
Hari-hari yang dinantikan pun telah tiba. Kami sudah sampai di tempat pelatihan milik Tuan Mahajana yang terletak di pusat kota.
Dengan wajah yang masih setengah mengantuk, aku bangkit lalu berusaha merapikan rambutku yang kata orang-orang bentuknya lucu, unik, dan aneh…
Sudahlah, itu tidak penting, bentuk rambut kan memang sudah genetik…
Aku langsung berdiri dari tempat tidur kemudian turun dengan melompat dari kereta kuda, lalu berlari ke area tempatnya.
Kutarik udara yang menyejukkan ini melalui hidungku, lalu menghembuskannya melalui mulutku.
Rasanya bahagia sekaligus lega, akhirnya sudah terbebas dari kereta kuda selama sebulan penuh, rasanya seperti terkurung di dalam sana.
Ah, tidak! Karena sempat tertidur selama beberapa hari, aku tidak sepenuhnya terkurung.
Entah mengapa aku agak bersyukur karena sempat tertidur selama seminggu penuh.
Aku jadi tidak merasa sangat bosan dan suntuk, rasanya seperti melompat ke waktu tertentu.
Kalau dipikir-pikir, melompati waktu memang menyenangkan.
Ketika sedang bosan, aku bisa melewati waktu misalnya 20 menit kemudian.
Saat itu, ternyata aku sedang makan sesuatu yang belum pernah kumakan tapi rasanya sangat enak.
Karena masih lapar, aku pun tambah sampai 4 piring sekaligus.
Sayangnya, aku tidak punya uang sebanyak itu. Ingat Laalit, kamu bukanlah orang terpandang…
Eh, bukankah memasak sendiri juga bisa?
Mungkin aku bisa belajar memasak, misalnya memasak nasi kuning untuk 5 porsi, tetapi 3 porsinya untukku.
Tunggu… Menurutku melompati waktu ada sisi menyeramkannya juga. Bagaimana kalau saat melewati 15 tahun kemudian ke masa depan, ternyata aku melihat kuburanku sendiri?
Tidak apa-apa, kematian itu wajar. Manusia memang hidup untuk mati, kenapa harus takut?
Belajar, sukses, lalu mati. Seandainya… Seandainya kehidupan tidak semembosankan itu…
Aku menundukkan wajahku, lalu menghela napas sedikit.
Bolehkah aku berkhayal sebentar?
Aku mengarahkan wajahku ke atas, merasakan sinar matahari yang cukup hangat mengenai seluruh wajahku.
"Bagaimana… Kalau manusia… Bisa mengatur kehidupannya sendiri?"
"Apakah ada kekuatan seperti itu?"
"Kalau memang ada, aku akan membuat kehidupan ini menjadi lebih menarik."
"Dilahirkan, merangkak, tumbuh hingga menjadi anak berusia 11 tahun, lalu kemudian langsung bisa memainkan piano."
"Setelah itu, aku membuat karangan lagu sendiri. Judulnya… Emm…"
Aku menaruh sebagian jariku ke dagu, kemudian berpikir sejenak.
"Jepriotte? Entah mengapa kedengarannya seperti lagu kebangsaan…"
"Liriknya tentang manusia yang pantang menyerah. Pada bagian akhir lagu, akan ada yang memainkan terompet."
Tunggu, kenapa terompet? Kenapa tidak gitar saja?
Kalau gitar sih, aku sudah tahu. Kata Aamod, gitar bentuknya seperti angka 8 dan cara memainkannya dengan cara dipetik.
Aku masih bingung dengan kata 'dipetik'. Apakah itu artinya ada bagian gitar yang ditarik…
Maksudku, apakah seperti saat memetik daun? Saat jari jempol dan jari telunjuk memegang daun di ranting pohon kemudian menariknya, itu disebut sebagai 'memetik' daun.
Tapi kan, gitar dimainkan dengan cara 'dipetik' bukan 'memetik'.
Ah, terompet itu alat musik apa, ya? Apakah suaranya seperti suara piano?
Bagaimana bentuknya? Apakah seperti gitar yang berbentuk angka 8?
Kalau begitu, berarti terompet itu gabungan dari piano dan gitar, dong!
Aku sangat ingin segera menyentuh dan melihat bentuknya…
Nah, sekarang aku jadi penasaran tentang terompet.
Setelah penasaran dengan berbagai macam penglihatan manusia di sekitarku, sekarang aku penasaran dengan hal lain lagi.
Setelah penasaran dengan hal lain, aku akan penasaran dengan hal yang jauh lebih lain lagi.
"Eh, terus? Kok Laalit diam saja? Gulinear penasaran, lho!"
Tidak bilang-bilang, ternyata Gulinear sudah di sampingku entah sejak kapan, sepertinya anak ini juga mendengar ocehanku sejak awal.
Aku mengarahkan wajahku sejenak ke wajah anak itu, lalu menyambut kedatangannya dengan senyuman.
