
Kami melanjutkan perjalanan untuk sampai ke tempat pelatihan yang lain sekaligus tempat tinggal baruku.
Aku jadi teringat saat kami sedang berada di akademi. Saat keluar dari ruangan, terdengar suara Gulinear yang sedang tertawa bersama gadis yang membuatku tidak nyaman.
Aku senang Gulinear mendapat teman baru. Tapi sebisa mungkin, aku tidak ingin dekat-dekat pada gadis itu, sepertinya aku sudah terlanjur merasa ilfeel padanya.
Yah, kalian tahu alasannya, kan? Jadi aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut.
Selain tidak nyaman, mengingat-ingat hal itu juga tidak bermanfaat apapun.
Dengan kata lain, hanya akan membuang-buang waktu.
Mari mengingat hal yang lain saja.
Tuan Mahajana menanyakan kenapa aku bisa tertidur selama seminggu, padahal kondisi tubuhku baik-baik saja.
Aku juga tidak tahu soal itu. Entahlah, aku masih ingat bahwa aku tertidur saat duduk di sini.
Aku tersentak saat terbangun, lalu napasku tersengal-sengal seperti habis berlari tanpa istirahat.
Aneh… Rasanya hanya tidur selama beberapa jam lalu bangun seperti biasa.
Dan… Kenapa napasku tersengal-sengal? Ini sangat janggal…
Selain itu,
Tuan Mahajana juga memeriksa tubuhku menggunakan kekuatannya.
Aku merinding karena rasanya sangat aneh, sama seperti saat Tuan Mahajana melakukannya di tempat pelatihan waktu itu.
Pria tua itu juga mencoba memeriksa aliran kekuatanku dengan meletakkan tangannya pada perutku.
Katanya sih tidak ada yang aneh, tubuhku masih sama seperti biasanya.
Tapi saat Tuan Mahajana mengatakan itu, aku merasakan hawa 'ragu' di sekelilingnya.
Sepertinya Tuan Mahajana berbohong. Aku memilih untuk diam dan menunggu agar Tuan Mahajana mengatakan hal yang sejujurnya sesuai dengan kemauannya, tanpa paksaan dariku.
Kami sempat mengobrol soal tanda yang ada di tubuhku.
Aku menanyakan bagaimana bentuk tanda di tubuhku, Tuan Mahajana mengatakan bahwa bentuknya seperti lingkaran tetapi tidak lengkap, bagian atasnya seperti terpisah sedikit, bagian bawahnya juga begitu.
Karena penasaran, aku meminta tolong kepada Tuan Mahajana agar 'memperlihatkan' bentuknya padaku.
Aku sedikit mengangkat bajuku, Tuan Mahajana kemudian menyentuh dan menggeser telunjuknya sehingga aku bisa 'melihat' bentuknya dengan jelas.
Saat telunjuknya bergeser, rasanya seperti digelitiki sampai aku tidak dapat menahan diri untuk tertawa.
Ternyata bentuknya cukup unik. Seperti lingkaran yang hampir terbentuk, tetapi pada akhirnya terbentuk dengan tidak sempurna.
Aku bertanya kepada Tuan Mahajana apakah orang lain akan mengetahui bahwa aku telah menerima kekuatan seseorang dari melihat tanda ditubuhku, tetapi Tuan Mahajana mengatakan bahwa belum tentu begitu.
Tuan Mahajana juga mengatakan bahwa sebaiknya aku tidak mengatakan kalau aku sudah menerima kekuatan dari orang lain, orang-orang bisa mengincarku atau menggangguku karena dianggap kuat secara instan tanpa usaha.
Kalau orang lain bertanya soal tanda itu, aku hanya perlu mengatakan bahwa itu semacam tanda lahir atau alasan yang lainnya.
Oh iya,
Beberapa hari ini, aku berolahraga secara rutin untuk mengejar ketertinggalanku yang tertidur dan tidak berolahraga selama seminggu.
Sekarang aku sedang melakukan sit up. Aku meminta tolong pada Gulinear untuk memegangi kakiku.
"Laalit! Laalit sedang apa?!"
Masih melanjutkan sit up, aku membuka mulutku dan ingin menjawabnya.
Namun, yang terdengar hanyalah suara nafasku yang pendek.
Kukira akan mudah mengatakan apapun walaupun sedang melakukan aktivitas yang melelahkan ini.
Ternyata berbicara pada saat melakukan sit up itu agak sulit dilakukan, ya.
"Laalit?"
Tolong jangan ajak aku bicara dulu, Gulinear. Selain tidak bisa menjawabmu saat ini, aku ingin berkonsentrasi walaupun hanya sedang berolahraga.
Masih melakukan sit up, aku menghitung tiap gerakanku agar sesuai dengan target yang telah kutetapkan.
Hm? Sepertinya genggaman Gulinear semakin kuat dan hawanya… Ah, mungkin dia sedang marah karena aku mendiamkannya?
