
Kemarin, setelah Gulinear puas melihat bunga-bunga di taman, kami naik ke kereta kuda untuk melanjutkan perjalanan hingga ke pusat kota.
Kami tidak mampir untuk sarapan ataupun makan ke suatu tempat karena kami sudah membeli beberapa roti untuk melanjutkan perjalanan jarak jauh.
Lagipula, terlalu sering berhenti dan mampir ke suatu tempat, hanya akan memperlama waktu perjalanan untuk sampai ke pusat kota.
Kadang kami menghentikan kereta kuda dan makan di suatu tempat selama berjam-jam.
Yang paling menggangguku adalah, kami menghentikan perjalanan hanya untuk tidur selama 8 jam.
Aku jadi agak ragu, apakah kami benar-benar akan sampai ke pusat kota dalam waktu sebulan?
Padahal kereta kuda ini cukup luas dan terdapat tempat tidur yang tersedia, walaupun hanya dua, sih.
Kalau tidur di dalam kereta kuda, biasanya aku tidur bersama Gulinear, sementara Tuan Mahajana tidur di kasur yang satu lagi.
Gulinear itu… Tidurnya berantakan sekali… Dia selalu tidur dengan kakinya yang menghadap ke wajahku dan tangannya yang mengarah ke kakiku.
Iya… Tidurnya itu selalu saja terbalik. Kadang rambutnya itu mengenai wajahku sehingga aku terbangun dan bersin. Setelah itu, aku tidak bisa tidur sampai pagi.
Kukira gaya tidurnya akan tenang dan sopan karena Gulinear adalah anak dari keluarga terpandang.
Ternyata orang terpandang pun gaya tidurnya berantakan…
Tidak, kurasa cuma Gulinear yang gaya tidurnya berantakan.
Orang-orang terpandang yang lainnya pasti akan tidur dengan tenang dan tidak mengganggu teman di sampingnya saat tidur bersama…
Ha. Ha. Ha…
Omong-omong…
Aku ingin segera sampai ke pusat kota secepat mungkin, melakukan perjalanan jarak jauh seperti ini ternyata sangat melelahkan.
Jalanan yang kadang grudak-gruduk sampai membuat tubuhku naik-turun, mandi pun hanya kadang saja saat sedang berada di penginapan.
Sebenarnya bisa mandi di sungai juga, sih. Tetapi, akan memakan waktu yang cukup lama untuk mencari sungai yang biasanya jarang ditemukan di sekitar sini. Lagi pula setelah mencari dalam waktu yang cukup lama, belum tentu dapat menemukan sungai tersebut. Lebih baik fokus melanjutkan perjalanan jarak jauh agar cepat sampai ke pusat kota.
Jadwal makan pun berantakan… Kadang tidak sarapan dan sering tidak makan malam kecuali Gulinear sudah merengek kelaparan, baru Tuan Mahajana menghentikan kereta kudanya untuk makan malam.
Badanku juga selalu pegal walaupun sedang tiduran di kasur, mungkin tubuhku hanya belum terbiasa dengan perjalanan jarak jauh ini.
Kalau dihitung-hitung…
Ini sudah hari ke 10 sejak perjalanan pertama dimulai.
Saat hari pertama, aku hanya diam saja dan tidak ingin berbicara dengan siapapun karena aku masih merindukan sosok Kakak yang selalu berada di sampingku.
Suara tangisan Kakak masih terngiang-ngiang di telingaku hingga rasanya aku ingin kembali dan membatalkan diri menjadi murid Tuan Mahajana.
Gulinear mengajakku bicara karena aku terlihat pendiam dari biasanya, tapi aku mengacuhkannya karena aku tidak ingin mengobrol dengannya, aku hanya ingin mengobrol dengan Kakak.
Kakak… Apakah Kakak makan dengan teratur? Apakah Kakak tidur dengan nyenyak?
Semoga Aamod menjaga Kakak dengan benar… Semoga Kakak sehat-sehat saja…
Untunglah dihari kedua, aku mulai terbiasa dengan sosok Kakak yang tidak ada di sampingku.
Sosok Kakak yang kini tidak menemaniku, tidak membuatku terlalu bersedih seperti saat hari pertama.
Aku ingin menyudahi kesedihanku karena menurutku bersedih tidak akan menyelesaikan masalah apapun.
Walaupun aku bersedih, aku tetap tidak bisa mendengar suara Kakak atau merasakan pelukan Kakak yang hangat dan lembut.
Jadi, sedih terlalu lama hanya akan membuang-buang energi dan tidak ada manfaatnya.
Hari itu juga, badanku rasanya sakit semua karena tidak terbiasa melakukan perjalanan jarak jauh.
Karena itulah, aku tidur dari pagi sampai malam seperti seorang pemalas, di saat itulah Gulinear membangunkanku secara paksa sampai membuat kepalaku agak pusing.
"Kenapa belum tidur?"