Hawa Gulinear terasa senang, dia lalu menggandeng tangan kananku dan mendekatkan badannya.
Aku kemudian mengarahkan tangan kiriku ke rambutnya, mengelusnya secara perlahan sambil tersenyum kembali.
Aku mengarahkan wajahku ke langit seperti sejak awal dan melanjutkan ceritaku yang sempat tertunda.
"Aku memainkan Jepriotte saat resital piano. Kakak, Aamod, Tuan Mahajana, dan kau… Kalian semua hadir dalam resital tersebut. Kalian duduk di kursi penonton, memperhatikanku yang sedang fokus menekan setiap tuts piano. Aku memainkan setiap nada dengan lembut dan penuh penghayatan. Saat bagian terakhir, aku menekan tuts piano dengan semakin pelan. Lalu, kalian tersenyum, bangkit dari duduk, dan bertepuk tangan karena permainan pianoku yang mengagumkan."
Gulinear terus mengangguk-anggukkan kepalanya.
Angin yang terasa sejuk di sore hari, tetapi tidak sesejuk angin yang berada di tempat tinggal Kakak, berhembus melewati kami.
Aku terdiam, menatap ke depan sejenak sambil teringat pembicaraanku dengan Kakak menggunakan kertas ajaib itu.
Gulinear mengatakan bahwa Kakak tampak lebih kurus dari sebelumnya.
Aku tertegun.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa di kertas tersebut terdapat Kakak… yang bisa dilihat oleh Gulinear dan Tuan Mahajana.
Aku bertanya-tanya soal itu dan Kakak mengatakan bahwa aku sedang memegang kertas yang berfungsi sebagai 'alat komunikasi jarak jauh' dan yang lebih mengejutkan, namanya juga 'kertas ajaib'.
Kebetulan sekali, bukan?
Kami membicarakan banyak hal, seperti apakah aku terluka atau sakit dan… Apakah aku menjadi anak yang baik dan tidak merepotkan Tuan Mahajana.
Setelah berbicara dengan panjang lebar, Kakak mengucapkan salam perpisahan lalu mengatakan bahwa dia sangat merindukanku, aku mengatakan bahwa aku juga sangat merindukannya.
Aku sempat mendengar Kakak menangis. Aku berusaha memanggil Kakak selama beberapa kali, tetapi aku tidak mendengar suaranya lagi setelah itu.
Saat itu, aku menjatuhkan air mataku dan dengan cepat mengusapnya kembali karena malu diperhatikan oleh Gulinear dan Tuan Mahajana.
Padahal baru sebulan, tetapi aku sudah sangat kangen kepada Kakak.
Bagaimana aku menjalani hari-hariku selama setahun di sini?
Rasa rindu apa yang akan kurasakan selama setahun ini?
Seberapa rindu aku kepada Kakak kalau sekarang saja aku selalu membayangkan suaranya setiap hari?
Aku menggelengkan kepalaku, kemudian membuka mulutku untuk melanjutkan ceritaku yang belum selesai.
"Setelah dewasa, aku kemudian menjadi seorang master yang sangat kuat dan membawa Kakak ke rumah, maksudku istanaku yang megah. Kakak duduk di sebuah bangku menghadap ke arahku, aku pun duduk di sebuah bangku yang lain. Di depanku ada sebuah grand piano yang sudah kubeli dengan hasil kerja kerasku sendiri. Aku kemudian memainkan lagu yang nadanya mengandung kasih sayang, seperti perasaanku yang sangat menyayangi Kakak."
Aku menutup mulutku agar Gulinear tidak bisa melihat ekspresiku, kemudian tertawa riang.
"Pasti menyenangkan, ya?"
"Tentu saja! Gulinear juga senang! Di sini ada piano juga, lho! Ayo kita bermain bersama-sama!"
Ini memang agak klise, tetapi lagi-lagi Gulinear menarik tanganku.
Kami berlari menuju ke dalam tempat ini. Ada seseorang yang membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.
Setelah berlari selama beberapa menit, kemudian melewati suatu tangga, Gulinear kemudian berhenti secara mendadak, aku pun secara tidak sengaja menabraknya.
Aku dengan sigap membenarkan posisi kakiku dan menarik tangan Gulinear sehingga kami pun tidak jadi terjatuh.
Lalu, Gulinear berjalan secara perlahan lalu duduk.
"Laalit, ayo duduk kemari!"
Gulinear mengatakannya sambil menepuk bagian kursi tersebut.
Aku mengangguk kemudian duduk di sampingnya sekarang.
"Sekarang, ayo kita mainkan lagu ini! Laalit di bagian nada, ya!"
Aku langsung berdiri lalu berjalan dengan cepat membelakangi Gulinear.
"Laalit mau kemana?"
Takut membuatnya menangis, aku pun tetap mengatakan yang ingin kukatakan.
"Makan dulu, yuk? Setelah tidur siang, aku agak lapar."