku alat musik ini, menggunakan benda yang panjang itu.
Dia menarik benda panjang itu dan menggeseknya dengan lurus.
Jari telunjuk ke atas, lalu jari manis menekan dengan tegas, suara gesekan yang agak cepat.
Tekanan yang dia buat saat menggesek, sesekali mengeluarkan suara yang cukup kuat tetapi juga merdu.
Sekarang, dia menggesek dengan lebih lembut... Dia melakukannya dengan lincah dan ringan.
Bukan hanya suara alat musiknya saja yang terdengar lembut, tapi perasaannya juga sama.
Perasaan merindukan, seperti sudah lama tidak bertemu dengan seseorang.
Apa lagu yang dia mainkan ini, menyiratkan kerinduannya terhadap seseorang?
Aku mengira begitu karena hawanya sekarang sama persis dengan perpaduan nada pada musik ini.
*🎶*
Orang ini menggesek alat musiknya dengan semakin cepat.
Menaikkan turunkan siku, gerakan jari seperti menggelitik sesuatu...
Bagaimana bisa dia melakukan itu?
Bagaimana bisa dia menggerakkan tangannya dengan sangat cepat, tapi juga menghasilkan suara yang begitu indah?!
Itu pasti sulit sekali... Aku yang merasakannya saja sampai kewalahan saat dia menggeser jari-jarinya setelaten itu.
Kadang aku merasakan dia menggoyangkan beberapa jarinya...
Dia menggoyangkan jarinya tapi benda tersebut tidak ikut bergoyang...
Itu... Itu juga... Kenapa bisa begitu?
Oh, dia memiringkan benda yang panjang itu ke arah alat musik yang tidak kuketahui namanya, suaranya menjadi lebih indah daripada sebelumnya!
Wah... Nada yang dia mainkan tinggi sekali! Dia menggeseknya dengan pendek-pendek seperti terputus-putus.
Meskipun begitu, suaranya tetap indah! Nadanya pun terdengar elok!
Dan ini yang terakhir... Gesekan memanjang disertai goyangan tangan yang menghasilkan suara terbaik...
Dia sudah selesai memainkannya.
Dia menyelesaikan permainannya dengan sempurna!
Aku membuka tanganku, menepukkan kedua telapaknya, lalu bertepuk tangan sebagai apresiasi atas permainannya yang mengagumkan.
Kamu tahu? Saat dia memainkan alat musik ini, hawa jahat yang dia pancarkan berubah menjadi baik.
Hawa yang sangat ramah, bahkan mendekati suci.
Bahkan Gulinear tidak mempunyai hawa yang seperti itu saat memainkan piano.
Orang ini, dia memainkannya dengan sangat tulus, sangat menjiwai.
Dia terasa baik saat memainkan alat musik ini, berbeda saat kami berbincang barusan.
Apa yang membuatnya begitu? Apa yang membuat sikap tulusnya menjadi jahat?