
"Aamod, bolehkah aku menambahkan elemen anginku pada pedangnya?"
"Memangnya kau tahu caranya?"
Aku mengangguk mantap. Kurasa aku tahu caranya setelah merasakan saat Aamod menyalurkan elemen api ke pedangnya.
Aamod mengeluarkan elemen apinya seperti menyalurkannya kemudian api tersebut merambat hingga ke mata pedang.
Perlahan-lahan, aku menyalurkan dan merasakan angin merambat dari mata pedang hingga ke ujung pedang.
Rasanya pedangku lebih ringan tetapi aku tetap menggenggam gagang pedang dengan erat.
Setelah itu, dengan sekuat tenaga, aku menghunuskan pedangku.
*SLASH*
Ini rasanya enak juga, coba sekali lagi~
Aku mengangkat pedangku sekali lagi, lalu bersiap untuk menghunuskannya dengan kekuatan yang lebih besar.
1… 2…
*SRASH*
Aku telah menghunuskan pedang dengan menyalurkan angin lebih banyak ke mata pedang.
Sepertinya aku terlalu berlebihan menggunakan kekuatanku, soalnya tubuhku rasanya agak terdorong sama angin.
Tapi rasanya benar-benar menyenangkan, apalagi saat menyalurkan kekuatan yang lebih besar lagi.
Tubuhku sedikit tertiup angin, kemudian aku mengendalikan anginnya agar tubuhku terbang dengan stabil.
Karena keenakan, tanpa sadar, aku menerbangkan tubuhku lebih tinggi lagi.
"Angin, bawa aku ke tempat yang menyenangkan."
Angin menerbangkanku hingga kesuatu tempat yang tidak kukenal dan amat jauh.
.......
.......
.......
Hai, selamat pagi! Ini sarapan untukmu.
Terima kasih~
Seperti biasa, ini terasa sangat enak.
Aku juga merasa begitu. Sayang, kamu semakin ahli saja.
Hihihi~ Tentu saja, siapa dulu dong yang memasak.
Iya kan, LAALIT?!
*DEG*
A-apa, kenapa?
Kenapa menjauh, hmm? Kemarilah, mendekatlah padaku.
Ba-Baiklah…
Sangat tampan, bukankah Laalit sangat tampan, hmm?
Tentu saja, dia mirip denganku~
Hyaahh~ Ini tidak adil~
Tentu saja aku mirip kalian berdua.
Itu baru benar~
Tapi kurasa Laalit cuma mirip denganku~
Terserah, huh!
Sayang, kemarilah. Ayo. Kemari.
*DEG*
Ti-Tidak, aku mau keluar saja…
Kubilang, KEMARI!
A-Aku tidak mau! AKU TIDAK MAU!
"LAALIT!"
Aku tersentak dan terengah-engah. Kepalaku juga agak sakit karena dibangunkan secara paksa.
Tunggu, saat hari pertama aku bangun, kepalaku juga terasa sakit…
Waktu itu rasanya lebih sakit daripada sekarang. Tapi, kenapa waktu itu kepalaku bisa sakit? Padahal tidak dibangunkan secara paksa.
Apakah aku mengidap penyakit berbahaya? Tunggu sebentar, sepertinya aku terlalu cepat menyimpulkan.
Apa aku perlu membicarakan sakit kepalaku dengan Kakak?
Kurasa tidak usah, nanti Kakak malah cemas dan ketar-ketir pada kondisiku.
Aku akan memberitahukannya saat sakit kepalaku terjadi lebih sering saja.
Aku kemudian bangkit lalu perlahan memegang kepalaku yang rasa pusingnya makin lama makin terasa.
"Ukhh… Mimpi itu lagi-lagi… Suara itu lagi…"
Tiba-tiba, ada yang menepuk pelan punggungku.
"Laalit, Gulinear senang Laalit sudah bangun!"
Gulinear ya, sepertinya aku masih bermimpi.
Bahkan aku bisa merasakan telapak tangannya berada dipunggungku sekarang.
Suaranya juga terasa sangat nyata, aku harus segera bangun dari tidurku.
"LAALIT!"
Astaga, jantungku…
Ternyata anak ini memang berada di sebelahku, tapi kenapa dia ada di sini sekarang?
Tidak, tentu saja ini bukan mimpi lagi. Tapi ini aneh, harusnya kan, dia tidak di sini sekarang.
Mungkin dia sedang berkunjung sebentar, karena rumahnya dekat sini.
Tunggu, memangnya dia tinggal di dekat sini? Kalau dia memang tinggal di dekat sini, untuk apa dia membawa kereta kuda waktu itu?
Dia kan bisa langsung berjalan kaki dan mengunjungi rumahku.
Nah, berarti dia memang tidak tinggal di dekat sini. Oh, sepertinya itu kereta kuda milik Tuan Mahajana?