Suara Tuan Mahajana seketika membuyarkan lamunanku.
"Aku belum mengantuk. Kalau Tuan, kenapa belum tidur?"
Saat ini, kami sedang duduk sambil bersender di kursi yang cukup luas.
"Daerah ini cukup rawan, jadi aku harus berjaga-jaga kalau ada musuh yang tiba-tiba ingin menyerang atau merampok benda berharga di dalam sini."
Seperti biasa, aku hanya menanggapi pernyataan seseorang dengan mengangguk.
"Kamu sebaiknya segera tidur. Anak-anak tidak boleh tidur terlalu larut, nanti cepat lelah dan mengantuk sepanjang hari."
Tapi aku benar-benar belum mengantuk…
Oh, iya…
"Tuan, mengapa Tuan yakin sekali kalau Nenek sudah menurunkan kemampuannya padaku?"
Sambil menatap ke luar, Tuan Mahajana kemudian menjelaskan padaku.
"Menghapal satu mantra tidak bisa dilakukan hanya dalam sekali lihat. Mantra adalah ilmu langka yang sulit dipelajari, biasanya mantra bisa cepat dipelajari bila anggota keluarga memang ahli dalam mantra atau sudah sangat berbakat sejak lahir. Walaupun sangat berbakat sekalipun, seseorang membutuhkan waktu selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun hanya untuk menghapal satu mantra."
Begitu, ya… Ternyata mantra itu tidak mudah untuk dipelajari.
Tidak kusangka mempelajari suatu mantra bisa membutuhkan waktu sampai bertahun-tahun, kukira mantra itu bisa dipelajari dalam sekali baca…
"Sebenarnya, cepat atau lambatnya menghapal suatu mantra, dipengaruhi oleh panjang pendeknya kalimat yang perlu dihapal untuk menghasilkan suatu mantra. Mantra yang paling sulit dihapal adalah mantra penyembuhan. Konon, mempelajari hal dasarnya saja sampai membutuhkan waktu selama bertahun-tahun. Untuk sampai ke tingkat ahli, dibutuhkan waktu hingga 7 tahun lamanya."
Menghapal mantra itu ternyata dipengaruhi oleh seberapa panjang kalimatnya, ya.
Apakah mantra penyembuhan memiliki penyusunan kalimat yang rumit dan pengucapan yang terlalu panjang sehingga sangat sulit untuk dipelajari bahkan hanya dasarnya?
Entah mengapa aku malah ingin mempelajarinya. Aku ingin tahu seberapa cepat aku mempelajari dasar-dasarnya dan menerapkannya untuk menyembuhkan orang sakit.
Kurasa mantra tersebut akan cukup berguna untuk mengobati Kakak.
Kalau Kakak sedang terluka, aku bisa langsung menyebutkan mantranya kemudian Kakak akan pulih secara perlahan tanpa bantuan tabib.
Tapi, semoga saja itu tidak pernah terjadi. Maksudku, aku ingin tubuh Kakak tidak terluka bahkan lecet sekali pun. Aku ingin tubuh Kakak tetap aman dan tetap sehat.
"Jadi, mempelajari mantra tidak bisa dilakukan hanya dalam sekali lihat, walaupun kamu adalah seorang yang paling jenius sekalipun. Kamu harus terus-menerus mengulang hapalanmu terhadap satu mantra agar tidak melupakannya. Tidak ada manusia yang langsung mahir menggunakan mantra tanpa mempelajarinya terlebih dahulu, kecuali manusia tersebut telah diturunkan kemampuan membuat mantra oleh orang yang berpengalaman dalam pengucapan mantra. Kamu adalah kasus yang langka, di mana terdapat orang lain secara sengaja menurunkan kemampuannya padamu."
Aku langsung bisa menyebutkan mantra pelindung tanpa mempelajarinya terlebih dahulu…
Jadi, Neneknya Gulinear memang menurunkan kemampuannya padaku, tapi untuk apa?
Kenapa Nenek tidak menurunkan kemampuannya kepada Gulinear, cucu kesayangannya?
Bagaimana kalau Gulinear mengetahui kalau Neneknya telah menurunkan kemampuannya padaku, teman pertamanya?
Apakah Gulinear akan membenciku karena mengetahui hal itu?
"Apakah kamu sudah paham?"
Aku mengangguk.
"Selain karena kamu yang dapat langsung menerapkan mantra pelindung, terdapat suatu 'tanda' ditubuhmu yang menandakan bahwa ada seseorang yang telah memberikan kemampuannya padamu. Saat mengganti bajumu, aku menemukan 'tanda' tersebut terdapat di badanmu, tepatnya di bagian perut kananmu."
Tuan Mahajana menyentuh perutku di sebelah kanan tetapi agak ke bawah, hampir mendekati pinggang.
"Kok kalian belum bobo?"
Padahal Gulinear sudah tertidur beberapa jam yang lalu, sepertinya dia terbangun…