
Aku masih di sini, berada di tempat dengan bermacam-macam aura yang berbeda.
Gulinear masih belum kembali, apa dia kabur dan sengaja meninggalkanku disini? Tidak mungkin! Busur panahnya kan masih disini..
Tapi bisa saja kan dia membeli busur panah yang baru?!
Tidak-tidak, kurasa Gulinear bukan orang yang seperti itu.
Gulinear adalah gadis yang ceria, mempunyai perasaan iba yang tinggi kepada orang lain, ngambekan, lalu-
Yah, perasaannya memang labil. Tetapi meskipun begitu, dia anak yang baik dan polos, kurasa dia tidak akan membuat orang lain merasa kecewa padanya, atau bahkan membencinya.
Mungkin saja sekarang dia masih mencari Tuan Mahajana, tetapi belum juga menemukannya.
Atau bisa saja dia sudah bertemu dengan Tuan Mahajana, mungkin sekarang Gulinear sedang membicarakan soal instruksi memegang busur panah yang barusan ia ajarkan padaku.
Kemungkinan yang lainnya adalah.. dia pergi mendadak dari sini karena ada urusan penting sampai lupa berpamitan denganku.
Bisa jadi dia mempunyai penyakit bawaan dan ternyata kambuh karena dia lupa minum obat ramuan.
Setelah itu dia dibawa ke tabib, terdapat kabar mengejutkan bahwa butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkan Gulinear karena penyakit bawaannya sulit untuk disembuhkan.
Bagaimana bisa dia melupakan hal sepenting itu?
Semoga saja itu tidak terjadi. Kuharap dia tidak mempunyai penyakit seperti itu.
Tunggu, kenapa aku cemas hanya gara-gara hal sepele seperti ini?
Oh, ayolah.. Dia bukanlah temanku, saudaraku, ataupun bagian dari keluargaku.
Gulinear baru pergi selama 1 jam, tapi pikiranku sudah bercabang kemana-mana.
Aku cuma mengkhawatirkan dia, khawatir bila sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Tapi tidakkah aku sudah terlalu overthinking? Apakah sebelum hilang ingatan sifatku memang begini, berpikir berlebihan?
Apakah dulu aku rendah diri hingga stres karena hanya melihat kegelapan, kemudian menjadi overthinking kepada orang lain sampai menghindari semua orang?
Kakak bilang orang-orang tidak mau berteman denganku karena aku sangat pendiam. Mungkinkah karena itu?
Ataukah sebenarnya mereka yang membullyku duluan hingga aku menjadi rendah diri dan overthinking?
"Haaahh.. Bukankah sekarang aku juga sedang overthinking?"
Aku menghentikan overthinking ku lalu memusatkan perhatianku kepada orang sekitar.
"Ah.. aku lupa kalau aku sudah meninggalkan Kakak dan buru-buru kemari."
Sekali lagi, aku memusatkan pendengaranku untuk mendengarkan yang orang lain katakan.
"Ternyata sekarang sudah jam 6 sore, Kakak pasti sangat khawatir. Lebih baik aku pulang sekarang."
Perlahan-lahan aku menuju pintu depan yang sudah kutandai menggunakan instingku.
Sialnya, banyak orang berlalu-lalang memasuki tempat ini.
Kalau aku langsung menerobos ke pintu depan yang penuh dengan orang-orang berbadan raksasa, pasti tubuhku langsung terlempar ke dalam lagi.
Kuharap badanku cepat tumbuh tinggi dan bertambah dewasa.
Aura mereka terasa sombong, kalau aku menyuruh mereka menyingkir, pasti aku akan dihabisi.
Aku terpaksa menunggu lebih lama lagi agar orang-orang yang berlalu-lalang berkurang.
.......
.......
.......
Sudah 2 setengah jam dan pintu depan masih penuh dengan lautan manusia.
Kurasa ini akan memakan waktu yang cukup lama..
Aku berinisiatif menanyakan pintu lain agar bisa secepatnya keluar dari tempat ini.
Aku merasakan aura positif di sebelah sini. Aku kemudian menghampiri orang dengan aura positif tersebut.
"Permisi, bolehkah anda menolong saya sebentar?"
Orang tersebut melihat sekeliling.
"Siapa ya?"
Saking pendeknya, orang ini tidak menyadari bahwa aku tepat dibawahnya.