Kakak bilang bahwa Tuan Mahajana sempat berkunjung ke sini, kemungkinan kereta kuda tersebut milik Tuan Mahajana.
Mengapa aku mengira begitu? Karena Tuan Mahajana adalah master diperingkat 10 besar, dia pasti mampu membeli kereta kuda yang rasanya cukup mewah.
Atau mungkinkah keluarga bangsawan sudah menyediakan kereta kuda untuk para master?
Aku tidak tahu Gulinear anak bangsawan atau bukan, tapi kurasa dia hanya menumpang di kereta kuda tersebut.
Lagipula, sifat Gulinear sama sekali tidak mencerminkan sifat seorang putri yang anggun.
Gulinear? Putri?
"Pfftttt…"
"Laalit? Huaaaaa~"
Gulinear kenapa sih, tiba-tiba menangis? Apa dia sakit?
"Hey… Ada apa, Gulinear?"
Tangis Gulinear perlahan mereda setelah aku berbicara.
"La-Laalit… Hiks… Gulinear khawatir… Karena… Laalit… Diam saja… Hiks."
Ternyata bocah ini mengkhawatirkanku. Kukira dia cuma gadis yang egois.
"Aku kan sudah bicara. Sudah ya, puk puk."
Aku menepuk rambut Gulinear dan tangisnya sudah mereda.
Ruangan ini rasanya berbeda dengan rumah Kakak. Aku di mana sekarang?
"Gulinear, aku di mana?"
Gulinear kemudian memegangi dahiku lalu menjawab,
"Ini… Kamu sedang berada di rumahku."
Aku terkesiap dan bingung. Kenapa aku bisa berada di rumahnya Gulinear? Harusnya kan, aku berada di rumah Kakak.
Setelah latihan, aku akan pergi sebentar ke pasar menemani Kakak, lalu…
LATIHAN?!
Oh, aku sudah mengingat semuanya sekarang! Aku menerbangkan diriku menggunakan angin dan akhirnya aku mendarat di rumah Gulinear.
Sudah kuduga, pasti aku terlalu banyak mengerahkan kekuatanku.
"Apa aku tertidur?"
Gulinear sepertinya mengangguk.
"Iya, Laalit sudah tertidur selama sehari."
A-Apa? Sehari?!
"Kemarin Laalit seperti terbang dan tiba-tiba tergeletak di depan rumahku. Aku dan nenek lalu membawa Laalit ke dalam rumah."
"Sekarang… Sekarang pagi, siang, sore, atau malam?"
Gulinear sepertinya bingung dengan pertanyaanku,
"Kenapa Laalit bertanya begitu? Itukan bisa lihat dijendela, sekarang sudah sore hari."
Sepertinya jarak antara jendela dan diriku cukup jauh, sehingga aku tidak dapat merasakan cahaya matahari yang masuk melalui jendela.
Aku lupa kalau Gulinear tidak mengetahui bahwa aku adalah seorang tunanetra.
Kapan-kapan aku harus mengatakan bahwa aku seorang tunanetra padanya, dia memiliki hawa positif dan sepertinya dapat dipercaya.
Tapi kurasa, dia tetap tidak akan mengerti setelah kujelaskan panjang lebar.
Aku akan menjelaskannya nanti, saat dia cukup dewasa untuk mengerti dan mencerna perkataanku dengan benar.
"Maaf, sepertinya aku harus segera pulang. Kakakku dan temanku pasti sedang mengkhawatirkanku sekarang. Terima kasih sudah merawatku, Gulinear."
Gulinear menatapku lalu menahan tanganku, aku merasakan tangisannya akan meluap sebentar lagi.
"Ti-Tidak boleh! Laalit kan baru bangun, Laalit tidak boleh langsung pergi! Laalit di sini saja sama Gulinear, nanti Gulinear kirim surat melalui burung pengantar surat kepada Kakak dan kita bisa tinggal bersama selamanya."
Gulinear, aku mengerti sikapmu memang manja, tapi aku juga punya keperluan sendiri…
Aku berusaha menghibur Gulinear dan membiarkanku untuk pulang, tapi Gulinear tetap memaksaku untuk tinggal di sini.
Aku mendengar suara langkah kaki yang pelan dan lemah.
"Ternyata kamu sudah bangun, bocah kecil. Aku adalah neneknya Gulinear, kamu temannya Gulinear, kan? Aku akan senang jika kamu makan malam sebentar di sini, nanti aku akan langsung mengantarmu ke rumah dalam waktu hitungan detik."
Bagaimana caranya Nenek melakukan itu?
Tidak ada kendaraan yang mampu mengantar seseorang dalam waktu beberapa detik saja, sepertinya jarak rumahku dan tempat tinggal Gulinear juga cukup jauh…