Blindsight

Blindsight
Mengantar



"Sudah."


Kamaniai langsung mengalihkan pandangannya padaku.


"Be-Benarkah?"


Aku hanya mengangguk. Tidak kusangka, Kamaniai langsung mempercayainya.


Karena jarak yang berdekatan, aku bisa langsung menggapai punggung Gulinear kemudian mengelusnya.


Aku berusaha menghiburnya agar tidak terlalu sedih.


Lagipula, anak-anak akan bangkit saat sudah berusia 14 tahun, itu usia normalnya.


Kalau banyak orang yang mengetahui tentang kami bangkit lebih cepat daripada anak yang lainnya, mungkin orang-orang akan memberikan tatapan yang 'tidak biasa' karena itu bukanlah hal yang lumrah, kemungkinan menjadi pusat perhatian juga tidak bisa dihindari.


Aku dan Kamaniai hanya bangkit 'terlalu cepat' dan itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan karena kami akan 'menerima didikan' yang tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi daripada anak yang belum bangkit.


Kenapa 'menerima didikan yang tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi'?


Karena kami sudah bangkit sebelum memasuki akademi.


Usia 14 tahun adalah usia umum saat anak baru memasuki akademi.


Pada usia 14 tahun, anak baru yang memasuki akademi, biasanya kekuatannya baru bangkit dan belum bisa mengendalikan kekuatannya dengan benar, sehingga akan diajarkan mengenai cara 'mencari jati diri kekuatan' atau 'memahami kekuatan sejati' yang setiap murid miliki.


Setiap bulan, kekuatan murid akan diuji melalui suatu pertarungan dengan murid yang lain.


Soal itu, aku mengetahuinya karena menguping pembicaraan Tuan Mahajana dengan pemilik akademi.


Jadi, karena kami bangkit lebih cepat yaitu sebelum usia 14 tahun, kami akan lebih dulu menerima didikan seperti di akademi.


'Didikan seperti di akademi' itu maksudnya adalah pembelajaran yang biasanya diajarkan di akademi saat anak baru bangkit, seperti yang kujelaskan di atas.


Anak yang belum bangkit mungkin hanya akan diajari cara menggunakan senjata, misalnya panah, seperti Gulinear.


Selain itu, teknik bertarung yang tidak memerlukan inti kekuatan, itu juga yang akan diajarkan.


Sebenarnya, Tuan Mahajana dan pemilik akademi sempat membicarakan hal ini.


Pemilik akademi menanyakan bagaimana Tuan Mahajana akan mengajariku nantinya karena aku sudah bangkit lebih dulu daripada anak yang lainnya, dan Tuan Mahajana menjawabnya kurang lebih, ya, seperti itu.


"Se-Sejak kapan kamu bangki-"


"Shhh…"


Bisa-bisanya dia langsung menanyakan hal itu saat ada Gulinear yang sedang menangis di sini…


Aku sengaja tidak menyembunyikan fakta soal aku yang sudah bangkit darinya.


Kenapa? Karena dia sudah bangkit dan aku juga sudah bangkit, jadi kami bisa mendiskusikan soal kebangkitan kami yang lebih cepat daripada anak yang lainnya.


Kalau sudah sama-sama bangkit, memangnya apa lagi yang mau disembunyikan?


Lebih baik saling terbuka saja, kan? Toh, tidak ada gunanya menyembunyikan kebangkitanku dari orang yang sudah bangkit juga.


"Sudah… Jangan menangis, Gulinear. Jaleed juga belum bangkit, kok."


Ternyata Jaleed belum bangkit… Untung aku belum memberitahukan padanya kalau aku sudah bangkit.


Aku hanya tidak ingin orang yang belum bangkit tahu kalau aku sudah bangkit, takutnya orang tersebut akan kecewa kepada dirinya sendiri, seperti Gulinear.


Jaleed sepertinya tidak kecewa setelah mengetahui Kamaniai bangkit, dia malah turut senang atas kebangkitan Kamaniai dan membuatkan makan malam untuknya.


Entahlah… Mungkin karena dia masih 11 tahun, jadi dia menganggap bahwa tidak perlu iri dengan Kamaniai yang lebih tua setahun darinya.


"Ta-Tapi… Jaleed… Masih 11 tahun… Hiks… Sedangkan Gulinear… Sudah… 13… Tahun… Hiks… Hu… Hu…"


Aku tidak tega hanya merasakan kesedihannya saja.


Maaf Gulinear, tapi aku akan membohongimu lagi. Maaf karena aku sering berbohong padamu…


Masih mengelus punggung Gulinear, aku kemudian berbisik.


"Bilang saja kalau aku juga belum bangkit."


Gulinear sepertinya hanya ingin mendengarkan Kamaniai, jadi biar Kamaniai saja yang mengatakannya.


"Ta-Tapi… Kamu kan sudah…"


"Cepat!"


Masih menatapku, Kamaniai malah bersikap gelagapan.


Aku hanya mengangguk agar dia segera mengatakannya pada Gulinear.