Padahal kan aku tidak sependek itu. Tempat ini saja yang barang-barangnya terlalu tinggi!
"Ehem.. Dibawah sini, Tuan."
Orang itu langsung melihat kebawah.
"Ah, ternyata kau berada di sini. Ada apa, bocah kecil?"
Tanpa ragu-ragu aku menanyakannya,
"Apakah anda tahu dimana letak pintu yang lain selain yang di depan sana? Saya ingin segera keluar dari tempat ini."
"Aku barusan melihat terdapat pintu belakang di sebelah sana. Jalan lurus saja ke sana dan kau dapat langsung menemukan pintunya."
"Apakah disana cukup banyak orang, Tuan?"
Orang itu pergi lagi lalu kembali kesini.
"Hanya ada 1 sampai 2 orang, yah kurasa.. Mau kuantar saja?"
Aku langsung mengangguk-anggukkan kepalaku dengan penuh semangat.
Bisa repot aku mencari pintu keluarnya kalau orang ini cuma mengatakan arahnya.
Aku kan belum tahu seluk beluk tempat ini, bisa-bisa aku tersesat dan tidak pulang-pulang. Kakak pasti akan sangat khawatir.
Dia lalu menggandengku dan menuntunku menuju pintu belakang.
"Hmm.."
"Ada apa, Tuan?"
"Aku khawatir kau pulang sendirian begini, anak kecil seharusnya tidak berkeliaran di malam hari. Itu berbahaya, Nak."
Orang ini menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan sesuatu padaku,
"Di luar sana ada banyak hal yang berbahaya, ada orang-orang jahat yang akan menculikmu lalu menjual organmu hanya untuk kepentingan mereka. Ada juga orang-orang jahat yang menculikmu untuk memperkerjakanmu secara cuma-cuma. Lalu-"
"Kalau anda memang secemas itu, bukankah Anda bisa mengantarkan saya pulang saja?"
Orang itu rasanya ragu-ragu sebelum menjawabku,
"Tidak bisa, hari ini aku ditugaskan di bagian militer. Hanya sebagai petugas cadangan, sih.."
Aku kemudian memasang wajah memelas.
Orang ini berkeringat dingin, sepertinya aku berhasil!
"Hahaha.. Ku-kurasa, yah kurasa aku bisa mengambil cuti untuk hari ini. Sebentar ya, aku bilang dulu ke salah satu temanku."
.......
.......
.......
Kami pulang dengan menunggangi kuda. Aku dipangku di depan orang ini.
Udaranya lumayan dingin dan aku merasakan ada banyak laron tak jauh dari sini, sepertinya sudah mau musim hujan.
Keheningan pun sirna dengan pertanyaan yang diajukan oleh orang ini.
"Umur berapa?"
"11 tahun, Tuan."
"Nama?"
"Laalit."
"Kenapa kau ada di tempat pelatihan saat hari menjelang gelap, Laalit?"
"Karena penasaran.."
"Penasaran? Penasaran dengan apa?"
"Dengan hawa yang kuat dan menekan, Tuan."
Orang ini heran dengan pernyataanku. Dia lalu menanyakan hal yang membuatnya penasaran,
"Hawa? Hawa apa yang kau maksud?"
"Hawa itu.. saya kurang pandai menjelaskan, tapi saya merasakan seperti ada kekuatan yang sangat kuat di tempat pelatihan, karena itulah aku ke tempat pelatihan."
Dia berpikir sebentar sebelum bertanya kembali,
"Apakah itu aku??"
Ternyata orang ini agak konyol, hahaha..
"Bukan, saya merasakannya dari Pria Tua. Tapi jangan khawatir, saya juga merasakan sedikit hawa dari anda."
"Pria Tua? Siapa?"
Apakah dia tahu Tuan Mahajana, ya? Kurasa tidak ada salahnya jika aku mengatakan bahwa pria itu adalah Tuan Mahajana.
"Tuan Mahajana, dia sangatlah kuat. Karena dialah saya berlari ke tempat pelatihan."
Tangannya bergetar hebat, lalu tanpa sadar menarik tali kekang pada kuda secara berlebihan.
Kami terhenti mendadak dengan tubuhku yang hampir terlontar.
Untung saja orang ini menahan tubuhku, kalau tidak, mungkin tubuhku sudah terluka agak parah.
Tapi, kenapa tindakannya barusan seperti ketakukan begitu?