Blindsight

Blindsight
Terbangun Kembali



"HAH!"


Aku bangun dengan tersentak. Napasku tersengal-sengal dan keringat sudah membasahi seluruh tubuhku.


Aku langsung bangkit untuk mengambil air, ternyata tepat di sebelahku.


Tanpa aba-aba, aku meminumnya langsung, tidak bertanya siapa pemiliknya.


"UGH… HUFT… HUFT…"


Setelah menaruh kembali air tersebut, aku berusaha mengatur napasku agar teratur.


Sebentar…


Aku merasakan ada yang janggal… Bukan, bukan firasat buruk! Hanya saja, tubuhku rasanya sedikit berbeda.


Aku kemudian memegangi bagian tubuhku, memastikan apakah ada sesuatu yang salah.


"Tidak ada… Tidak ada keanehan apapun di tubuhku, bentuknya masih sama…"


"Laalit!"


Tanpa kusadari, badanku sedikit terangkat karena kaget.


Gulinear… Dia tidak memberitahu kalau dia ada di sebelahku dari tadi.


Biasanya aku bisa merasakan kalau seseorang ada di sekitarku.


Anehnya, aku tidak menyadarinya barusan, mungkin kesadaranku belum pulih sepenuhnya karena bangun tidur.


"Laalit sudah bisa pakai sendiri, kan?"


Gulinear memberikanku sesuatu yang ternyata adalah sebuah baju.


Aku kemudian menerima pemberiannya dan memakai baju tersebut.


Nah, begini kan tidak terasa berbeda lagi…


Aku terdiam sesaat, berusaha memahami situasi yang baru saja terjadi.


"HAH!"


Sial, aku hampir terkena serangan jantungan saking kagetnya. Jadi, sebelumnya aku tidak memakai baju?!


Gulinear… Aku tidak menyangka bahwa kau… Kau…


Menganggapku sebagai seorang bocah sama seperti Kakak…


Aku harus mengatakannya dengan tegas, aku tidak bisa membiarkan ini terus.


"Gulinear, aku bisa mengganti bajuku sendiri. Jadi, kamu tidak perlu menggantikan baju untukku. Jangan anggap aku sebagai bocah, oke?"


Hawa Gulinear terasa agak bingung. Aku bingung kenapa dia bingung karena tidak seharusnya dia bingung sekarang…


Apa kalimatku terlalu rumit untuk dipahaminya? Kalau begitu, aku harus menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami.


Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian membuka mulutku.


"Aku yang menggantikan bajumu, bocah."


Memang sepantasnya kalau jantungku sedang senam sekarang.


Muncul satu orang yang tidak mengatakan kalau dia sedang berada di dekatku, membuatku sampai jatuh terbaring.


Sekarang, badanku sangat lemas karena sudah beberapa kali dikagetkan.


"Aku menyuruh Gulinear untuk mengambil baju yang tersedia ditasmu. Aku juga yang rutin mengganti bajumu selama seminggu ini. Gulinear tidak tahu cara menggantikan baju, jadi jangan terlalu berharap bahwa kamu akan dilayani oleh seorang gadis cantik…"


Benar juga, Gulinear yang sifatnya kekanak-kanakan begitu, mana mungkin mengerti cara menggantikan baju untuk orang lain.


Mengurus diri sendiri saja dia masih belum bisa. Gimana mengurus orang lain, coba?


Sepertinya bahasaku terlalu kasar, untung Gulinear tidak bisa membaca pikiranku, tidak seperti Neneknya. Aku harus sangat berhati-hati walaupun berbicara dalam hati sekalipun.


Oh, ternyata pria tua ini yang menggantikan bajuku. Terima kasih, Tuan Mahajana yang baik hati…


Baik sekali, sampai menggantikan bajuku secara rutin selama seminggu… Seminggu… Lama juga… ya…


Seminggu?! Apa aku tertidur selama seminggu?! Ini… Ini bahkan lebih lama daripada saat itu.


Saat itu, aku hanya tertidur selama 4 hari dan kukira itu sangat lama.


Ternyata, sekarang aku tertidur selama seminggu dan ini jauh lebih lama daripada sebelumnya.


Apakah ini hal yang normal? Apakah tidur lama seperti ini adalah hal yang wajar?


"Laalit!"


Dengan cepat, Gulinear membawaku keluar dari kereta kuda.


Aku berlari mengikuti gerakannya dan sampailah kami di suatu tempat yang tidak kuketahui apa namanya.


Masih memegang tanganku, Gulinear tiba-tiba berjalan dengan perlahan, tidak seperti biasanya yang berjalan dengan tergesa-gesa karena tidak sabaran.


Tentu saja aku juga berjalan dengan perlahan karena cara jalanku memang begitu.


Untuk apa jalan terburu-buru seperti dikejar oleh hantu? Toh, tidak akan ada hantu yang mengejar kami, karena hantu tersebut sudah ketakutan duluan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Tuan Mahajana.