Kalau aku terus mendiamkannya, dia bisa mengamuk lagi seperti waktu itu…
Aku menyudahi gerakan sit up dan langsung menidurkan tubuhku dengan posisi telentang.
"Huft… Huft…"
Aku mengelap keringat yang mengucur di sekitar wajahku.
"Hah… Aku… Aku sedang sit up, Gulinear… Ugh!"
Tiba-tiba Gulinear menimpa tubuhku seperti saat dia membaringkan dirinya ke kasur. Aku bisa merasakan bagian depan tubuhnya sekarang.
Tubuhku yang masih kelelahan setelah melakukan sit up, berusaha bangkit agar Gulinear segera memindahkan tubuhnya dari sana, tetapi aku hanya bisa menggeser sedikit tubuhku.
Gulinear malah memelukku dengan erat, sepertinya dia sedang menganggap bahwa aku adalah gulingnya sekarang.
Aku menggeser tubuhku beberapa kali, tetapi anak ini masih bersikeras berdiam di sini.
Kalau bisa, aku ingin menyingkirkan tubuhnya menggunakan elemen angin sekarang…
Sayang sekali aku belum diperbolehkan menggunakan kekuatan.
Selain Aamod, Tuan Mahajana juga menyuruhku untuk tidak menggunakan elemen angin untuk sementara.
Tubuhku bisa terbebani sehingga menimbulkan rasa sakit yang lebih parah daripada sebelumnya.
Benar juga… 2 minggu ini, rasa sakitnya semakin berkurang.
Masih kambuh, tetapi tidak sesakit dulu lagi, sekarang sudah mendingan.
Ini berkat Tuan Mahajana yang sering membantu menstabilkan inti kekuatanku.
Tuan Mahajana menyerap sebagian energinya. Selain itu, Tuan Mahajana juga membuat kekuatan yang mengalir di tubuhku menjadi beraturan.
Dia meletakkan tangannya di punggungku kemudian perlahan-lahan menyalurkan kekuatannya ke dalam tubuhku.
Aku kira rasanya akan menyakitkan seperti yang Nenek lakukan, ternyata sama sekali tidak begitu.
Kekuatannya seperti mengalir dengan tenang, berjalan melewati inti kekuatanku, kemudian…
Dari ujung kepala hingga ke ujung kaki kekuatannya bergerak dengan damai, rasanya agak dingin tetapi juga sejuk.
Intinya, kalau Tuan Mahajana rutin menstabilkan inti kekuatanku, lama kelamaan tubuhku bisa terbiasa untuk menerima kekuatan yang besar ini.
Mungkin beberapa tahun lagi, tubuh ini akan sepenuhnya menerima kekuatan yang diberikan oleh Nenek, sehingga tubuh ini tidak akan berusaha memberontak pada pemiliknya lagi.
Dan rasa sakit itu… Akan menghilang sepenuhnya…
Aku berhutang banyak pada pria tua itu. Suatu saat, aku pasti akan membalas kebaikannya.
Aku… Aku akan selalu taat kepadamu, Tuan Mahajana.
Aku menghela napas lega. Mendapat seorang guru yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang kualami dan melatih kekuatanku, aku rasa… aku ini… sangat… beruntung…
Tidak banyak orang yang bisa menjadi murid dari seorang master.
Aku bersyukur, sangat bersyukur bisa menjadi muridnya.
Selain auranya yang kuat, watak Tuan Mahajana juga baik dan bijak.
Padahal Tuan Mahajana bisa memperlakukanku sesuka hatinya karena aku hanyalah anak yang lemah dan tidak berdaya, tetapi Tuan Mahajana bersikap baik padaku.
Memang orang baik, walaupun kedudukannya sudah tinggi pun pasti tetap akan jadi orang baik.
Aku rasa pilihanku menjadi muridnya memang sudah benar.
"Kalian sedang apa?"
"Gulinear sedang memeluk guling!"
Sudah kuduga dia menganggapku sebagai gulingnya…
Gulinear… Kenapa dia sering menopang tubuhku seperti ini, sih?
"Gulinear, berhenti melakukan hal-hal seperti ini dan bangkitlah sekarang."
Aku berusaha untuk menggeser tubuhku, tetapi Gulinear tetap saja menempel.
Anak ini tetap menempel di badanku, rasanya… berat dan…
Nafasnya itu… terasa menggelikan… Hembusannya itu dari tadi terasa sekali di dadaku…
"Tidak mau~"
Kenapa dia seperti… mengendus…
Tuh… kan… menggelikan… aku ingin menendangnya saja…
Aku menggeser kakiku yang tertimpa oleh kaki Gulinear lalu mengangkatnya, perlahan menekuknya dan mengarahkannya ke badan Gulinear.
Oke… 1… 2… 3-
"Apa yang kamu lakukan?"
Aku refleks langsung menurunkan kakiku. Tuan Mahajana sepertinya berniat untuk menyelamatkanku.
"Tuan Mahajana… Tolong aku…"
Pria tua itu… Dia malah… menertawakanku…