"Ahh… Umm… Laalit juga… Be-Belum…!"


Aduh… Kenapa dia mengatakannya begitu… Kuharap Gulinear percaya dengan perkataannya…


"Iya… Hiks… Gulinear… Ngantuk…"


Sepertinya Gulinear percaya! Tangisannya perlahan mereda.


Saking leganya, aku menghela napas panjang. Kamaniai kemudian bersiap mengantar Gulinear ke kamar.


Aku ikut mengantar Gulinear juga untuk mengetahui di mana letak kamarnya.


Kami menaiki tangga kemudian berjalan lurus ke depan sampai akhirnya Kamaniai menghentikan langkahnya.


Ternyata, letak kamar Gulinear cukup berjauhan dengan tangga.


Sedangkan untuk ke kamar Gulinear, perlu berjalan lurus ke depan sampai 29 langkah.


Bersama dengan Kamaniai, aku kemudian masuk ke kamar Gulinear.


Setelah kurasakan, ternyata kamarnya Gulinear jauh lebih luas daripada kamarku.


Mungkin waktu pelayan menanyakan dia ingin di kamar yang bagaimana, Gulinear menjawab ingin di kamar yang luas?


Saat baru sampai di sini, Kakak pelayan juga menanyakan aku ingin kamar yang bagaimana, dan aku hanya menjawab bahwa aku ingin kamar yang dekat dengan tangga.


Ternyata luas kamarnya berbeda dengan kamar yang lainnya, kukira akan sama saja…


Tapi tidak apa-apa, yang penting kan bisa digunakan untuk beristirahat, itu sudah cukup bagiku.


Kamaniai mengantar Gulinear hingga Gulinear duduk di suatu benda yang sepertinya adalah kasur.


Karena Gulinear mengantuk, berarti yang dia butuhkan sekarang adalah tidur di kasur yang empuk.


"Gulinear, aku pergi, ya?"


Setelah mengatakan bahwa akan pergi, Kamaniai melambaikan tangannya ke Gulinear.


Aku juga ikut melambaikan tanganku pada Gulinear.


"Eh… Kenapa kamu ikut masuk ke dalam?"


Hah… Memangnya kenapa??


"Tidak boleh, ya?"


"Oh… Bukan begitu! Aku… Aku kira kamu sedang menunggu di luar tadi…"


Benarkah begitu?


Kenapa kamu gelagapan lagi?


Apa harusnya aku memang berada di luar saja tadi?


Kami kemudian berjalan menuju ke pintu dan keluar dari kamar Gulinear, tidak lupa aku menutup pintunya kembali.


Walaupun Kamaniai tidak mengatakan apapun, aku merasakan bahwa hawanya seperti mengatakan 'ikutlah denganku'.


Aku kemudian berjalan di sampingnya dengan jarak yang cukup jauh.


Aku hanya tidak ingin Kamaniai terkejut kemudian bersembunyi lagi, karena itulah aku menjaga jarak dengannya.


"Kapan kamu bangkit?"


Perlahan, aku meletakkan jariku pada poniku yang dikuncir, kemudian melepas ikatannya.


Sambil merapikan rambut, aku kemudian menjawab pertanyaannya.


"Mungkin saat usiaku baru 7 tahun."


"Wah…"


Walaupun lirih, aku masih bisa mendengar suaranya yang menunjukkan kekaguman padaku.


"Bagaimana rasanya bangkit saat berusia 7 tahun?"


Karena aku hilang ingatan, aku juga tidak tahu bagaimana rasanya…


Tapi, aku tidak mungkin bilang begitu, kan?


Soal hilang ingatan itu, entah mengapa aku masih belum siap mengatakannya pada orang lain.


"Entahlah…"


Kamaniai tidak menanggapi apapun. Semenit kemudian, hanya ada keheningan yang mengikuti kami.


Aku bisa merasakan bahwa Kamaniai membuka mulutnya, tetapi dia menutup mulutnya kembali.


Dia melakukannya berulang kali seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu-ragu.


Aku jadi geram…


"Ada apa?"


Kenapa dia seperti orang yang habis tertangkap basah begitu…


"Oh… Aku hanya… Itu… Kenapa kamu melepas kuncir rambutnya?"


"Hah?!"


Kukira dia akan mengatakan sesuatu yang penting, ternyata ekspetasiku saja yang terlalu tinggi.


Astaga… Saking herannya, aku tanpa sadar langsung mengatakan 'hah' padanya.


"Tidak! Bukan apa-apa…"


Kamaniai menghentikan langkahnya, aku juga menghentikan langkahku.


"Besok pagi, temui aku di taman yang terletak di lantai 3. Aku… Aku akan menunggumu."


Aku mengangguk.


Hawa yang dipancarkan Kamaniai seperti mengatakan 'tidak perlu mengikutiku lagi'.


Aku berbalik kemudian berjalan menuju ke kamar. Setelah itu, aku melakukan meditasi sampai tak terasa waktu makan malam pun telah tiba.