Saat berjalan pun terdapat beberapa orang yang memperhatikan kami, terutama orang-orang yang memperhatikan Tuan Mahajana.


Sudah kuduga, master ini terkenal di mana-mana. Beberapa orang berusaha mendekatinya, tetapi sepertinya mengurungkan niatnya karena Tuan Mahajana memberikan suatu gerakan untuk tidak mendekatinya.


Aku tidak dapat merasakan dengan jelas gerakan tersebut.


Aku juga tidak tahu kenapa… Mungkin karena aku belum pernah melakukan gerakan tersebut, makanya aku jadi kurang bisa menerka gerakan apa yang Tuan Mahajana lakukan?


Atau gerakan tersebut cukup rumit sehingga aku yang pemula ini tidak mengetahui gerakan yang dilakukan oleh ahlinya?


Ayo kita pikirkan…


Ketika kita tidak ingin di dekati orang lain, biasanya kita akan menunjukkan suatu gerakan yang membuat orang lain tidak jadi mendekati kita.


Gerakan kita cenderung membuat orang lain menjadi canggung atau tidak nyaman sehingga membatalkan niat mereka untuk mendekat.


Kupikir-pikir, apakah mengupil bisa membuat seseorang pergi menjauh dari kita?


Tentu saja! Semua orang pasti akan menjauh kalau kita melakukan hal yang menurut kebanyakan orang itu adalah 'menjijikkan'.


Tapi, Tuan Mahajana tidak mungkin berjalan sambil mengupil di tempat seperti ini.


Seorang master peringkat 10 besar di dunia yang terkenal sangat kuat, sikap yang bijak, semua orang mengenal dan menyanjungnya, dan dia memperlihatkan pada semua orang bahwa dia sedang… mengupil?


Itu sungguh konyol. Aku tentunya tahu kalau mengambil kotoran yang berada di dalam lubang hidung adalah kegiatan yang dilakukan oleh semua orang setiap harinya…


Aku juga melakukannya, Tuan Mahajana dan Gulinear pasti melakukannya juga.


Aku memang tidak melihat kapan mereka mengambil kotoran tersebut dari hidung mereka, tetapi mereka tidak perlu memberitahukan hal seperti itu padaku, kan?


Mungkin mereka mengupil saat di kamar mandi. Mungkin juga mereka mengupil saat menutupi hidung mereka dengan telapak tangan dan mengeluarkan kotorannya secara diam-diam…


Maksudku… Hanya saja, di tempat ini ada cukup banyak orang yang memperhatikan kami. Melakukan hal yang dianggap 'menjijikkan' itu pasti juga akan merusak citranya.


Jadi, kurasa yang dilakukan Tuan Mahajana barusan bukanlah mengupil.


Apa, ya? Gerakan atau sikap yang membuat orang lain menjauh dari kita…?


Kalau Tuan Mahajana sengaja melepaskan auranya… Itu tidak mungkin, aku tidak merasakan auranya yang sangat memcekam.


Aku masih merasakan auranya, tetapi tidak sekuat saat kami bertemu di tempat pelatihan.


Tuan Mahajana berusaha menekannya, mungkin agar orang lain yang dapat merasakan auranya tidak merasa terganggu.


Tindakannya itu patut diacungi jempol, sih. Selain agar orang lain merasa tidak terganggu, aura Tuan Mahajana memang agak 'jahat'.


Ini hanya pemikiranku saja. Tapi, mungkin orang lain pun bisa salah paham kepada Tuan Mahajana karena aura yang Tuan Mahajana pancarkan terkesan 'mengintimidasi' orang lain.


Kurasa Tuan Mahajana adalah orang yang baik, aku tidak merasa cemas atau takut kalau berada di dekatnya.


Auranya mungkin seperti itu karena dia adalah orang yang waspada kepada orang lain?


Entahlah, aku kekurangan informasi mengenai pria tua itu.


Kalau melepaskan kekuatan juga tidak mungkin. Ada beberapa orang di sini yang memperhatikan kami semenjak tadi.


Kalau Tuan Mahajana melepaskan kekuatannya, semua orang pasti sudah berlari ketakutan dan berteriak histeris.


Tapi itu tidak terjadi. Lagipula, sebelum melepaskan kekuatan, Tuan Mahajana harus melepaskan auranya terlebih dahulu.


Kenapa harus melepaskan aura terlebih dahulu? Karena, sumber kekuatan seseorang terletak di inti kekuatan mereka.


Inti kekuatan memancarkan suatu aura, atau bisa juga disebut 'tingkat kekuatan'.


Inti kekuatan bisa ditekan atau disembunyikan agar tidak terasa oleh orang lain, tetapi menyembunyikan inti kekuatan sama saja dengan membatasi kekuatan yang dikeluarkan oleh tubuh-


"Kalian akan belajar di sini?"


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku.